
*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*
Alma Fatara, Anjengan dan Gagap Ayu berhasil lolos dari kejaran. Kini mereka bersembunyi di sebuah hutan seberang Sungai Hijau. Jika orang-orang yang mengejar ingin menemukan mereka, harus menyeberangi sungai dulu.
Anjengan dengan telaten mengurus Rawil Sembalit, seperti mengurus seekor kucing persia. Sementara Alma menjadi tabib cantiknya.
Dengan menggunakan Bola Hitam yang dikondisikan terbagi dua dalam bentuk kotak biru terang, Alma Fatara mengobati Rawil Sembalit.
Anjengan menidurkan, bukan meniduri, tubuh Rawil Sembalit di atas rerumputan di balik dua batang pohon besar yang tumbuh rapat, seolah berebutan tinggi sehingga harus berdesakan. Kepala bagian belakang Rawil Sembalit diletakkan di atas dua bagian kotak Bola Hitam.
Setelah itu, Alma Fatara cukup duduk bersila di sisi kepala Rawil Sembalit yang mau mati. Tanpa menyentuh kotak birunya, ia mengirimkan tenaga dalam kepada senjatanya. Maka Bola Hitam langsung bereaksi.
Dua belahan kotak Bola Hitam menyalurkan hawa sejuk ke dalam batok kepala Rawil Sembalit. Dengan bantuan dari Alma Fatara, hawa sejuk itu disebar ke seluruh dalam tubuh si pemuda hingga ke ujung jari-jari kaki.
Setelah itu, Alma Fatara menghentikan penyaluran tenaga darinya, karena kemudian Bola Hitam akan bekerja dengan sendirinya untuk menyembuhkan Rawil Sembalit. Pengobatan itu akan berlangsung selama sekitar dua jam lamanya.
“Tidak sia-sia kami menolongmu, Kakang. Kau memang pemuda yang tampan. Hahaha!” ucap Anjengan yang sejak tadi tidak bosan duduk di sisi tubuh Rawil sambil memandangi wajah tampan pemuda itu.
“Si-si-siapa dulu yang me-me-menolongnya?” kata Gagap Ayu jumawa.
“Siapa?” tanya Anjengan sambil melirik tidak sedap kepada gadis gagap yang duduk berjongkok di atas kayu akar.
“Ya a-a-akulah, Pu-pu-putri Ti-ti-tinju Karang!”
“Jika kalian sampai adu dada berebut si kakang ini, kalian tetap tidak akan mendapatkan siapa-siapa dan dada kalian tidak akan bertambah menjadi tiga. Kalian sudah dengar, kakang ini adalah lelaki penghamil. Dia harus bertanggung jawab kepada wanita yang dihamilinya. Kecuali kalian yang dihamilinya. Hahaha!” ujar Alma lalu tertawa memperlihatkan gusi atasnya yang ompong.
“Yang benar saja punya gunung tiga, yang satu mau ditaruh di mana?” dumel Anjengan.
“Hahahak!” tawa Alma kian terkakak.
“La-la-lalu ba-ba-bagaimana caranya, Alma?”
“Cara apa?” tanya Alma.
“Be-be-bertanggung jawab.”
“Ha-ha-harus cari wa-wa-wanitanya,” jawab Alma ikut-ikutan gagap.
“Eeeh, ikutan gagap! Me-me-meledek, ya?” tukas Gagap Ayu sambil menunjuk wajah Alma.
“Tidaaak! Hahaha!” teriak Alma membantah, tapi kemudian tertawa.
“Aku su-su-sumpal mulutmu!” gusar Gagap Ayu lalu pergi mencekik Alma.
“Hahaha!” tawa Alma sambil melawan Gagap Ayu. Ia justru menggelitiki Gagap Ayu.
“Hihihi! Aw aw!” tawa Gagap Ayu kegelian lalu menjerit genit. Ia lalu memilih melompat mundur.
