Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 37: Guling Nikmat


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


 


Julukannya Guling Nikmat. Ia seorang wanita berusia empat puluh tahun lebih satu hari. Pastur tubuhnya sedang, tapi agak gemuk. Wajahnya bulat-bulat agak cantik, tapi bukan berarti kebanyakan jeleknya. Nama aslinya sudah tidak dihiraukan oleh warga Perguruan Bulan Emas.


Meski jabatannya sebatas Wakil Juru Masak di perguruan itu, tetapi Guling Nikmat ibarat nyawanya makanan untuk seluruh penghuni perguruan, termasuk nyawa bagi makanan Ketua Perguruan Bulan Emas dan petinggi perguruan lainnya. Ilmu masaknya sudah level dunia. Sayang, saat ini belum ada kompetisi memasak tingkat dunia, sehingga bakatnya harus terpendam di bawah atap perguruan saja.


Setiap menjelang waktu makan bagi perguruan, maka dapur utama perguruan akan selalu sibuk. Masakan harus masak tepat waktu dan tepat rasa. Meski judulnya memasak, tetap saja pengerjaannya harus gesit seperti orang berlatih jurus.


“Bubur jagung daging kelincinya sudah siap matang!” teriak seorang koki yang menangani masakan bubur.


“Tahan!” seru Guling Nikmat cepat, karena ia teringat sesuatu.


Masakan bubur jagung daging kelinci itu bukan masakan rutin, jadi ada satu bumbu yang lupa dimasukkan.


“Kecilkan dulu apinya, ada satu bumbu yang terlupa!” seru Guling Nikmat. Lalu perintahnya, “Sukiyem, ambilkan lada halus!”


“Tapi lada halus di luar sudah habis, Nikmat. Adanya di dalam ruang bumbu, belum dikeluarkan lagi,” sahut wanita yang bernama Sukiyem.


“Aku akan segera mengambilnya,” kata Guling Nikmat akhirnya.


Ruang bumbu adalah tempat menyimpan bumbu-bumbu dalam jumlah banyak. Tidak ada yang boleh mengeluarkan bumbu tanpa izin dari Ketua atau Wakil Juru Masak. Saat ini, Guling Nikmat yang memegang kuncinya.


Guling Nikmat harus pergi meninggalkan dapur utama. Kamar bumbu tidak jauh dari dapur, tapi harus keluar melewati gang yang agak gelap. Tidak ada penjaga di sana pada waktu malam, karena kamar bumbu dianggap tidak begitu penting. Padahal, tanpa bumbu, dua per tiga kebahagiaan saat makan akan terenggut.


Baru saja Guling Nikmat hendak memasukkan kunci ke lubang gembok, tiba-tiba lima jari-jari hitam muncul dari belakang dan membekap wilayah mulutnya. Saat yang sama, ada lima jari lain yang membara diperlihatkan di depan matanya.


“Jangan berontak!” bisik lelaki yang membekap mulut Guling Nikmat dan menariknya mundur meninggalkan depan ruang bumbu itu.


Lelaki yang adalah Giling Saga itu, membawa paksa Guling Nikmat ke tempat yang gelap dan tersembunyi. Giling Saga lalu menotok Guling Nikmat.


“Jangan coba-coba berteriak, atau lehermu aku lubangi!” ancam Giling Saga berbisik dengan wajah yang begitu dekat dengan Guling Nikmat, demi menyempurnakan persembunyiannya.


“Si-siapa kau? Kau bukan orang Bulan Emas,” tanya Guling Nikmat pelan, ia ketakutan melihat dan merasakan jari-jari panas yang ada di dekat leher dan wajahnya. Sementara Giling Saga benar-benar menekannya rapat ke dinding yang gelap.


Giling Saga tidak menotok pita suara Guling Nikmat.


“Katakan, di mana Ketua Perguruan Jari Hitam ditahan!” tanya Giling Saga.


“Aku … aku tidak tahu. Aku hanya … hanya juru masak perguruan,” jawab Guling Nikmat yang tidak bisa berbuat apa-apa, karena tubuhnya dalam kondisi ditotok.


“Sebagai juru masak perguruan, seharusnya kau tahu di mana tahanan berada, karena kalian pasti membawakannya makanan!” desak Giling Saga.


“Tidak, kami tidak mengirimkan makanan untuk tahanan,” jawab Guling Nikmat.


