
*Setan Mata Putih (SMP)*
Centeng berusia empat puluhan tahun itu terlihat begitu waspada di dalam sikapnya yang diam saja, di saat teman-temannya yang lain menjadi gaduh karena mengetahui kematian Golono. Sepasang matanya tidak berhenti bergerak memandang ke tempat Golono tewas dan ke arah Raja Tanpa Gerak serta tamunya.
Penombak Manis yang kini bisa membaca ekspresi mata dan wajah seseorang, bergerak mendekati punggung Alma Fatara.
“Maafkan hamba, Gusti Ratu,” ucap Penombak Manis dengan suara yang berbisik.
“Katakan, Manis!” perintah Alma Fatara tanpa menengok.
“Sepertinya kita harus mengorek keterangan dari satu orang dalam pasukan itu. Sikapnya sangat waspada dan bertentangan dengan yang lainnya. Aku curiga dia ada hubungannya dengan kematian pemuda arogan itu,” ujar Penombak Manis.
Mau tidak mau, Alma Fatara harus mengedarkan pandangannya ke arah pasukan Golono.
“Yang mana orangnya?” tanya Alma Fatara pelan.
“Lelaki yang rambutnya dikuncir dan diikat pita biru,” jawab Penombak Manis.
Ketika Alma Fatara memerhatikan ke arah para centeng, lelaki yang dimaksud Penombak Manis juga memandang tajam ke arah Alma dan para pengawalnya. Namun, lelaki yang merupakan anggota centeng kademangan itu tidak tahu apa maksud dari tindakan Alma Fatara. Ia hanya tetap diam dengan tetap waspada tinggi.
“Biar aku yang menculik orang itu nanti,” kata Alma Fatara.
“Kalian mencurigai seseorang?” tanya Raja Tanpa Gerak kepada Alma Fatara dengan suara yang pelan.
“Iya, Kek,” jawab Alma Fatara.
“Hebat juga kesaktian prajuritmu, Alma,” puji Raja Tanpa Gerak.
“Hahaha!” tawa Alma Fatata rendah.
(YUK BANTU cerpen baru Om Rudi yang berjudul "Pacaran Tanpa Bersentuhan" dengan like dan komenmu. Cari di profil, ya.)
Wulung dan Regang lalu memimpin pasukannya untuk meninggalkan puncak Bukit Selubung dengan membawa mayat Golono. Mereka juga tidak lupa membawa turun sepuluh peti harta.
Clap!
Namun, sebelum pasukan itu menuruni tangga, tiba-tiba centeng yang rambutnya dikuncir dan diikat dengan pita biru menghilang begitu saja.
Hal itu mengejutkan beberapa centeng yang ada di belakangnya.
“Ada yang hilang! Ada yang hilang!” teriak centeng yang tadi posisinya di belakang centeng yang hilang.
Rombongan itu jadi berhenti berjalan mendengar teriakan tersebut.
“Siapa yang hilang?” tanya Regang selaku pemimpin centeng.
__ADS_1
“Si anu yang hilang,” jawab si centeng yang tadi berteriak.
“Si anu siapa?” tanya Regang lagi.
“Aku tidak kenal namanya. Kau kenal yang tadi hilang?” jawab si centeng, lalu beralih bertanya kepada temannya yang sama-sama melihat hilangnya rekan mereka.
Centeng yang ditanya justru menggeleng.
“Jangan-jangan kalian menghayal karena kepanasan matahari!” tukas Regang. Ia lalu berteriak kepada semuanya, “Kalian semua diam, aku akan menghitung kalian!”
Regang lalu bergerak cepat untuk menghitung jumlah mereka. Pasukan itu terpaksa berhenti, menunggu pemimpinnya menghitung.
Setelah selesai menghitung, Regang kembali mendatangi anak buahnya yang tadi berteriak.
“Jumlah pasukan kita lengkap, tidak ada yang kurang seekor pun ….”
“Seorang pun, Ketua!” ralat si centeng tadi memotong perkataan ketuanya.
“Iya aku tahu!” bentak Regang kesal. “Awas jika kalian membuat ulah lagi!”
“Iya, Ketua,” ucap si anak buah menunduk kecut.
“Lanjut!” teriak Regang.
Pasukan itupun kembali bergerak menuruni tangga yang curam. Ketika mereka menaiki bukit, tidak begitu mengerikan. Namun, ketika mereka turun, harus hati-hati. Jika terpeleset, alamat jatuh namanya.
Setelah pasukan Demang Mahasugi itu habis di puncak bukit, Raja Tanpa Gerak lalu pergi meninggalkan teras, tapi tidak masuk. Kakek itu turun dan berjalan ke sisi belakang pondoknya. Anjengan dan yang lainnya segera mengikuti.
Di belakang pondok, ternyata ada Alma Fatara. Dia sedang duduk bersila di tanah berumput yang masuk dalam standar FIFA.
Anehnya, dua tombak di depannya ada tonggak bambu setinggi dua tombak. Pada tonggak itu ada menggantung terbalik sesosok tubuh lelaki berpakaian hitam. Meski demikian, tidak terlihat ada tali yang mengikat atau menggantungnya, tapi kedua kakinya seperti dalam kondisi terikat dan tergantung. Orang itu diikat dan digantung oleh Benang Darah Dewa.
