
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Setan Gagah adalah sosok kakek yang memang gagah. Meski tinggi tubuhnya agak pendek, tetapi terlihat jelas ia memiliki dada yang bidang, otot yang masih bulat-bulat, dan wajah keriput yang terkesan masih berusia separuh abad karena semua rambut di kepala dan wajahnya ia cukur bersih, kecuali alis, bulu mata dan bulu hidung.
Ketua Perguruan Lelaki Hebat itu mengenakan pakaian bagus berwarna merah berpadu warna minoritas kuning. Dia memiliki sebilah golok bersarung yang menggantung di pinggang kirinya. Golok itu terlihat bagus dengan warnanya yang merah seperti tembaga berpadu warna hitam mengilap.
Sesuai namanya, Perguruan Lelaki Hebat memiliki murid yang semuanya lelaki dan usianya rata-rata masih muda. Murid yang paling tua berusia empat puluh tahun. Kecuali satu murid yang berjenis kelamin perempuan, namanya Roro Wiro.
Roro Wiro adalah wanita yang berpenampilan lelaki. Rambutnya pendek. Buah dada yang agak besar harus ia balut kencang dengan kain agar terlihat rata. Baju pun harus yang agak besar agar dadanya tidak menonjol. Cara berjalan pun seperti lelaki habis sunat. Lucu, tapi tidak ada yang berani menertawakannya karena dia berkarakter galak, itu supaya tidak diremehkan oleh para murid lelaki.
Pagi itu, murid-murid Setan Gagah melakukan aktivitas rutinnya masing-masing. Ada yang berlatih, ada yang mengurus urusan dapur, urusan rumah tangga, dan urusan lainnya.
Saat ini, Setan Gagah kedatangan tamu, yaitu Hantu Tiga Anak. Keduanya duduk berhadapan di pendapa yang sepi, sambil makan bubur jagung dengan mangkok batok kelapa. Minumnya teh hangat tanpa gula, maklum masa manis mereka sudah lewat.
“Sekarang wanita sombong itu sudah sampai di kerak neraka,” ujar Hantu Tiga Anak, merujuk kepada Wulan Kencana.
“Bagaimana cara membunuhnya?” tanya Setan Gagah yang pakaiannya cukup ketat, membuat penampilannya terlihat gagah.
“Mau tidak mau, kami harus mengeroyoknya dan menyerangnya langsung dengan ilmu-ilmu pamungkas kami,” jawab Hantu Tiga Anak.
“Kalian melakukan cara sehina itu?” tanya Setan Gagah yang memang terkenal berkarakter lebih jujur dan ksatria dibandingkan para penguasa bukit yang lain.
“Tidak ada cara lain untuk menyingkirkan perempuan busuk itu, kecuali dengan mengeroyoknya. Itupun kita keroyok di saat dia masih terluka parah karena melawan Ratu Siluman yang mengundang kita itu. Itu saja, Lelaki Tombak Petir dan Galah Larut harus menanggung luka dari Wulan,” kata Hantu Tiga Anak.
“Jadi apa yang kalian rencanakan setelah Wulan tidak ada lagi di Bukit Tujuh Kepala ini?” tanya Setan Gagah.
“Mengikuti arahan Wulan Kencana, yaitu mengeroyok Ratu Siluman untuk merebut Bola Hitam.”
“Bola Hitam?” kejut Setan Gagah.
“Benar. Ratu Siluman itu adalah pemilik baru Bola Hitam. Karena itu Wulan Kencana kalah besar melawan anak ingusan itu,” kata Hantu Tiga Anak. “Jika kau ikut bergabung, kekuatan kita akan semakin besar.”
__ADS_1
“Jika demikian, mungkin ada beberapa hal yang perlu kau tahu dari seseorang yang kini tinggal di perguruanku ini,” ujar Setan Gagah. Ia meletakkan mangkoknya lalu berdiri. “Tunggu sebentar.”
Setan Gagah lalu berjalan ke pinggir pendapa yang tidak berdinding.
“Buto Renggut!” panggil Setan Gagah kepada seorang lelaki yang sedang memandikan seekor kuda.
“Baik, Tetua,” ucap lelaki yang tidak lain adalah Buto Renggut, murid Perguruan Bulan Emas yang memilih mengikuti guru keduanya, yaitu Silang Kanga.
Ia lalu menghentikan pekerjaannya dan melangkah pergi menuju sebuah rumah bambu yang posisinya agak jauh dari pendapa. Sementara Setan Gagah kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan makan bubur jagungnya.
“Aku mendengar tentang Bola Hitam sejak dua tahun lalu yang dibawa oleh seorang gadis belia berjuluk Dewi Dua Gigi. Jika Ratu Siluman itu adalah orang yang sama dengan Dewi Dua Gigi, berarti memang kita harus berhati-hati menghadapinya. Terbukti, di usianya yang masih sangat muda dia mampu mempertahankan Bola Hitam di tangannya selama dua tahun,” kata Setan Gagah.
“Yaaa. Jelas-jelas Ratu Siluman ini lebih berbahaya dari Ratu Pongah Wulan Kencana. Maka itu, kita datang ke pesta itu dengan rencana, bukan sekedar datang, makan, lalu pulang,” tandas Hantu Tiga Anak. “Aku akan datang bersama ketiga muridku.”
“Kau tidak takut jika ketiga muridmu akan menjadi korban dari rencanamu sendiri?” tanya Setan Gagah sambil tersenyum kecil.
“Itu tidak akan terjadi,” sangkal Hantu Tiga Anak yakin.
