Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 4: Alma VS Ratu Kepiting


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


 


Alma Fatara alias Dewi Dua Gigi kini berhadapan dengan Cucum Mili alias Ratu Kepiting yang mengetuai kelompok Bajak Laut Kepiting Batu.


Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, Gagap Ayu, Paus Ijo, dan Gede Gaya berdiri menonton dari jarak yang agak jauh.


“Apakah Kakak Cucum benar-benar sudah siap menerima kenyataan menjadi ketua Bajak Laut Kepiting Rebus?” tanya Alma Fatara sambil tersenyum, seolah pertarungan melawan pemimpin bajak laut itu tidak menegangkan.


“Sepertinya semakin cantik kau semakin sombong, Alma!” kata Cucum Mili dengan raut wajah serius, justru dia yang terlihat tegang.


“Hahahak! Terima kasih, Kakak Cucum,” ucap Alma Fatara sambil membungkuk sedikit. Lalu teriaknya tiba-tiba, “Tahan seranganku!”


Alma tiba-tiba melesat maju kepada Cucum Mili dengan kecepatan sedang yang ia mampu.


“Baik!” sahut Cucum Mili sambil turut maju menyongsong serangan tangan kosong Alma.


Dag dag!


Tus tus!


“Ak! Kepiting busuk!” pekik tertahan dan maki Cucum Mili terkejut, lalu buru-buru melompat mundur.


Ketika Cucum Mili maju menangkis kedua pukulan Alma dengan kedua batang tangannya, tiba-tiba dia merasakan ada dua tusukan pada lambung kanan dan perutnya, tapi tidak terlihat apa yang menusuk.


“Hahahak!” tawa Alma melihat gadis dewasa berkepang itu mundur.


“Kau curang, Alma! Kau tidak berubah, dari kecil sampai sekarang masih suka menipu!” tukas Cucum Mili.


Cucum Mili lalu buru-buru membuka bagian bawah bajunya ke atas sebatas bawah dada.


“Hua hua!” teriak Paus Ijo dan Gede Gaya senang melihat ketuanya singkap baju, sehingga perut dan lambungnya yang berkulit hitam manis terlihat.


“Diam kalian berdua!” bentak Cucum Mili sambil menunjuk kedua anak buahnya.


Paus Ijo dan Gede Gaya mendadak diam.


“Hahaha!” tawa Iwak Ngasin dan ketiga rekannya, menertawakan kedua bajak laut itu.


“Diam kalian berempat!” bentak Paus Ijo sambil menunjuk keempat penonton itu dengan mata melotot.


Ternyata bentakan Paus Ijo ampuh membuat Iwak Ngasin dan ketiga rekannya terdiam.

__ADS_1


Sementara itu, Cucum Mili cepat memeriksa lambung kanan dan perutnya. Ia menemukan ada dua titik dari tubuhnya itu yang mengeluarkan darah, tapi tidak banyak. Saat pertemuan tadi, Alma Fatara memang melesatkan ujung Benang Darah Dewa menusuk lambung dan perut Cucum Mili, tapi tidak dalam, sehingga hanya luka ringan. Setelah melihat luka dua titiknya tidak berat, Cucum Mili kembali menutup tubuhnya.


“Hahaha!” Alma masih menertawai Cucum Mili.


“Jika kau ingin bertarung, yang serius, Alma!” bentak Cucum Mili. “Tidak sopan mempermainkan Ketua Bajak Laut!”


“Aku serius, Kak!” sahut Alma.


“Jika kau bermain curang, aku tidak akan segan-segan!” seru Cucum Mili sambil memperlihatkan jari-jari tangannya yang menjepit delapan benda mirip kelereng. Selanjutnya dia melompat menerjang Alma, “Hiaat!”


Namun, dengan tenangnya Alma menggeser tubuhnya menghindari.


Blar!


Kegagalan serangan itu cepat disusul oleh lemparan sebutir kelereng Cucum Mili, padahal dia belum lagi menginjak bumi. Hal itu membuat Alma harus bergerak secepat kilat. Ia mampu bergerak nyaris tidak terlihat guna menghindar, membuat tanah yang dipijaknya meledak seperti terkena lemparan granat.


Set set! Teng teng!


Melihat Alma berkelebat di udara ketika menghindari kelereng pertama, Cucum Mili cepat melesatkan dua kelereng di jepitan jari-jarinya. Namun, kedua kelereng itu menghantam lapisan sinar ungu bening yang tebal, membuat kedua kelereng itu memantul balik menyerang tuannya.


“Kepiting busuk!” maki Cucum Mili terkejut sambil buru-buru menghindari senjatanya sendiri.


Blar blar!


Set set set …!


Blar blar blar! Blus blus blus!


