Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Flashback 6: Adik Raja Tanpa Tahta


__ADS_3

“Hentikan pertempuran!” teriak Cucum Mili kepada para anak buahnya.


“Hentikan pertempuran! Munduuur!” teriak Demang Banuseta kepada pasukannya.


Dua pasukan, yakni pasukan bajak laut dan pasukan Kademangan Telubotak, yang sudah baku hantam, bahkan sudah saling melukai dengan senjata, segera menghentikan pertempuran mereka. Masing-masing pasukan bergerak mundur dengan ekspresi yang masih tegang.


Kini, Cucum Mili selaku Ketua Bajak Laut Kepiting Batu dan Sugang Laksama yang berjuluk Pendekar Pedang Dedemit, berhadapan dengan Wiwi Kunai, wanita bercaping pemancing ikan. Di belakang punggung Wiwi Kunai berdiri berlindung Alma Fatara, buronan nomor satu bagi Cucum Mili dan Sugang Laksama.


Karena tidak mau terusik oleh kebisingan pertempuran yang baru saja terjadi, Cucum Mili dan Sugang Laksama memutuskan menghentikan pertempuran agar bisa fokus perhatian kepada Wiwi Kunai, orang sakti yang akan mereka hadapi.


“Ratu Kepiting dan Pendekar Pedang Dedemit memperebutkan anak asuhku. Ada apa? Apa yang ingin kalian lakukan kepada Alma?” tanya Wiwi Kunai.


“Anak itu telah membawa benda pusaka milik kami!” jawab Cucum Mili.


“Milik kami?” ucap ulang Wiwi Kunai. “Benda pusaka apa?”


“Bola Hitam,” jawab Sugang Laksama lebih halus.


“Bukankah itu pusaka milik Raja Tanpa Tahta?” tanya Wiwi Kunai.


“Benar. Tapi Raja Tanpa Tahta sudah mati,” kilah Cucum Mili.


“Apakah satu benda yang pemiliknya sudah mati lalu boleh dimiliki oleh siapa pun?” tanya Wiwi Kunai.


Terdiam sejenak Cucum Mili dan Sugang Laksama.


“Sugang Laksama masih memiliki hubungan kerabat dengan Raja Tanpa Tahta!” sahut seorang pemuda yang baru muncul. Pemuda itu tidak lain adalah Jura Paksa.


“Lalu kau, Cucum Mili?” tanya Wiwi Kunai.


“Aku adalah adik ipar Raja Tanpa Tahta,” jawab Cucum Mili bangga.


“Oh, aku baru tahu. Apakah kau tahu Raja Tanpa Tahta mati dibunuh oleh siapa, Ratu Kepiting?”


“Aku tahu, diracuni oleh kakakku!” jawab Cucum Mili tidak bisa berdusta, karena penyebab kematian kakaknya sudah menjadi konsumsi publik dan sempat viral di dunia persilatan.


“Sedangkan kau Sugang Laksama, kau adalah putra Raja Manggala Pasa. Ayahmu adalah kakak angkat Raja Tanpa Tahta!” kata Wiwi Kunai.

__ADS_1


Terkejutlah Cucum Mili dan kelompoknya saat mengetahui bahwa Sugang Laksama sebenarnya seorang pangeran. Cucum Mili tidak pernah tahu bahwa Pendekar Pedang Dedemit itu adalah seorang pangeran. Ia langsung berpikir tentang rencananya yang memaksa Sugang Laksama untuk menikah.


“Jika aku menikah dengan Sugang, berarti aku akan berurusan dengan keluarga Kerajaan Singayam,” pikirnya.


“Jadi kalian tidak memiliki ikatan darah langsung dengan Raja Tanpa Tahta. Berhentilah kalian mencoba memiliki benda yang bukan hak kalian. Seharusnya Bola Hitam itu hak milik Pangeran Tanpa Gelar, putra tertua Raja Tanpa Tahta,” ujar Wiwi Kunai.


“Ketua! Beri saja perempuan itu pelajaran!” teriak seorang anggota bajak laut.


“Kurang sopan!” maki Cucum Mili kepada anak buahnya itu.


“Kurang sopan!” maki seluruh bajak laut kepada teman mereka yang hanya bisa merengut gede ambek.


“Jika pemimpin sedang bicara tingkat tinggi, jangan menyela!” omel Cucum Mili.


“Begini saja, Pemancing Roh, lebih baik serahkan Bola Hitam maka kami tidak akan mengganggu anak itu atau kau,” kata Sugang Laksama.


“Dasar buntut ikan kau, Sugang! Kau tahu siapa itu Pemancing Roh?” tanya Wiwi Kunai.


