Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Guru Bule 19: Malam Latihan


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


Malam itu menjadi malam yang ramai tapi tidak meriah di hutan kecil itu. Sebelum beristirahat, dalam arti menginstirahatkan seluruh panca indera dengan tidur, Ratu Siluman Dewi Dua Gigi memerintahkan para abdinya untuk berlatih agar kemampuan tarung mereka lebih meningkat.


"Aku tidak menginginkan para satria Pasukan Genggam Jagad adalah pendekar sealakadarnya. Sebab di masa depan, kalian akan bertemu dengan lawan-lawan yang kuat!" seru Alma Fatara kepada Anjengan dan pasukannya.


Jika yang lain bisa berlatih mandiri, berbeda dengan Kembang Bulan. Gadis cantik itu dimentori oleh Cucum Mili. Ia begitu semangat berlatih, meski Cucum Milih melatih dengan sedikit keras dan suka membentak-bentak.


Dak!


"Ak!" pekik Kembang Bulan saat kakinya disepak tiba-tiba oleh Cucum Mili. Meski tidak begitu keras, tetapi itu membuat si gadis jatuh.


"Kurang kuat! Bagaimana bisa kau menjadi kuda jika kuda-kudamu lemah. Kumpulkan tenagamu di kaki!" bentak Cucum Mili. "Ulangi!"


"Baik, Guru!" ucap Kembang Bulan tetap semangat.


Kembang Bulan lalu bangkit kembali dan memulai ulang gerakan-gerakannya. Cucum Mili berjalan mengitari Kembang Bulan, bukan seperti ayam jago yang mau melamar ayam betina, tetapi layaknya guru memperhatikan muridnya.


Dak!


Tiba-tiba Cucum Mili kembali menyepak kaki kanan Kembang Bulan. Kali ini, si gadis cantik tidak menjerit saat terjatuh lagi. Rupanya ia sudah siap disepak tiba-tiba pada bagian kakinya yang mana saja.


"Kurang kuat! Ulangi!" bentak Cucum Mili.


"Baik, Guru!" ucap Kembang Bulan tetap semangat. Ia pun kembali mengulang gerakannya.


Berulang kali Kembang Bulan mengulang gerakan-gerakannya. Berulang kali pula Cucum Mili menyepak kaki kuda-kuda Kembang Bulan secara tiba-tiba tanpa waktu yang tetap. Berulang kali pula si gadis jatuh.


Namun demikian, tetap ada kemajuan yang diraih Kembang Bulan. Sampai ia mampu tidak jatuh ketika kakinya disepak dengan kekuatan yang sama.


"Cukup! Perkembangan bagus, Kembang! Latih terus gerakanmu setiap ada kesempatan luang. Jika kau mulai merasa bosan, maka bersiaplah jadi pecundang!" kata Cucum Mili.


"Baik, Guru!" jawab Kembang Bulan masih penuh semangat, meski napasnya masih terengah-engah, wajah dan tubuhnya banjir keringat, dan ada rasa nyeri pada kedua kakinya yang sering disepak. Entah, berapa puluh kali kakinya disepak.


Sementara itu, Anjengan mengasah penyatuan tenaga dalamnya dengan pedang barunya. Setelah itu, ia juga melatih beberapa gerakan pedang. Bahkan ia tidak sungkan bertanya kepada Alis Gaib yang cukup lihai bermain golok. Puncaknya, mereka mencoba latih tarung, yaitu Pedang Macan Setan lawan golok biasa Alis Gaib.


Ting!


"Hah!" pekik Alis Gaib saat goloknya langsung patah saat adu pertama dengan pedang Anjengan.


"Hahaha!" tawa Anjengan melihat golok Alis Gaib seperti golok mainan saja yang langsung patah pada peraduan pertama.


Sementara Juling Jitu main lesat-lesatan keris mini bersama Penombak Manis. Tidak hanya bahagia di kala di atas ranjang asmara darurat, tetapi pengantin baru itu juga terlihat bahagia saat latihan.


Juling Jitu perlu melatih diri dalam penggunaan keris-keris mini beracun yang sudah tidak beracun di tangannya. Dia sudah kebal.


Penombak Manis menjadi target serang keris-keris mini Juling Jitu. Di saat inilah terlihat kehebatan Penombak Manis yang semakin paten karena pengaruh Sisik Putri Samudera.

__ADS_1


Daya deteksi penglihatan Penombak Manis menjadi lebih tajam, sehingga ia bisa menghindari semua serangan keris-keris terbang suaminya.


"Hihihi ...!" tawa Penombak Manis melihat semua kegagalan suaminya.


"Kenapa kau tertawa, Manisku?" tanya Juling Jitu sambil mencabuti keris mininya yang bertancapan di batang pohon.


"Semua kerismu tidak akan mampu mengenaiku selama aku memakai Sisik Putri Samudera," kata Penombak Manis.


"Kau salah, Manisku. Aku punya satu keris yang tidak mungkin bisa kau hindari," ujar Juling Jitu.


"Oh ya? Keris yang mana? Coba buktikan!" kejut Penombak Manis lalu menantang.


"Keris yang ini!" tandas Juling Jitu sambil memegang pusaka di dalam celananya yang masih tegang terus.


