
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Ketika Tengkorak Ratu Maut memukul dengan tongkat yang berapi, Alma Fatara justru melawan dengan telapak yang tidak memperlihatkan kesaktian apa-apa. Hal itu membuat si nenek mendelik heran.
Dakk!
“Fukrr!”
Ketika tongkat keras berapi milik Tengkorak Ratu Maut menghantam tangkisan telapak tangan Alma Fatara, sontak si nenek keriput terlempar ke belakang dengan mulut menyemburkan darah ke udara.
Kejadian itu mengejutkan keenam anggota Keluarga Tengkorak. Jelas-jelas mereka melihat Alma Fatara tidak mengeluarkan ilmu apa pun pada tangkisannya. Jika hanya tenaga dalam tinggi belaka, seharus Alma Fatara terluka berat.
Namun, yang mereka lihat justru Tengkorak Ratu Maut yang terpental dan muntah darah.
Blugk!
Keras punggung Tengkorak Ratu Maut menghantam tanah keras.
Inilah akibatnya jika pendekar bertongkat melawan Ratu Siluman. Satu hal yang kemungkinan besar terjadi adalah tongkat akan menjadi media bagi ilmu Tapak Rambat Daya, pukulan bertenaga dalam tinggi yang terlihat biasa dan membutuhkan benda perantara untuk menyerang lawan.
“Hoekh!” Tengkorak Ratu Maut muntah darah lagi, menunjukkan bahwa luka dalamnya sudah terlalu parah.
“Bagaimana, Nek? Apakah kau mengaku kalah?” tanya Alma Fatara yang malam ini tampil sangat digdaya.
Pendekar yang memiliki kesaktian tenaga api pasti akan menjadi lawan yang ringan bagi Alma Fatara, meski bagi orang lain pendekar itu dianggap berkesaktian tinggi.
“Jangan senang dulu, aku masih bisa bermain api untukmu!” desis Tengkorak Ratu Maut.
“Baiklah, satu kesempatan lagi, Nek,” kata Alma Fatara seraya tersenyum manis, tapi bagi si nenek senyum itu begitu menjengkelkan.
Tengkorak Ratu Maut kembali bangkit berdiri. Ia lalu mempertemukan kesepuluh jari tangannya di depan dada sambil mulutnya komat-kamit membaca mantera. Sementara Alma Fatara menunggu ilmu seperti apa yang akan dikerahkan oleh si nenek.
Broass!
Tiba-tiba muncul kekuatan api yang sangat besar yang bergerak seperti pusaran angin puyuh. Pusaran api besar yang menjulang tinggi setinggi pohon kelapa itu, menutupi seluruh tubuh si nenek sehingga tidak terlihat. Putaran api tersebut menimbulkan lidah-lidah api besar yang menyambar-nyambar.
Ketika Tengkorak Ratu Maut merentangkan kedua tangannya di dalam pusaran api, maka muncul pula dua tangan api besar.
Swess swess swess!
Tangan api itu lalu melesatkan bola-bola api raksasa yang melesat cepat menyerang Alma Fatara terus-menerus. Namun, mudah bagi Alma Fatara menghindar ke sana dan ke mari, meninggalkan tanah yang kemudian terbakar meski tanpa kayu atau sampah.
“Hahaha!” Alma Fatara justru tertawa lagi. Itu tandanya serangan tersebut tidak berbahaya.
Worsss!
__ADS_1
Tiba-tiba diameter pusaran api yang tinggi itu membesar dua kali lipat. Pada bagian tengahnya ada bagian api yang terbuka membentuk lubang. Dengan terbukanya sebuah lubang, tiba-tiba muncul kekuatan tinggi yang bersifat menyedot tubuh Alma Fatara, padahal jaraknya cukup jauh.
Alma Fatara cepat memperkuat kuda-kudanya untuk melawan daya sedot yang memang khusus ditujukan kepadanya. Namun, semakin Alma Fatara melawan tenaga sedot itu, ada hal aneh yang terjadi, yaitu tenaganya seperti terkuras melemah.
Sebelum sesuatu yang buruk terjadi kepadanya, akhirnya Alma Fatara memutuskan sesuatu.
Alma Fatara memutuskan berhenti melawan kekuatan isap itu. Seketika tubuhnya langsung melesat tertarik masuk ke alam lubang api.
“Aaak!”
Semasuknya Alma Fatara ke dalam lubang api, terdengar suara jeritan wanita yang tinggi.
Semua yang mendengar suara jeritan itu terkejut.
“Gusti Ratu!” teriak sebagian personel Pasukan Genggam Jagad.
“Tenang, itu bukan jeritan Gusti Ratu!” teriak Panglima Besar Anjengan menenangkan pasukannya. “Itu jeritan nenek-nenek yang sudah mau mati!”
Legalah seluruh abdi Alma Fatara.
