
*Setan Mata Putih (SMP)*
Tong tong tong …!
Suara kentongan yang dipukul dengan ritme cepat mengejutkan Demang Mahasugi dan orang-orangnya, tapi tidak bagi Nining Pelangi dan keempat anak buahnya. Mereka tidak ada urusan denga napa yang terjadi di tempat itu.
Seorang lelaki gendut muncul berlari dari arah area kandang kuda. Ia tidak lain adalah Kungkang. Setibanya di dekat kumpulan para pendekar di depan teras rumah, dia langsung melapor dengan napas terengah.
“Kolor, Kanjeng Gusti!” lapor Kungkang.
“Hahaha …!” tawa para pendekar mendengar kata-kata Kungkang.
“Eh eala,” ucap Kungkang dengan wajah mengerenyit karena sadar salah. “Maksudku lapor, Kanjeng Gusti. Setan Mata Putih datang lagi makan duda!”
“Hahaha …!” tawa para pendekar lagi mendengar kesalahan tekhnis lidah Kungkang.
“Eh eala, makan kuda maksudku, Kanjeng Gusti!” ralat Kungkang.
“Tangkap setan itu!” teriak Demang Mahasugi.
Para pendekar yang berdiri berkumpul di depan teras segera bergerak serentak pergi ke arah area kandang kuda dan kambing. Ada belasan pendekar yang berlari dan berkelebatan pergi melaksanakan perintah Demang Mahasugi.
Sementara pasukan prajurit dan centeng tidak melaksanakan perintah, karena nama mereka tidak disebut. Mereka tahu bahwa sudah cukup banyak centeng dan prajurit yang berjaga di area kandang kuda. Mereka sudah mengantisipasi kedatangan Setan Mata Putih.
Beberapa waktu sebelumnya, sosok aneh bermata sinar putih, berkuku-kuku panjang, muncul melompati tembok pagar samping kediaman Demang Mahasugi. Sosok itu berjalan terus menerobos kegelapan melewati sudut-sudut yang sepi, di saat sebagian besar orang berkumpul di halaman depan.
Namun, tanpa disengaja, tiga gendut sekawan (Betok, Kungkang dan Jungkrik) berpapasan dengan Setan Mata Putih di tikungan cinta.
“Yaaak …!” jerit ketiganya kompak dengan ekspresi yang ekspreso.
“Tahan, tahan! Jangan sampai kasur!” teriak Kungkang. “Aku akan kolor ke Kanjeng Gusti!”
Kungkang lalu berlari pergi meninggalkan kedua rekannya yang bingung. Akhirnya keduanya berpencar. Betok menjaga di depan Setan Mata Putih dan Jungkrik menjaga di belakangnya sambil merentangkan kedua tangan.
“Hayyo, mau ke mana?” tanya Jungkrik sambil memendam rasa takutnya.
“Jangan ke mana-mana, di sini saja minum kopi!” kata Betok pula, ngawur.
“Ada apa, ada apa?” tanya seorang centeng yang datang karena mendengar suara berisik di samping kandang kuda.
“Setannya sudah datang! Cepat panggil yang lain!” teriak Betok panik.
“Arggr!” raung Setan Mata Putih mulai marah dengan kondisi itu.
“Woiii! Setan Mata Putih ada di siniii!” teriak si centeng kepada rekan-rekannya yang berjaga di kejauhan.
Para centeng dan prajurit yang berjaga cepat berlarian ke tempat itu. Mereka langsung menghunus golok dan pedang. Mereka langsung mengepung Setan Mata Putih.
Karena para prajurit dan centeng sudah berdatangan, Jungkrik dan Betok segera pergi menjauh.
Tong tong tong …!
Di tempat lain, seorang centeng cepat memukul kentongan yang kemudian terdengar hingga ke halaman depan.
__ADS_1
“Serahkan setan itu kepadaku!” seru seseorang tiba-tiba, seiring berkelebatnya sesosok tubuh besar di kegelapan malam.
Jleg!
Ketika sosok itu mendarat di antara mereka, para prajurit dan centeng bisa mengenalinya sebagai pendekar bayaran Demang Mahasugi, yaitu Raja Buru.
Raja Buru yang sepanjang malam itu melacak jejak dan membuntuti Setan Mata Putih, segera bergerak menyerang dengan pukulan-pukulan bertenaga dalam tinggi.
Buk buk!
“Arggk!”
Setan Mata Putih bisa bergerak menghindari tinju Raja Buru. Namun, serangan tinju berikutnya bisa masuk dan menghantam dada Setan Mata Putih. Ternyata tinju itu hanya membuat Setan Mata Putih meraung.
Set set!
Setan Mata Putih balas menyerang dengan cakaran panjangnya, sementara jari-jari tangannya menyala membara.
Meski gemuk, Raja Buru memiliki kecepatan tinggi dalam menyerang dan menghindar.
Seet! Slit slit!
Sambil melompat mundur, Raja Buru menghentakkan sepasang lengannya. Sepasang benang sinar biru melesat lalu melilit badan dan leher Setan Mata Putih.
Tas tas!
Namun, Setan Mata Putih menggunakan jari-jari menyalanya memutus dua benang sinar biru tersebut.
Set set set!
Setan Mata Putih gesit melompat menghindari semua serangan.
Set set set!
“Arggrk!” raung Setan Mata Putih keras, saat serangan pasak-pasak sinar hijau gelombang kedua yang datang menyusul cepat tidak bisa dia hindari.
