Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Kerja Bu 5: Menyeret Rawil Sembalit


__ADS_3

*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*


Wangiwulan bingung. Apakah hubungannya dengan Rawil Sembalit hal yang benar atau suatu kesalahan dalam hidupnya?


“Aku tidak mungkin dipisahkan dari Kakang Rawil!” teriak Wangiwulan kepada kakaknya, Dugalara.


“Kenapa kau berkeyakinan seperti itu?” tanya Dugalara sambil meraih dan merenggut rambut kepala Rawil Sembalit.


Rawil Sembalit yang sudah tidak berdaya karena telah mendapat dua hantaman keras, hanya bisa menurut seraya meringis kesakitan pada kepalanya.


“Aku sudah hamil oleh Kakang Rawil!” kata Wangiwulan lantang.


“Apa?!” kejut Dugalara dan semakin menahan amarah.


Dugalara lalu beralih membungkuk menatap tajam wajah Rawil Sembalit yang sudah meneteskan darah. Dugalara menekankan giginya menahan kegeraman.


“Bagus jika kau hamil, Wangiwulan! Aku lebih punya alasan untuk membunuh anak-anak Runok Ulung!” desis Dugalara lalu menggerakkan tangan kirinya.


Bug! Bug!


Dua bogem matang menghantam wajah Rawil Sembalit.


“Kakang Dugalara, cukup!” pekik Wangiwulan.


Saat itu juga, Warga Sengko datang bersama pasukannya yang bersenjata celurit.


“Bawa Wangiwulan pulang!” perintah Dugalara kepada Warga Sengko.


“Baik, Gusti!” ucap Warga Sengko patuh.


Sing!


“Jangan coba-coba mau membawaku!” seru Wangiwulan sambil todongkan pedangnya yang sudah ia loloskan.


Warga Sengko dan anak buahnya terpaksa menahan langkah dan gerak mereka.


Namun, tiba-tiba sesosok tubuh berpakaian kuning keemasan berkelebat cepat di udara. Ia mendarat tepat di sisi Wangiwulan dalam jarak sejangkauan.


“Kakang Ragabidak!” sebut Wangiwulan terkejut setelah mengenali siapa yang datang.


Tuk tuk tuk!


Lelaki gagah yang lebih muda dari Dugalara itu membalas sapaan Wangiwulan dengan gerakan tangan yang sangat cepat. Tahu-tahu tiga totokan telah mendarat pada tubuh Wangiwulan.


Seketika Wangiwulan terdiam dalam kondisi berdiri. Ia bahkan tidak bisa bersuara. Pedang masih terpegang di tangannya.


Orang yang baru datang adalah seorang lelaki bertubuh gagah dan terlihat keras. Pada usianya yang empat puluh tahun, ketampanannya sangat jelas dengan hidung yang mancung dan kokoh. Lelaki berpakaian kuning emas itu tidak membawa senjata. Ia adalah Ragabidak, adik dari Dugalara dan kakak dari Wangiwulan.


Ragabidak lalu melepaskan pedang dari tangan adiknya. Tanpa berkata apa-apa, Ragabidak langsung memanggul tubuh Wangiwulan setelah menyarungkan pedang yang terhunus. Ia membawa tubuh Wangiwulan ke kuda yang talinya dipegang oleh Lestari.


Di sana ada tiga kuda.


“Warga, ikat keparat ini dengan tali!” perintah Dugalara.

__ADS_1


Tiba-tiba Rawil Sembalit bergerak mendadak menggunakan tenaga cadangannya. Ia hendak melompat ke dalam sungai.


Beg!


“Hekr!” keluh Rawil Sembalit saat lambungnya mendapat hantaman keras oleh batang kaki Dugalara yang bergerak lebih cepat, sebelum ia mencapai air.


Tubuh Rawil Sembalit terlempar balik dan punggungnya menghantam keras batang pohon. Darah menyembur dari dalam mulutnya. Pemuda tampan itu jatuh berdebam di atas akar pohon, lalu menggeliat pelan karena kesakitan yang luar biasa.


Tubuh Wangiwulan sudah dinaikkan ke punggug kuda. Lestari lalu naik pula ke kuda yang sama. Lestari kemudian membawa tubuh majikannya.


Ragabidak melemparkan gulungan tambang yang dibawa oleh kudanya kepada Warga Sengko. Pemimpin centeng itu lalu mngurus Rawil Sembalit yang benar-benar sudah tidak berdaya.


Ragabidak lalu naik ke punggung kudanya. Demikian pula dengan Dugalara. Tali sudah diikatkan kepada kedua tangan Rawil Sembalit, sementara ujung tali satunya diikatkan pada tubuh kuda Ragabidak.


Rawil Sembalit dipaksa untuk berdiri. Ternyata Rawil Sembalit bisa berdiri dalam kondisi ia masih menahan sakit yang luar biasa pada badannya.


“Heah!” gebah Ragabidak mulai menjalankan kudanya.


Dengan berjalannya kuda Ragabidak, maka Rawil Sembalit pun tertarik. Dengan terhuyung-huyung Rawil Sembalit berlari kecil. Ia tahu risikonya jika ia tertarik jatuh. Meski tubuhnya lemah, tetapi kedua kakinya masih memiliki tenaga, meski larinya terhuyung-huyung.


Rupanya Ragabidak tidak kencang memacu kudanya. Warga Sengko dan tiga puluh anak buahnya berlari di belakang.


