
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Pagi itu adalah waktu yang sibuk bagi murid-murid bagian dapur. Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara minta menu ayam panggang madu buatan Mbah Lawut. Sehubung Mbah Lawut sedang ada di perguruan itu, ia pun memimpin dapur di hari itu.
Pagi-pagi personel dapur harus pergi untuk membeli ayam yang cukup banyak karena stok ayam di kandang kurang banyak. Kekurangan madu pun harus diatasi dengan segera. Murid-murid yang ditugaskan untuk membeli madu dan ayam di luar perguruan, harus berkendara dengan kecepatan tinggi agar bisa pulang dengan tepat waktu.
Mbah Lawut harus berlaku laksana penglima perang dalam mengomandoi para juru masak. Ia tidak mau gara-gara kemalasan atau ketidakseriusan dari tim dapur, rasa ayam panggang madunya jadi tidak selezat di kedai di Desa Julangangin. Bagi orang Bulan Emas yang pernah merasakan nikmatnya ayam panggang madu Mbah Lawut, pasti akan kecewa jika ada rasa yang kurang sedikit saja.
Sebagian besar murid-murid Perguruan Bulan Emas beraktivitas seperti biasa, seolah-olah tidak ada perubahan pemimpin. Namun, ada sejumlah murid yang sedang resah memikirkan nasib mereka dengan menunggu kedatangan sang ratu. Mereka adalah dua puluh murid yang dipimpin oleh Gudibara. Tadi malam Gudibara sudah mendapat banyak cerita dari Juyung Sawa tentang apa yang terjadi dan ia diberi saran-saran.
Namun, sebelum kemunculan Alma Fatara, perguruan itu dihebohkan dengan kemunculan Gagap Ayu dan Penombak Manis. Pasalnya, keduanya yang baru saja melakukan misi tidak resmi, pulang membawa dua orang buronan perguruan, yaitu Giling Saga dan Guling Nikmat.
Tidak seperti ketika ditemukan, keduanya sudah berpakaian rapi, meski tidak disetrika. Yang juga bikin heboh adalah Giling Saga memanggul bangkai harimau.
“Guling Nikmat telah kembali! Guling Nikmat telah pulang!” teriak beberapa murid Bulan Emas memberi tahu rekan-rekan mereka.
Namun, keduanya harus diamankan terlebih dahulu untuk melalui sidang di depan Ratu Siluman.
Kabar kepulangan Guling Nikmat cepat sampai ke dapur umum.
Sikap menyikapi kepulangan Guling Nikmat terbagi dua di kalangan murid-murid Perguruan Bulan Emas. Sebagian orang perguruan memandang Guling Nikmat adalah pengkhianat karena kabur bersama musuh. Sedangkan bagi murid-murid perguruan yang mengutamakan kenikmatan bagi tenggorokannya, mereka senang dengan pulangnya Guling Nikmat, tanpa peduli apa alasan dari pengkhianatannya.
Rereng Busa dan murid-murid Perguruan Jari Hitam merasa lega dan bersukur karena nasib Giling Saga akhirnya jelas. Meski demikian, dia juga harus melalui pengadilan Ratu Siluman. Ia wajib menjelaskan apa yang terjadi selama dia kabur membawa anak gadis orang, meski usia Guling Nikmat sudah tidak enak disebut “gadis”.
“Gusti Ratu Siluman Dewi Dua Gigi tibaaa!” teriak protokol Ruang Purnama lantang dan laksana pembawa acara tinju.
Alma Fatara muncul dengan dikawal oleh Mbah Hitam dan empat murid utama perempuan Perguruan Bulan Emas. Di sini Alma benar-benar bertindak layaknya seorang ratu, meski ia belum menerapkan protokoler ring satu, ring dua, dan ring tiga.
