Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Kerja Bu 31: Dua Mangsa


__ADS_3

*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)* 


“Kau tidak perlu takut jika harus bertemu dengan bekas majikan tuamu itu. Ada aku,” ujar Ki Bending kepada Kluwing yang berjalan di sisinya. “Jika kita bisa memiliki Bola Hitam, maka dunia persilatan akan berada di bawah kaki kita.”


“Aku curiga orang yang memiliki Bola Hitam itu melihat aku saat membunuh Jaran Telu,” kata Kluwing.


“Tapi kenapa tidak ada tanda-tanda pencarian? Atau mungkin orang itu tidak melaporkan kesaksiannya kepada Raden Runok Ulung,” kata Ki Bending.


“Satu per satu aku akan membunuh anggota keluarga keparat itu!” desis Kluwing.


Akhirnya mereka memasuki wilayah Kademangan Santun Pongah yang tidak memiliki seorang demang. Kekuasaan dua keluarga raden membuat kademangan itu dibiarkan tanpa demang oleh penguasa kadipaten. Adipati pun tidak bisa mengangkat salah satu dari raden itu sebagai demang. Selain mereka merasa kedudukan demang itu terlalu rendah bagi mereka, jika salah satu diangkat, justru akan menimbulkan pertengkaran besar.


“Raden Runok Ulung memiliki Keris Lidah Malaikat, Ki,” kata Kluwing.


“Aku bisa mengatasi itu. Aku pernah menghadapi kesaktian keris itu. Kau tidak perlu khawatir. Bahkan untuk menghadapi kesaktian Bola Hitam sekalipun, aku sudah memikirkan caranya,” kata Ki Bending.


Mereka berdua semakin jauh memasuki kademangan itu. Mereka beberapa kali bertemu dengan sejumlah warga yang hanya memberi anggukan dan senyuman keramahan.


“Jika kita bisa menyingkirkan dua keluarga bangsawan itu, kademangan ini bisa menjadi milik kita, terlebih Adipati sepertinya tidak peduli dengan kademangan ini,” kata Ki Bending. Lalu katanya tiba-tiba, “Aku merasakan aura kesaktian Bola Hitam. Sepertinya posisinya terus lurus ke pusat kademangan.”


“Lihat, sepertinya ada orang yang sedang menunggu kita!” tunjuk Kluwing dengan pandangannya ke arah empat orang muda-mudi yang berdiri berderet di bawah sebatang pohon.


Keempat orang muda yang posisinya masih jauh itu, sangat jelas memandang kepada Ki Bending dan Kluwing.


“Aura Bola Hitam semakin kuat,” kata Ki Bending, seiring mereka kian dekat ke tempat empat orang yang tidak lain adalah Iwak Ngasin dkk.


Ketika mereka semakin dekat ke tempat Iwak Ngasin dkk, Ki Bending melihat ke atas pohon.


“Lihat di atas,” kata Ki Bending pelan.


Kluwing pun memandang ke atas pohon. Dilihatnya Alma Fatara berdiri di atas dahan seperti sosok dedemit, lantaran pakaiannya yang serba hitam dan rambutnya yang terjuntai lurus.


“Hahahak!” tawa Alma saat ia bertemu pandang dengan kedua orang tua yang datang.


Akhirnya Ki Bending dan Kluwing berhenti dalam jarak tujuh tombak dari Iwak Ngasin dan ketiga sahabatnya.


“Sepertinya kita memang sudah ditunggu,” bisik Ki Bending.

__ADS_1


“Kakek Bibi!” seru Alma memanggil dari atas. “Perkenalkan, namaku Alma Fatara. Aku pemilik Bola Hitam. Kalian pasti sedang mencariku, makanya aku pun telah menunggu kalian!”


“Kau salah jika ingin menjebak kami, Bocah Cantik!” sahut Ki Bending.


“Hahaha! Aku memang sudah melihat kehebatan ilmumu, Kek. Aku juga sudah melihat kehebatan Bibi saat membunuh Kakang Jaran Telu!” kata Alma.


Kluwing agak terkesiap, meski sebelumnya ia telah menduga bahwa wanita berjubah hitam yang kemarin sempat mereka kejar adalah saksi pembunuhannya.


Alma Fatara lalu melompat turun seperti kapas yang jatuh tanpa ada embusan angin. Begitu ringan, menunjukkan kelas kesaktiannya. Alma mendarat di depan keempat sahabatnya dengan posisi memunggunginya.


Tiba-tiba tanpa sepatah kata sambutan atau perkenalan lebih dulu, Kluwing melesat maju menyerang kepada Alma dengan kedua tangan bertenaga dalam tinggi.


Tus tus!


“Akk!” pekik Kluwing tiba-tiba, lalu buru-buru melompat mundur.


“Hahahak!” Alma Fatara hanya tertawa menertawakan.


Yang terjadi barusan adalah Alma melesatkan dua ujung Benang Darah Dewa yang tidak terlihat oleh Kluwing. Kedua ujung benang yang bisa sekeras baja itu menyuntik kedua telapak tangan Kluwing saat datang menyerang Alma. Karenanyalah Kluwing terkejut, terlebih dia tidak melihat benda apa yang menusuk kedua telapak tangannya.


