Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
SMP 29: Lima Pembunuh Gelap


__ADS_3

*Setan Mata Putih (SMP)*


Lima Pembunuh Gelap yang dipimpin oleh Ireng Keling berdiri menghadap ke dinding samping pondok Raja Tanpa Gerak. Mereka berlima berdiri dengan tatapan seperti sedang menatap musuh. Mungkin musuh mereka adalah dinding rumah.


“Hancurkan!” perintah Ireng Keling kepada keempat anak buahnya.


Wuss wuss!


Mereka berlima lalu menghentakkan sepasang lengannya secara bersamaan. Lima gulung angin keras menderu hebat menyerang pondok bambu milik Raja Tanpa Gerak.


Namun, yang terjadi adalah hal yang membuat Lima Pembunuh Gelap terbeliak. Angin keras milik mereka yang laksana badai masa lalu itu, tidak sedikit pun menggoyahkan pondok tersebut. Bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa pondok itu ditiup angin besar. Angin lewat begitu saja.


“Hancurkan dengan Kiamat Serentak!” perintah Ireng Keling.


Jrus jrus jrus …!


Kelimanya melakukan satu gerakan tangan yang kemudian mengeluarkan sinar hijau berpijar pada tangan kanannya.


Zus zus zus …!


Serentak kelimanya melesatkan sinar-sinar pada tangan mereka menyerang rumah.


Bluar!


Belum lagi kelima sinar hijau itu menghantam dinding pondok sederhana itu, tiba-tiba kelima sinar kesaktian itu berledakan serempak. Daya ledaknya tidak tanggung-tanggung, membuat Lima Pembunuh Gelap berpentalan dan jatuh berdebam di tanah berumput.


Pada saat itu pula Alma Fatara baru saja membunuh lawannya Si Paku Renggut Nyawa di depan pondok.


Pondok bambu milik Raja Tanpa Gerak terlihat baik-baik saja, masih berdiri kokoh tanpa menderita kerusakan sedikit pun juga.


Tiba-tiba dari balik rumah muncul dua sosok perempuan yang terbang di udara malam dan mendarat di tulang atap rumah.


Meski malam memberi kegelapan pada alam, tetap bisa terlihat jelas bahwa wanita berpakaian putih adalah “bidadari” yang turun ke atap rumah. Sementara rekannya yang berbaju merah berbadan mungil, terlihat kurang menarik karena bersanding dengan barang berkualitas premier, padahal dia cantik jika sendirian.


Kedua wanita itu tidak lain adalah Ineng Santi dan Gagap Ayu.


Lima Pembunuh Gelap sudah bangun kembali berdiri dan memandang kepada kedua gadis yang muncul. Mereka dilanda ketegangan setelah dihajar oleh ledakan tenaga sakti sendiri.


“Si-si-siapa ka-ka-kalian?!” bentak Gagap Ayu dengan kegagapannya.


“Hahahak …!” tawa Lima Pembunuh Gelap tiba-tiba mendengar Gagap Ayu marah.


“Hahahak …!” Alma Fatara ikut tertawa pula, karena melihat Lima Pembunuh Gelap mendadak menertawai Gagap Ayu yang datang dengan menyakinkan, tapi kemudian memulai komedinya.


“Hei! Ja-ja-jangan menertawakan orang ca-ca-cantik!” hardik Gagap Ayu.


“Hahahak …!” Kian tertawa Lima Pembunuh Gelap dan Alma Fatara.


“Hihihi!”


Akhirnya Ineng Santi tertawa juga, tapi setengah ditahan.

__ADS_1


“Ke-ke-kenapa kau jadi ikutan te-te-tertawa?” tanya Gagap Ayu sewot lalu mendorong lengan Ineng Santi yang berdiri di sebelahnya, tapi tidak kuat.


Sambil tertawa, Ineng Santi sempat oleng karena terdorong ke samping, tetapi tidak sampai jatuh dari atap.


Clap!


