Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 2: Penangkapan Licik


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


Seorang lelaki berbadan gagah berusia separu abad, melangkah masuk ke dalam kedai makan Mbah Lawut lewat pintu dapur. Lelaki berpakaian kuning itu memelihara kumis dan brewok yang pendek tapi lebat. Di pinggang kanan dan kirinya ada piringan berwarna perak menggantung. Itu bukan piring, tetapi senjata seperti piringan yang bagian tengahnya tebal dan bagian pinggirnya setajam pedang. Dia bernama Buto Renggut, salah satu murid utama dari Perguruan Bulan Emas.


Bersamanya ada enam lelaki lain yang lebih muda dan berpakaian kuning juga, tapi modelnya terkesan biasa tanpa keistimewaan. Mereka juga memiliki senjata piringan yang menggantung di pinggangnya, tapi hanya satu.


Tidak ada dari pihak kedai makan yang berani melarang mereka masuk begitu saja dari pintu dapur.


“Maafkan kami, Tetua Rereng Busa!” ucap Buto Renggut kepada Rereng Busa yang berdiri di sisi mejanya dengan wajah memerah dan badan gemetar.


Bdak!


Murid Rereng Busa yang bernama Giling Saga tumbang dengan tubuh tetap duduk dan wajahnya jatuh di atas meja kayu.


Kemunculan Buto Renggut dan rekan-rekannya kian membuat tegang suasana di dalam kedai, karena ada pula sejumlah pendekar yang sedang makan di tempat itu.


“Aku tidak menyangka, orang-orang Bulan Emas menghalalkan perbuatan licik dan busuk seperti ini!” desis Rereng Busa yang masih bisa menahan serangan racun di dalam tubuhnya.


“Racun itu tidak akan membunuh kalian. Kami hanya menghindari kesulitan jika harus menangkapmu dengan cara pendekar,” kata Buto Renggut santai.


“Setidaknya kami yang menjadi saksi kelakuan memalukan orang-orang Bulan Emas!” celetuk Raja Buru yang tidak suka dengan pemandangan yang terjadi.


Buto Renggut menengok sedikit dan melirik tajam kepada Raja Buru dan istrinya, Ratu Kejar.


“Pendekar yang lain tidak usah ikut campur, jika tidak mau berurusan dengan kami!” seru Buto Renggut.


“Apa yang Wulan Kencana inginkan dariku?” tanya Rereng Busa dengan suara kian bergetar.


“Telur Gelap,” jawab Buto Renggut.


“Aku tidak pernah mendengar nama aneh seperti itu!” tandas Rereng Busa.


“Jangan berdusta, Tetua,” tukas Buto Renggut. Lalu perintahnya kepada murid-murid bawahannya, “Bawa dia!”


Keenam lelaki berpakaian kuning lalu bergerak hendak mencekal Rereng Busa yang bertubuh kurus.


Tusk tusk tusk …!


“Ak! Akk! Akk …!”

__ADS_1


Tiba-tiba Rereng Busa menepis cekalan murid-murid Perguruan Bulan Emas dan melancarkan serangan dengan jari-jari hitamnya.


Tiga orang yang terdekat harus menjerit ketika tubuh mereka ditusuk oleh jari-jari yang panasnya seperti bara besi.


Dass!


“Hukrr!” Rereng Busa terjengkang keras dengan mulut menyemburkan darah kehitaman, setelah Buto Renggut melesatkan satu pukulan telapak tangan bersinar kuning masuk ke dada lelaki tua itu.


Kondisi Rereng Busa yang memang sudah lemah oleh serangan racun, seketika itu juga tergeletak di lantai kedai tanpa kesadaran diri.


“Bawa orang tua itu!” perintah Buto Renggut kepada juniornya.


“Buto Renggut!” bentak satu suara tua tiba-tiba dari sisi dapur.


Buto Renggut dan semuanya seketika alihkan perhatian kepada sosok yang baru datang.


Orang itu adalah seorang tua berambut serba putih dan berjenggot serba putih, mengenakan pakaian desa biasa berwarna merah gelap. Kepalanya diikat dengan totopong berbahan kain hitam. Dialah yang disebut Mbah Lawut, pemilik kedai makan ayam panggang madu tersebut.


“Perbuatanmu sungguh kotor dengan menaruh racun di makanan kedaiku!” hardik lelaki berusia lebih dari tujuh puluh tahun itu.


“Tidak perlu marah seperti itu, Mbah Lawut. Semua orang tetap tahu bahwa ayam panggangmu tidak mengandung racun, kecuali ada orang luar yang memberinya,” kata Buto Renggut dengan tetap bersikap tenang.