Kemunculan Alma Fatara memukau mata segenap hadirin. Penampilannya dengan jubah dan baju serba jingga membuat segenap rakyat terpukau. Kecantikan Alma Fatara benar-benar tidak kalah dari kecantikan Wulan Kencana muda atau Suraya Kencani. Kecantikan itu tetap terlihat natural karena tanpa perhiasan rambut atau badan dan tanpa pupur bedak atau gincu.
Bagi murid-murid Bulan Emas, sepintas mereka seolah-olah sedang melihat guru mereka Wulan Kencana karena pengaruh pakaiannya. Namun faktanya, itu adalah Alma Fatara, anak laut yang telah menjelma menjadi Ratu Siluman.
Persidangan pun digelar.
Bagi kedua puluh satu murid Bulan Emas, mereka juga diberi pilihan tanpa paksaan kawin, mau memilih mengabdi atau pergi dari perguruan. Ternyata Gudibara memilih mengabdi. Keputusan itu diikuti oleh seluruh murid yang tersisa.
Sementara itu, bagi Giling Saga dan Guling Nikmat, mereka justru mendapat anugerah, yakni mereka akan dinikahkan meski tanpa pesta, agar tidak menguras uang kas perguruan. Namun, agar lebih memuaskan orang-orang yang tidak suka dengan pengkhianatan Guling Nikmat, Alma Fatara menghukum mereka dengan hukuman, memasak makanan untuk seluruh orang orang di perguruan selama lima hari berturut-turut, tapi tanpa bantuan siapa pun. Arti lainnya, semua juru masak akan libur selama itu kecuali Giling Saga dan Guling Nikmat.
Banyak yang tertawa mendengar anugerah dan hukuman yang diberikan kepada pasangan tersebut, kecuali Rinai Serintik. Gadis cantik itu adalah wanita yang paling dekat dengan Giling Saga selama ini. Perasaannya begitu terpukul ketika Giling Saga tahu-tahu pulang dengan membawa ole-ole, yaitu calon istri. Entah bagaimana ceritanya bisa demikian, tetapi Rinai Serintik tidak mau tahu.
Rereng Busa dan murid-muridnya tentu merasa gembira dengan kepulangan Giling Saga yang dalam kondisi selamat, meski tubuhnya ada bekas luka penyiksaan. Beruntungnya pula, Rereng Busa bisa membuka kembali aliran tenaga dalam Giling Saga yang disumbat, sehingga pemuda itu bisa kembali menjadi seorang pendekar dan bisa lebih percaya diri di depan Guling Nikmat.
Tinggal satu murid Perguruan Jari Hitam yang belum jelas kabar beritanya, yaitu Kulung.
Setelah pengadilan Giling Saga dan murid-murid Perguruan Bulan Emas usai, sumpah setia mereka pun diambil.
“Berlututlah dan ikuti kata-kataku!” perintah Mbah Hitam.
Para calon abdi itu lalu turun berlutut satu kaki.
“Disaksikan Dewa di langit!” seru Mbah Hitam.
__ADS_1
“Disaksikan Dewa di langit!” ucap semua murid-murid Bulan Emas pimpinan Gudibara, plus Giling Saga dan Guling Nikmat, dengan lantang dan khidmat.
“Tunggu!” seru Cucum Mili yang menghentikan seruan Mbah Hitam.
Semua mata seketika tertuju kepada wanita bercadar itu.
“Ada perkara mendesak apa, Kakak Putri?” tanya Alma Fatara tenang.
“Maafkan hamba, Gusti Ratu!” ucap Cucum Mili sambil menjura hormat cukup dalam. “Hamba juga ingin mengucap janji suci!”
Terkejutlah Anjengan dan seluruh personel Pasukan Genggam Jagad mendengar hal itu.
“Tidak, aku menyimpulkan kau ragu!” tolak Alma Fatara dengan entengnya. “Aku khawatir itu akan menjadi masalah di kemudian hari. Ingat, kau memiliki banyak pengikut dan kau pun harus memikirkan rencana cintamu dengan Putra Mahkota Singayam.”
“Tidak, aku sudah yakin. Aku sudan memikirkannya matang-matang sejak Janji Suci Tiga Jalan diucapkan!” tandas Cucum Mili.
