Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 20: Tenaga Terakhir


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*


 


Wosh!


“Huarrk!”


Sosok Siluman Tingkat Sembilan yang keluar dari badan Pedang Sepuluh Siluman terlihat lebih mengerikan, seperti melihat makhluk dari alam anta beranta. Suara raungannya membuat semua jenis bulu merinding, khusus bagi mereka yang berkesaktian menengah ke bawah. Terlihat wajah-wajah dan tubuh mereka bergidik seperti menahan kentut.


Aura yang disebarkan oleh Siluman Tingkat Sembilan berwujud sinar biru itu begitu mengintimidasi, Alma Fatara yang diserang bisa merasakan hal itu.


Seperti sebelumnya ketika menggagalkan serangan Siluman Tingkat Delapan, Alma Fatara lebih dulu melesatkan Pukulan Bandar Emas lalu memasang ilmu perisai Tameng Balas Nyawa. Sinar emas menyilaukan mata kembali beradu dengan makhluk sinar biru di pertengahan jarak.


Blasss!


“Hukrr!”


Ledakan tenaga sakti yang jauh lebih dahsyat dari sebelum-sebelumnya terjadi. Bukan hanya tanah halaman yang terbongkar naik mengangkasa, tetapi para penonton juga terdorong, sebagian berjengkangan karena tidak kuat menahan dorongan.


Siluman Tingkat Sembilan ambyar. Sementara itu, Alma Fatara terlempar beberapa tombak dan jatuh tidak bagus, padahal sudah dipasang Tameng Balas Nyawa. Darah kembali keluar dari mulut Alma Fatara.


Buru-buru gadis belia itu bergerak bangun, tetapi sepasang kakinya sudah gemetar.


“Gusti Ratu!” teriak sebagian anggota Pasukan Genggam Jagad ketika melihat kondisi Alma Fatara yang sudah sangat payah.


Alma Fatara hanya mengangkat tangan kanannya sebagai tanda bahwa dia masih bisa bertarung. Ia mengacungkan jari telunjuknya.


“Satu lagi!” teriak Anjengan.


“Hua hua hua!” teriak Pasukan Genggam Jagad, menyemangati ratu dan diri mereka sendiri yang tegang.


“Kenapa Gusti Ratu tidak menggunakan Bola Hitam?” tanya Ineng Santi kepada Cucum Mili.


“Aku juga tidak mengerti. Tidak mungkin Gusti Ratu lupa,” jawab Cucum Mili.


Betapa murkanya Tengkorak Pedang Siluman melihat Alma Fatara masih bisa bangkit.


“Anak itu tidak mungkin bisa bertahan jika melawan Siluman Tingkat Sepuluh. Tapi kenapa dia tidak menggunakan Bola Hitam sebagai senjata? Apa sebenarnya yang ingin dia lakukan?” pikir si nenek gemuk yang masih menggenggam Pedang Sepuluh Siluman yang bersinar biru.


Alma Fatara sudah memperbaharui posisi berdirinya agar lebih kuat. Dia berjalan terhuyung untuk lebih mendekat. Mulutnya sudah penuh darah.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara pelan, membuatnya terlihat mengerikan karena tertawa dalam kondisi sekarat seperti itu.


Wosh!


“Huarrgk!”


Akhirnya penghuni terakhir dari Pedang Sepuluh Siluman dikeluarkan oleh Tengkorak Pedang Siluman. Wujud makhluk sinar biru itu terlihat lebih besar dengan rentangan dua tangan yang berkuku panjang. Sepasang matanya bersinar biru lebih terang dari tubuhnya.


Ia pun tidak pakai menunggu waktu. Dia melesat terbang secepat kilat menyerang Alma Fatara.

__ADS_1


Swess swess! Bluasss!


“Akk!” jerit Alma Fatara nyaring dengan tubuh terlempar jauh dan jatuh keras di dekat gerbang pagar halaman.


Untuk yang terakhir ini, Alma Fatara melesatkan dua sinar emas menyilaukan menghantam Siluman Tingkat Sepuluh, lalu tetap memasang Tameng Balas Nyawa. Namun, tetap saja Alma Fatara kalah telak.


Halaman itu jadi porak-poranda dan para penonton berjengkangan dengan keras. Termasuk mereka yang ada di atas teras rumah Demang Mahasugi, tetapi mereka menahan dengan tenaga dalam.


Tidak ada yang berteriak. Mereka fokus memandang ke arah tubuh Alma Fatara yang terbaring di tanah. Warna merah darah terlihat jelas mengotori wajah putih sang ratu.


“Alma Fatara,” sebut Anjengan lirih. Jantungnya berdebar kencang, sangat khawatir jika Alma Fatara tewas.


Semua anggota Pasukan Genggam Jiwa terdiam tegang. Sepasang mata Gagap Ayu terlihat berkaca-kaca.


“Hihihi! Matilah kau, Anak Siluman!” teriak Tengkorak Pedang Siluman yang didahului dengan tawa nyaring nenek-neneknya.


Hingga lima hitungan tubuh Alma Fatara tidak bergerak, terkejutlah mereka semua. Seolah ada kesimpulan di hati mereka masing-masing bahwa Alma Fatara sudah tewas.


“Gu-gu-gusti Ratuuu!” teriak Gagap Ayu lebih dulu sambil melesat terbang dengan tubuh diselimuti sinar biru bergaris sinar hijau.


“Almaaa!” teriak Anjengan pula.


“Almaaa!” teriak Juling Jitu pula, sebagai sahabat terdekat dan saudara seperguruan.