Perjalanan mereka menjadi pusat perhatian warga yang mereka lalui. Para warga itu tahu siapa mereka yang berkuda dan siapa yang sedang ditarik oleh kuda.


“Sepertinya akan ada pertumpahan darah lagi,” ucap seorang warga kepada rekannya sesama warga lelaki.


“Sampai kapan kedua keluarga raden itu berhenti bermusuhan?” tanya warga satunya yang tidak bisa dijawab oleh mereka, termasuk oleh rumput yang bergoyang.


“Tidak semudah meniup semut. Buktinya Rawil justru dihajar dan diseret seperti itu. Keluarga Raden Gondo Sego tidak tertarik sedikit pun.”


“Selagi dua keluarga bangsawan itu masih terus mendendam, selama itu juga kademangan ini tidak tenteram dan tidak akan memiliki demang.”


Sementara itu di jalan utama Kademangan Santun Pongah, rombongan Dugalara dan Ragabidak melihat keberadaan lima orang sedang berkerumun di tengah jalan. Kelompok orang muda lelaki dan wanita itu, tidak lain adalah Alma Fatara dan keempat sahabat lengketnya.


Alma dkk segera menyingkir dengan mebagi diri ke kanan dan ke kiri jalan.


Ternyata kedua kuda yang menyeret Rawil Sembalit berhenti di dekat garis merah, yang terbuat dari besi tebal yang dipendam ke dalam tanah jalanan. Garis merah itu memotong jalanan seperti polisi mati.


Duk!


Rawil Sembalit yang wajahnya bengkak memar dan berdarah, jatuh berlutut dengan kepala terjuntai lemah.


Dalam waktu singkat, warga sekitar yang melihat kondisi tersebut, segera berdatangan berkerumun. Suara kasak-kusuk mulai terdengar di antara para warga.


Di belakang muncul pula rombongan pasukan berseragam hitam dan bersenjata celurit. Rombongan itu berhenti di belakang kuda.


Ragabidak lalu turun dari kudanya. Ia melepas ikatan tali pada badan kudanya. Kemudian dia pergi merenggut rambut kepala Rawil Sembalit. Rambut pemuda itu ia tarik untuk memaksanya berdiri.


“Aaak!” erang Rawil Sembalit.


Ragabidak lalu mendorong punggung Rawil Sembalit dengan satu tendangan pelan tapi bertenaga. Pemuda itupun tersungkur keras ke tanah kering, melewati garis merah.


“Iiih!” Bereaksi Juling Jitu melihat nasib Rawil Sembalit.

__ADS_1


Sementara tali masih dipegang oleh Ragabidak.


“Keluarga Runok Ulung, keluar kau!” teriak Dugalara lantang yang mengandung tenaga dalam, membuat teriakannya terdengar jauh ke mana-mana.


“Alma, di sini tidak ada pintu, kenapa dia menyuruh keluar?” tanya Anjengan berbisik.


“Kau ta-ta-tanya langsung sa-sa-saja ke-ke-kepadanya,” kata Gagap Ayu.


“Jika aku tanya langsung, aku takut tidak bisa mengendalikan pesonaku,” kilah Anjengan.


“Hahahak!” Tiba-tiba tawa Alma meledak di pinggir jalan itu.


Tawa Alma yang tetiba sifatnya sontak mengejutkan Dugalara, Ragabidak, Warga Sengko dan pasukannya, serta warga yang telah berkumpul.


Pihak dari Keluarga Raden Gondo Sego menatap tajam kepada Alma yang tidak bisa menahan tawanya.


“Hahaha! Ompong!” teriak seorang warga sambil tertawa menunjuk Alma.


“Hahaha!” tawa warga yang lain beramai-ramai.


Ditertawai ramai-ramai, Alma tetap istiqomah tertawa.


“Hei, Nisanak!” bentak Dugalara kepada Alma.


Seketika Alma membendung tawanya dengan katupan bibir yang rapat. Warga yang tertawa pun jadi berhenti mendadak, seolah-olah mereka mengalami cepirit.


“Apa yang kau tertawakan, hah?!” bentak Dugalara.


Dengan wajah yang mendelik cantik dan mulut rapat, Alma hanya menunjuk ke samping tanpa melihat apa yang ditunjuknya, sehingga telunjuk Alma menusuk hidung seksi Anjengan. Masih untung tidak menusuk lubang hidungnya.


“Aem!” Karena hidungnya dicolok, Anjengan berinisiatif menggigit jari telunjuk Alma.


“Ak!” pekik Alma terkejut dan spontan menarik jarinya lepas dari gigi Anjengan.


“Hahaha!” tawa Anjengan terbahak bersama Gagap Ayu, Iwak Ngasin dan Juling Jitu.


“Dasar Rayap Sawah!” maki Alma sambil menendang pinggul Anjengan dengan keras.


Bluk!


Anjengan terdorong jatuh tepat di samping Rawil Sembalit.


“Hahaha!” tawa warga lagi ramai-ramai.


Kondisi kocak yang tercipta justru membuat Dugalara dan Ragabidak gusar. Namun, sebelum keduanya melakukan sesuatu menyikapi suasana riuh itu, tiba-tiba ….


Set! Teb!


Sebatang tongkat berwarna biru terang melesat dan menancap di tanah, di titik sisi tubuh Rawil Sembalit.


“Jaran Telu!” sebut para warga bersamaan, kompak pula menghentikan tawanya saat tongkat biru itu datang. (RH)


 

__ADS_1


__ADS_2