“Keparat, kalian kejam sekali. Kalian bahkan tidak memberi makan kepada tahanan!” maki Giling Saga, tapi berbisik sangat dekat di telinga Guling Nikmat, membuat wanita perawan tua itu merasakan desiran geli di saat ketakutan.

__ADS_1


“Guling Nikmat!”


Tiba-tiba terdengar suara panggilan seorang wanita.


“Jangan bersuara!” ancam berbisik Giling Saga sambil agak mencekik leher Guling Nikmat, tetapi jari-jarinya dalam kondisi padam. Namun, jari-jari itu bisa menyala membara setiap saat.


Wanita yang mencari Guling Nikmat adalah Sukiyem.


Guling Nikmat yang katanya pergi mengambil bumbu, tapi tidak kunjung kembali, membuat Sukiyem berinisiatif menyusul ke ruang bumbu.


Namun, Sukiyem harus bingung, sebab ia tidak menemukan keberadaan Guling Nikmat dan pintu ruang bumbu masih dalam keadaan tergembok.


“Nikmat, Rumpak sudah datang mau mengambil buburnya!” teriak Sukiyem asal, jika-jika Guling Nikmat sedang buang air di dalam kegelapan malam.


Namun, teriakan Sukiyem tidak mendapat jawaban. Sukiyem memilih untuk kembali ke dapur utama.


“Di mana Guling Nikmat?” tanya Sumina saat melihat Sukiyem kembali seorang diri.


“Tidak tahu,” jawab Sukiyem sambil wajahnya mengerenyit, tapi bukan karena menahan kentut.


“Memangnya kau mencarinya ke mana? Kau sudah lihat di ruang bumbu?” tanya Sumina, rekan duet Sukiyem dalam memasak.


Para koki yang lain hanya menyaksikan dialog kedua wanita itu.


“Tidak ada. Pintu ruang bumbu masih terkunci,” tandas Sukiyem. “Aku panggil pun tidak menyahut.”


“Bagaimana?” tanya seorang lelaki yang berdiri bersama dua teman lelakinya yang lain. Mereka semua berseragam warna kuning.


“Tadi Guling Nikmat mengatakan kalau buburnya kurang bumbu lada. Tapi sudahlah, bawa saja. Kurang rasa sedikit tidak apa-apa, yang penting kenyang,” kata Sukiyem.


“Coba, aku cicipi dulu,” kata lelaki yang bernama Rumpak itu.


Ia lalu meraih centong dan mengambil sedikit bubur yang harum aromanya. Setelah meniup-niup, Rumpak mencicipi buburnya.


“Ah, ini sih sudah enak,” kata Rumpak. Lalu katanya kepada rekannya, “Uding, ayo angkat!”


Rumpak dan rekannya yang bernama Uding lalu mengangkat kuali tanah liat besar dari atas tungku. Kuali itu berisi bubur untuk makan malam warga Perguruan Bulan Emas.


“Sukiyem, bagaimana ini? Apakah masakan untuk Guru Besar langsung kita masak saja tanpa Guling Nikmat?” tanya Sumina.


“Kalian, masak sekarang menu untuk Guru Besar. Aku dan Sumina pergi sebentar mencari Guling Nikmat!” perintah Sukiyem kepada para koki rekan-rekannya yang lain.


Waktu makan Ketua Perguruan Bulan Emas yang akrab disebut Guru Besar, memang lebih lambat dibandingkan waktu makan para murid. Jadi setelah memasak menu bagi para murid, juru masak kemudian akan memasak menu untuk Guru Besar yang lebih beragam dan khusus.


Sukiyem dan Sumina lalu meninggalkan dapur utama untuk mencari Guling Nikmat. Setelah mengelilingi sekitar dapur utama, gudang bahan makanan, toilet umum perguruan, hingga ke asrama para koki dan pelayan, kedua koki perempuan itu tidak jua menemukan Guling Nikmat.


“Aneh, seperti pergi kawin lari saja,” ucap Sumina.

__ADS_1


“Hihihi!” tawa Sukiyem menanggapi keluhan rekannya. Lalu katanya, “Mungkin ada panggilan mendadak oleh Guru Besar. Yuk, kita minta bantuan murid bagian penjagaan. Jika kita yang keluyuran malam-malam ke gedung utama, bisa-bisa kita dituding maling.”


“Iya.”


Maka keduanya pergi menuju ke pos utama murid bagian penjagaan, pusat pengaturan penjagaan dan patroli di dalam maupun di luar perguruan.