“Tapi ada hal yang mengherankan. Aku belum mendengar berita tentang kemunculan anggota keluarga Raja Tanpa Tahta yang memburu pusaka itu. Seharusnya mereka terdengar ramai tentang hilangnya Bola Hitam dari lingkup keluarga besar mereka,” kata Setan Gagah.
Clap!
Tiba-tiba tidak jauh dari mereka muncul begitu saja sosok seorang kakek berpakaian serba kuning.
“Sial!” maki terkejut Hantu Tiga Anak sampai terlompat berdiri dari duduknya dengan tangan masih memegang mangkok buburnya.
Hantu Tiga Anak terkejut bukan karena cara muncul si kakek berpakaian kuning yang seperti setan, karena hantu tidak mungkin takut dengan setan, tetapi siapa orang itu adanya yang membuat kakek keriting itu terkejut.
Orang itu tidak lain adalah Silang Kanga, Wakil Ketua Perguruan Bulan Emas atau guru kedua di perguruannya, orang nomor dua setelah Wulan Kencana.
“Kenapa kau terkejut, Hantu?” tanya Silang Kanga dengan tatapan tajam. “Sepertinya kau memiliki permasalahan denganku?”
“Ti-ti-tidaaak …,” jawab Hantu Tiga Anak tergagap sambil mencuri lirik kepada Setan Gagah.
__ADS_1
“Kami sedang membicarakan perkara rahasia, jadi kemunculanmu yang tiba-tiba itu membuat Hantu Tiga Anak terkejut,” kata Setan Gagah yang segera melindungi posisi Hantu Tiga Anak sebagai salah satu pembunuh dari Wulan Kencana.
“Oooh. Lama tidak bertemu, kau semakin penakut saja, Hantu,” kata Silang Kanga sambil berjalan mendekati meja yang pendek. “Ada apa kau memanggilku, Setan?”
Hantu Tiga Anak lalu kembali duduk di posisinya berseberang meja dengan Setan Gagah, tetapi diam-diam dia waspada tinggi, berjaga-jaga jika Silang Kanga tahu-tahu menyerangnya.
Silang Kanga lalu duduk di sisi lain dari meja itu.
“Hantu Tiga Anak sempat bertemu dengan Wulan Kencana yang terluka parah. Wulan menyarankan para penguasa bukit untuk mengeroyok Ratu Siluman dan merebut Bola Hitam. Kedatangan Hantu ke sini bertujuan mengajakku ikut bergabung. Nah, bagaimana menurutmu? Bukankah kau sempat bertemu dengan Ratu Siluman itu?” ujar Setan Gagah yang memilih menutupi sebagian cerita tentang Wulan Kencana.
“Kedatangan Ratu Siluman ke perguruanku di saat aku dalam kondisi terluka parah oleh Suraya Kencani. Jadi aku tidak sempat adu kesaktian dengan gadis itu. Namun aku menyimpulkan, jika Wulan Kencana saja dibuat lari, pastinya aku pun tidak mampu mengalahkan anak itu. Langkah untuk mengeroyoknya jelas pilihan yang tepat ….”
“Jadi kau juga akan ikut?” tanya Setan Gagah.
“Harus. Berpuluh-puluh tahun aku dan Wulan membangun Perguruan Bulan Emas, tidak mungkin aku biarkan rumah dan murid-muridku kini dinikmati oleh pendekar asing,” tandas Silang Kanga.
“Jika demikian, kalian berdua sepakat bergabung dengan kami,” kata Hantu Tiga Anak menyimpulkan. Lalu katanya sambil menatap tajam kepada Setan Gagah, “Rahasia ini harus dijaga agar tidak bocor.”
Setan Gagah manggut-manggut sambil tersenyum samar kepada Hantu Tiga Anak. Anggukan itu memberi kelegaan bagi Hantu Tiga Anak, yang artinya Setan Gagah tidak akan membocorkan tentang pembunuhan terhadap Wulan Kencana kepada Silang Kanga.
“Kedatangan Ratu Siluman ke perguruanku dalam rangka membawa sebuah pusaka yang diinginkan Wulan Kencana, yang akan ditukar dengan kebebasan Rereng Busa,” kata Silang Kanga.
“Yaaa, aku mendengar kabar tentang penyanderaan Rereng Busa itu,” kata Hantu Tiga Anak yang nada suaranya sudah setenang sebelumnya.
“Namun yang harus kalian tahu, saat aku diusir oleh Ratu Siluman dari perguruanku sendiri, bersamanya ada Rereng Busa, Balito Duo Lido, Panglima Pamungkas Kerajaan Singayam dan beberapa pendekar yang tidak aku kenal. Aku menduga kuat, tidak akan terjadi pengeroyokan tujuh atau delapan lawan satu. Jika para pendekar sakti itu masih ada di sana, maka kita pun akan bertarung melawan Rereng Busa dan Balito Duo Lido,” ujar Silang Kanga.
Agak terkesiap Hantu Tiga Anak mendengar hal itu.
“Aku tidak tahu, apakah Ratu Siluman itu benar-benar siluman atau manusia biasa. Yang jelas, berdasarkan kesaksian muridku, salah satu dari mereka ada seekor siluman ular,” kata Silang Kanga lagi. “Lalu ke mana Wulan Kencana pergi?”
“Entahlah. Dia hanya mampir menyampaikan sarannya agar kami merebut Bola Hitam dengan cara mengeroyok Ratu Siluman. Setelah itu dia pergi untuk mengobati lukanya,” jawab Hantu Tiga Anak berdusta. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.