Memang benar perkataan Anjengan. Jeritan itu bukan milik Ratu Siluman, tapi milik Tengkorak Ratu Maut.
Setelah jeritan itu, kejap berikutnya seluruh api padam semua. Garis api, lautan api dan pusaran api, semuanya padam meninggalkan kehangusan dan menimbulkan kegelapan.
Bluk!
Swesh!
Tiba-tiba muncul sinar emas menyilaukan di tangan kanan Ratu Siluman. Cahaya itu membuat kegelapan menjadi terang benderang. Mereka semua yang menonton jadi bisa melihat dengan jelas bahwa Tengkorak Ratu Maut telah tergeletak di tanah dalam kondisi tidak berdaya. Sementara Alma Fatara yang berdiri tegar terlihat tidak jelas karena sinar di tangannya menyilaukan mata.
“Tengkorak Ratu Maut telah tumbang dan tidak bisa melanjutkan pertarungan. Aku cukupkan pertarungan dengannya!” seru Alma Fatara.
“Hidup Ratu Siluman!” teriak Anjengan tiba-tiba.
“Hidup Ratu Siluman!” teriak Pasukan Genggam Jagad penuh semangat.
“Hidup Kerajaan Siluman!” teriak Anjengan lagi.
“Hidup Kerajaan Siluman!” teriak Pasukan Genggam jagad begitu ramai memecah keheningan malam.
“Hua hua hua!”
“Hua hua hua!”
“Wik wik wik wik wik!”
__ADS_1
“Wik wik wik wik wik!”
“Hahaha …!”
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Tengkorak Sabit Putih yang tidak tahu bagaimana caranya Tengkorak Ratu Maut ditumbangkan.
“Ratu Siluman seorang wanita yang cerdas. Dia bisa dengan mudah memanfaatkan kemarahan Ratu Maut sebagai suatu kelemahan,” kata Tengkorak Manis Putih.
“Kita harus mengeroyoknya jika tidak mau bernasib lebih buruk dari Ratu Maut,” kata Tengkorak Sabit Putih.
Bagaimana sebenarnya Alma Fatara menaklukkan Tengkorak Ratu Maut?
Jawabannya adalah ketika Alma Fatara tersedok masuk ke dalam lubang pada pusaran api, dia mengaktifkan Benang Darah Dewa sebagai senjata pengeksekusi. Hingga saat itu, Tengkorak Ratu Maut tidak tahu bahwa Alma Fatara benar-benar kebal terhadap api dan panas. Jadi, jika dia masuk ke pusaran api pun, dia tidak akan terbakar.
Dan kelemahan Tengkorak Ratu Maut juga adalah dia tidak mengetahui tentang Benang Darah Dewa yang dimiliki oleh Alma Fatara. Sedikit pun dia tidak melihat pergerakan Benang Darah Dewa di dalam pusaran api.
Benang Darah Dewa bergerak sangat cepat menusuk titik-titik tubuh vital Tengkorak Ratu Maut yang berakibat kelumpuhan.
Kini Tengkorak Ratu Maut hanya tergeletak tanpa bisa bergerak. Bahkan untuk sekedar mengangkat tangan dan kaki, itu tidak bisa dia lakukan.
“Dalam aturan Kerajaan Siluman, pendekar yang kalah oleh Ratu Siluman ataupun oleh Pasukan Genggam Jagad, maka hartanya menjadi milik Kerajaan Siluman!” seru Alma Fatara kepada Keluarga Tengkorak.
Alma Fatara lalu mengulurkan tangannya ke arah tongkat Tengkorak Ratu Maut yang tergeletak di tanah.
Set! Tap!
Tongkat pusaka itu melesat datang kepada telapak tangan Alma Fatara yang kemudian menangkapnya.
“Tongkatmu kini menjadi milik Kerajaan Siluman, Nek,” kata Alma Fatara kepada Tengkorak Ratu Maut.
Alma Fatara lalu menghadap kepada barisan pasukannya.
“Gede Angin! Tangkap!” teriak Alma Fatara lalu melesatkan tongkat berat di tangannya.
Seet! Tap!
“Aaak!” pekik Gede Angin ketika dengan tangkas dia menangkap lesatan cepat tongkat bertengkorak kepala kerbau itu.
Kuatnya tenaga lesatan tongkat itu membuat tubuh raksasa Gede Angin bisa terbawa lepas dari punggung kudanya.
Bduk!
Punggung Gede Angin menghantam tanah jalanan dengan tangan tetap memegang tongkat merah gelap itu.
“Hahahak …!” tawa seluruh Pasukan Genggam Jagad melihat si anak raksasa bisa terbawa oleh tongkat yang dilesatkan Alma Fatara.
__ADS_1
Meski ditertawakan, Gede Angin sangat gembira mendapat sebuah senjata pusaka milik orang sakti.
Alma Fatara lalu memadamkan sinar emas di tangannya. Maka suasana berubah gelap kembali. (RH)