__ADS_1
“Ayo, kenapa mundur?” tanya Alma sambil tersenyum lebar.
“Se-se-sebenarnya kau le-le-lelaki atau perempuan, Alma? Kau mengge-ge-gelitik aku, tapi ke-ke-kenapa dadaku yang kau co-co-comot?” protes Gagap Ayu.
“Hahahak!” Anjengan tertawa lebih dulu mendengar perkataan Gagap Ayu.
“Aku mau memastikan, apakah gunungmu ada tiga atau dua. Hahahak!” jawab Alma lalu tertawa terbahak-bahak.
“Se-se-sembarangan!” bentak Gagap Ayu. “Aku ma-ma-masih be-be-bersih, masih lu-lu-lugu, dan cantiknya masih a-a-alami.”
“Hahahak …!” tawa Alma dan Anjengan terbahak bersama.
Setelah bersenda gurau, akhirnya Rawil Sembalit bangun dari tidurannya. Hal itu membuat Anjengan tersentak di tempat karena terkejut.
“Kodok brojol! Aku kira mayat hidup!” maki Anjengan.
Alma Fatara cepat menghentakkan tangan kanannya, mengarahkan tenaga penarik kepada kedua belahan kotak birunya. Dua bagian Bola Hitam yang berwarna biru itu melesat ke telapak tangan Alma.
“Bagaimana kondisimu, Kakang Anu?” tanya Alma.
“Hahaha! Alma!” tawa Anjengan lalu membentak adik pungutnya itu.
Alma hanya diam mendelik kepada Anjengan.
“Yang benar saja. Lelaki seganteng ini kau panggil Kakang Anu. Kau tidak punya hati sama sekali!” hardik Anjengan.
“Cie cie cieee! Ada yang mau jadi kedua!” goda Alma.
Namun, Rawil Sembalit belum menjawab, ia masih memandangi ketiga gadis itu bergantian. Wajahnya yang bengkak dan lebam sudah kembali normal, tinggal menyisakan bekas, tapi sudah tidak sakit.
“Kok diam saja, Kang? Sakit gigi, ya?” tanya Anjengan.
“Hahaha! Dia masih sawan karena melihat kecantikan kita bertiga!” kata Alma.
“Hahaha!” tawa Anjengan.
“Hihihi!” tawa Gagap Ayu.
Akhirnya Rawil Sembalit tersenyum melihat ketiga gadis itu tertawa dengan penuh keakuran.
“Yeee! Dia tersenyum!” tunjuk Anjengan heboh sendiri sambil menunjuk Rawil Sembalit.
Rawil Sembalit kian tersenyum lalu berujung tertawa lirih.
“Kakang Anu, siapa namamu?” tanya Alma.
“Rawil Sembalit,” jawab Rawil. “Lalu, siapa kalian?”
“Aku merasa berbunga-bunga Kang Rawil mau mengenal namaku yang indah. Namaku Anjengan. Hahaha! Kakang Rawil pasti tidak bisa tidur nanti malam karena selalu mengingat namaku,” kata Anjengan lebay.
__ADS_1
“A-a-aku Gagap Ayu. Ja-ja-jangan lihat na-na-nama Gagap-nya, ta-ta-tapi lihat na-na-nama Ayu-nya,” kata Gagap Ayu dengan penuh perjuangan.
“Hahaha!” tawa Alma mendengar perkataan Anjengan dan Gagap Ayu. Lalu ia pun memperkenalkan diri, “Aku Alma Fatara.”
“Terima kasih, Alma,” ucap Rawit Sembalit.
“Eh, kok hanya kepada Alma? Kami berdua juga ikut menolongmu dari keluargamu yang kejam itu!” protes Anjengan.
“Iya, aku berterima kasih kepada kalian bertiga,” ralat Rawil Sembalit.
“Nah, seperti itu dong,” kata Anjengan melunak.
