
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
“Kipas Modar?” terka Alma Fatara sambil menunjuk wajah pemuda di depan muka kudanya itu.
“Aku Gibas Madar, Alma. Aku murid paling tidak berbakat di perguruan ini. Pemuda tampan yang hampir mati digantung oleh Nyi Bungkir. Hahaha!” ralat pemuda tersebut.
“Hahahah …!” Alma tertawa panjang setelah diingatkan dengan jelas siapa adanya pemuda itu, murid Perguruan Jari Hitam yang pertama dikenalnya.
“Ayo masuk, Alma!” kata Gibas Madar sambil meraih tali kuda Alma dan menuntunnya masuk. “Kau tambah cantik saja, Alma. Aku jadi tersipu malu. Hahaha!”
“Hahaha! Dua tahun tidak bertemu, apakah waktu selama itu tidak cukup bagimu untuk mencari istri?” tanya Alma sambil mengedarkan pandangannya ke seantero perguruan yang terjangkau oleh pandangannya. Ia hanya melihat ada satu dua murid lelaki perguruan yang memunculkan diri untuk melihat siapa yang datang bertamu.
“Nasibku, Alma. Sedemikian banyak murid wanita di perguruan ini, tetapi satu pun tidak ada yang menunjukkan rasa cinta kepadaku,” jawab Gibas Madar.
“Jika tidak ada yang menunjukkan rasa cinta kepadamu, coba kau balik. Tunjukkan rasa cinta kepada wanita yang kau suka. Apakah sudah kau coba?” kata Alma.
“Hehehe! Belum, aku tidak berpikir,” jawab Gibas Madar.
Sebanyak empat murid kemudian datang menyongsong kedatangan Alma. Mereka dua lelaki dan dua wanita.
“Alma!” sapa mereka dengan ramah.
Alma tersenyum lebar lalu turun dari kudanya.
“Aku sudah mendengar sedikit cerita dari Demang dan Nyi Bungkir tentang perguruan ini. Namun, aku ingin mendengar lebih jelas dari kalian,” ujar Alma kepada mereka berlima.
“Lebih baik kami ceritakan di pendapa,” kata lelaki berpakaian biru, yang sepertinya dialah orang di atas menara bambu. Namanya Rulung, ia lebih tua dari Gibas Madar.
Mereka pun menuju ke pendapa yang terlihat begitu lengang. Satu murid wanita segera memisahkan diri untuk mengambil jamuan.
“Apakah hanya kalian berlima yang menjaga perguruan ini?” tanya Alma.
“Kami bertujuh,” jawab Gibas Madar.
“Bukankah sangat berbahaya menyisakan hanya kalian bertujuh?” tanya Alma.
“Sebelum semua berangkat untuk membebaskan Guru di Perguruan Bulan Emas, semua harta penting milik perguruan sudah diamankan dengan baik,” jawab Rulung.
Mereka akhirnya tiba di pendapa. Mereka duduk di sana. Gibas Madar menambatkan kuda milik Alma. Dalam waktu cepat, datang pula jamuan berupa kacang rebus dan kelapa muda segar. Jamuan itu hanya untuk Alma seorang.
Mulailah Gibas Madar bercerita. Di antara para murid yang ada di situ, dialah yang sangat dekat dengan sang guru.
__ADS_1
“Suatu hari, Guru dan Giling Saga pergi memenuhi undangan dari Raja Tanpa Gerak di daerah Bukit Selubung. Tetapi, sepulang dari Bukit Selubung, Guru dan Giling Saga diracun di perjalanan. Guru kemudian diculik oleh orang-orang Perguruan Bulan Emas. Giling Saga tidak ikut diculik, tetapi dia diminta membawakan Telur Gelap sebagai tebusan untuk membebaskan Guru,” tutur Gibas Madar.
“Apa itu Telur Gelap?” tanya Alma.
“Tidak tahu. Giling Saga juga tidak tahu apa itu Telur Gelap. Jadi Giling Saga memutuskan pulang ke perguruan dan mengajak murid-murid pergi menyerang Perguruan Bulan Emas untuk membebaskan Guru.”
“Aku khawatir Guru Rereng Busa justru terancam nyawanya jika kalian datang ke Perguruan Bulan Emas tanpa membawa Telur Gelap,” ujar Alma.
“Kami juga mengkhawatirkan hal itu, Alma. Namun, satu pun dari kami tidak ada yang mengetahui tentang Telur Gelap. Akhirnya murid-murid utama sepakat untuk menyerang Perguruan Bulan Emas,” kata Rulung.
“Aku jadi memendam kekhawatiran. Di mana letak Perguruan Bulan Emas?” tanya Alma.
“Aku tidak tahu jelas, tapi di kisaran Bukit Tujuh Kepala,” jawab Gibas Madar. “Apa Kakang Rulung tahu di mana itu Bukit Tujuh Kepala?”
“Aku dengar-dengar di wilayah timur Kerajaan Singayam, tapi aku juga tidak tahu pasti,” jawab Rulung.
