
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
“Disaksikan Dewa di langit!” seru Mbah Hitam dengan suara kakek-kakeknya.
“Disaksikan Dewa di langit!” ucap Gede Angin yang berlutut dengan lantang dan khidmat.
Lelaki besar berkepala botak itu berlutut bersumpah di depan Ratu Siluman Dewi Dua Gigi, Alma Fatara.
“Disaksikan seluru makhluk yang terlihat dan tidak terlihat!” seru Mbah Hitam lagi.
“Disaksikan seluru makhluk yang terlihat dan tidak terlihat!” seru Gede Angin mengikuti dengan disaksikan oleh seluruh anggota Pasukan Genggam Jagad, termasuk pengantin baru.
“Aku bersumpah suci!”
“Aku bersumpah suci!”
“Akan mengabdikan nyawa dan raga kepada Ratu Siluman, Ratu Dewi Dua Gigi!”
“Akan mengabdikan nyawa dan raga kepada Ratu Siluman, Ratu Dewi Dua Gigi!”
“Bersujud!” perintah Mbah Hitam.
“Bersujud!” seru Gede Angin mengikuti, tapi tidak bersujud.
“Bersujud, Gede Angin!” seru Anjengan yang melihat ketidakpahaman lelaki besar botak itu.
“Hah!” kejut Gede Angin sambil mendongak memandang Anjengan yang meneriakinya. Ia pun memandang kepada Alma dan Mbah Hitam.
Setelah ia sadar bahwa ia gagal paham, Gede Angin buru-buru turun bersujud kepada Alma Fatara yang duduk di atas sebuah pokok pohon yang patah setinggi pinggang.
“Bangunlah! Janji sucimu aku terima, Gede Angin!” perintah Alma Fatara berwibawa.
Dengan demikian, maka sah Gede Angin menjadi abdi Alma Fatara dan anggota dari Pasukan Genggam Jagad.
“Yeee!” sorak Anjengan dan kawan-kawan.
“Hua hua hua!” teriak Anjengan.
“Hua hua hua!” teriak anggota pasukan yang lain serentak.
“Wik wik wik!” teriak Anjengan lagi, menirukan teriakan kode mendiang kelompok Bajak Laut Ombak Setan pimpinan Hantu Dasar Laut.
“Wik wik wik!” teriak mereka beramai-ramai.
Gede Angin hanya tersenyum canggung melihat tingginya animo kelompok itu dalam menyambutnya sebagai bagian dari keluarga besar.
Saking gembiranya, Tampang Garang dan Geranda bergerak mendatangi Gede Angin dan meraih kedua pahanya. Kedua lelaki itu lalu mencoba mengangkat tubuh Gede Angin.
__ADS_1
“Aaa!” pekik Tampang Garang dan Geranda kelabakan saat mereka limbung ketika mengangkat lelaki besar itu.
Bdluk!
Tampang Garang dan Geranda jatuh tertimpa oleh Gede Angin.
“Hahaha …!” tawa mereka ramai-ramai.
Alma Fatara memutuskan menerima Gede Angin sebagai abdi setelah mendengar satu bab cerita tentang raksasa kecil itu.
Gede Angin adalah anggota dari Kelompok Tinju Botak. Ia dan teman-temannya terkenal sebagai kelompok pendekar jahat yang suka menindas dan mengganggu orang-orang lemah. Kelompok mereka tidak segan-segan membunuh orang yang tidak bersalah.
Salah satu korban yang Kelompok Tinju Botak bunuh adalah satu keluarga kaya di sebuah kademangan. Ternyata keluarga itu masih memiliki hubungan kerabat dengan dua pendekar nenek kembar, yakni Nyai Delima dan Nyai Langsat.
Kedua nenek kembar itu sudah membantai habis anggota Kelompok Tinju Botak, termasuk ketuanya. Kemungkinan besar, tinggal Gede Angin yang tersisa masih hidup dari kelompok itu.
“Aku melihat semua temanku dibunuh satu per satu, Gusti Ratu. Aku sangat ketakutan jika bertemu dengan dua nenek kembar itu lagi,” kata Gede Angin tidak lama sebelum pengucapan janji sucinya.
“Kedua nenek kembar itu adalah sahabat baikku. Jadi, jika aku bertemu dengan mereka, aku tidak bisa melindungimu jika mereka menginginkanmu mati,” kata Alma Fatara.
“Lalu nasibku bagaimana, Gusti Ratu?” tanya Gede Angin dengan wajah yang mengiba penuh harap.
“Hanya ada satu cara agar kau tidak disentuh oleh kedua nenek galak itu,” kata Alma Fatara.
“Apa, Gusti Ratu? Aku akan melakuannya!” kata Gede Angin cepat.
