Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
PITAK 25: Angin Tujuh Langit


__ADS_3

*Episode Terakhir (PITAK)*


 


Pangeran Sugang Laksama, Panglima Ragum Pangkuawan, Panglima Riring Belanga dan Pasukan Genggam Jagad menyaksikan dari jauh pertarungan antara Ratu Siluman Alma Fatara melawan Wulan Kencana.


Namun, mereka tidak bisa melihat pertarungan secara utuh dan bahkan sulit melihat sosok kedua petarung. Mereka hanya bisa melihat kobaran api besar yang menggila oleh angin dari kejauhan. Meski mereka jauh, pun mereka bisa merasakan betapa panasnya api yang merupakan kesaktian dari Kipas Raja Dunia.


Sebab hal itulah, mereka harus berada jauh dan dari kemungkinan terjangkau oleh api atau panasnya yang berbahaya, terlebih mereka tidak mau kulit cantik dan ganteng mereka rusak oleh api, terutama bagi Tengkorak Bayang Putih yang dalam masa perawatan kulit wajah.


Api besar yang kini membakar area luas sekitar sungai dan gua mengamuk laksana monster api. Wujud Wulan Kencana tenggelam di dalam selimut api tanpa merasakan panas sedikit pun.


Berbeda dengan Alma Fatara yang berdiri di tengah-tengah lautan api. Ia berdiri pada titik yang tidak terbakar.


“Apakah ini kekuatan Kipas Raja Duda-mu yang paling hebat, Nek?!” tanya Alma Fatara dengan berteriak cukup kencang, karena memang jarak yang memisahkan kedua wanita beda generasi itu.


“Terlalu sombong kau, Ratu Setan!” teriak Wulan Kencana.


“Aku memang sombong, Nek. Apakah kau tidak menyadari kehebatanku? Seusia ini aku sudah menjadi ratu dari banyak pendekar, bukan sekedar ratu semalam. Namun, aku sombong hanya kepada orang-orang sepertimu!” tandas Alma Fatara.


Clek!


Alma Fatara memecah Bola Hitam menjadi dua bagian, masing-masing tangan menggenggam satu belahan dari kotak kubus berwarna biru terang itu.


Sebentar kemudian, kedua genggaman Alma Fatara bersinar biru terang. Alma Fatara lalu berputar di tempat dengan bertumpu satu kaki, sementara kaki yang lain bekerja sebagai pemutar dan penyeimbang. Kedua tangan terentang.


“Nek, apakah kau pernah mendengar ilmu yang bernama Angin Tujuh Langit?” tanya Alma Fatara sambil berputar seperti penari balet yang berputar pada ujung kaki kanannya.


“Tidak!” jawab Wulan Kencana jujur, tapi mulai mendelik karena melihat ada pergerakan angin kuat pada sekeliling tubuh Alma Fatara.


Akhirnya, putaran Alma Fatara secepat gangsing.


Lautan api yang telah tercipta kembali mengamuk liar, saat tubuh Alma Fatara kini menjadi inti dari putaran angin tornado yang berdiri meliuk-liuk sampai ke atas awan.


Munculnya putaran angin tornado yang menjulang sampai ke langit, mengejutkan Pangeran Sugang Laksama dan rombongan.


Putaran angin tornado membuat lautan api dan pusaran api Wulan Kencana yang kalah tinggi jadi mengamuk tidak terkendali, bahkan api itu jadi tersedot naik dan diputarkan di bagian atas angin tornado.


Bukan hanya api, pasir dan bebatuan ukuran sekepal-kepal tangan hingga sebesar kelapa, terangkat perlahan lalu bergerak mendekat ke pusaran angin. Ketika jarak semakin dekat, pasir, bebatuan dan segala benda jadi tersedot cepat lalu diajak berputar di angkasa.


Lautan api yang awet kini padam meninggalkan warna hitam dan hangus. Namun, apinya tidak padam, melainkan pindah ke dalam pusaran Angin Tujuh Langit milik Alma Fatara yang tercipta dari Bola Hitam.

__ADS_1


Dengan demikian pula, wujud Wulan Kencana kini terlihat karena pusaran apinya telah tersedot. Pusaran api dari Kipas Raja Dunia ternyata kalah oleh pusaran Angin Tujuh Langit.


Sekedar untuk diketahui, sebelumnya Alma Fatara sudah dua kali mengeluarkan kesaktian Angin Tujuh Langit dari Bola Hitam. Pertama saat Alma Fatara membantu warga Kampung Siluman di Negeri Sembunyi mengalahkan pasukan Kerajaan Ringkik. Kedua, saat Alma Fatara berperang sendirian melawan pasukan Senopati Gending Suro yang telah merebut Kerajaan Jintamani.


Keduanya terjadi pada dua tahun lalu saat pertama kali Alma Fatara melakukan perjalanannya sebagai seorang pendekar sakti.


Biasanya kesaktian Angin Tujuh Langit dikeluarkan untuk menghadapi pasukan besar, tetapi baru kali ini dikeluarkan hanya untuk menghadapi satu orang saja.


“Munduuur!” perintah Pangeran Sugang Laksama kepada Pasukan Genggam Jagad, ketika ada hujan batu dan pasir yang jatuh dari langit. Bebatuan dan pasir itu dilemparkan oleh angin tornado yang berdiri pongah mencapai awan.


“Munduuur!” teriak Panglima Besar Anjengan pula.


“Benar-benar pertarungan gila!” ucap Riring Belanga yang sedang bersama adiknya, Panglima Nining Pelangi.