“Kau adalah pendekar wanita yang terkenal sakti dan bersenjata kail sakti,” jawab Sugang Laksama.


“Apa?” kejut Cucum Mili, Sugang Laksama dan Jura Paksa.


“Jika urusan keberhakan, akulah yang paling berhak memiliki Bola Hitam dibandingkan kalian, tapi aku tidak sedikit pun bernafsu memiliki pusaka itu. Aku sudah bersyukur dengan senjata sakti yang aku miliki. Seharusnya kalian berdua pun bersyukur dengan apa yang kalian miliki. Ingat, kematian kalian tidak ditentukan oleh senjata sakti, buktinya kakakku mati diracun oleh istrinya sendiri!” kata Wiwi Kunai memberi wejangan singkat.


Terdiamlah Cucum Mili dan Sugang Laksama mendengar nasihat Wiwi Kunai.


“Tapi jika kalian masih bersikeras, akan aku tunjukkan di mana pusaka itu aku buang!” kata Wiwi Kunai lagi.


“Di mana?” tanya Cucum Mili dan Sugang Laksama cepat.


“Di sungai tempat biasa aku memancing,” jawab Wiwi Kunai.


“Aku tahu di mana wanita ini memancing, kemarin aku sempat menanyainya, tapi dia mendustaiku!” kata Jura Paksa.


“Kau pasti berdusta, Pemancing Roh!” tukas Cucum Mili.


“Pusaka itu bisa kalian rasakan keberadaannya karena memiliki kesaktian yang tinggi. Kalian bisa membuktikannya apakah aku bohong atau tidak,” kata Wiwi Kunai.

__ADS_1


“Ayo semuanya! Kita selami sepanjang sungai!” teriak Cucum Mili.


“Hua hua hua!” teriak para bajak laut semangat, lalu berbondong-bondong pergi ke arah sungai.


“Tunggu tunggu tunggu!” teriak Ki Lumoh Suwi yang datang berlari menghadang Cucum Mili. “Kau berjanji akan membayar makan malam dan penginapan, Ratu Kepiting!”


“Aaah, merepotkan saja!” rutuk Cucum Mili. “Sugang, bukankah kau seorang pangeran?”


“Demang!” Sugang Laksama justru memanggil Demang Banuseta.


Demang Banuseta pun segera datang menghadap.


“Hamba, Gusti!” ucap Demang Banuseta menghadap Sugang Laksama.


“Kau tanggung biaya makan dan penginapan kami kepada Ki Lumoh!” perintah Sugang Laksama.


“Baik, Gusti.”


Maka selesai sudah urusan biaya makan dan penginapan lebih dari tiga puluh orang di Desa Bulukubi.


Dengan Jura Paksa sebagai penunjuk jalan, kelompok Bajak Laut Kepiting Batu berduyun-duyun menuju ke tempat Wiwi Kunai biasa memancing.


Mereka meninggalkan Wiwi Kunai dan Alma.


“Lanjutkan jualan ikanmu!” perintah Wiwi Kunai kepada Alma.


“Siap, Bi!” ucap Alma seraya tersenyum. Ia lega, itu artinya dia sudah terbebas dari para bajak laut itu.


Tadi malam, Alma mengambil keputusan berat.


“Bi, setelah aku pikir-pikir, lebih baik Bola Hitam ini aku serahkan ke Bibi untuk disimpan. Nanti kalau aku sudah berkesaktian, baru aku minta lagi,” ujar Alma sambil menyodorkan tangannya yang memegang Bola Hitam, benda berwarna biru terang yang bentuknya kotak.


“Aku tidak mau menyimpannya di tempat tinggalku, karena aku tidak mau orang-orang sakti datang ke tempatku hanya untuk mencari benda ini,” kata Wiwi Kunai sambil mengambil Bola Hitam dari tangan Alma.


Keesokannya, ketika waktu masih subuh dan gelap, dengan berbekal penerangan obor, Wiwi Kunai dan Alma Fatara pergi ke pinggir sungai. Alma memancing. Sementara Wiwi Kunai melakukan sesuatu.


“Ini namanya Benang Darah Dewa. Benang ini tidak akan putus oleh pedang setajam apa pun. Bola Hitam ini akan aku ikat dengan Benang Darah Dewa. Lalu Bola Hitam aku tenggelamkan di titik sungai yang paling sulit untuk diselami dan posisinya tersembunyi di lumpur sungai. Ujung benang akan aku ikat di sebuah pancang kayu yang aku tancapkan sampai ke dasar. Maka Bola Hitam akan terjaga di dasar sungai hingga bertahun-tahun,” tutur Wiwi menjelaskan kepada Alma. (RH)

__ADS_1


__ADS_2