
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Tong gentong-gentong, Kerajaan Siluman!
Tong gentong-gentong, ratunya Ratu Siluman!
Ser beser-beser, cantiknya seperti apel!
Ser beser-beser, saktinya seperti jengkol!
Mulai terdengar suara nyanyian Pasukan Genggam Jagad yang dipimpin oleh Kungkang. Beberapa kali Kungkang harus merevisi syairnya karena ada kesalahan kata yang sudah menjadi kebiasaannya, sampai akhirnya tidak terjadi lagi. Maka terdengarlah nyanyian singkat yang entah apa artinya.
Clap!
Alma Fatara tiba-tiba muncul di sisi Tengkorak Burung Putih, sesaat setelah kakek penganut mazhab burung itu jatuh dari atas. Tubuh Alma Fatara masih diselimuti oleh listrik sinar biru dan sepasang matanya bersinar biru terang.
Tuk tuk tuk!
Alma Fatara cepat menotok beberapa titik bagian tubuh Tengkorak Burung Putih.
“Tenang, Kek. Aku tidak akan membiarkanmu mati,” kata Alma Fatara kepada kakek yang dalam hitungan detik kemungkinan kuat akan mati.
Tengkorak Burung Putih tidak bisa menjawab karena dia memang tidak bisa berkata-kata lagi. Saat itu dia hanya tinggal menunggu hitungan mundur menuju kematian.
Alma Fatara cepat mengeluarkan dua belahan Bola Hitam yang berwarna biru terang. Keduanya segera ia letakkan di bawah batok kepala si kakek. Itu adalah tindakan pengobatan yang biasa Alma Fatara lakukan jika menggunakan Bola Hitam.
Tengkorak Manis Putih yang hendak menyerang untuk kedua kali, jadi menahan diri melihat tindakan Alma Fatara, yang sepertinya bukan bermaksud membunuh Tengkorak Burung Putih.
Alma Fatara lalu mengaktifkan kemampuan pengobatan Bola Hitam dengan menyalurkan tenaga sakti kepada pusaka tersebut.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara sambil memandang ke arah pasukannya yang sedang gembira dengan nyanyian yang aneh ciptaan Kungkang. Nyanyian itu membuat Alma Fatara tertawa.
Di saat Bola Hitam berproses untuk meringankan luka Tengkorak Burung Putih, Alma Fatara lalu beralih menghadap kepada Tengkorak Manis Putih yang berdiri agak jauh di seberang kubangan tanah.
“Apakah kau masih penasaran denganku, Nek?” seru Alma Fatara kepada Tengkorak Manis Putih.
“Kau tidak akan aku lepaskan. Kau telah membunuh mantan suamiku!” teriak Tengkorak Manis Putih.
Clap!
Tiba-tiba sosok Ratu Tengkorak muncul di pinggir lain dari kubangan besar tanah itu.
“Berhentilah, Manis Putih!” seru Ratu Tengkorak. “Kau sudah tidak bisa melawan Ratu Siluman.”
“Tidak, kini aku memiliki dua dendam. Dan anak-anakku tidak akan membiarkan dirinya tanpa membalas kematian ayahnya!” tegas Tengkorak Manis Putih.
“Baiklah, aku akan memberimu satu kesempatan, Nek,” kata Alma Fatara bersikap santai, meski pembawaannya masih menyeramkan.
“Jangan ikut campur, Ratu Tengkorak. Jika tidak mau membantu, ya sudah. Jangan banyak bicara!” bentak Tengkorak Manis Putih marah.
“Baiklah, aku sudah mengingatkanmu, Manis,” kata Ratu Tengkorak. Nenek bungkuk itu lalu berkata kepada Alma Fatara, “Jangan sampai kau membunuhnya, Gusti Ratu.”
__ADS_1
“Tenang saja, Nek. Aku telah berjanji untuk tidak membunuh anggota keluarga yang lain,” kata Alma Fatara.
Clap!
Ratu Tengkorak lalu menghilang dan muncul di antara kerabatnya yang lain, yang masih setia sebagai penonton yang baik.
Crak!
Tengkorak Manis Putih kini memegang ujung kedua rantai pendeknya yang telah bersinar merah.
Set!
