Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
guru Bule 35: Syarat Untuk Wulan


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


 


Alma Fatara mengeluarkan benda berwujud sebuah batu bening yang bercahaya redup warna jingga. Bentuknya sebulat bola ping pong dengan bulatan yang sempurna. Itulah Telur Gelap yang sebenarnya adalah Mustika Dewi Kenanga. Semua perhatian tertuju kepada tangan kanan Alma. Pesona Mustika Dewi Kenanga ternyata bisa mengalahkan kejelitaan Alma Fatara saat itu.


“Inilah Telur Gelap yang pernah diceritakan oleh Pendekar Tongkat Roda kepadamu, Wulan Kencana. Sebenarnya, benda sakti ini bernama Mustika Dewi Kenangan. Aku pasti akan memberikannya kepadamu. Aku tidak akan ingkar janji. Namun, ada perkara yang harus diselesaikan dulu sebelum ini aku berikan kepadamu ….”


“Sebutkan!” seru Wulan Kencana cepat memotong.


“Lima murid Perguruan Jari Hitam telah gugur dibunuh oleh murid-muridmu. Nyawa ini harus dibayar dulu dengan kematian pembunuh itu!” tandas Alma Fatara.


Set! Set!


Mendengar permintaan Alma Fatara itu, tiba-tiba Kanan Satu melesatkan kedua piringannya yang bersinar kuning menyerang Alma Fatara.


Semua terkejut melihat tindakan Kanan Satu yang tanpa perintah. Ia merupakan pengawal Ringgi.


Alma Fatara tidak melakukan gerakan menghindar atau menangkis. Sebab Mbah Hitam dengan cepat berkelebat menyambar kedua piringan bersinar kuning tersebut. Kedua piringan bersinar itu bisa ditangkap oleh kedua tangan Mbah Hitam tanpa ada masalah.


Kanan Satu hanya bisa terkejut karena serangannya dengan mudah dimentahkan.


Pang!


Kedua senjata itu lalu dibuang begitu saja ke tanah dengan kondisi sudah tidak bersinar.


“Mbah Hitam, bunuh perempuan itu!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Mbah Hitam.


Clap!


Tiba-tiba pemuda tampan yang mengejutkan banyak orang dengan suara tuanya itu, menghilang.


Sweeet!


Entah dari mana datangnya, tiba-tiba di antara para murid Perguruan Bulan Emas merayap sangat cepat seekor ular hitam besar. Ular itu merayap meliuk di antara kaki-kaki, mengejutkan murid-murid Bulan Emas. Mereka seketika berlompatan dari posisinya, membuat barisan itu berantakan, termasuk barisan murid utama.


“Aaak …!” jerit panjang Kanan Satu saat tubuhnya dililit kuat oleh ular hitam besar itu.


Krek tek!


Tidak berapa lama, terdengar suara seperti tulang yang berpatahan. Bukan hanya satu, tetapi banyak. Itu memang suara berbagai macam tulang milik Kanan Satu.


“Serang!” teriak Ringgi memberi perintah kepada murid-murid utama, karena posisi Kanan Satu diserang di tengah-tengah barisan murid utama.

__ADS_1


Set set set …!


Maka, serentak murid utama itu melesatkan piringan-piringan bersinar kuning.


Des des des …!


Mendapat serangan massal, ular besar jelmaan Mbah Hitam melepas lilitannya dan melakukan gerakan cepat di udara.


Semua piringan sinar kuning yang menghantam tubuh bersisik Mbah Hitam jadi terpental liar dan justru menyerang balik secara acak.


Set set set …!


“Aaak! Akk! Akk …!” Sejumlah murid utama yang tidak sigap dengan serangan pantulan itu berjeritan, ketika anggota tubuh mereka tersayat senjata piringan.


Sementara itu, Mbah Hitam yang sisiknya bukan sisik ular biasa, tidak mengalami cedera apa pun, meski serangan piringan-piringan itu sangat berbahaya.


“Hentikan!” teriak Wulan Kencana dari atas balkon. Ia tidak mau gara-gara situasi yang tidak terkendali, ia kehilangan Mustika Dewi Kenanga.


Maka, sontak seluruh murid Bulan Emas yang sudah terbakar adrenalin tarungnya, jadi berhenti bergerak dan menahan tindakan. Sementara Kanan Satu sudah tergeletak tanpa nyawa.


“Kanan Satu!” pekik Kanan Dua melihat kondisi Kanan Satu yang merupakan kekasihnya. Pemuda itu cepat mendapati mayat Kanan Satu.


Sementara itu, ular hitam sudah lenyap, entah sejak kapan. Mungkin sejak harga-harga bahan pokok naik semua.