Namun, ketiga orang tersebut jadi berhenti terbang dan berlari, ketika mereka melihat tiba-tiba tubuh Alma Fatara bangun dengan tubuh lurus seperti boneka. Sepasang matanya terpejam dan wajah di sekitar mulut belepotan oleh darah. Sepasang tangannya terkulai lemah.


Tubuh Alma Fatara seolah-olah didorong berdiri dari bawah. Sesuatu yang mendorongnya adalah Benang Darah Dewa yang bertindak sebagai penopang, tetapi tidak ada yang mengetahui hal itu.


Anjengan, Gagap Ayu, Juling Jitu dan yang lainnya hanya melihat Alma Fatara bangun dengan cara yang aneh, seperti zombie Mandarin.


“Entahlah,” jawab Juling Jitu.


Tengkorak Pedang Siluman dan yang lainnya tetap menjadi tegang.


“Kenapa dia bisa bangun lagi?” tanya Tengkorak Pedang Siluman kepada dirinya sendiri.


Kini, tubuh Alma Fatara berdiri tegak dalam kondisi mata tetap terpejam.


“Alma!” panggil Anjengan dengan nada ragu.


Tiba-tiba sepasang mata Alma Fatara terbuka.


Terkejut Anjengan dan Juling Jitu, serta Gagap Ayu yang melayang di udara. Posisi mereka memang yang paling dekat dengan Alma Fatara saat ini.


“Ratu Siluman masih hiduuup!” teriak Anjengan keras membahana.


“Hua hua hua! Wik wik wik wik wik!” teriak seluruh Pasukan Genggam Jagad girang.


“Holeee!” sorak pasukan milik Demang Mahasugi pula.


Clap! Tusk!

__ADS_1


Tiba-tiba sosok Alma Fatara lenyap begitu saja. Kejap berikutnya, tubuh Alma Fatara telah muncul merapat pada tubuh Tengkorak Pedang Siluman. Telunjuknya telah mendarat di diafragma Tengkorak Pedang Siluman. Nenek gemuk itu hanya mendelik dengan mulut ternganga tanpa suara.


Namun, ilmu Telunjuk Roh Malaikat itu tidak bisa langsung membunuh Tengkorak Pedang Siluman.


Bug bug bug …!


Karena itulah, Alma Fatara mengagresikan sejumlah tinju bersinar ungu menghajari tubuh gemuk si nenek bertubi-tubi.


“Fukr fukr fukr!”


Tinju itu membuat Tengkorak Pedang Siluman yang dalam kondisi sudah tidak bisa bergerak, menyemburkan darah berulang-ulang dari mulutnya, bahkan sampai mengenai pakaian Alma Fatara.


Tlang!


Pedang Sepuluh Siluman terlepas jatuh ke tanah dalam kondisi sudah tidak bersinar.


Bluk!


Akhirnya tubuh si nenek gemuk tumbang dengan wajah kotor oleh darahnya sendiri. Setelah itu, Tengkorak Pedang Siluman sudah tidak bergerak lagi. Tapi ia masih memiliki gerakan napas.


“Siapa ratu kaliaaan!” teriak Alma Fatara kencang sambil mengangkat tangan kanannya dengan jari-jari mengepal.


“Ratu Siluman!” teriak Pasukan Genggam Jagad sambil tersenyum. Mereka yakin, itulah tanda kemenangan Alma Fatara, terlebih mereka melihat nenek sakti itu sudah tumbang dan tidak berkutik.


Dug!


“Fukr!”


Tiba-tiba Alma Fatara jatuh terlutut, lalu mulutnya menyemburkan darah.


“Gusti Ratu!” seru sejumlah orang terkejut.


Cucum Mili dan Ineng Santi lebih dulu berkelebat mendatangi Alma Fatara yang sudah bertopang pada kedua tangannya. Menyusul Anjengan, Gagap Ayu dan Nining Pelangi.


“Gusti Ratu?” sebut Cucum Mili mewakili yang lain.


“Aku sudah tidak memiliki tenaga lagi. Aku harus mengobati diriku sendiri dengan Bola Hitam,” kata Alma Fatara lemah.


“Bagaimana dengan nenek ini? Dia belum mati,” tanya Cucum Mili sambil membantu Alma Fatara untuk berdiri.


“Minta Bocah Tabib mengobatinya. Ambil kedua pedangnya!” perintah Alma pelan.


“Bawa Gusti Ratu ke rumahku!” kata Putri Cicir Wunga dari sisi belakang.


Ineng Santi lalu membantu Cucum Mili memapah tubuh Alma Fatara yang nyaris tidak bisa berjalan lagi. Mereka memapah Alma Fatara menuju ke rumah Demang Mahasugi.


“Jika serangan tadi gagal, mungkin aku akan mati, karena itu adalah tenaga terakhirku,” kata Alma Fatara.


“Kenapa Gusti Ratu tidak menggunakan Bola Hitam?” tanya Anjengan sambil berjalan mengiringi.


“Aku sudah berjanji kepada Kakek Raja Tanpa Gerak untuk tidak membunuh anggota Keluarga Tengkorak, kecuali dalang pembunuhan. Kekuatan Bola Hitam tidak bisa dikurangi. Jika aku menggunakannya, aku khawatir itu akan membunuh Nenek Siluman,” jelas Alma Fatara.

__ADS_1


“Bagaimana jika menghadapi dua anggota Keluarga Tengkorak setingkat Tengkorak Pedang Siluman?” tanya Cucum Mili yang tidak bisa dijawab oleh siapa pun.


“Hahaha!” tawa pelan Alma Fatara. (RH)


__ADS_2