Di saat tubuh Cucum Mili bersalto cepat di udara, ia bisa melesatkan enam kelereng dengan terarah. Keenam kelereng itu tidak menyerang Alma langsung, tetapi menyebar ke sekeliling Alma. Tiga kelereng menimbulkan ledakan penghancur dan tiga ledakan lagi menimbul asap hijau tebal.


“Uhhuk uhhuk!”


Tiga ledakan penghancur memang tidak menimbulkan efek bagi Alma, kecuali kebisingan. Namun, ketepatan Cucum Mili menempatkan tiga ledakan kelereng asap hijau, membuat angin langsung membawa asap menyergap tubuh Alma.


Alma yang tidak sempat menghindar, terdengar terbatuk di dalam kungkungan asap hijau. Ketebalan asap membuatnya agak lama baru buyar oleh angin. Alma yang sempat tertutupi oleh asap, kini terlihat tergeletak terlentang di tanah.


“Alma!” pekik Iwak Ngasin dkk bersamaan saat melihat Alma tergeletak tidak bergerak, seperti orang yang tidak sadarkan diri.


Set! Blar!


Cucum Mili melesatkan sebutir kelereng dan meledak di depan keempat sahabat Alma, membuat keempatnya meloncat mundur serentak.


“Jangan ikut aduk!” bentak Cucum Mili sambil menunjuk Iwak Ngasin dkk.

__ADS_1


Cucum Mili lalu melangkah mendekati tubuh Alma.


“Hidup Ratu Kepiting! Hidup Ratu Kepiting!” teriak Paus Ijo dan Gede Gaya seperti dua fans fanatik.


“Hihihi! Kau pasti tidak menyangka aku memiliki asap beracun. Anak kecil tetap saja anak kecil. Bola Hitam kini akan menjadi milikku. Hihihi!” kata Cucum Mili yang kini berdiri di dekat tubuh Alma yang seperti mati, tanpa tanda-tanda kehidupan. Ia tertawa girang.


Namun, Cucum Mili tiba-tiba berhenti tertawa kerutkan kening melihat kondisi Alma.


“Jika keracunan, kenapa wajahnya tetap putih?” pikir Cucum Mili. Namun, belum lagi perawan agak tua itu menyimpulkan, tiba-tiba ….


“Aku berdustaaa!” kata Alma setelah tiba-tiba matanya terbuka lebar.


“Kepiting busuk!” maki Cucum Mili terkejut lalu buru-buru melompat mundur.


Buss! Bugs!


“Hukh!”


Namun, Alma sudah menonjok angin yang menciptakan sinar ungu berpijar. Sinar ungu itu langsung melesat menghantam perut Cucum Mili di udara.


Cucum Mili masih sempat melapisi perutnya dengan telapak tangan yang juga bersinar ungu. Namun, tetap saja Cucum Mili kalah tenaga sakti, membuatnya terdorong keras menyenggol batang pohon, lalu terpelanting keras ke tanah.


“Hahahak …!” tawa terbahak Alma melihat apa yang dialami oleh Cucum Mili. Ia sudah berdiri sempurna.


“Hidup Dewi Dua Gigi! Hidup Dewi Dua Gigi!” sorak Iwak Ngasin dkk penuh gembira sambil melirik-lirik dan mencibir kepada Paus Ijo dan Gede Gaya.


“Hahahak …!” Paus Ijo dan Gede Gaya justru tertawa menertawakan keempat orang muda itu.


Tawa kedua lelaki besar dan mini itupun membuat Iwak Ngasin cs berubah heran.


“Hei! Apanya yang lucu?!” teriak Anjengan membentak.


“Lihat di belakangmu! Hahaha!” teriak Gede Gaya sambil menunjuk ke belakang Iwak Ngasin cs.


Serentak Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu menengok ke belakang.


“Hah!” kejut mereka serentak saat melihat di belakang mereka sudah ada sepuluh orang dengan berbagai bentuk, berbagai tampang dan berbagai senjata.


“La-la-lariiik!” teriak Gagap Ayu, tapi suara teriakannya mendadak tercekik, seiring lehernya tercekik oleh jerat tambang.


Keempat sahabat Alma itu seketika tidak berkutik. Orang-orang yang ada di belakang mereka dengan cepat menjerat leher mereka dengan tambang yang dipasang di sebatang tongkat, seperti alat pengendali leher anjing. Selain jeratan tambang yang mencekik leher, mata-mata pedang dan tombak sudah menempel di kulit mereka.


Alma Fatara mau tidak mau harus mendelik terkejut melihat ada sepuluh anggota bajak laut sudah menangkap keempat sahabatnya. Sepuluh orang itu muncul dengan cara mengendap-endap di belakang Iwak Ngasin cs. (RH)

__ADS_1


__ADS_2