Ringgi hanya terdiam memandangi kematian salah satu pengawal setianya.


“Baik!” sahut Wulan Kencana. Lalu tanyanya kepada murid-muridnya, “Siapa yang membunuh murid-murid Jari Hitam?”


“Aku, Guru!” sahut Ringgi.


“Aku juga, Guru!” sahut Kanan Dua pula sambil bangkit dan meletakkan mayat Kanan Satu begitu saja.


“Bertarunglah satu lawan satu!” perintah Wulan Kencana.


“Baik, Guru!” sahut Ringgi dan Kanan Dua.


“Untuk membalas kematian lima saudara kalian, siapa yang akan melawan mereka berdua?” tanya Alma Fatara kepada Riring Belanga dan murid-murid Jari Hitam lainnya.


“Aku yang akan membalaskan kematian adik-adik seperguruanku!” jawab Riring Belanga.


“Aku juga!” sahut Nining Pelangi.


“Silakan, Bibi!” kata Alma Fatara.


Riring Belanga lalu melompat dari punggung kudanya dan mendarat di ruang antara kubu Alma Fatara dan murid-murid Bulan Emas.

__ADS_1


“Berhati-hatilah, Nining,” pesan Arung Seto kepada Nining Pelangi sebelum gadis berkepang tiga itu maju.


Tersenyum manislah Nining Pelangi mendapat perhatian dari Arung Seto, yang kebetulan kudanya ada di sebelahnya.


“Iya,” ucap Nining Pelangi seraya mengangguk. Ia lalu melompat maju meninggalkan punggung kudanya.


Melihat komunikasi yang tercipta antara Arung Seto dan Nining Pelangi, mendeliklah Gagap Ayu. Sorot mata dan kebekuan bibirnya menunjukkan ia tidak suka melihat adegan ringan itu.


Gagap Ayu lalu memajukan kudanya sehingga berada tepat di sisi kanan kuda Arung Seto.


“Kakang Arung se-se-sepertinya akrab de-de-dengan ga-ga-gadis itu?” tanya Gagap Ayu basa basi.


“Eh, ti-ti-tidak juga. Akrab karena kami seperjalanan saat menuju ke wilayah ini,” jawab Arung Seto agak tergagap di awal, sambil tersenyum kepada Gagap Ayu.


“Oooh,” desah Gagap Ayu singkat tanpa senyum sama sekali, terkesan angkuh.


Sementara itu, murid-murid Bulan Emas bergerak mundur, memberi ruang yang luas bagi keempat pendekar yang telah berhadapan.


Ringgi berhadapan dengan Riring Belanga dan Kanan Dua berhadapan dengan Nining Pelangi.


“Apakah kau tidak merasakan ada keanehan, Kakak Putri?” tanya Alma pelan kepada Cucum Mili.


“Aku tidak tahu apa yang kau maksud, Gusti Ratu,” timpal Cucum Mili.


“Sejak tadi, Wulan Kencana bersikap seolah dia tidak tahu-menahu tentang aura Bola Hitam yang pasti dia rasakan. Sebagai seorang yang haus akan kesaktian dan dia adalah seorang tokoh sakti dunia persilatan, seharusnya dia bisa merasakan aura Bola Hitam yang aku bawa,” jelas Alma Fatara.


“Mungkin dia memang tidak merasakan keberadaan Bola Hitam atau dia tidak tahu-menahu tentang Bola Hitam,” kata Cucum Mili.


“Tunggu! Aku tidak mau melawannya jika kedudukannya sebagai seorang Panglima Kerajaan Singayam!” seru Ringgi tiba-tiba sebelum pertarungannya dimulai.


“Baik, akan aku tanggalkan kepanglimaanku!” tandas Riring Belanga sambil mengeluarkan lencana kepanglimaannya.


Set!


Riring Belanga lalu melesatkjan lencananya kepada Cucum Mili. Dengan mudah Putri Angin Merah itu menangkap lencana tersebut dan memperhatikannya.


“Aku bertarung sebagai murid Rereng Busa, bukan sebagai Panglima Pamungkas Kerajaan Singayam. Jika aku mati, tidak ada urusannya dengan Kerajaan Singayam!” tandas Riring Belanga.


“Baik, kita bertarung!” seru Ringgi dingin lalu melesat maju dengan kedua tangan memegang senjata piringan yang berwarna emas.


Pertarungan pun dimulai. Demikian pula dengan Nining Pelangi dan Kanan Dua, mereka pun bertarung. (RH)


 


 

__ADS_1


YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.


__ADS_2