“Baiklah, aku terima alasanmu, Kakak Putri,” ucap Alma Fatara lalu tiba-tiba bergerak terbang melayang dengan lembut turun ke hadapan Cucum Mili.
“Terima kasih telah percaya kepadaku, Kak. Hahaha!” ucap Alma Fatara lalu tertawa sambil bergerak memeluk Ketua Bajak Laut Kepiting Batu itu.
“Hihihi!” sambil tertawa kecil, Cucum Mili menyambut pelukan ratu jelita itu.
Tiba-tiba, Rereng Busa dan Balito Duo Lido bergerak maju ke sisi Cucum Mili.
“Kami pun ingin berjanji suci kepadamu, Gusti Ratu,” ujar Balito Duo Lido dengan mulut yang masih penuh dengan kunyahan sirih.
Terkejutlah mereka semua, tapi gembira.
“Hidup Putri Angin Merah!” teriak Anjengan tiba-tiba menjadi provokator.
“Hidup Ketua Perguruan Jari Hitam!” teriak Anjengan lagi sambil mengacungkan pedang macannya.
“Hidup Ketua Perguruan Jari Hitam!”
“Hidup Nenek Balito Duo Lido!”
“Hidup Nenek Balito Duo Lido!”
“Yeee! Hua hua hua!”
“Yeee! Hua hua hua!”
“Wik wik wik wik wik!”
“Wik wik wik wik wik!”
Ramai sekali, sampai-sampai Alma Fatara mengangkat tangan kanan memberi tanda.
“Cukup, Panglima!” seru Alma Fatara.
Maka berhentilah Anjengan berteriak dengan ekspresi wajah yang dingin, agar bisa sekeren Riring Belanga.
Alma Fatara lalu menjura hormat kepada Rereng Busa dan Balito Duo Lido.
__ADS_1
“Terima kasihku kepada Kakek Rereng dan Nenek Balito,” ucap Alma Fatara.
Kedua pendekar tua sakti itu hanya mengangguk dan tersenyum.
“Guru!” sebut murid-murid Jari Hitam serentak.
Rereng Busa dan yang lainnya jadi memandang kepada murid-murid Jari Hitam.
“Kalian semua berjanji sucilah, kecuali Riring Belanga!” perintah Rereng Busa.
“Terima kasih, Guru!” ucap beberapa murid seraya tersenyum gembira.
Clap!
Tiba-tiba Alma Fatara menghilang dan tahu tempe sudah duduk di kursi singgasananya.
Tanpa disuruh, Rereng Busa, Balito Duo Lido, Cucum Mili, dan murid-murid Jari Hitam turun berlutut satu kaki.
“Lanjutkan, Mbah!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Mbah Hitam patuh.
Mbah Hitam mengulang seruannya yang harus diikuti.
“Disaksikan Dewa di langit!” seru Mbah Hitam.
“Disaksikan Dewa di langit!” ucap semua orang yang berjanji suci.
“Disaksikan seluruh makhluk yang terlihat dan tidak terlihat!” seru Mbah Hitam lagi.
“Disaksikan seluruh makhluk yang terlihat dan tidak terlihat!”
“Aku bersumpah suci!”
“Aku bersumpah suci!”
“Akan mengabdikan nyawa dan raga kepada Ratu Siluman Ratu Dewi Dua Gigi!”
“Akan mengabdikan nyawa dan raga kepada Ratu Siluman Ratu Dewi Dua Gigi!”
“Sekarang bersujudlah!” perintah Mbah Hitam.
Maka semua yang berjanji suci bersujud.
“Aku terima sumpah suci kalian. Sekarang bangkitlah!” seru Alma Fatara.
Para abdi baru itu segera bangun berdiri dengan perasaan dan pandangan yang terasa baru ke depannya. Di dalam kepala banyak dari mereka telah terbayang masa depan dengan kelompok mereka yang kuat. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.