Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
SMP 7: Penghitung Kuda


__ADS_3

*Setan Mata Putih (SMP)*


 


“Huwaaah!”


Jungkrik menguap dengan nikmatnya, sampai-sampai pemandangan malam di sekitarnya tidak ia lihat untuk sementara waktu.


“Hoi!” teriak Kungkang sambil menepok mulut Jungkrik yang terbuka lebar.


Jelas hal itu membuat Jungkrik terkejut dan gelagapan. Seketika kantuknya ambyar sejenak dimakan setan, lalu balik lagi.


“Wedus banci!” maki Jungkrik kepada Kungkang yang bertubuh gemuk dan gendut, sama seperti dirinya.


“Hahaha! Itu cara ampuh untuk mengusir maling. Eh eala, mengusir ngantuk maksudku,” kata Kungkang.


“Kung, kita itu tidak mungkin semalaman terus terjaga tanpa tidur. Besok pun kita tetap harus terjaga karena harus memandikan kuda-kuda yang belum dapat giliran mandi ….”


“Jadi kau tidur duluan, lantas aku berjaga sendirian, nanti gantian. Begitu?” terka Kungkang memotong.


“Kau memang tetanggaku yang paling mengerti isi hatiku. Hahaha!” puji Jungkrik.


“Iya. Dan kau adalah sahabat yang paling tidak mengerti kemaluanku. Eh eala, mengerti kemauanku, maksudku,” kata Kungkang.


“Kalau kau mau aku mengerti kemaluanmu juga tidak apa-apa,” kata Jungkrik.


“Husy, sembarangan!” hardik Kungkang.


“Hahaha!” tawa Jungkrik sambil merebahkan badan gembulnya menyamping dan menekuk lututnya, agar sarungnya cukup untuk menutupi badan dan kakinya.


“Dasar kerbau kaki dua!” rutuk Kungkang, tapi membiarkan Jungkrik meringkuk.


Hawa dingin malam itu memang paling enak disikapi dengan meringkuk berbungkus daun pisang. Eh eala, berbungkus sarung, maksudnya.


“Eh eala, bodohnya aku. Aku lupa, jika Jangkrik sudah tidur, dia tidak akan bisa bangun jika tidak disosor bokongnya. Eh eala, disodok bokongnya maksudnya. Adduuuh, alamat aku tidak kebagian tidur,” dumel Kungkang.


Lelaki gendut berkumis tipis, berjenggot tipis dan beralis tipis itu hanya mengerenyit meratapi nasibnya, sambil bersandar pada tiang pos ronda kediaman Demang Mahasugi.


Tanpa Kungkang sadari, satu sosok hitam bergerak mengendap-endap dari arah belakangnya. Sosok itu terlihat gemuk dan gendut, hampir serupa dengan Kungkang dan Jungkrik. Bayangan itu membawa senjata di tangan kanannya. Dilihat dari bentuk siluetnya, sepertinya itu golok, bukan kapak. Pastinya beda bentuk golok dengan kapak. Jika tidak percaya, coba bandingkan.


Sosok gendut yang ternyata kepalanya dibalut menggunakan kain sarung, sudah sampai tepat di tiang pos ronda yang sedang disandari oleh Kungkang. Perlahan senjata tipisnya yang berbentuk golok, bergerak perlahan.


Kungkang ternyata tidak terkejut ketika melihat sebilah golok bergerak dari sisi belakangnya ke depan lehernya. Kungkang memang tidak terkejut, tetapi sepasang matanya mendelik ketakutan.


“Leherku pasti akan digorok pada detik berikutnya ….” Itulah dugaan yang langsung terbesit dalam benak Kungkang.


Gegegeg!


Terdengar suara giginya yang beradu berulang kali karena gemetar. Wajah Kungkang pokoknya langsung pucat pasi seketika dan dahinya berkeringat dingin.


“Emboook …!” teriak Kungkang keras setelah menahan jeritannya untuk beberapa saat, tapi tidak berani banyak bergerak, karena mata pisau ada tidak jauh dari kulit lehernya.


Teriakan Kungkang mengejutkan Jungkrik, sampai-sampai dia terkejut bangun dan duduk. Namun, sepasang matanya terpejam. Bangunnya Jungkrik membuat Kungkang juga terkejut dan otomatis berhenti menjerit.


Namun kemudian, Jungkrik justru bergerak kembali merebahkan diri tanpa tahu apa yang terjadi.


“Hahahak …!”