Sementara itu, Giling Saga sudah bersepakat dengan Guling Nikmat. Mereka bersepakat bukan untuk menikah, tetapi Guling Nikmat berjanji tidak akan berteriak. Di bawah ancaman jari maut Giling Saga, Guling Nikmat diajak menyelinap penuh hati-hati melewati titik-titik gelap.


“Masih jauh letak penjaranya?” tanya Giling Saga berbisik di dekat telinga Guling Nikmat.


“Harus masuk lewat di samping gedung utama,” jawab Guling Nikmat setelah merasakan desiran geli di telinganya, yang kemudian turun ke hati.


“Area itu terlalu terang,” keluh Giling Saga sambil berjongkok bersama Guling Nikmat di dalam gelap. Satu tangannya merangkul punggung Guling Nikmat untuk mencegahnya lari tiba-tiba. Ia tidak lagi mengindahkan apakah Guling Nikmat itu wanita atau makhluk jejadian.


Giling Saga sedang memikirkan bagaimana cara untuk bisa mencapai samping gedung utama yang berdiri megah. Sesekali sejumlah lelaki berseragam kuning terlihat berjalan lewat melintas.


Tiba-tiba Giling Saga mendengar suara langkah kaki kuda yang datang mendekat. Sebelum kuda-kuda itu benar-benar tiba di dekatnya, Giling Saga buru-buru menarik Guling Nikmat dan berpindah ke titik yang lebih jauh dan tidak terjangkau oleh cahaya obor perguruan.


Di pojok dinding batu, Giling Saga benar-benar menekan tubuh depan Guling Nikmat, bermaksud menutupi wanita itu dengan punggungnya di dalam kegelapan. Ia khawatir warna kuning pakaian Guling Nikmat akan mudah dilihat meski ada di dalam gelap.


“Apakah ini rasanya dipeluk oleh seorang suami?” tanya Guling Nikmat yang tidak mendapat respon dari Giling Saga, sebab ia bertanya di dalam hati.


Deru napas Giling Saga bisa leher Guling Nikmat rasakan. Degub jantung yang kencang, bisa Guling Nikmat dengar dengan jelas.


Ada tiga orang lelaki berpenunggang kuda yang datang. Ketiganya mengenakan seragam kuning, tetapi modelnya lebih keren dibandingkan seragam para murid kebanyakan. Ternyata salah satu dari penunggang kuda itu adalah Buto Renggut, orang yang memimpin peracunan Rereng Busa dan Giling Saga sekitar setengah purnama yang lalu di Desa Julangangin.


“Berhentilah, Gudibara. Ketua Sayap Kanan itu bukan wanita, dia itu menyukai wanita, bukan lelaki. Hahaha!” kata Buto Renggut yang berkuda santai bersama kedua rekannya, yang sama-sama adalah murid utama perguruan.


“Tidak, aku tetap yakin dia adalah wanita. Kau bisa nilai sendiri, sangat jarang ada murid wanita di perguruan ini yang lebih cantik dari dia,” tandas lelaki berkumis yang bernama Gudibara. Ia berusia kisaran empat puluh tahun dan masih gagah.


“Sesst!” desis lelaki yang bernama Juyung Sawa kepada kedua rekannya.


Buto Renggut dan Gudibara jadi memandang serius kepada Juyung Sawa.


Juyung Sawa memainkan lirikan bola mata dan kedua alisnya, menunjuk arah sisi kiri mereka yang gelap gulita.


Buto Renggut yang lebih dulu memahami maksud Juyung Sawa, cepat bertindak.


Sest!


Buto Renggut meraih satu senjata piringannya yang kemudian dia lesatkan. Piringan itu menyala, mengeluarkan sinar kuning terang yang langsung menerangi area gelap di sepanjang tembok perguruan.


Alangkah terkejutnya Giling Saga melihat tempat itu yang tiba-tiba terang. Ia pun terlihat jelas sedang memeluki Guling Nikmat merapat di sudut tembok.


Sing!


Piringan Buto Renggut mengiris segaris bagian tembok, agak lebih tinggi di atas kepala Giling Saga, menimbulkan percikan kembang api berwarna kuning.

__ADS_1


“Penyusup cari mati!” teriak Buto Renggut.


Giling Saga menengok dengan terkejut melihat ketiga lelaki berkuda yang memergokinya itu. (RH)


__ADS_2