Bluk!
Setan Mata Putih pun jatuh berdebam di tanah.
Seeet! Slit slit slit!
Ketika Setan Mata Putih bergerak bangkit, tiga sinar biru telah melesat cepat melilit kedua tangannya ditambah lilitan pada leher.
“Arggrk!” raung Setan Mata Putih berusaha memberontak melawan jeratan benang sinar biru itu.
Namun, secara perlahan kekuatan Setan Mata Putih melemah, sebab pasak-pasak sinar hijau yang menancap di beberapa titik pada tubuhnya. Lilitan benang sinar pada kedua tangannya, membuat Setan Mata Putih tidak bisa menggunakan tangannya untuk memutus benang-benang itu seperti tadi. Raja Buru pun menarik benangnya dengan tenaga yang besar.
“Ayo jalan!” perintah Raja Buru sambil menarik paksa Setan Mata Putih.
Makhluk bermata sinar putih itu terpaksa mengikuti. Jika dia melawan, bisa-bisa lehernya putus.
“Serang!” teriak seseorang tiba-tiba dari kejauhan.
Kejap berikutnya, belasan pendekar noncenteng berdatangan, baik dengan berlari ataupun dengan berkelebat di udara. Mereka langsung mengepung Setan Mata Putih dan Raja Buru.
__ADS_1
“Apa yang kalian lakukan? Setan ini sudah aku tangkap!” teriak Raja Buru cepat.
“Hah! Raja Buru!” sebut salah satu pendekar yang baru datang, ketika mengenali siapa pendekar gemuk yang mereka kepung.
“Raja Buru?” sebut yang lain terkejut.
“Oh, Rupanya sahabat lama,” kata yang lainnya.
“Aku dibayar khusus untuk menangkap Setan Mata Putih ini!” tandas Raja Buru.
Raja Buru lalu kembali menarik tiga benang sinar birunya, memaksa Setan Mata Putih berjalan menurut. Dia membawa ke arah halaman depan rumah Demang Mahasugi. Para pendekar serta Betok dan Jungkrik ikut mengarak Setan Mata Putih. Sementara para prajurit dan centeng kembali ke posisi tugasnya masing-masing.
Pada saat yang sama, di Kademangan Nuging Muko, tepatnya di dalam kerangkeng besi tengah kebun, pendekar bernama Genda Rukyoh dilanda kemarahan.
“Keparat terlalu! Siapa orang yang berhasil menangkap Setan Boneka-ku?!” maki Genda Rukyoh yang mengakhiri ritual pengendalian jarak jauhnya terhadap Setan Mata Putih.
Sementara itu, dilihatnya di dalam kerangkeng sebelah, Rogoh Wetan masih berkonsentrasi memerhatikan baskom yang berisi air putih campur kembang warna-warni. Itu menunjukkan bahwa Setan Boneka yang dikendalikan oleh Rogoh Wetan masih aman.
Kembali kekediaman Demang Mahasugi di Kademangan Kubang Kepeng.
Semua perhatian tertuju kepada makhluk yang diseret oleh Raja Buru.
“Demang, aku berhasil menangkap dan mengetahui siapa dalang dari Setan Mata Putih ini!” seru Raja Buru kepada Demang Mahasugi di atas teras.
Namun, di sisi lain, alangkah terkejutnya Nining Pelangi melihat sosok Setan Mata Putih.
“Kulung,” sebut Nining Pelangi lirih.
“Panglima, kau kenal dengan sosok menyeramkan itu?” tanya Mayang Wulan yang mendengar ucapan Nining Pelangi.
“Dia adalah adik seperguruanku yang hilang saat kami menyerang Perguruan Bulan Emas,” jawab Nining Pelangi.
Demang Mahasugi dan istrinya memandangi sosok Setan Mata Putih dengan seksama. Banyaknya cahaya obor membuat sosok itu terlihat jelas wajahnya. Lelaki muda itu memang tidak lain adalah Kulung, salah satu murid utama Perguruan Jari Hitam yang menghilang tidak jelas rimbanya.
Meski Genda Rukyoh sudah menghentikan kontrol ilmunya terhadap Kulung, sepasang mata pemuda itu masih bersinar putih dan jari-jarinya masih berkuku panjang. Namun, Kulung sudah tidak berusaha melawan lagi, kondisinya sudah sangat melemah.
Bluk!
Tiba-tiba Kulung jatuh terduduk karena tidak kuat lagi berdiri.
“Siapa dalang dari Setan Mata Putih ini?” tanya Demang Mahasugi.
“Bandar Bumi!” jawab Raja Buru lantang dan mantap.
“Keparaaat!” teriak Demang Mahasugi memaki marah.
Jawaban Raja Buru memperkuat pesan yang disampaikan oleh utusan Ratu Siluman.
“Paman Bandar Bumi benar-benar ingin menghancurkan kita,” ucap Putri Cicir Wunga.
“Bunuh saja setan itu!” perintah Demang Mahasugi sambil menunjuk Kulung yang sudah tidak berdaya.
“Tunggu!” teriak Nining Pelangi cepat.
Perhatian Demang Mahasugi dan yang lainnya segerah dialihkan kepada Nining Pelangi. Gadis berkepang itu menunjukkan jari-jari tangannya yang berwarna hitam.
__ADS_1
“Murid Perguruan Jari Hitam!” sebut beberapa pendekar bersamaan, termasuk Demang Mahasugi dan istrinya. (RH)