“Iya iya iya. Aku bersedia menjadi hamba dari Gusti Ratu. Menjadi algojo Gusti Ratu pun aku bersedia, asalkan aku aman dari kedua nenek kembar itu!” kata Gede Angin sangat antusias.
“Tapi, syarat menjadi abdi dan pasukanku, tidak boleh jahat dan harus melindungi orang yang lemah dan tidak bersalah,” tandas Alma Fatara.
“Aku bersedia, Gusti Ratu. Jangankan untuk menjadi orang baik, diperintahkan menjadi wanita pun aku bersedia,” kata Gede Angin lagi.
“Hahahak!” tawa terbahak Alma. “Apa gunanya aku memintamu jadi perempuan?”
“Hehehe!” kekeh Gede Angin salah tingkah.
“Kau harus mengucapkan janji suci terlebih dulu untuk menjadi abdiku!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap Gede Angin patuh bernada semangat.
Maka, Gede Angin pun mengucapkan janji sucinya yang dipandu oleh Mbah Hitam.
Setelah Pasukan Genggam Jagad bergembira menyambut bergabungnya Gede Angin, Alma Fatara dan pasukannya bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Hari mulai menuju senja.
Beruntung bahwa Juling Jitu dan Penombak Manis sudah menikah, jadi Alma tidak perlu mencari satu kuda lagi untuk Gede Angin. Juling Jitu dan Penombak Manis berkongsi kuda, kuda Penombak Manis diberikan kepada Gede Angin.
“Pasukan Genggam Jagaaad!” teriak Alma Fatara agak panjang sambil mengangkat tangan kanannya, lalu menggebah kudanya, “Heah heah!”
Sing!
__ADS_1
Anjengan mencabut Pedang Macan Setan-nya. Sambil menghunuskan pedangnya tinggi-tinggi, dia berteriak lantang penuh ekspresi.
“Pasukan Genggam Jagad, berangkaaat! Heah heah!” teriak Anjengan sebagai Panglima Pasukan Genggam Jagad, lalu menggebah kudanya.
“Heah heah!” gebah personel yang lain, segera menyusul Alma Fatara dan Anjengan.
Rombongan itupun melanjutkan ekspedisinya.
Singkat cerita, mereka harus melewati sebuah pusat kademangan. Rencana Alma, ia dan rombongan tidak berniat singgah atau bermalam di kota itu.
Namun, Alma menghentikan lari kudanya saat Anjengan memintanya berhenti ketika melihat ada pasar sore.
“Ada apa, Kak Anjeng?” tanya Alma Fatara kepada kakak angkatnya itu.
“Alma, celana abdi dalamku sudah terlalu kendor, sampai-sampai dia hanyut sendiri waktu mandi di sungai tempat Pendekar Tongkat Roda. Selagi masih ada pasar, aku mau cari abdi dalam dulu,” ujar Anjengan.
“Hahaha!” tawa Alma santai mendengar cerita itu. Lalu tanyanya, “Apakah Kak Anjeng punya uang?”
“Geranda mau membelikanku abdi dalam berapa pun yang aku mau. Hahaha!” kata Anjengan lalu tertawa.
“Hahaha!” tawa Alma pula. Ia lalu berkata, “Kita berhenti sejenak!”
“Istirahat sejenak!” teriak Anjengan kepada rombongan.
Warga kadipaten yang berada di area pasar sore itu hanya memandangi rombongan itu sejenak.
Anjengan turun dari kudanya dan menambatkannya pada tiang bambu pinggir jalan kademangan.
“Geranda Sayang, ayo!” panggil Anjengan.
“Ayo!” sahut Geranda sambil bergegas melompat dari kudanya.
Sambil tersenyum ia berlari menghampiri gadis gemuk itu. Sepertinya dia gembira untuk menjajani panglimanya.
“Pengantin baru, ayo!” panggil Geranda kepada Juling Jitu dan Penombak Manis.
Dipanggil oleh si pemuda kaya raya, Penombak Manis segera melompat turun dari kuda mendahului suami barunya. Namun, Juling Jitu tidak segera turun.
“Ayo, Kakang!” ajak Penombak Manis.
“Kau saja, Manis. Aku malu jika berjalan dengan pusaka menonjol di depan orang banyak,” kilah Juling Jitu.
“Hihihi!” tawa Penombak Manis lalu meninggalkan suaminya.
“Kakang Geranda! Apakah kami yang cantik-cantik ini akan kau tinggalkan begitu saja?” sahut Alis Gaib yang berkumpul bersama Gagap Ayu dan Kembang Bulan.
“Ayo ayo ayo! Aku bayari belian kalian! Hahaha!” sahut Geranda dengan gembira.
Maka dengan bergembira pula, ketiga wanita itu segera bergabung pergi ke pasar sore. (RH)
__ADS_1