“Ingin aku menyusul Giling Saga dan yang lainnya ke sana. Namun sayang, saat ini aku harus pergi ke ibu kota Balongan,” ujar Alma. “Namun, jika urusanku di Balongan sudah selesai, aku usahakan untuk mencari Perguruan Bulan Emas.”
“Alma, aku dengar-dengar, ada bajak laut yang menyerang kediaman Demang Baremowo?” tanya Gigas Madar.
“Sudah aku atasi. Karena perkara itu pula aku harus ke Balongan. Lalu bagaimana kabar Gelis Sibening dan Dendeng Pamungkas?”
“Mereka berdua ikut pergi ke sana,” jawab Gibas Madar.
“Semenjak menjadi istri Dendeng Pamungkas, Gelis Sibening berguru giat,” kata Rulung.
Setelah bincang-bincang, Alma kemudian pamit, seiring hari mulai meremang. Ia harus kembali ke kediaman Demang Baremowo.
Namun, setibanya di kediaman Demang Baremowo suasana berubah jauh lebih sepi. Para bajak laut yang jumlahnya puluhan orang tiba-tiba menghilang, sudah tidak terlihat di sekitar kediaman Demang. Hanya ada keempat sahabat Alma yang sedang akur berada di teras dan sejumlah prajurit kademangan yang berjaga kembali normal, seperti sebelum mendapat serangan dari Bajak Laut Kepiting Batu.
“Kau tidak bawa apa-apa, Alma?” tanya Anjengan dengan kening berkerut.
“Apa yang kau harapkan, Kak? Makanan?” tanya Alma yang baru menghentikan kudanya di halaman yang sudah dipasangi sejumlah obor.
“Hahaha! Aku mengharapkan lelaki tampan seperti Mbah Hitam, tapi yang masih muda,” jawab Anjengan seenaknya.
“Dewa memang maha adil. Seandainya kau diberikan tubuh yang secantik Alma, aku yakin akan banyak sekali lelaki yang menjadi korbanmu,” kata Iwak Ngasin.
“Kau pikir aku lintah pengisap darah?” bentak Anjengan.
“Kau bu-bu-bukan lintah, te-te-tetapi ubur-ubur mengisap da-da-darah ko-ko-kotor!” kata Gagap Ayu.
__ADS_1
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara.
“Kau mau adu tarik rambut lagi?!” bentak Anjengan.
“Hihihi!” tawa Gagap Ayu.
Seorang prajurit lalu mengambil alih tali kendali kuda Alma. Dari dalam rumah keluar Nyi Bungkir, masih dalam tampilannya yang menawan, membuat Iwak Ngasin dan Juling Jitu selalu tersenyum jika bertemu pandang dengannya.
“Ke mana mereka, Bi?” tanya Alma kepada Nyi Bungkir.
“Pulang, ke laut. Tapi Cucum Mili mengatakan, akan segera menyusul ke Balongan,” jawab Nyi Bungkir.
“Besok pagi kita akan berangkat ke Balongan. Istirahatlah!” kata Alma kepada para sahabatnya.
“Apakah kita akan berperang melawan Bajak Laut Ombak Setan?” tanya Juling Jitu.
“Tidak, tapi kita akan menjadi penggembira,” kata Alma.
“Maksudmu, penggembira yang jika mati tidak dipedulikan?” terka Iwak Ngasin.
“Iya. Hahaha!” Alma tertawa. Lalu katanya lagi, “Kalian tidak perlu khawatir, jika kalian tidak ingin ikut berperang, kalian bisa membantu mengangkut persenjataan atau makanan.”
“Mengangkut makanan sepertinya tugas yang lebih baik,” timpal Anjengan.
“Bibi, apakah kau pernah mendengar nama Telur Gelap?” tanya Alma kepada Nyi Bungkir.
“Sepertinya tidak pernah. Ada apa dengan benda itu?”
“Syarat untuk membebaskan Kakek Rereng Busa dari sekapan Perguruan Bulan Emas,” jelas Alma. “Ternyata Gelis Sibening juga berangkat untuk menyerang ke sana.”
“Apa, putriku juga berangkat ke Perguruan Bulan Emas?” kejut Demang Baremowo yang muncul di belakang istrinya. “Bagaimana ini? Apakah Dendeng Pamungkas tidak memikirkan keselamatan istrinya?”
“Apakah kau tidak bisa pergi untuk memastikan keselamatan Gelis, Alma?” tanya Nyi Bungkir yang memahami kekhawatiran suaminya. Gelis Sibening adalah putri kesayangan Demang Baremowo.
“Setelah memastikan keselamatan orang-orang dekatku di Balongan, aku akan segera mencari murid-murid Perguruan Jari Hitam,” kata Alma demi menenangkan kedua pemimpin kademangan itu. Sebab, akan menjadi keputusan yang tidak bagus jika Demang Baremowo memaksakan diri pergi demi putrinya. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!
__ADS_1