Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 14: Tiga Anggota Baru


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


 


Karang Genit dan Alis Kuning hanya bisa tersenyum di dalam hati, ketika lelaki yang tampannya kebangetan itu mengobati mereka. Mbah Hitam yang sudah berwujud pemuda tampan telah diperintah untuk mengobati Karang Genit, Alis Kuning dan Kulit Jeruk.


Pengobatan Mbah Hitam hanya bisa sebatas meringankan luka mereka bertiga, sehingga tubuh mereka sanggup untuk melakukan perjalanan panjang.


Penampilan ketiga anggota bajak laut itu lumayan kembali bersih setelah diurus oleh Iwak Ngasin dan rekan-rekan.


Sementara itu, hujan telah turun. Alma Fatara tidak menunjukkan akan menghindari hujan. Ia membiarkan dirinya hujan-hujanan.


Jika sudah melihat pimpinannya hujan-hujanan, maka tidak ada alasan bagi yang lain untuk tidak ikut berbasah-basahan, karena itu menunjukkan Alma tidak akan menunda perjalanan karena hujan.


“Alma, kau yakin kita akan pergi berhujan-hujanan?” tanya Cucum Mili.


“Iya. Setahuku bajak laut tidak takut kepada air. Hahaha!” kata Alma lalu tertawa. Pakaian dan tubuhnya sudah mulai basah.


Hujan yang turun memang tidak begitu deras, sedang-sedang saja, tetapi sepertinya akan lama.


“Aku tidak takut air laut, tapi takut air hujan,” jawab Cucum Mili berseloroh.


“Hahaha!” tawa Alma.


Dari tirai hujan berjalan terseok tiga sosok, yaitu Karang Genit, Alis Kuning dan Kulit Jeruk. Mereka sudah selesai diobati luka dalamnya, menyisakan luka fisik, seperti kaki yang bengkak, kepala yang bocor, atau kulit yang tergores ketika semalam mereka terpental keras dan diseret secara sembarangan.


Mereka datang ke hadapan Alma dan Cucum Mili.


“Hormat sembah kami, Gusti Ratu!” ucap mereka serentak sambil turun berlutut dan menjura hormat.


“Bangunlah!” perintah Alma Fatara.


Ketiganya pun bergerak bangun berdiri, tapi dengan kepala yang menunduk. Pakaian dan tubuh mereka sudah basah.


“Perkenalkan diri kalian satu per satu!” perintah Alma berwibawa.


“Nama hamba Kulit Jeruk, Gusti Ratu. Hamba seorang lelaki ….”


“Hahahak!” Tiba-tiba Alma tertawa terbahak, membuat Kulit Jeruk terkejut, tapi tersenyum kecut. “Aku masih jauh dari pikun sehingga kau merasa harus menyebutkan dirimu lelaki atau wanita.”


“Hihihi!” tawa Cucum Mili.


“Apa kehebatanmu sebagai seorang bajak laut?” tanya Alma.


“Aku hebat dalam memanah, Gusti Ratu,” jawab Kulit Jeruk.

__ADS_1


“Ganti namamu menjadi Tampang Garang!” perintah Alma.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Kulit Jeruk patuh tanpa berat hati. Setidaknya nama pemberian Ratu Dewi Dua Gigi lebih bergaya laki.


“Selanjutnya!” kata Alma.


“Namaku Karang Genit, Gusti Ratu. Tapi aku tidak genit, Gusti Ratu. Aku tidak suka menggoda lelaki, apalagi suami orang. Aku bersenjata tombak. Tombakku ada di dalam gua,” ujar Karang Genit dengan wajah tetap tertunduk.


“Ambil senjata kalian setelah ini. Ganti namamu, Karang Genit. Sekarang namamu Penombak Manis!” perintah Alma.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Karang Genit patuh.


“Dan kau?” tanya Alma kepada Alis kuning.


“Namaku Alis Kuning, Gusti Ratu. Aku ahli dalam membuat perangkap bersama Karang Genit. Aku pemain golok,” kata Alis Kuning.


“Perlihatkan wajahmu!” perintah Alma.


Alis Kuning lalu mengangkat sedikit wajahnya memandang kepada wajah jelita Alma Fatara. Alma menatap dingin wajah Alis Kuning.


“Ganti namamu menjadi Alis Gaib!” perintah Alma.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Alis Kuning patuh lalu kembali menunduk.


“Kami paham, Gusti Ratu!” ucap mereka serentak.


“Kakak Putri mengerti dengan ketetapanku?” tanya Alma kepada Cucum Mili.


“Sangat mengerti, Gusti Ratu,” ucap Cucum Mili sambil agak merunduk menghormat kepada Alma.


“Hahaha!” tawa Alma melihat sikap Cucum Mili yang tetap mengenakan cadarnya. Lalu katanya kepada ketiga anggota baru itu, “Mulai sekarang nama kalian adalah Tampang Garang, Penombak Manis, Alis Gaib. Segera ambil senjata kalian dan kita akan berangkat sekarang juga!”