“Hehehe! Ada apa ini ramai-ramai?” tanya Raja Tanpa Gerak yang tiba-tiba muncul terkekeh di sisi rumah, beberapa tombak di hadapan Lima Pembunuh Gelap.


Berhenti tertawalah Lima Pembunuh Gelap dengan kemunculan Raja Tanpa Gerak.


“Gu-gu-gusti Ratu, yang pu-pu-punya rumah sudah da-da-datang, ayo ki-ki-kita ma-ma-makan saja!” seru Gagap Ayu lalu berkelebat turun ke dekat Alma Fatara.


“Kakek Raja, karena kau sudah muncul, aku izin makan!” sahut Alma Fatara kepada Raja Tanpa Gerak.


“Oooh. Silakan, silakan. Hehehe!” jawab Raja Tanpa Gerak.


Maka, Alma Fatara dan Gagap Ayu melangkah pergi, seolah-olah pertarungan yang akan terjadi sudah tidak penting bagi mereka. Mereka pergi ke bagian belakang pondok milik Ineng Santi.


Ineng Santi melayang turun ke bawah seperti burung dara mendarat di sisi kakeknya.


“Raja Tanpa Gerak!” sebut Ireng Keling galak.


“Eeeh, meski aku tua, tapi pendengaranku masih awas,” kata Raja Tanpa Gerak datar.


“Aku beri tahu, kedatangan kami untuk menuntut balas atas kematian putra Demang Mahasugi!” seru Ireng Keling lagi.


“Oooh, tapi kenapa cepat sekali? Anak pemarah itu baru tadi siang matinya, kenapa kedatangan kalian begitu cepat?” tanya Raja Tanpa Gerak curiga.


“Kami tidak peduli kalian mau percaya atau tidak, yang jelas kalian harus mati malam ini juga!” tegas Ireng Keling. Lalu perintahnya, “Serang!”


“Hiaaat!” teriak mereka bersama-sama, karena kebersamaan itu lebih indah daripada kesendirian.


Ireng Keling, Ireng Cadas dan Ireng Segaris menyerang Raja Tanpa Gerak. Sementara Ireng Kemilau dan Ireng Gempita menyerang Ineng Santi.


Das das das …!


Ireng Keling dan kedua rekannya belum mampu mendekati Raja Tanpa Gerak. Sebab, ketika mereka mendekat, mereka bisa merasakan ada tenaga tidak terlihat yang datang menyerangi mereka secara bersamaan. Padahal, Raja Tanpa Gerak hanya berdiri diam bersedekap di tempatnya.


Ireng Keling dan Ireng Segaris menangkis serangan-serangan itu dengan tangan yang mengandung tenaga dalam tinggi. Sementara Ireng Cadas menangkis menggunakan gadanya yang ia jadikan tameng. Ketiganya bertarung melawan serangan yang tidak terlihat, tapi mereka tahu bahwa itulah kesaktian Raja Tanpa Gerak.


Di sisi satunya, Ineng Santi menghentak-hentakkan kedua tangannya, tenaga saktinya ternyata menahan laju tubuh kedua wanita bertubuh besar yang ingin menyerangnya.


Ireng Kemilau dan Ireng Gempita tidak bisa bergerak maju, padahal jaraknya dengan Ineng Santi masih dua tombak jauhnya. Tidak terlihat ada sesuatu yang menahan mereka, tetapi mereka merasakan ada kekuatan yang menahan.


“Hiaaat!” pekik Ireng Gempita sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan kekuatan yang menahan maju tubuhnya.


Ireng Kemilau juga melakukan hal yang sama. Begitu kuatnya mereka mendorong sesuatu yang tidak terlihat, tubuh mereka sampai terlihat miring dengan kedua kaki mendorong di belakang, sementara badan atas condong ke depan dengan kedua tangan mendorong.


Namun, hasil perlawanan kedua wanita bertubuh besar itu tidak membungakan hasil.


Akhirnya, Ireng Gempita berhenti mendorong lalu bergerak mundur.