“Santai dulu, Bibi. Aku tidak tahu, apakah niatmu untuk membunuhku bertujuan melenyapkan saksi mata atau membunuh pemilik Bola Hitam,” kata Alma.


“Tapi sayang, kami mohon maaf, kami hanya sebagai umpan. Kalian harus membayar harga mahal atas kematian Kakang Jaran Telu,” ujar Alma Fatara. Ia lalu memberi perintah kepada keempat sahabatnya, “Mundur! Tugas kita sudah selesai!”


Alma Fatara lalu melompat mundur melampaui kepala para sahabatnya. Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu segera melompat mundur pula mengikuti Alma.


“Seraaang!” teriak serombongan orang tiba-tiba yang muncul dari balik semak belukar pagar sebuah kebun warga.


Orang-orang itu adalah centeng-centeng berpedang berseragam merah gelap. Jumlah mereka mungkin lima belas orang. Mereka berlari ramai-ramai dengan semangat membunuh ke arah Ki Bending dan Kluwing.


Bless!


Sebelum rombongan pasukan kecil itu sampai, dengan santainya Kluwing melemparkan sebulat sinar hijau tua sebesar bola kasti.


Sinar hijau gelap itu memantul-mantul layaknya sebuah bola hingga sampai ke antara kaki-kaki para centeng yang berlari. Para centeng itu hanya bisa terkejut dengan perasaan panik, meski belum tahu apa yang akan terjadi kemudian.


Bluar!

__ADS_1


“Akk! Akh! Aaa!” jerit sejumlah centeng ketika bola sinar itu meledakkan sinar hijau menyilaukan mata dalam sekejap.


Sebagian besar dari rombongan itu terpental dalam kondisi tubuh terluka dengan berbagai kondisi. Ada yang buntung tangannya, rompal dan hancur sebagian kakinya, rompal pinggangnya, hingga hilang hidungnya, dll.


Bola sinar yang dilemparkan oleh Kluwing benar-benar seperti bola granat.


Beberapa centeng harus tewas, sementara yang lainnya menderita luka serius.


“Mundur!” teriak Alma memberi perintah dari kejauhan, meski mereka bukanlah bagian dari anak buahnya.


Beberapa centeng yang selamat dari cedera dan yang terluka, buru-buru mundur. Ketika Kluwing ingin melesat memburu mereka yang mundur, satu sinar merah seperti komet melesat dari arah lain menyerang Kluwing.


Sess! Blar!


Kluwing sigap mengelak dengan melompat mundur kembali ke posisi awalnya. Sementara sinar merah terus melesat menghancurkan sebatang kecil pohon yang tumbuh di sekitar.


Bersamaan dengan itu, seekor kuda datang berlari ke tempat itu. Belum lagi kuda itu tiba, penunggang kuda sudah melompat lebih dulu dan berlari di udara. Sosok lelaki tua itu mendarat ringan di mana tadi Alma sempat berdiri.


Ki Bending dan Kluwing kini berhadapan dengan Raden Runok Ulung yang telah berdiri dengan tongkat lancipnya yang hanya setinggi perut. Di depan perut Raden Runok Ulung terselip Keris Lidah Malaikat. Tidak terlihat keberadaan Keris Pemuja Bulan karena ia selipkan di pinggang belakang dan tertutupi oleh bajunya.


Melihat keberadaan Raden Runok Ulung di hadapannya, berdegup kencang jantung Kluwing. Perasaannya campur aduk. Ada rasa gentar, tetapi rasa dendamnya juga kuat. Ia begitu teringat dengan penyiksaan yang dilakukan oleh orang tua itu, ketika dirinya masih menjadi abdi dalam keluarga sang raden.


“Ternyata benar, kaulah yang membunuh cucuku, Kluwing,” ucap Raden Runok Ulung datar.


“Bukan hanya cucumu, tapi kau juga dan semua anggota keluargamu!” ucap Kluwing dengan nada suara agak bergetar. “Kematian suami dan janinku harus dibalaskan, meski aku harus menunggu puluhan tahun, Raden.”


“Kau memang berhak membalas dendam, tapi aku tidak akan membiarkan dendammu membunuh anak cucuku!” tandas Raden Runok Ulung.


“Hihihi! Kau tidak bisa mencegahku, Raden. Dewa begitu baik hati membiarkanmu terus hidup, agar kau bisa menyaksikan kematian anak cucumu satu demi satu!”


“Anak ayam yang baru menetas tetapi berkelakuan seperti induk yang usai mengeram. Tidak tahu diri!” maki Raden Runok Ulung.


“Aku tidak akan bicara banyak, orang tua keparat!” teriak Kluwing sambil menghentakkan kaki kanannya ke tanah, sementara kedua lengan menghentak terbuka.


Bles bles bles …!


Sebanyak sepuluh bola sinar hijau gelap mendadak muncul dari kedua lengan Kluwing. Bola-bola sinar kecil itu bergelindingan dan memantul-mantul ke sekitar Raden Runok Ulung berdiri.

__ADS_1


Namun, sebelum terjadi sesuatu yang lain, Raden RunoK Ulung hanya tersenyum sinis kepada kedua lawannya. (RH)


__ADS_2