Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Kerja Bu 3: Putra Musuh


__ADS_3

*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*


Kuda Dugalara sudah tiba di kediamannya, tetapi ia berhenti di luar pagar. Ia memandang kepada Lestari. Gadis pelayan itu sedang memberi makan kuda berwarna putih, yang merupakan kuda milik Raden Gondo Sego, ayah dari Dugalara.


Dugalara adalah seorang lelaki berusia hampir separuh abad. Perawakannya besar berotot, meski tubuhnya tidak begitu tinggi. Pakaian birunya yang berbahan mahal berukuran agak ketat, sehingga kekekarannya menunjukkan keperkasaannya. Ia memelihara kumis tebal dengan alis yang juga tebal, membuat sorot matanya terkesan galak. Rambut gondrongnya digelung di atas kepala. Ada sebuah keris terselip di pinggang belakangnya.


Dugalara adalah putra tertua dari Raden Gondo Sego. Ia memiliki empat orang adik, salah satunya adalah Wangiwulan.


“Lestari!” panggil Dugalara dari luar pagar.


Lestari segera menengok.


“Hamba, Gusti!” sahut Lestari lalu berlari kecil mendekati pagar tembok yang setinggi leher.


“Kenapa kau mengurus kuda Ayah? Sudah sering kali aku tidak melihat Wangiwulan bersamamu. Bukankah seharusnya kau selalu bersamanya?” tanya Dugalara.


“I-iya, Gusti. Namun, Gusti Wangiwulan tidak mau dikawal jika pergi-pergi,” jawab Lestari.


“Sejak kapan Wangiwulan tidak mau dikawal jika pergi?”


“Sejak pulang dari berguru, sekitar sebulan yang lalu, Gusti.”


“Sekarang di mana Wangiwulan?”


“Sedang pergi, Gusti.”


“Pergi ke mana?!” tanya Dugalara mendadak membentak.


“Ke-ke-ke Sungai Hijau. Biasanya pergi memancing, Gusti,” jawab Lestari menjadi takut dan tergagap.


“Pergi memancing? Sejak kapak adikku itu suka memancing?”


“Sejak … sejak kenal dengan seorang pemuda yang suka memancing,” jawab Lestari dengan nada berat.


“Siapa namanya?”


“Rawil Sembalit.”


“Maksudmu Rawil Sembalit putra bungsu Runok Ulung yang tukang mancing itu?”


“Hamba tidak tahu jika Rawil Sembalit putra Raden Runok Ulung.”


“Kurang ajar setan!” maki Dugalara dengan sorot mata menunjukkan kemarahan.


“Dugalara!” panggil satu suara berat dari sisi lain.


Dugalara dan Lestari segera menengok ke arah sumber suara yang berasal dari teras rumah besar itu. Di sana berdiri seorang lelaki tua mewah dengan pakaian putih dan perhiasannya. Ia mengenakan blangkon warna hitam. Ada keris terselip di belakang pinggangnya. Sepertinya orang berambut dan berkumis putih itu bersiap untuk pergi ke suatu tempat. Ia adalah Raden Gondo Sego. Di usianya yang sudah lebih tujuh puluh tahun, kondisi fisiknya masih terlihat bugar.

__ADS_1


“Iya, Ayah?” sahut Dugalara tanpa berinisiatif mendekat.


“Ada apa sampai kau marah seperti itu?” tanya Raden Gondo Sego.


“Wangiwulan telah melanggar kehormatan keluarga kita. Dia telah berhubungan dengan putra muda Keluarga Runok Ulung sejak kembali dari berguru!” jawab Dugalara dengan ekspresi memendam amarah yang panas.


“Apa?!” kejut Raden Gondo Sego. Wajah tuanya yang teduh seketika berubah garang seperti siluman yang berubah. Lalu teriaknya gusar, “Cari anak itu dan seret pulang! Jika bertemu dengan putra Runok Ulung, kirim kepada orangtuanya dalam kondisi yang menyedihkan!”


“Baik, Ayah. Aku akan pergi mencarinya ke Sungai Hijau,” ujar Dugalara.


“Warga!” panggil Raden Gondo Sego.


“Hamba, Gusti!” sahut seorang lelaki tinggi besar berpakaian ala pendekar. Lelaki seusia Dugalara itu berpakaian hitam bersenjatakan celurit. Ia bernama Warga Sengko, pimpinan centeng yang dimiliki oleh Keluarga Raden Gondo Sego.


“Bawa orang-orangmu mengikuti Dugalara!” perintah Raden Gondo Sego.


“Baik, Gusti!” Warga Sengko lalu beranjak pergi setelah menjura hormat kepada bangsawan tersebut.


“Lestari!” panggil Raden Gondo Sego.


“Hamba, Gusti!” sahut Lestari lalu buru-buru berlari kecil menghadap dan menjura hormat.


“Pergi beri tahu Ragabidak agar ikut pergi mencari Wangiwulan!”


“Baik, Gusti.”


Sementara itu, Warga Sengko muncul dengan sekitar tiga puluh lelaki bercelurit. Rombongan itu langsung bergerak keluar dari halaman rumah yang luas dan pergi ke dekat kuda Dugalara.


Dugalara lalu membalikkan arah kudanya dan menggebahnya agak kencang. Sementara Warga Sengko dan orang-orangnya berlari kencang mengikuti. Karena telah terhasut amarah, Dugalara tidak mau mengimbangi lari pasukannya. Ia memilih tetap berlari lebih kencang, membiarkan Warga Sengko dan orang-orangnya tertinggal.