__ADS_1


Blet! Ctar!


Ireng Gempita melesatkan satu ujung selendangnya yang kemudian menghantam dinding tidak terlihat. Satu ledakan nyaring berbunyi tanpa terlihat kembang-kembang sinar.


Bersamaan dengan hantaman selendang itu, tubuh Ineng Santi mengalami guncangan, tetapi tidak membuatnya berpindah pijakan.


Di sebelah, Ireng Kemilau telah melompat mundur lalu melakukan tinju jarak jauh.


Sress! Blass!


Sebola gumpalan sinar biru samar melesat dari tinju kanan Ireng Kemilau. Gumpalan sinar itu hancur ambyar ketika menghantam dinding tidak terlihat. Peraduan dua tenaga sakti terjadi.


Ternyata kali ini, Ineng Santi terpaksa terjajar dua tindak.


Melihat hal itu, Ireng Kemilau dan Ireng Gempita saling menyepakati sesuatu dengan kode pandangan mata.


Ireng Gempita lalu melompat maju sambil mengebutkan dua selendangnya, sehingga kedua selendang membentang melebar menjadi tabir bagi pandangan Ineng Santi. Ternyata dinding yang tidak terlihat sudah tidak terasa ada karena Ireng Gempita sudah maju melampaui posisi dinding gaib tadi.


Wess!


Ineng Santi yang pandangannya fokus kepada tubuh gemuk Ireng Gempita di udara, jadi terkejut. Dari balik tirai selendang yang melambai di bawah tubuh Ireng Gempita, tahu-tahu muncul melesat Ireng Kemilau yang bertubuh besar pula. Mau tidak mau, Ineng Santi harus menghadapi serangan Ireng Kemilau yang cepat.


Srass! Boom!


Ineng Santi cepat mengerahkan ilmu Mekar Bunga Ratu yang berupa sinar kuning berwujud bunga seperti teratai pada telapak tangan.


Telapak tangan kanan Ineng Santi yang bersinar menyambut tinju Ireng Kemilau yang merah terang. Pertemuan dua kesaktian itu menimbulkan daya ledak tenaga sakti yang besar.


Ineng Santi terdorong mundur dengan keras, tapi dia dengan cepat menahan laju tubuhnya menggunakan kaki yang menjejak tanah dengan kuat, membuat tubuhnya tidak jadi menabrak sisi pondok.


Sementara itu, Ireng Kemilau hanya terjajar beberapa tindak, menunjukkan kekuatan ilmu tinjunya lebih tinggi dari ilmu Mekar Bunga Ratu.


Bdak!


Satu hal yang mengejutkan terjadi pada Ireng Gempita ketika masih di udara. Satu tubuh besar yang sama-sama berlemak tiba-tiba menghantam tubuhnya. Hantaman keras itu melempar tubuh Ireng Gempita jatuh berguling di tanah. Sementara sosok yang menabraknya seperti truk, mendarat dengan baik di tanah.


Ireng Gempita tidak langsung bangun, tetapi dia cepat mencari tahu siapa yang menyerangnya.


“Gendut tidak beradab! Sudah badan besar, tapi masih keroyokan!” seru Anjengan, orang yang telah menabrakkan tubuhnya ke tubuh Ireng Kemilau.


“Gendut ingusan keparat!” maki Ireng Kemilau sambil bangkit dengan marah. Usia Anjengan memang jauh lebih muda darinya.


Maka berhadapanlah dua wanita gemuk berlemak yang siap tarung. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


PENGUMUMAN!


Novel keempat Pendekar Sanggana sudah rilis yang berjudul PUTRA MAHKOTA SANGGANA. Cek di profil Om Rudi. Namun, up-nya masih lambat untuk beberapa bulan pertama.


Audio Book Om Rudi "MARANTI" sudah up loh, yuk putar, dengar, like, dan komen! Sambil nunggu Alma Fatara up.

__ADS_1


__ADS_2