
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
Setan Jerami menggeser duduknya lebih dekat kepada posisi gadis yang sejak tadi dia goda. Karena beberapa wanita juga memandangi ulahnya, Setan Jerami memilih menggoda si cantik dengan membelakangi kumpulan tawanan wanita itu.
“Hahaha! Daripada kepala batu, lalu jadi santapan Ketua yang main ranjangnya seperti monyet gatal, lebih baik kau bersedia jadi wanitaku. Aku akan mengamankanmu dan menjadi pelindung tampanmu,” kata Setan Jerami sambil melirik-lirik si gadis yang posisi duduknya paling pinggir.
“Tidak mau! Kalian orang jahat, kejam seperti binatang buas!” ketus si gadis.
“Siapa yang mengatakan kami itu jahat? Kami itu adalah bajak laut yang paling santun di dunia. Yang keras itu adalah kehidupan, jadi kami hanya bertindak keras sesuai dengan kebutuhan kondisi. Jika kau bersedia jadi istriku, aku akan melindungimu hingga ke lubang ular sekalipun,” kata Setan Jerami seperti orang benar.
Gadis itu hanya diam merengut, menahan kedongkolannya.
Tanpa sepengetahuan Setan Jerami, ada seorang lelaki berbaju putih bercelana gelap, sedang merayap di rerumputan menuju kumpulan wanita itu. Posisinya berseberangan dengan Setan Jerami yang justru membelakangi kumpulan tawanan wanita.
Pemuda yang merayap seperti tentara masa kini itu, bukan merayap seperti cacing atau ular, tidak lain adalah Juling Jitu. Beruntungnya, tidak ada dari tawanan wanita itu yang melihat kedatangan Juling Jitu, karena mereka tidur atau lebih memilih menunduk, sabar menerima nasib.
Justru yang melihat pergerakan Juling Jitu adalah beberapa tawanan warga lelaki. Namun, mereka tidak langsung bereaksi. Ketika Juling Jitu melihat bahwa ia dilihat keberadaannya, ia segera memberi tanda dengan meletakkan telunjuknya di bibir yang dimonyongkan.
Beberapa warga lelaki itu hanya menjawab dengan anggukan. Juling Jitu pun bergegas merayap lagi dengan cepat. Ia bermaksud menyusup di antara kaum wanita itu, lalu menyerang penjaga itu dari belakang. Pikir Juling Jitu, akan terlihat keren jika menjadi pahlawan di mata kaum wanita.
Ketika tiba di kumpulan tawanan wanita, mau tidak mau kepala dan tubuhnya menyenggol para wanita itu. Karena ada yang menyenggol, bahkan menyeruduk masuk ke dalam sarung yang mengangkang, beberapa wanita itupun terbangun dan terkejut.
“Aaa …!” jerit sejumlah wanita bersamaan, sehingga terdengar ramai.
“Ada ular kadut!” jerit nenek-nenek yang dalam sarungnya terseruduk kepala Juling Jitu, sambil sebisa mungkin memukuli kepala penyusup itu.
“Aw! Ada belut hitam!” pekik nenek yang lain sambil memukuli punggung Juling Jitu, meski kedua tangannya terikat.
Kebisingan yang tiba-tiba tercipta di belakangnya itu, jelas mengejutkan Setan Jerami. Ia cepat menengok dan bangkit berdiri. Namun, ia tidak langsung melihat keberadaan Juling Jitu.
Jeritan para wanita di kumpulan itu juga terdengar oleh empat penjaga lainnya. Mereka segera bangkit, tapi tidak langsung pergi ke lokasi.
“Aw! Aw! Jangan pukul aku! Aku ingin menolong kalian!” teriak Juling Jitu yang mau tidak mau harus berdiri karena tidak mau terus dipukuli oleh kaum perempuan itu.
“Hei! Siapa kau?!” bentak Setan Jerami.
Bentakan itu tidak hanya mengejutkan Juling Jitu, tetapi juga mengejutkan para wanita sehingga mereka berhenti menghakimi Juling Jitu.
Melihat ada seorang asing yang muncul tiba-tiba di tengah para wanita, Setan Jerami cepat angkat tongkat goloknya.
Namun, tiba-tiba keempat anggota bajak laut yang memantau dari jauh terkejut, ketika melihat kemunculan seorang lelaki kurus jangkung dari dalam kegelapan. Lelaki yang adalah Iwak Ngasin itu berlari hendak membokong Setan Jerami.
“Setaaan! Awas di belakangmu!” teriak salah seorang anggota bajak laut, lalu keempatnya segera berlari ke titik keributan.
__ADS_1
Teriakan itu jelas mengejutkan Setan Jerami.
Seet!
Tanpa menengok lagi, Setan Jerami mengibaskan tongkat goloknya ke belakang.
“Hahaha! Tidak kena, tidak kena!” tawa Iwak Ngasin lalu meledek. Dia telah berhenti berlari di luar jangkauan senjata Setan Jerami.
Dak!
Tiba-tiba satu tendangan keras dari belakang menghantam sisi kepala Setan Jerami, membuatnya terbanting. Pada saat itulah, Iwak Ngasin maju dengan cepat lalu melakukan sepakan keras.
Drak!