“Kenapa kalian menolongku? Bukankah kalian akan berurusan dengan keluargaku? Apalagi kalian orang asing,” tanya Rawil Sembalit.
“Karena kau telah berdosa. Kau telah menghamili seorang wanita, jadi kau tidak boleh mati dan harus bertanggung jawab dengan menikahi wanita itu!” tandas Alma.
“Itu tidak mungkin terjadi. Ternyata gadis yang aku cintai adalah putri dari musuh besar keluargaku,” kata Rawil Sembalit sedih.
“Apakah kau mencintainya sebelum mengenalnya?” tanya Alma.
“Aku hanya tidak menyangka bahwa Wangiwulan adalah putri Raden Gondo Sego. Wangiwulan pun tidak tahu bahwa aku putra dari Raden Bagus Penjogo,” jawab Rawil Sembalit.
“Se-se-sepertinya Kakang Ra-ra-rawil tidak bi-bi-bisa be-be-be ….”
“Berak?” terka Anjengan memotong kata-kata Gagap Ayu.
“Hahahak!” tawa Alma dan Rawil Sembalit untuk pertama kalinya.
“Jorok!” maki Gagap Ayu sambil menyepak Anjengan, tapi tidak sampai, membuat Anjengan hanya tertawa.
“Ti-ti-tidak bisa bertarung!” lanjut Gagap Ayu.
“Aku tidak suka jadi pendekar. Aku lebih bahagia menjadi pemancing ikan. Aku tidak menyangka aku akan menjadi pemancing wanita,” kata Rawil Sembalit.
“Apakah keluarga dua raden itu tidak bisa berdamai?” tanya Alma.
“Entahlah. Seharusnya bisa,” jawab Rawil.
“Kenapa mereka bisa bermusuhan sehebat itu?” tanya Alma lagi.
“Menurut cerita Kakek, ia bermusuhan dengan Raden Gondo Sego karena Raden Gondo Sego menghilangkan pusaka Keris Pemuja Bulan milik mendiang Prabu Rawe Bulak. Seharusnya keris itu ada di tangan Kakek Raden Runok Ulung, tetapi dipinjamkan kepada Raden Gondo Sego. Ketika keris itu dipinjam, Prabu Rawe Bulak meminta Kakek mengembalikannya kepada Prabu Rawe Bulak. Ketika Kakek meminta kepada Raden Gondo Sego, dikatakan bahwa keris itu sudah dikembalikan kepada Kakek. Namun, Kakek membantah menerima. Raden Gondo Sego juga bersikeras bahwa keris itu sudah dipulangkan melalui mendiang istrinya. Entah bagaimana ceritanya, pokoknya Keris Pemuja Bulan itu hilang,” kisah Rawil Sembalit.
“Itu berarti, Kakek Kakang Rawil dan Kakek Wangiwulan sebelumnya adalah sahabat?” tanya Alma.
“Benar. Bukan Kakek Wangiwulan, tapi Ayah Wangiwulan,” ralat Rawil Sembalit.
“La-la-lalu?” tanya Gagap Ayu.
“Karena keris pusaka itu tidak bisa dikembalikan kepada Prabu Rawe Bulak, Kakek dan Raden Gondo Sego lalu dihukum oleh Prabu menjadi bangsaswan biasa. Maka marahlah Kakek kepada Raden Gondo Sego. Kakek membunuh istri Raden Gondo Sego, yang dibalas nenekku juga dibunuh. Agar tidak terjadi pertumpahan dari di antara kedua keluarga, maka Prabu Rawe Bulak menengahi. Meski Kakek dan Raden Gondo Sego berjanji tidak akan saling membunuh, tetapi keluarga kami masih bermusuhan sampai sekarang. Apalagi Prabu Rawe Bulak sudah wafat,” jelas Rawil Sembalit.
__ADS_1
Alma Fatara, Anjengan dan Gagap Ayu manggut-manggut bersamaan. (RH)