"Ak! Hihihihi ...!" pekik Penombak Manis terkejut, lalu justru tertawa nyaring. "Ayo, aku siap ditusuk kalau pakai keris itu!"


Penombak Manis lalu menarik tangan suaminya dan mengajaknya berlari pergi ke dalam kegelapan.


Tampang Garang melatih kemampuan memanahnya dengan target yang gelap tidak terlihat.


Dia menggantung sejumlah potongan kayu kecil-kecil di sebatang dahan rendah yang tidak mendapat cahaya obor sedikit pun. Maka, potongan-potongan kayu itulah yang dia bidik dari jauh. Hal itu ia laukan berulang-ulang sampai target tercapai, yaitu seratus persen panahannya mengenai target.


Di sisi lain, Gede Angin dan Geranda bermain bersama. Sebagai anggota terkaya, Geranda sukanya main kepeng, tetapi ia tidak sedang main judi dengan Gede Angin.


"Jika kau suka kepeng, sebagai pendekar, seharusnya kau bisa memanfaatkan uang ini bukan sekedar harta, tetapi juga sebagai senjata," saran Gede Angin.


"Wuih, pemikiranmu cerdas juga, Gede!" puji Geranda sumringah.


"Bisa kau contohkan?" tanya Geranda dengan ekspresi yang bersemangat.


"Keluarkan kepengmu!" perintah Gede Angin.


"Tapi, kau tidak bermaksud menipuku?" tanya Geranda, masih memiliki sedikit rasa curiga.


"Percaya padaku. Gusti Ratu sudah melarangku menjadi jahat!" tandas Gede Angin.


"Baik, aku percaya jika kau sudah membawa-bawa nama Gsuti Ratu," kata Geranda.


Putra adipati itu lalu membuka sekantung tempat kepengnya. Ia mengambil satu kepeng dan memberikannya kepada Gede Angin.


"Kau lihat batu di bawah pohon itu!" tunjuk Gede Angin ke arah sebongkah batu sebesar bokong yang tidak tumbuh di bawah sebatang pohon.


"Iya."


Set! Trek!


Tiba-tiba Gede Angin melesatkan kepeng di tangannya dan alat bayar itu mengenai batu di bawah pohon. Meski tidak terlihat jelas karena pencahayaan yang minim, tetapi suaranya terdengar jelas dan meyakinkan.

__ADS_1


"Ayo lihat!" ajak Gede Angin sambil bangkit dari duduknya.


Geranda segera mengikuti.


"Kau memiliki tenaga dalam?" tanya Gede Angin.


"Pasti."


Kedua pria yang sangat berbeda postur tubuh itu pergi memeriksa hasil uji coba Gede Angin.


Setibanya di bawah pohon, mereka bisa melihat dengan jelas, kepeng lesatan Gede Angin menancap masuk ke dalam batu sedalam satu diameter kepeng itu.


"Wuaaah, hebat!" puji Geranda. "Aku mau coba, aku mau coba!"


Mereka berdua lalu kembali ke tempat semula mereka duduk.


"Harus konsentrasi dan tenaga dalam harus dipusatkan ke tangan secara santai. Jika tegang, justru gampang meleset," kata Gede Angin yang semakin bersemangat menggurui Geranda.


Keduanya lalu berdiri menghadap ke arah pohon tadi. Geranda mengambil satu kepeng.


"Tarik napas dalam-dalam lebih dulu!" tuntun Gede Angin, layaknya seorang mentor.


Geranda pun mengikuti intruksi sahabat barunya itu.


"Lesatkan!" seru Gede Angin dengan suara kerasnya.


Set! Trekr!


"Wuaaah!" pekik Gede Angin terpukau saat melihat batu yang di sana itu terbelah menjadi dua, menunjukkan bahwa uji coba Geranda jauh lebih hebat dari percontohan awal.


"Hahahak!" tawa Geranda terbahak. Entah dia tertawa karena hasil lesatannya lebih baik atau menertawakan Gede Angin.


"Kau menipuku, ternyata tenaga dalammu lebih hebat!" tukas Gede Angin dengan wajah merengut.


Lucu melihat orang besar itu merengut.


"Tidak, aku tidak menipumu. Aku juga tidak menyangka akan lebih kuat dari lemparanmu. Sebab, aku baru kali ini main kepeng seperti ini," sangkal Geranda.


"Kau hebat, Geranda. Kau harus punya julukan yang bagus. Hmm ... Apa ya?" kata Gede Angin sambil berpikir.


Bruss!


"To-to-tolooong ...!"


Tiba-tiba terdengar suara ledakan tenaga sakti yang disusul oleh jeritan Gagap Ayu.


Alma Fatara dan seluruh anggota jadi terkejut, kecuali Juling Jitu dan Penombak Manis yang sedang bulan madu di semak belukar yang gelap dan banyak semut api.

__ADS_1


Mereka melihat Gagap Ayu terbang melayang seperti diangkat oleh dedemit yang tidak terlihat. Yang lebih mengejutkan lagi, tubuh Gagap Ayu diselimuti sinar biru gelap dan dililit oleh garis sinar hijau. Meski tubuhnya bersinar, tetapi sinar itu tidak memberikan penerangan berarti pada area sekitar. (RH)


 


__ADS_2