Setan Jerami yang melihat datangnya serangan susulan, hanya bisa menahan dengan batang tongkat goloknya. Ada suara yang patah, tetapi bukan tulang kaki Iwak Ngasin, melainkan tongkat golok Setan Jerami.
“Aaak!” jerit Iwak Ngasin sambil menggosok-gosok tulang kering kaki kanannya yang begitu sakit.
Setan Jerami buru-buru bangkit, tetapi ia langsung disambut oleh amukan Juling Jitu, yang sangat berambisi untuk menang di depan para kaum wanita.
Wuss!
Sementara itu, dua anggota bajak laut yang berlari mendekat dari arah selatan, tiba-tiba terlempar bersama saat ada angin keras yang menghantam mereka dari samping. Keduanya bergulingan di tanah rumput.
Setelah itu, dari dalam kegelapan muncul berkelebat sosok Komandan Rewa Segili dengan pedang terhunus.
Memang dasarnya anggota bajak laut itu bukan sekedar lelaki bersenjata, tetapi mereka adalah pendekar. Meski sudah terjatuh berguling-guling oleh angin pukulan, tetapi mereka bisa dengan cepat berkonsentrasi menangkis serangan pedang Rewa Segili.
Ujung-ujungnya, justru Komandan Rewa Segili yang dikeroyok oleh kedua bajak laut bersenjata golok besar tersebut, membuatnya ngeri-ngeri sedap.
Sementara dua anggota bajak laut yang datang dari sisi barat segera bergabung dengan Setan Jerami. Mereka bersenjata dua pisau besar dan dua pedang.
Kondisi itu membuat Iwak Ngasin dan Juling Jitu agak panik, karena mereka kalah jumlah.
“Almaaa!” teriak Juling Jitu keras memanggil bantuan.
“Kalian itu belum bertarung sampai mati!” seru Alma yang melesat terbang seperti seekor burung gagak raksasa.
“Kalau kami sampai mati, untuk apa kami minta bantuanmu!” teriak Iwak Ngasin pula.
Alma Fatara mendarat lembut di antara kelompok tawanan lelaki dan wanita.
“Jangan khawatir, Juling Jitu Tampan!” seru seorang wanita gemuk sambil berlari lucu muncul dari kegelapan sisi alun-alun. Ia adalah Anjengan.
__ADS_1
Melihat kemunculan Anjengan, meski dengan rambut dan pakaian yang basah, Iwak Ngasin dan Juling Jitu jadi bersemangat.
“Waktunya unjuk kelelakian!” teriak Iwak Ngasin lalu menyerang Setan Jerami dengan penuh ambisi.
“Pada akhirnya, kamilah sang penyelamat itu!” teriak Juling Jitu pula lalu kembali mengamuk kepada salah satu lawannya.
“Tangkap aku, Tampan!” teriak Anjengan sambil melompat deras di udara dengan kedua tangan merentang hendak memeluk. Ia melompat ke arah pemuda bajak laut yang bersenjata dua pedang.
“Mati kau!” pekik pemuda yang siap menyambut tubuh gemuk Anjengan dengan tusukan kedua pedangnya.
Wuss!
Namun kemudian, saat di udara itu, Anjengan mengubah gerakan tangannya jadi menghentak kepada lawannya.
Maka sinar-sinar hijau bening berwujud boa-bola seperti gelembung sabun berlesatan. Jarak serang yang dekat membuat serangan sinar itu tidak bisa dihindari.
Pluk pluk pluk!
Ctar ctar ctar!
Sejumlah gelembung sinar hijau menempel pada tubuh si pemuda berpedang. Kemudian gelembung sinar itu berledakan nyaring menghancurkan kulit dan daging tubuh si pemuda. Tanpa ampun lagi. Ilmu Ubur-Ubur Hijau telah memakan korban.
Para penonton hanya bisa mengerenyitkan wajah tergidik ngeri.
Pembunuhan yang dilakukan oleh Anjengan memantik semangat bunuh Iwak Ngasin dan Juling Jitu.
Perlawanan memang ditunjukkan oleh Setan Jerami dan rekannya. Namun, kegigihan Iwak Ngasin dan Juling Jitu berbuah matang, mereka berhasil mengalahkan Setan Jerami dan rekannya.
“Bi-bi-biar aku ba-ba-bantu, Paman Komandan!” teriak Gagap Ayu yang muncul membantu Komandan Rewa Segili.
Komandan Rewa Segili yang awalnya terdesak, langsung merasa ringan oleh Gagap Ayu yang tangkas dengan ilmu Tinju Karang Baja.
Setelah bertarung, akhirnya Komandan Rewa Segili dan Gagap Ayu bisa melumpuhkan nyawa lawannya.
“Kau sepertinya gadis yang cocok dijadikan menantu, Ayu,” ucap Komandan Rewa Segili memuji Gagap Ayu.
“Hihihi!” tawa Gagap Ayu. Lalu katanya seraya tersenyum malu-malu, “Ta-ta-tapi aku gagap, Pa-pa-paman.”
“Urusan cinta yang terpenting rasa, bukan suara. Hahaha!” kata Rewa Segili lalu tertawa dan pergi kepada Alma yang sudah membebaskan para tawanan.
Para warga segera diarahkan menuju ke sungai, di mana perahu-perahu mereka tertambat. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!