“Mulai sekarang aku tidak akan melayani orang-orang Perguruan Bulan Emas sebagai pelanggan!” tandas Mbah Lawut yang menunjukkan kemarahannya.


“Jika suatu saat nanti kalian berbuat buruk kepada kedai Mbah Lawut, aku termasuk orang yang akan memerangi Perguruan Bulan Emas!” seru Ratu Kejar yang sudah muak mendengar arogansi Buto Renggut.


“Akan aku ingat bahwa kalian berdua juga adalah orang yang bermaksud buruk dengan orang-orang Perguruan Bulan Emas!” tukas Buto Renggut sambil menunjuk kepada pasangan suami istri gemuk itu.


Brak!


“Lebih baik aku bungkam kesombonganmu sekarang juga Buto Renggut!” teriak Raja Buru setelah menggebrak meja cukup keras.


“Ayo, jika kau berani berhadapan dengan ilmu Sepuluh Purnama Kematian!” tantang Buto Renggut tidak kalah gertak.


“Tahan, Kakang. Jangan terpancing,” kata Ratu Kejar sambil menyentuh tangan suaminya yang sudah berdiri dari duduknya dengan wajah marah.


Melihat Raja Buru duduk kembali, Buto Renggut hanya tersenyum sinis.


“Bawa!” perintah Buto Renggut kepada juniornya yang sudah memanggul tubuh Rereng Busa.

__ADS_1


Tiga orang murid Bulan Emas harus pulang dengan membawa luka yang serius.


“Mbah Walut, jika murid Rereng Busa ini sadar, katakan kepadanya, jika ingin gurunya kami bebaskan, dia harus datang ke Perguruan Bulan Emas dengan membawa Telur Gelap,” ujar Buto Renggut.


Mbah Lawut yang masih menunjukkan wajah marah, tidak menyahut. Buto Renggut lalu melangkah pergi ke luar, menyusul para juniornya.


Seperginya murid-murid Perguruan Bulan Emas dari kedai itu, Mbah Lawut, Raja Buru dan istrinya, serta beberapa pendekar lain segera melihat kondisi Giling Saga.


“Anakku seorang tabib, Mbah Lawut. Mungkin bisa membantu,” kata seseorang dari belakang.


Mbah Lawut dan para pendekar yang mengerumuni Giling Saga menengok ke belakang.


Mereka mendapati seorang lelaki berambut keriting lagi gondrong dan berpakaian warna biru terang ala pendekar. Ada pedang di punggungnya. Usianya kisaran empat puluh tahun lebih. Di sampingnya berdiri seorang anak lelaki gemuk berkulit sawo matang dengan usia remaja. Ia memiliki rambut yang keriting lebat agak gondrong seperti bapaknya.


“Siapa kau, Kisanak?” tanya Raja Buru, karena sebagai tokoh dunia persilatan berpengalaman, baru kali ini ia bertemu dengan lelaki keriting itu.


“Namaku Sruduk Ikal. Aku pengelana. Ini anakku Belik Ludah, sedikit tahu tentang ilmu pengobatan,” kata lelaki gondrong berpedang.


Anak yang bernama Belik Ludah itu memang membawa sebuah tas selempangan berbahan anyaman daun pandan.


“Nak, coba kau periksa. Apa yang bisa kau perbuat?” kata Mbah Lawut sambil bergeser memberi jalan dan ruang bagi Belik Ludah.


“Hehehe!” tawa cengengesan Belik Ludah sambil memandang kepada ayahnya.


Sruduk Ikal hanya tersenyum mengangguk kepada putranya yang masih membutuhkan support dari sang ayah. Ia masih menyimpan jiwa kolokan.


“Hehehe!” tawa terkekeh Belik Ludah sambil maju mendekati Giling Saga yang posisi tubuhnya sudah tegak karena dipegangi oleh seorang pendekar lain.


Belik Ludah lalu mengeluarkan sebuah batok kelapa ukuran kecil, tapi memiliki kayu pendek yang berfungsi sebagai tempat tangan menggenggam.


Dak!


“Hehehek …!” tawa Belik Ludah berkepanjangan setelah dengan tiba-tiba saja dia memukul dahi Giling Saga. Pukulannya cukup keras.


Para orang tua dan pendekar hanya agak terkejut melihat cara bocah gemuk berpipi gembul itu. Mereka melihat dahi Giling Saga sampai benjol memerah.


“Aaak!” erang Giling Saga tiba-tiba sambil memegangi kepalanya yang masih menyisakan sakit karena pusing dan karena dipentung. Sepasang matanya baru terbuka kemudian. (RH)


 

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil menunggu up dari Om Rudi yang sedang sakit, ayo baca, like dan komen juga di chat story yang berjudul "Hantu Pelakor"!


__ADS_2