Mereka pun buru-buru berkelebatan menjauh dari tempat itu. Tidak lupa para kuda dan tawanan ikut dievakuasi.


Pusaran angin tornado yang awalnya bersih dan hanya terlihat seperti putaran benang kelabu, kini terlihat menakutkan karena sudah bercampur api dan berbagai benda alam yang ditariknya kemudian diajak berputar-putar di langit.


Kini, Alma Fatara telah berhenti berputar laksana mesin, tetapi pusaran angin masih berputar sangat kencang dan ujung bawahnya masih mengurung tubuh Alma Fatara. Meski angin itu kencang, tetapi tidak sampai melucuti pakaian gadis itu sedikit pun.


Sementara itu, Wulan Kencana berdiri dengan goyah. Daya sedot dari angin tersebut memaksanya harus memasang kuda-kuda dengan kuat. Ia bahkan mengerahkan tenaga dalam pada kedua kakinya.


Melihat kini kondisinya tertekan dan terancam, Wulan Kencana cepat melakukan sesuatu.


Wulan Kencana melesatkan ilmu Jingga Perkasa. Satu sinar jingga menyilaukan mata melesat menyerang ke arah Alma Fatara yang posisinya cukup jauh.


Sweeep! Bluar!


Namun, ketika sinar jingga itu semakin mendekati Alma Fatara, ia justru tersedot ke atas lalu meledak di dalam pusaran angin berapi, padahal Alma Fatara sudah menyiapkan Tameng Balas Nyawa sebagai perisai.


“Asu bangkai!” maki Wulan Kencana melihat kenyataan itu.


Pakaiannya berkibar kencang tersedot oleh angin. Sementara rambut putihnya berkibar seperti rambut gadis perawan.


Si nenek kembali mengembangkan Kipas Raja Dunia.


Wursss! Wursss!


Wulan Kencana mengipas-ngipaskan Kipas Raja Dunia. Sebanyak empat makhluk api menyerupai empat naga api melesat menderu bersama menyerbu ke arah Alma Fatara.


Wusss!

__ADS_1


Alma Fatara juga bertindak dengan menghentakkan kedua lengannya ke arah kedatangan keempat naga api yang begitu panas.


Keempat naga api itu seolah-olah sedang adu balap untuk mencapai Alma Fatara.


Namun, posisi angin tornado yang kurus di bawah dan gemuk di atas juga bergerak menyongsong keempat naga api dan mendekati posisi Wulan Kencana.


Sweeep!


Lagi-lagi keempat naga api tersedot ke dalam pusaran angin api lalu dibawa memutar ke atas.


Mendelik sepasang mata tua Wulan Kencana. Ia jadi bingung kuadrat. Bingung pertama karena tidak tahu harus mengeluarkan ilmu apa lagi. Kipas Raja Dunia-nya tidak bisa mengatasi pusaran Angin Tujuh Langit. Bingung kedua adalah karena angin tornado itu mendekati dirinya. Hal itu membuat daya tarik angin semakin kuat.


“Harus cepat menjauh!” desis Wulan Kencana.


Ia lalu melompat untuk melesat menjauh. Namun, ketika Wulan Kencana lepas pijakan, tubuhnya justru langsung tersedot kencang masuk ke dalam pusaran angin tornado.


Semenjak tersedot oleh angin, Wulan Kencana telah hilang kendali dan hanya pasrah mengikuti arus angin.


Zerzzzrt!


Saat tubuh Wulan Kencana tersedot masuk ke dalam pusaran angin berapi, tiba-tiba tubuh Alma Fatara diselimuti oleh aliran listrik sinar biru yang banyak. Sepasang matanya pun bersinar biru.


Zerzzzrt!


Alma Fatara telah mengerahkan ilmu tertinggi dan terbarunya yang bernama Ratu Pemuja Bulan. Ia menghentakkan kedua tangannya dengan kesepuluh jari tangan menegang. Dari kesepuluh jari itu melesat aliran listrik sinar biru yang masuk ke dalam pusaran angin.


Yang terjadi adalah aliran listrik sinar biru itu terus menjalar liar di dalam angin, menjerat benda apa saja yang ditemuinya.


Blar blar blar …!


Bebatuan dan kekayuan yang terkena jerat listrik sinar biru dibuat meledak hancur di dalam pusaran angin.


Aliran listrik ilmu Ratu Pemuja Bulan itu terus menggurita di dalam pusaran angin.


Zerzzzrt!


“Aaakk!” Wulan Kencana yang bisa tidak berteriak dalam terbangnya yang tidak menentu seperti suasana hatinya, menjerit kencang sekali saat tubuhnya dicapai oleh aliran listrik yang menggurita mengerikan. Tubuh tuanya mengejang jelek.


Ketika tersengat itu, Kipas Raja Dunia sudah tidak berada di dalam pegangan Wulan Kencana.


Tidak seperti benda-benda yang diledakkan, tubuh Wulan Kencana tidak meledak ketika diestrum. Itu terjadi karena si nenek memiliki ilmu Raga Abadi yang katanya membuatnya tidak bisa mati.

__ADS_1


Pangeran Sugang Laksama dan lainnya yang menyaksikan dari jauh hanya bisa terperangah ngeri menyaksikan angin tornado yang begitu menyeramkan. Selain bercampur dengan banyak api, angin raksasa itu juga dihias oleh listrik sinar biru yang menggurita. (RH)


__ADS_2