Tengkorak Manis Putih melesat cepat melintasi atas kubangan dan menyerang Alma Fatara dengan kibasan dua rantainya yang sangat berbahaya.
Bosh! Bosh!
Dalam gerakan yang tidak terlihat mata biasa, Alma Fatara menghindari satu sabetan rantai dan meninju rantai yang lain dengan kepal tangan bersinar ungu, tapi ada listrik-listrik birunya. Rantai itu hancur. Sementara kepal Tinju Roh Bumi yang lain telak menghantam dada tua si nenek.
Namun, Alma Fatara terkejut, karena sosok Tengkorak Manis Putih ambyar begitu saja menjadi asap.
Slap!
Lenyapnya sosok Tengkorak Manis Putih berganti dengan munculnya puluhan sosok si nenek yang serupa mengepung posisi Alma Fatara, termasuk posisi Tengkorak Burung Putih yang dalam proses pengobatan Bola Hitam.
Jujur, harus diakui bahwa kali ini Alma Fatara terkejut. Kesaktiannya tidak bisa mendeteksi yang mana Tengkorak Manis Putih asli. Sosoknya terlalu banyak.
Agar tidak kecolongan, Alma Fatara cepat menghentikan pengobatan terhadap Tengkorak Burung Putih. Ia cepat mengambil kembali dua bagian Bola Hitam. Pusaka itu kembali disimpan di balik jubahnya.
Bisa saja Alma Fatara menggunakan kesaktian Bola Hitam yang bernama Angin Tujuh Langit dalam menghadapi kondisi tersebut, tetapi itu terlalu berisiko bisa membunuh Tengkorak Manis Putih.
Dipanggil namanya di saat sang ratu sedang on fire, menjadi kehormatan dan tantangan bagi Penombak Manis. Itu artinya Ratu Siluman benar-benar membutuhkan bantuannya.
“Aku harus buktikan bahwa aku bisa diandalkan,” batin Penombak Manis optimis.
Sambil melompat turun dari kudanya, Penombak Manis cepat memanggil dua nama.
“Panglima Garang, Gede Angin, ke sini!”
Tampang Garang cepat berkelebat maju ke dekat Penombak Manis. Gede Angin pun turun dari kudanya.
“Gede Angin, angkat tanganmu tinggi-tinggi, kami akan naik!” perintah Penombak Manis.
Sementara itu di medan tarung, Alma Fatara bertarung seperti setan yang dikeroyok. Gerakan tarungnya tidak terlihat jelas karena terlalu cepat. Alma Fatara bertarung seperti pendekar tinju. Pada kedua kepal tangannya ada sinar ungu dari ilmu Tinju Roh Bumi. Mulai sekarang, sinar ungunya berhias listrik sinar biru.
Selain itu, Alma Fatara menggunakan Benang Darah Dewa sebagai tandem tarungnya.
Bosh! Bosh!
Tusk tusk!
Setiap kali Tinju Roh Bumi mengenai sosok Tengkorak Manis Putih, sosok duplikat si nenek akan ambyar. Demikian pula jika ujung Benang Darah Dewa menusuk sosok-sosok duplikat si nenek.
Satu per satu sosok duplikat Tengkorak Manis Putih berlenyapan. Namun, jumlah puluhan sosok duplikat itu harus memaksa Alma Fatara bekerja keras. Sejauh ini, sosok asli Tengkorak Manis Putih belum melakukan serangan langsung.
Sementara itu, Tengkorak Burung Putih masih terkapar di tengah medan tarung. Ia masih dalam kondisi tertotok. Namun, pengobatan yang begitu singkat dari Bola Hitam memberi sedikit keselamatan kepadanya. Jika Alma Fatara tidak segera menolongnya tadi, mungkin Tengkorak Burung Putih sudah lewat ke alam lain.
__ADS_1
Di depan Pasukan Genggam Jagad, si anak raksasa Gede Angin sedang berdiri gagah dengan kedua tangan terangkat tinggi. Ternyata pada kedua telapak tangan Gede Angin, berdiri tegak sosok Penombak Manis dan Tampang Garang berdampingan.