__ADS_1


Tiba-tiba sosok pengancam dengan golok itu tertawa terbahak-bahak sambil menarik kembali goloknya. Melihat lehernya sudah jauh dari golok, Kungkang cepat menengok melihat orang yang tertawa terpingkal-pingkal di belakangnya.


Plak!


“Betok kudisan sampai mati!” maki Kungkang setelah tangannya cepat memukul lelaki botak yang sarungnya masih melingkar di leher.


“Coba aku periksa, coba aku periksa! Hahaha …!” kata lelaki gendut botak itu sambil bergerak lebih mendekat dan memegang sudut celana Kungkang.


“Kambing genit!” maki Kungkang sambil buru-buru menarik pantatnya lebih rapat ke belakang. Ia juga lebih dulu menggenggam pangkal celananya agar tidak diperas oleh rekannya.


“Ah, aman. Tidak sampai kencing di celana. Hahaha!” kata si gendut botak sambil tertawa.


“Kau sungguh terlalu, Betok. Untung saja Jungkrik tidak sampai mati berdiri. Jika sampai mati, kau yang harus tanggung janda. Eh eala, tanggung jawab, maksudku,” kata Kungkang.


“Hahaha!” tawa si botak yang bernama Betok, lengkapnya Betok saja. Ia menyarungkan goloknya ke sarung golok, bukan kain sarung. “Ayo kita periksa kuda dan adiknya.”


“Siapa adikmu?” tanya Kungkang.


“Adiknya kuda!” tandas Betok.


“Eh eala, itu maksudku!” tandas Kungkang pula sambil menunjuk perut gendut Betok.


“Kambing. Hahaha!” jawab Betok lalu tertawa terbahak.


“Dasar kambing!” maki Kungkang. “Lalu bagaimana dengan Jangkrik?”


“Biarkan saja, nanti juga banyak jangkrik yang menemani,” kata Betok.


“Iya iya iya betul, hehehe!” kata Kungkang. Perkataan Betok seolah masuk di dalam pikirannya. Ia bergegas mengikat kencang kain sarungnya di pinggang berlemaknya.


Kedua lelaki gemuk dan gendut itu lalu melangkah pergi meninggalkan pos. hanya Kungkang yang membawa obor.


“Bagaimana kau bisa tahu sedangkan aku tidak?” tanya Kungkang, tapi bernada protes.


“Buluk yang cerita kepadaku langsung,” kata Betok.


“Busuk pilih kasih,” kata Kungkang.


“Buluk, bukan Busuk,” ralat Betok.


“Iya, masudku Buluk, bukan Busuk,” kilah Kungkang.


“Tadi awalnya Kanjeng Gusti Demang berniat membalaskan, tapi karena yang memulai salah adalah Kang Aden Lolongo, akhirnya Kanjeng Gusti membiarkan saja satu ekor kuda dan sekantung besar uang milik Kang Aden Lolongo raib,” kisah Betok.


“Jika aku yang jadi Kanjeng Gusti, sudah aku kurung anak pembuat onar itu di kandang kuda. Aku itu heran sampai tujuh keliling, kenapa Kang Aden Lolongo selalu bertindak gila seperti tidak punya piringan. Eh eala, tidak punya pikiran, maksudku,” kata Kungkang berapi-api.


“Jangan sembarangan bicara kau, Kangkung!” hardik Betok. “Jika ada yang mendengar dan mengadukanmu, bisa tewas kau.”


“Alah, kalau Kanjeng Gusti sampai tahu, tidak ada orang lain yang mengadu selain kau!” tukas Kungkang.


“Kau pikir aku sejahat itu kepadamu?” tanya Betok sambil menyikut pelan perut gendut Kungkang.


“Kau lupaaa? Sewaktu kita mendapat satu ayam panggang madu dari Kanjeng Gusti Putri. Kau mengakatakan kalau aku dan Jangkrik dipanggil Kanjeng Gusti Demang, kemudian kau habiskan seorang diri ayam panggangnya,” ungkit Kungkang.


“Hahaha! Tapi itu hal yang tidak berbahaya,” kilah Betok.


“Tidak berbuaya bag ….”

__ADS_1


Kata-kata Kungkang terhenti ketika melihat empat prajurit penjaga dua pintu masuk kandang besar tertidur serentak.


“Wah, prajurit-prajurit ini harus dilaporkan. Malam masih sore seperti ini mereka sudah bersekutu tidur bersama, padahal buka pengantin batu. Eh ealah, bukan pengantin baru, maksudku!” kata Kungkang.