“Baik, Gusti Ratu!” ucap mereka serentak sambil menjura hormat lalu berbalik pergi.


Tampang Garang, Penombak Manis dan Alis Gaib bergegas menuju sungai untuk menyeberang ke gua.


Sementara itu, para anggota rombongan yang lain sudah naik ke punggung kuda. Juling Jitu harus berbagi punggung kuda dengan Iwak Ngasin dan Gagap Ayu berbagi kuda dengan Kembang Bulan. Yang lain tetap dengan kudanya masing-masing.


“Aku semakin bersemangat mempunyai seorang pemimpin baru yang sempurna,” kata Tampang Garang kepada kedua rekan wanitanya. “Sangat sakti, masih sangat muda dan sangat cantik.”


“Menjadi nasib baik kita,” kata Penombak Manis.


“Apa kalian tidak berpikir untuk membalas dendam atas kematian rekan-rekan bajak laut kita?” tanya Alis Gaib.


“Jangan sekali-kali memikirkan hal itu, Kuning!” hardik Penombak Manis. “Apa kau begitu cepat lupa bagaimana kita menangis seperti anak kecil karena takut mati?”

__ADS_1


“Benar yang dikatakan oleh Karang Genit, eh, Penombak Manis,” kata Tampang Garang. “Sudah nasib kita menjadi pengikut siapa saja yang bisa menjamin nyawa kita.”


“Kita harus mematuhi janji-janji kita sehingga kita memang pantas dipertahankan hidup di dunia,” tandas Penombak Manis.


“Baik, aku akan menepati janjiku dan setia kepada Gusti Ratu,” kata Alis Gaib.


Itulah sekilas obrolan ketiga anggota baru rombongan Alma Fatara. Mereka kemudian menemukan senjata mereka masing-masing. Tampang Garang memungut panah dan busurnya, Penombak Manis memungut tombak ikannya yang pada bagian runcingnya bergerigi. Sementara Alis Gaib memungut goloknya.


Setelah ketiganya datang kepada rombongan, Alma Fatara melanjutkan perjalanan dalam kondisi hujan-hujanan. Penombak Emas dan Alis Gaib harus berbagi punggung kuda, sementara Tampang Garang menunggangi kuda milik Juling Jitu.


“Pasukaaan! Jangan lupa bahagia! Heah heah!” teriak Alma Fatara sambil mengangkat tangan kanannya.


“Jangan lupa bahagiaaa! Heah heah!” teriak Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Kembang Bulan.


“Ja-ja-jangan lu-lu-lupa bahagiaaa! He-he-heah!” teriak Gagap Ayu selalu telat.


“Jangan lupa bahagia! Heah heah!” teriak Tampang Garang, Penombak Manis dan Alis Gaib ikut pula.


Kuda-kuda mereka gebah untuk berlari menerabas hujan yang turun sedang dan berdurasi awet.


“Kenapa berangkatnya harus hujan-hujanan?” tanya Alis Gaib kepada Penombak Manis yang memegang tali kendali kuda.


“Sepertinya Gusti Ratu sedang buru-buru menuju ke suatu tempat,” jawab Penombak Manis.


Rombongan itu berkuda penuh semangat di bawah guyuran hujan. Pakaian yang basah kuyup seolah tidak menjadi masalah bagi mereka.


“Juling Jitu, lihat, mereka begitu menggiurkan dalam kondisi pakaian basah seperti itu. Hahaha!” kata Iwak Ngasin kepada Juling Jitu di belakangnya, sambil ia menengok memandang kepada Penombak Manis dan Alis Gaib.


“Iwak!” sebut Juling Jitu sambil menepuk bahu kanan Iwak Ngasin. “Kau sepertinya bukan Iwak Ngasin yang dulu. Sekarang kau sangat mata keranjang.”


“Hahaha! Kita sebagai seorang pendekar, apalagi masih muda dan tampan seperti aku, harus memiliki jati diri yang kuat. Aku sedang membangun sifat kependekaranku sebagai pendekar yang suka dengan keindahan wanita. Kau pun harus membangun jati dirimu sebagai seorang pendekar. Kau lihat saja Guru Garudi. Dia sosok pendekar sakti yang genitnya keterlaluan. Jadi tidak ada salahnya jika aku, pendekar yang tampannya keterlaluan, menyukai makhluk yang namanya wanita. Hahaha!” jelas Iwak Ngasin dengan penuh semangat.


“Gara-gara ulahmu itu kau hampir saja kehilangan ekor depanmu jika Nenek Cuping tidak memaafkanmu,” kata Juling Jitu.


“Itu wajar, karena baru percobaan,” kilah Iwak Ngasin.


“Iwak, tapi apakah Alma serius akan menjodohkanmu dengan dedemit perempuan?” tanya Juling Jitu.


“Jika dedemitnya secantik Kembang Bulan, aku tidak akan menolak,” kata Iwak Ngasin.


“Kau pasti akan kena batunya nanti, Iwak,” kata Juling Jitu.


“Kau jangan menyumpahiku seperti itu!” hardik Iwak Ngasin.


“Hahaha!” tawa Juling Jitu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2