
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
Acara pesta makan-makan kembali dilanjutkan setelah pertengkaran antara Gagap Ayu dan Anjengan berakhir tanpa dendam. Tidak ada yang menang atau kalah dan tidak ada yang menang taruhan, sebab tidak ada yang memasang taruhan untuk hasil seri.
Kemunculan Mbah Hitam yang tanpa dipanggil telah menjadi cara terbaik menghentikan perkelahian dua perawan yang jatuh hati kepada siluman itu.
Rupanya, Mbah Hitam ingin ikut makan juga, tetapi dia seperti orang bisu yang tidak mau bicara.
“Prajurit! Cepat bawakan makanan yang banyak buat pemuda itu, jangan sampai dia terlanjur lapar dan menjadi marah, bahaya. Itu pengawal Ratu Dewi Dua Gigi!” kata Anjengan kepada seorang prajurit kademangan.
“Baik, Pendekar!” ucap si prajurit lalu segera pergi memberi tahu para pelayan.
Anjengan dan Gagap Ayu bergegas menggelar tikar baru di tanah dan mengajak Mbah Hitam duduk.
Ternyata, bukan hanya Anjengan dan Gagap Ayu yang duduk setikar dengan Mbah Hitam. Mutiara Laut Hitam, Gingsul Camar, Tonggos Walet, dan beberapa wanita bajak laut juga ikut duduk berdesakan di tikar tersebut.
Anjengan dan Gagap Ayu jadi terperangah heran melihat keberadaan para wanita yang hanya saling senyum-senyum.
Apa yang dialami oleh Mbah Hitam membuat cemburu sejumlah lelaki, terutama Iwak Ngasin dan Juling Jitu. Mereka berulang kali melirik sinis dengan cibiran kepada Mbah Hitam. Namun, Mbah Hitam benar-benar seperti es balok tanpa guratan senyum sedikit pun. Namun pula, semakin dingin seorang lelaki tampan, maka para wanita semakin girang.
“Siapa lelaki aneh itu?” tanya Udang Karang, berbisik kepada Juling Jitu.
“Siluman Ular yang melilitmu hampir mati!” jawab Juling Jitu berbisik pula.
Terkejut mendelik Udang Karang. Setelah itu, dia tidak berani melirik ke Mbah Hitam. Ia trauma dililit lama oleh ular besar sampai pingsan.
Makanan baru yang banyak dan masih hangat-hangat berasap telah datang dan disuguhkan di tengah-tengah lingkaran. Belum lagi makanan selesai diletakkan semua, Mbah Hitam langsung menyambar daging ayam besar.
Para wanita itu hanya memandangi Mbah Hitam tanpa berkedip.
“Aku ki-ki-kira, Si-si-siluman Ular tidak su-su-suka ayam!” celetuk Gagap Ayu.
“Hah! Siluman Ular?!” pekik terkejut Mutiara Laut Hitam, Gingsul Camar, Tonggos Walet, dan wanita bajak laut lainnya.
Spontan mereka berloncatan mundur menjauhi Mbah Hitam, seperti perawan dirayapi kecoa.
“Hahaha!” tawa Anjengan terbahak di tempatnya.
“Hihihi!” tawa Gagap Ayu terpingkal-pingkal di tempat duduknya.
Namun, seperti orang buta dan tuli, Mbah Hitam tetap kusyuk makan tanpa peduli apa yang terjadi.
“Ketika berita tentang pemberontakan para bajak laut terhadap Kerajaan Singayam sampai kepada Prabu Manggala Pasa, maka semua citra bajak laut akan buruk. Bisa jadi setiap bajak laut yang ditemui oleh pasukan Singayam akan ditangkap, bahkan dibunuh. Jika Kakak Cucum ingin menyelamatkan seluruh anggota Bajak Laut Kepiting Batu, lebih baik suruh mereka kembali ke kapal dan hindari pasukan Kerajaan Singayam. Biarlah Kakak Cucum pergi seorang diri menemui Pangeran Sugang,” saran Cucum Mili.
“Jika aku menyuruh anak buahku kembali ke laut dan bersembunyi, mau diletakkan di mana harga dadaku,” kata Cucum Mili.
__ADS_1
“Hahahak!” tawa Alma dan Demang Baremowo terbahak.
Sementara Nyi Bungkir hanya tersenyum tipis.
“Aku hanya memberi saran. Sebab, aku akan pergi menuju ke Balongan. Mungkin saja Pangeran Sugang yang memimpin pasukan untuk memberantas kelompok pemberontak. Aku tidak mau pergi bersama Kakak Cucum jika semuanya ikut,” kata Alma Fatara.
“Jika tujuanmu hanya untuk Pangeran Sugang Laksama, lebih baik tidak usah melibatkan pasukan. Benar kata Alma,” kata Demang Baremowo.
“Aku harus merundingkannya dulu dengan orang-orangku,” kata Cucum Mili.
“Aku harus pergi sebentar ke Perguruan Jari Hitam untuk mengetahui kabar di sana,” kata Alma.
“Sepertinya ada yang datang,” kata Nyi Bungkir.
Ia melihat kedatangan seorang wanita kurus berbaju ungu dan dan lelaki kotak, maksudnya model tubuh dan wajahnya lebar mirip kotak. Dari cara mereka datang masuk ke halaman dan cara memandang suasana yang tergelar, terkesan mereka bukan bagian dari kelompok bajak laut itu, meski model pakaian mereka terkesan mirip.
