Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Kerja Bu 9: Menculik Si Penghamil


__ADS_3

*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*


 


“Kenapa mereka seperti itu, Alma?” tanya Anjengan kepada Alma Fatara saat melihat rombongan centeng Keluarga Raden Runok Ulung.


Alma, Anjengan dan Gagap Ayu sedang memantau dari balik pagar kebun yang ada di sekitar rumah besar dan luas Keluarga Raden Runok Ulung.


“Itu pasti ulah Juling Jitu yang menebar Pasir Angin Senja kepada mereka. Artinya Juling Jitu dan Iwak Ngasin tidak apa-apa. Buktinya mereka tidak membawa siapa-siapa,” kata Alma.


“Ba-ba-bagaimana caranya?” tanya Gagap Ayu.


“Apanya?” tanya Alma.


“Me-me-menculik si pe-pe-penghamil itu.”


“Sabar, kita pikirkan dulu. Sepertinya, orangtuanya lebih sakti daripada anak-anaknya,” kata Alma.


Sementara di halaman rumah, Raden Runok Ulung bersama anak dan menantunya dilanda kemarahan melihat kondisi para centeng yang tidak bisa melihat dan datang seperti main kereta api.


“Kenapa kalian sampai menyedihkan seperti ini?” tanya Raden Runok Ulung.


“Ka-ka-kami … terkena kesaktian pendekar yang kami kejar,” jawab pemimpin centeng yang bernama Gareng. Ia orang yang paling depan dalam rantai manusia itu. Ia juga menderita kebutaan.


“Tidak berguna! Jumlah sebanyak ini dengan mudahnya ditaklukkan hanya oleh dua orang!” bentak Jaran Telu.


“Ampuni hamba, Gusti!” ucap Gareng lalu buru-buru berlutut menghormat, membuat rekan-rekannya yang saling memegang pundak di belakang ikut berlutut ramai-ramai.


“Pergi panggil tabib!” perintah Raden Bagus Penjogo, entah kepada siapa.


“Kebakaran!” ucap Narisantai dengan nada pelan sambil memandang jauh ke belakang rumah.


Mereka semua kompak memandang ke area belakang rumah, kecuali mereka yang matanya tertutup.


Mereka melihat, ada api yang cukup bersar menyala di bagian belakang rumah bersar itu.


“Kebakaran! Cepat siram!” teriak Jaran Telu kepada para centengnya yang bermata normal.


Teriakan Jaran Telu membuat para centeng yang matanya buta jadi panik plus bingung harus berbuat apa.


“Kalian diam saja di sini sampai tabib datang!” bentak Jaran Telu yang kesal melihat tingkah Gareng dan para anak buahnya.


Semua centeng yang sehat segera berlarian menuju belakang rumah. Suara kepanikan para kuda terdengar ramai.


Raden Runok Ulung dan anak cucunya segera bergerak ke sisi belakang rumah. Mereka melihat, centeng-centeng sudah sibuk oper-operan ember dari sumur ke dekat kandang kuda yang terbakar di salah satu ujungnya. Namun, jika api itu tidak dipadamkan, dia bisa membakar kuda-kuda dan merembet ke rumah utama.


“Kurang ajar! Ini pasti perbuatan orang Gondo Sego!” geram Raden Bagus Penjogo dengan tangan kanan yang mengepal.


Raden Runok Ulung dan keluarga keturunannya memandang api dengan tatapan yang marah.


“Buruan, Kakak Gendut!”

__ADS_1


“Sebentar! Ini berat!”


“Ayo ayo ayo! Cepatan!”


Tiba-tiba terdengar suara-suara teriakan perempuan yang berisik dari halaman depan.


Raden Runok Ulung, putranya, menantunya, dan kedua cucunya, cepat berpaling ke belakang. Mereka melihat ada tiga wanita muda, salah satunya gendut, sedang menculik Rawil Sembalit.


Terlihat Anjengan sudah berada di atas tembok pagar dengan menggendong tubuh Rawil Sembalit di punggungnya. Sementara Alma Fatara yang berisik saat menculik, berjaga di halaman. Adapun Gagap Ayu sudah ada di luar pagar halaman. Ia sudah melaksanakan tugasnya, yaitu membakar kandang kuda di belakang rumah.


Bluk!


Saat melompat dari atas tembok pagar, Anjengan masih sempat-sempatnya jatuh tersungkur.


“Hahahak!” tawa terbahak Alma.


“Hihihi!” tawa Gagap Ayu sambil berlari mendatangi Anjengan untuk membantunya bangkit.


Alangkah terkejutnya keluarga Raden Runok Ulung melihat penculik cantik jelita itu. Bukan Anjengan yang cantik jelita, tetapi Alma Fatara maksudnya.


“Dia lagi!” desis Jaran Telu yang memendam kemarahan kepada Alma Fatara dkk sejak bentrok di Garis Merah.


Set! Tubs!


Jaran Telu melesatkan tongkat biru terangnya menyerang Alma. Namun, gadis cantik jelita yang sedang tertawa itu dengan mudahnya memiringkan tubuhnya, membuat tongkat menancap di batang pohon tempat tadi Rawil Sembalit diikat.


“Aura Bola Hitam!” sebut Raden Runok Ulung dan Raden Bagus Penjoko bersamaan terkejut.


Narisantai telah melesat cepat di udara dengan pedang terhunus. Pedangnya berkelebat cepat menyerang Alma. Namun, Alma yang memiliki tingkat gerak yang sangat tinggi dapat dengan mudah menghindari setiap sabetan dan tusukan pedang.