“Jangan-jangan mereka tidak tidur,” kata Betok setengah berbisik.


“Maksudmu mereka itu sedang makan ayam panggang bersama?” tanya Kungkang.


“Bukaaan! Jangan-jangan mereka mati!” tegas Betok.


“Wadduh!” pekik Kungkang sambil terlompat mundur ke belakang badan Betok.


Demang Mahasugi memiliki dua kandang ternak besar yang terpisah tapi saling bersebelahan. Satu kandang ternak kuda dan satu lagi kandang ternak kambing. Pintu depan kedua kandang saling bersebelahan dan jika malam masing-masing dijaga oleh dua prajurit kademangan.


Kini, keempat prajurit itu duduk bersandar pada bagian dinding kandang yang setinggi dada. Di kedua pintu ada empat obor yang menyala. Namun anehnya, pintu untuk kandang ternak kuda dalam kondisi terbuka.


Setiap malam, Jungkrik, Kungkang dan Betok memiliki tugas untuk menghitung jumlah kuda dan kambing di kandang sebanyak dua waktu. Waktu pertama menjelang tengah malam, waktu kedua menjelang fajar. Jadi, laporan tentang jumlah kuda yang dipakai keluar dan kembali masuk ke kandang harus sampai kepada mereka, sehingga mereka bisa mengkalkulasi berapa hitung-hitungan jumlah kuda di kandang. Sama halnya dengan kambing.


Siang harinya, sambil menjaga hitungan jumlah kuda dan kambing, mereka punya tugas memandikan kuda.


Betok dan Kungkang lebih mendekat kepada salah satu prajurit. Mereka dekatkan api obor ke wajah si prajurit.


“Jangan terlalu dekat, nanti kumisnya terbakar!” kata Betok sambil menepuk lengan Kungkang.


“Ah, tidak!” sangkal Kungkang. “Lihat, dia masih bernapas. Dengkurannya nyaris tidak bersuami. Eh eala, tidak bersuara maksudku.”


“Tapi, kenapa mereka tidur, tapi pintu kandang kuda terbuka?” tanya Betok. “Atau kita bangungkan saja?”


“Jangan. Aku takut, jika mereka kita bangunkan, nanti mereka melihat kita,” tentang Kungkang.


“Hahaha!” Betok jadi tertawa terbahak.


“Tidak usah dibangunkan. Tidak baik mengganggu orang yang sedang tidur enak,” kata Kungkang. “Ayo kita periksa kuda-kuda kita.”


“Kuda-kuda Kanjeng Gusti,” ralat Betok.


“Benar, memang ternak ini milik Kanjeng Gusti, tapi kita yang menikmati,” tandas Kungkang.


Keduanya mulai memasuki kandang kuda yang besar itu. Aroma khas hewan tunggangan tersebut sudah bisa tercium dengan akrab.


Untuk sampai ke kandang dalam, tempat para kuda dikamarkan, keduanya harus melalui lorong yang agak panjang, tapi tidak melelahkan untuk dilalui. Kondisi kandang itu gelap, meski ada satu obor yang di pasang di salah satu tiang penyanggah atap.


Belum lagi mereka sampai ke kandang para kuda, tiba-tiba keduanya berhenti dengan tegang. Sebab, mereka mendengar suara sejumlah kuda yang meringkik-ringkik di kamarnya. Bukan hanya suara ringkikannya yang gaduh, suara kakinya di lantai kamar juga terdengar gaduh, menunjukkan bahwa para kuda itu panik atau gelisah.


“Kau dengar, Kangkung?” tanya Betok tegang, setengah berbisik.


“Iya, aku dengar,” jawab Kungkang juga ikut tegang.


“Jangan-jangan seperti yang pernah dilihat oleh Jangkrik!” kata Kungkang mulai ketakutan.


“Setan Mata Putih maksudmu?” terka Betok ikut takut.


“Ayo kawin! Eh ealah, ayo kabur!” ajak Kungkang sambil lebih dulu balik kanan dan berlari menuju pintu lagi.


Karena sudah kadung ditinggal sendiri, Betok pun yang dihinggapi ketakutan, mau tidak rela cepat berbalik lari menyusul Kungkang. (RH)


 

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mau lebih kenal dengan Om Rudi, yuk kunjungi segaris perjalanan Om di Noveltoon di cerpen yang berjudul "Perjalanan Novel Buku Tulis". Cari di profil, ya.


__ADS_2