Alma Fatara, Cucum Mili dan Demang Baremowo segera melihat kepada kedatangan kedua orang itu.
“Itu anak buah Ronggo Palung,” kata Cucum Mili.
Kedua orang itu adalah Krupuk Kerang dan Belalang Laut yang diutus oleh Ketua Bajak Laut Ombak Setan.
“Mereka harus dibunuh agar tidak melapor kepada Ronggo Palung!” kata Cucum Mili sambil berdiri dari kursinya.
Cucum Mili jadi berhenti bergerak dan melirik kepada Demang Baremowo. Bagaimanapun, mereka harus menghormati adab dunia persilatan, yaitu haram untuk membunuh seoang utusan.
Krupuk Kerang dan Belalang Laut berjalan langsung menuju ke teras, tempat Alma dan para pemimpin berada.
“Belalang Laut!” teriak seorang lelaki dari kumpulan para anggota bajak laut yang sedang makan. Orang yang memanggil Belalang Laut adalah Gede Gaya, pria mini yang punya nyali besar.
Ada yang memanggil namanya, Belalang Laut terpaksa berhenti dan menengok ke samping. Krupuk Kerang jadi ikut berhenti dan melihat siapa yang memanggil. Gede Gaya tersenyum bahagia sambil melambaikan tangannya yang memegang tulang bebek.
Namun kemudian, tanpa senyum Belalang Maut mengabaikan Gede Gaya dan kembali berjalan menuju teras.
Tiba-tiba Udang Karang berkelebat dari tempatnya dan mendarat menghadang Krupuk Kerang dan Belalang Laut. Kedua tamu tidak diundang itu terpaksa berhenti.
“Tunggu dulu, Sahabat!” kata Udang Karang, lalu mengunyah makanan yang masih ada di dalam mulutnya. Lalu tanyanya lagi, “Mau ke mana kalian?”
“Kami mau bertemu dengan Ratu Kepiting,” jawab Krupuk Kerang.
“Sampaikan maksud kalian kepadaku, nanti aku sampaikan kepada Ketua,” ujar Udang Karang.
“Kami ingin bicara langsung kepada ketua kalian. Bukankah dia ada di sini?” tandas Krupuk Kerang.
“Aturan tetap aturan. Meski Ketua ada di pelukanku, kalian harus lebih dulu menyampaikannya kepadaku!” tegas Udang Karang.
__ADS_1
“Ratu Kepiting!” teriak Krupuk Kerang tanpa mengindahkan Udang Karang. Jarak dia dengan teras memang tinggal beberapa tombak, sekali kelebatan saja sudah bisa sampai.
“Kurang sopan!” bentak Cucum Mili karena utusan itu berteriak langsung kepadanya.
“Kurang sopan!” bentak semua anggota bajak laut bersamaan.
Hal itu mengejutkan Krupuk Kerang dan Belalang Laut hingga keduanya termundur satu tindak.
“Ratu Kepiting, Ketua mengutus kami untuk memeriksa tugas kalian!” seru Krupuk Kerang lagi.
Cucum Mili yang mendengar itu bersikap abai. Dia memilih duduk kembali di kursinya.
Suasana sejenak hening. Tidak ada tanggapan dari Cucum Mili. Sementara Udang Karang dan anggota Bajak Laut Kepiting Batu lainnya hanya berdiri memandangi kedua tamu itu.
Mendapati kondisi seperti itu, Belalang Laut segera berinisiatif.
“Sampaikan kepada Ratu Kepiting, kami diutus untuk mengetahui hasil tugas kalian,” kata Belalang Laut kepada Udang Karang.
“Rupanya kau lebih pintar dari si krupuk, Belalang,” puji Udang Karang. Lalu katanya lagi, “Tunggu di sini, jangan ke mana-mana!”
Udang Karang lalu berbalik pergi ke teras untuk menghadap. Sebenarnya Cucum Mili mendengar semua, tetapi ia harus menerapkan birokrasi aturan dalam kelompoknya.
Cucum Mili lalu menyampaikan perintahnya kepada Udang Karang. Setelah itu, Wakil Ketua itu kembali pergi menemui kedua utusan Bajak Laut Ombak Setan.
Udang Karang lalu berdiri gagah di depan kedua tamunya, sampai-sampai Belalang Laut terpesona di dalam hati.
“Sampaikan kepada ketua kalian, kami telah menguasai Kademangan Dulangwesi dengan baik. Namun, katakan pula kepada ketua kalian, Ratu Kepiting bersama seluruh anak buahnya mundur dari persekutuan!” kata Udang Karang.
“Apa?!” sebut Krupuk Kerang dan Belalang Laut terkejut.
“Sekarang kembalilah kalian!” perintah Udang Karang.
“Tapi apa alasannya kalian lepas dari sekutu?” tanya Krupuk Kerang.
“Ketua tidak memberi alasan. Pulanglah!” tegas Udang Karang.
“Kalian akan menyesal karena telah berkhianat!” kata Krupuk Kerang marah. Lalu katanya kepada Belalang Laut, “Kita harus cepat melaporkan ini kepada Ketua!”
Dengan memendam kemarahan, kedua utusan itu berbalik lalu melangkah pergi. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!
__ADS_1