“Bidik ke arah sana, Garang. Apakah kau lihat nenek yang tidak banyak bergerak di sebelah kanan Gusti Ratu?” kata Penombak Manis kepada Tampang Garang, yang sudah membidik dengan busur panah dan sebatang anak panah sinar putih. “Perhatikan baik-baik, dia tidak banyak bergerak karena sedang menunggu kesempatan menyerang.”
“Iya, aku bisa melihatnya!” kata Tampang Garang tegang.
Bagi Penombak Manis, mudah baginya untuk melihat sosok asli Tengkorak Manis Putih karena dia memiliki Sisik Putri Samudera. Namun tidak bagi Tampang Garang. Dia harus memerhatikan dan mencari sosok berciri seperti yang disebutkan oleh Penombak Manis.
Akhirnya, di antara banyaknya sosok duplikat Tengkorak Manis Putih yang aktif bergerak hendak menyerang Alma Fatara, ada satu sosok Tengkorak Manis Putih yang lebih sedikit bergerak dan lebih banyak memerhatikan.
Set!
“Matilah kau, nenek tidak tahu diri!” desis Tampang Garang gemas sambil melepas anak panah sinar putihnya.
Ketika meninggalkan busur, anak panah sinar putih itu memecah diri menjadi sepuluh batang. Kesepuluhnya melesat secepat kilat ke arah kerumunan Tengkorak Manis Putih.
Bles bles bles …!
Kesepuluh anak panah itu menusuk sosok-sosok duplikat Tengkorak Manis Putih yang tidak melihat datangnya serangan. Setiap duplikat Tengkorak Manis Putih yang terkena panah akan langsung ambyar.
Panah-panah itu bukan hanya mengenai sosok palsu, tapi juga mengarah ke sosok yang diduga kuat adalah Tengkorak Manis Putih asli.
Sosok Tengkorak Manis Putih yang ditargetkan terlihat terkejut mendapat serangan tidak terduga. Dia langsung melompat tinggi ke udara menghindari satu anak panah sinar yang menyerangnya.
Alma Fatara yang sudah menunggu Penombak Manis memberinya petunjuk, melihat pergerakan Tengkorak Manis Putih yang menghindar ke udara.
Clap! Tusk!
“Hekhr!” erang Tengkorak Manis Putih di udara dengan wajah merah kelam, sepasang mata mendelik merah dan berair, serta mulut menganga lebar dan berdarah. Punggungnya pun melengkung bak udang panggang.
“Manis Putih!” sebut anggota Keluarga Tengkorak yang lain terkejut.
Ketika sudut matanya menangkap satu sosok Tengkorak Manis Putih naik ke udara, Alma Fatara langsung menghilang dan tahu-tahu telah menempel di depan si nenek di udara.
Telunjuk Alma Fatara sudah menusuk titik diafragma milik Tengkorak Manis Putih. Ia menggunakan Telunjuk Roh Malaikat untuk melumpuhkan si nenek, tentunya tidak dengan kekuatan penuh guna menghindari kematian.
Saat itu juga, puluhan sosok duplikat dari ilmu Pasukan Jiwa Suci Tengkorak Manis Putih ambyar semua.
Blugk!
Tengkorak Manis Putih yang asli terjun bebas dan jatuh di dinding kubangan tanah.
“Berhasiiil! Hua hua hua!” teriak Panglima Besar Anjengan keras.
“Hua hua hua!” teriak Pasukan Genggam Jagad ikut girang berjemaah.
“Berhasiiil! Hihihik!” sorak Penombak Manis lalu tertawa girang sambil tiba-tiba melompat memeluk Tampang Garang.
“Hahahak!” tawa Tampang Garang pula sambil balas memeluk Penombak Manis karena terlalu girangnya.
“Aaak!” jerit Penombak Manis dan Tampang Garang saat keduanya jatuh ke bawah. Mereka berdua lupa bahwa saat itu mereka masih berdiri di atas telapak tangan Gede Angin.
“Istriku tersayang, kenapa kau begitu tega berpelukan dengan lelaki lain di depan mataku?” tanya Juling Jitu dengan mata dan wajah menunjukkan kemarahan.
__ADS_1
“Hahahak!” tawa Pasukan Genggam Jagad melihat adegan antara Penombak Manis, Tampang Garang dan Juling Jitu. (RH)