“Ak!” pekik tertahan Narisantai dengan pedang di tangan terlepas jatuh dari genggaman. Itu terjadi ketika Narisantai merasakan jari-jari tangannya yang memegang pedang ditusuk oleh jarum yang tidak terlihat.


Wuss!


Angin pukulan Alma melempar tubuh Narisantai setelah itu.


Sementara Jaran Telu segera datang untuk mencabut tongkatnya yang melesak menembus batang pohon. Namun, ia terkejut ketika Alma melesat cepat memotong pergerakannya.


Tuk tuk tuk!


Serangan Alma terlalu cepat, membuat Jaran Telu tidak berdaya ketika mendapat totokan.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara karena sukses mencegah kedua anak dari Raden Bagus Penjogo.


Alma mendadak berhenti tertawa ketika melihat Raden Bagus Penjogo melesat maju ke arahnya.


“Balo Hitam! Hiaaat!” pekik Alma sambil bergerak menyusupkan kedua tangannya ke balik jubah hitamnya.


Teriakan Alma membuat Raden Bagus Penjogo buru-buru melompat mundur berbalik arah, menjauhi Alma.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara terbahak, memperlihatkan gigi ompongnya yang lucu, tetapi tidak ada yang tertawa melihat keompongannya itu. Ia berhasil menggertak tanpa mengeluarkan Bola Hitam.

__ADS_1


Ketika Narisantai hendak menyerang Alma, gadis berjubah hitam itu sudah lebih dulu melesat melompati tembok pagar.


“Kejar!” teriak Narisantai, tetapi tidak ada centeng yang merespon perintahnya karena centeng masih sibuk di belakang memadamkan api.


Dengan kesal, Narisantai membebaskan Jaran Telu dari totokan. Mereka berdua lalu berkelebat pergi mengejar Alma Fatara dan kedua temannya yang menculik Rawil Sembalit.


Namun sayang, Narisantai dan Jaran Telu cepat kehilangan jejak. Mereka berdua terus mengejar berdasarkan dugaan.


“Hahaha!” tawa Alma dan kedua sahabatnya di dalam kedai makan terbesar di kademangan itu.


Entah ide siapa, setelah menculik mereka justru mampir makan. Tidak tanggung-tanggung, pemuda yang mereka culik ikut dibawa masuk ke kedai, bahkan duduk bersandar di dinding kedai.


“Kalau lemas seperti ini, harus makan banyak biar bertenaga,” kata Anjengan sambil menyuapi Rawil Sembalit nasi dengan penuh kelembutan.


“Sudah cocok Kakak Anjengan jadi seorang istri. Hahaha!” kata Alma Fatara lalu tertawa.


“Sudah pa-pa-pantas. Hihihi!” sahut Gagap Ayu pula.


“Aaah, jangan bercanda terus. Makan yang cepat!” sergah Anjengan.


“Mereka sedang mengejar ke hutan, ke gunung, ke sungai atau ke jurang. Tenang saja, Kak,” kata Alma santai.


“Be-be-betuuul! Dari ta-ta-tadi aku la-la-la ….”


“Lalat?” terka Anjengan memotong perkataan Gagap Ayu.


“Lapaaar!” sentak Gagap Ayu.


Sementara itu, pemilik kedai dan para pengunjung tidak henti-hentinya memerhatikan mereka berempat. Pemilik kedai makan dan sebagian pengunjung tahu bahwa ketiga gadis itulah yang membuat kacau di Garis Merah beberapa waktu lalu.


“Pelayan! Bawakan air dan kain bersih!” teriak Anjengan.


Pada saat yang bersamaan, seorang warga berlari sedang tapi terkesan tergesa-gesa menuju kediaman besar Raden Runok Ulung.


“Hormat hamba, Gusti Raden!” ucap warga pria itu saat menghadap kepada Raden Runok Ulung dan Raden Bagus Penjogo.


“Ada apa?” tanya Raden Runok Ulung.


“Di kedai makan Ki Rumit ada tiga pendekar wanita asing yang bersama dengan Gusti Rawil Sembalit yang sedang terluka,” lapor warga itu.


“Apa?” kejut Raden Runok Ulung dan anaknya.


Kedua Raden itu terdiam sejenak. Mereka tidak menyangka sedikit pun bahwa para pencuik Rawil Sembalit justru akan asik makan di kedai makan.


“Ambilkan kuda!” perintah Raden Bagus Penjogo. Lalu katanya kepada sang ayah, “Biar aku saja yang pergi ke sana, Ayahanda!”


Setelah diberi kuda dan menaikinya, Raden Bagus Penjogo lalu pergi menuju kedai makan milik Ki Rumit. Di belakangnya berlari sejumlah centeng yang sehat wal afiat.


Namun, setibanya di kedai makan Ki Rumit, ternyata Alma dan kedua sahabatnya sudah pergi, termasuk Rawil Sembalit.


Ketika Raden Bagus Penjogo masuk, ia hanya menemukan sisa makan dan air baskom yang merah oleh darah.

__ADS_1


“Mereka sudah pergi, Gusti!” ucap Ki Rumit, seorang lelaki berusia separuh abad, kepada Raden Bagus Penjogo.


“Siapa sebenarnya ketiga wanita itu?” tanya Raden Bagus Penjogo kepada dirinya sendiri yang tidak bisa dijawab oleh Ki Rumit. (RH)


__ADS_2