Kedua tangannya terjuntai bebas, tetapi dari kedua telapak tangannya keluar aliran darah segar yang menetes mengotori rumput. Sepertinya Alma Fatara yang memberinya luka pada kedua telapak tangan centeng itu.
Lelaki itu tidak lain adalah centeng yang sejak tadi menjadi pusat pengawasan Penombak Manis. Rupanya Alma Fatara adalah orang yang menculik si centeng yang tidak dikenali oleh rekan-rekannya sendiri. Alma Fatara mengandalkan kecepatan geraknya yang seperti setan, sehingga mata biasa tidak sempat melihatnya ketika menculik.
Wajah centeng itu tidak menunjukkan ketakutan, nyalinya berbeda dengan nyali para centeng kebanyakan.
“Oooh. Apakah dia yang membunuh putra demang itu?” tanya Raja Tanpa Gerak setibanya di tempat tersebut .
“Kakek ingin menyiksanya?” tanya Alma Fatara.
“Hehehe! Aku sudah tua. Terlalu kejam jika aku sampai menyiksa orang,” kata Raja Tanpa Gerak. Ia lalu ikut duduk bersila tidak begitu jauh dari Alma Fatara.
“Silakan kalian siksa orang ini agar mau mengaku!” perintah Alma Fatara kepada orang-orangnya.
“Aku du-du-dulu!” teriak Gagap Ayu girang. “Se-se-sejak tadi aku ingin me-me-menghajar pemuda ke-ke-keparat itu. Ini bi-bi-bisa jadi pe-pe-pelampiasan. Hihihi!
__ADS_1
Buk buk buk …!
“Uhk uhk uhk …!” keluh si centeng setiap satu pukulan jarak jauh dari Gagap Ayu menghajar perutnya. Air liur dan darah yang keluar dari mulutnya jadi mengotori wajahnya.
“Belum juga mau bicara,” ucap Anjengan lalu mencabut pedangnya di depan mata si centeng.
Melihat pamor Pedang Macan Setan yang mengerikan, berubah piaslah wajah si centeng.
“Kami tidak memiliki dendam kepadamu, Kisanak. Jadi kami tidak akan membunuhmu. Namun, karena perbuatanmu, Tetua Raja Tanpa Gerak menjadi tersangka dari kematian putra demang itu. Sepertinya kau memang sengaja membunuhnya di sini,” kata Alma Fatara.
“Jika dia pembunuhnya, dia pasti membunuh menggunakan senjata rahasia. Dia pasti menyimpan senjata rahasia di balik pakaiannya,” duga Anjengan.
“Hihihi! Te-te-te ….”
“Telor?” terka Penombak Manis memotong perkataan Gagap Ayu.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara, Raja Tanpa Gerak dan keempat anggota Lima Dewi Purnama.
“Ja-ja-jangan karena kau su-su-sudah punya su-su-suami, lalu kau su-su-suka sebut-sebut te-te-telor!” kata Gagap Ayu sambil menunjuk Penombak Manis.
“Hihihi …!” tawa Penombak Manis.
“Maksudku itu, te-te-telanjangiii! Hihihi!” teriak Gagap Ayu, lalu tertawa senang sambil berlari mendekati si centeng yang masih tergantung.
“Hahahak!” Anjengan juga tertawa terbahak. Justru dia yang lebih dulu merobek-robek pakaian si centeng dengan ujung pedangnya.
“Akk! Ak! Ak!” jerit si centeng beberapa kali ketika ujung pedang Anjengan tidak hanya merobek pakaiannya, tetapi juga menggores kulit tubuhnya.
“Hihihi …!” tawa Gagap Ayu sambil menariki kain baju si centeng dengan buas, seolah-olah begitu bernafsu untuk melihat lelaki itu telanjang.
“Hahahak …!” Alma Fatara, Raja Tanpa Gerak dan yang lainnya hanya tertawa melihat semangat Anjengan dan Gagap Ayu. Sepertinya itu efek dari kelamaan menggadis.
“Hentikan! Aku mengaku, aku yang membunuhnya!” teriak si centeng. Rupanya dia memandang ditelanjangi oleh gadis-gadis adalah kondisi yang buruk.
Breeet!
“Hihihi …!” tawa Gagap Ayu yang menarik panjang baju si centeng yang sudah robek-robek.
“Hahahak …!” tawa Anjengan tanpa mengindahkan pengakuan si centeng.
Kini si centeng benar-benar tidak berbaju, tapi aman, karena celananya masih utuh. Di rumput ada beberapa benda kecil yang jatuh dari tubuh si centeng.
Benda itu berupa sehelai kain merah yang memiliki deretan jarum berwarna hitam. Sangat jelas bahwa jarum-jarum itu mengandung racun. Selain itu, ada kantung kain berwarna hitam dan dua pisau kecil jenis terbang.
“Ceritakan saja selengkapnya atau pedang itu akan memutus tubuhmu satu demi satu!” perintah Alma Fatara.
“Namaku Rawit Ireng. Aku pendekar bayaran Bandar Bumi. Aku ditugaskan membunuh Golono di bukit ini,” ujar si centeng.
__ADS_1
“Siapa itu Bandar Bumi?” tanya Anjengan. (RH)