Karena Sungai Hijau termasuk bagian dari wilayah Kademangan Santun Pongah, jadi Dugalara tidak perlu waktu lama untuk tiba di pinggir sungai tersebut. Namun, ia tidak langsung menemukan keberadaan Wangiwulan atau lelaki yang diduga sedang bersamanya.


Dugalara hanya melihat beberapa warga yang berstatus sebagai nelayan sedang beraktivitas bersama perahunya.


Setelah melihat ke sana dan ke sini, Dugalara memutuskan untuk menyisir ke arah hulu. Jika terus ke hulu, ia akan memasuki area berhutan.


Ketika menyusuri ke hulu, kuda Dugalara tidak berlari kencang. Hingga kemudian, Dugalara berhenti di satu tempat di pinggir sungai, ketika pandangannya menangkap keberadaan dua orang yang sedang duduk di pinggir sungai, tepatnya di bawah pohon.


Kedua orang itu adalah seorang pemuda dan pemudi. Keduanya duduk merapat dengan kepala si wanita disandarkan ke dada si pemuda, sementara satu tangan si pemuda merangkul bahu belakang pasangannya. Di depan keduanya ada dua kail yang dipasang menjuntai ke sungai. Ada pula keranjang bambu yang sudah berisi ikan.


Kedua muda mudi itu tidak lain adalah Rawil Sembalit dan Wangiwulan. Mereka tidak mendengar kedatangan langkah pelan kaki kuda di atas tanah berumput.


“Hihihi!” terdengar suara tawa Wangiwulan yang seolah begitu bahagia.


“Wangiwulan!” teriak Dugalara menggelegar keras.


Teriakan itu sontak mengejutkan Wangiwulan dan Rawil Sembalit yang sedang tenggelam dalam kemesraan. Keduanya cepat menengok ke sumber suara.

__ADS_1


Ternyata, sosok Dugalara sudah berkelebat di udara dan mendarat tepat di depan mereka berdua duduk. Wangiwulan cepat melepaskan tubuhnya dari dalam kemesraan.


Bak!


Dugalara langsung menendang dada Rawil Sembalit, membuat pemuda itu terjengkang dengan kepala membentur akar pohon.


“Kakang Dugalara!” pekik Wangiwulan terkejut. Ia cepat berdiri menghadang kakak tertuanya.


“Aaah, minggir kau!” teriak Dugalara sambil tangannya menyambar tangan kanan adiknya dan menariknya menyingkir, sementara ia kemudian maju.


Dak!


Satu sepakan keras menghantam sisi kepala Rawi Sembalit yang sedang bergerak bangun. Pemuda itu terbanting ke samping.


“Kakang Rawil!” pekik Wangiwulan, lalu buru-buru hendak mendapati tubuh kekasihnya.


Tap!


Namun, Dugalara menyambar tangan adiknya yang menahannya.


“Lepaskan! Jangan pukuli kekasihku, Kakang!” teriak Wangiwulan jadi marah dan berbalik menyerang Dugalara dengan warangka pedangnya.


Dak! Plak!


Dengan cepat Dugalara menangkis sarung pedang itu tanpa rasa sakit, sementara tangan lain Dugalara sangat cepat menampar wajah Wangiwulan. Tamparan itu begitu cepat, membuat Wangiwulan yang sebagai seorang pendekar wanita tidak mampu mengelak.


Wangiwulan terdorong ke samping, nyaris jatuh. Wajahnya memerah, bahkan ada jejak jari-jari kakaknya pada pipinya yang putih.


“Kenapa Kakang lakukan ini kepadaku?!” teriak Wangiwulan dengan sorot mata yang membenci.


“Kau melanggar larangan keluarga kita! Kau tahu siapa pemuda keparat ini?” bentak Dugalara.


“Dia Kakang Rawil, kekasihku, Kakang!” jawab Wangiwulan dengan lantang.


“Tapi apakah kau tahu, dia putra siapa?!” tanya Dugalara kian keras.


Untuk pertanyaan itu, Wangiwulan terdiam. Memang, selama sebulan menjalin asmara dengan Rawil Sembalit, dia tidak pernah peduli atau mencari tahu tentang siapa kedua orangtua kekasihnya itu atau siapa keluarga besarnya. Wangiwulan tidak peduli, yang terpenting ia bahagia bersama Rawil Sembalit.


Demikian pula sebaliknya, Rawil Sembalit juga tidak ambil peduli Wangiwulan adik siapa dan putri siapa. Ia pernah melihat keluarganya berseteru dan berhadap-hadapan dengan keluarga musuh bebuyutannya, tetapi ia tidak melihat ada orang yang berwajah seperti Wangiwulan. Jadi, sejak awal dia yakin bahwa Wangiwulan bukan putri dari Raden Gondo Sego.


“Dia adalah Rawil Sembalit, putra termuda Runok Ulung. Dia adalah putra musuh besar keluarga kita. Apa kau tidak tahu itu, Wangiwulan?!”


Terkesiaplah Wangiwulan mendengar kenyataan itu.


Sejak remaja, Wangiwulan telah dikirim berguru kepada seorang tokoh persilatan. Ia baru kembali sekitar satu bulan yang lalu. Ia tidak begitu mengenal orang-orang yang menjadi musuh bebuyutan keluarganya. Apalagi Rawil Sembalit adalah pemuda biasa. Rasanya tidak mungkin jika musuh keluarganya ada yang tidak bisa ilmu beladiri. (RH)


**************

__ADS_1


Jangan lupa dukung selalu "Alur Cinta Si Om Genit" dengan vote, like, komen dan gift-mu, karena chat story Om sedang ikut lomba hingga Januari 2022. 


__ADS_2