
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Tengkorak Ratu Maut sudah dievakuasi oleh Tengkorak Tongkat Kepang dan dibaringkan di teras rumah Tengkorak Sabit Putih. Meski kondisinya sudah lumpuh setelah ditaklukkan oleh Alma Fatara, dia masih ingin melihat Ratu Siluman mati di tangan ketiga anggota Keluarga Tengkorak yang lain.
Selain itu, tempat tersebut kembali terang dengan adanya penerangan besar. Sebanyak tiga pohon besar di tiga titik berjauhan dibakar yang memang dimaksudkan sebagai alat penerang.
“Apakah kalian yakin akan mengeroyok bocah itu, Sabit Putih?” tanya Tengkorak Sentuh Lenyap.
“Tidak ada cara lain. Anak itu benar-benar siluman,” jawab Tengkorak Sabit Putih.
“Apa yang kalian lakukan malam ini akan berakibat buruk bagi Keluarga Tengkorak. Kalian mengeroyok seorang anak belia di depan orang banyak. Jika kalian menang pun, tidak ada yang bisa dibanggakan. Jika kalian kalah, akan menjadi aib besar bagi Keluarga Tengkorak,” ujar Tengkorak Sentuh Lenyap.
“Diamlah kau, Lenyap!” bentak Tengkorak Sabit Putih marah. “Simpan semua nasihatmu jika kau tidak mau membantu membalas dendam Pedang Kilat, atau membalas kekalahan Pedang Siluman dan Ratu Maut!”
“Tidak perlu memandang berlebihan apa yang kami lakukan terhadap anak itu. Apalagi tadi dia mengatakan akan bertarung berdua,” kata Tengkorak Manis Putih. Ia lalu berjalan menuju ke hadapan Alma Fatara yang sudah menunggu untuk dimulainya pertarungan berikutnya.
“Aku berharap Nenek Putih memaafkanku jika aku nanti bertindak lancang,” ujar Alma Fatara ketika si nenek pesolek telah berdiri tiga tombak di depannya.
“Ternyata kau memang hebat, Ratu Siluman. Kau tidak menderita luka saat berhadapan dengan Ratu Maut.
“Suruh keluar temanmu yang akan bertarung bersamamu!” seru Tengkorak Burung Putih sambil berjalan maju ke samping Tengkorak Manis Putih.
“Hahaha! Aku belum terdesak menghadapi kalian. Akan sangat membanggakan jika aku bisa menang seorang diri,” kata Alma Fatara yang didahului dengan tawanya.
“Bocor, pergilah! Aku akan bertarung!” perintah Tengkorak Burung Putih sambil menengok kepada burung kakatua putihnya.
“Bocor mau bertarung, Bocor mau bertarung!” kata Bocor.
“Pergilah bertarung di sarang!” perintah Tengkorak Burung Putih.
“Bukan sarang, tapi ranjang, tapi ranjang!” oceh Bocor.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara mendengar ocehan Bocor. Lalu katanya kepada si burung, “Hei, Bocor! Mengabdi saja kepadaku. Aku lebih cantik dibandingkan majikanmu itu. Hahaha!”
“Bocor jatuh cinta, Bocor jatuh cinta!” sahut Bocor sambil manggut-manggut di bahu kanan Tengkorak Burung Putih.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara mendengar perkataan Bocor.
“Dasar burung mata keranjang. Pergi!” usir Tengkorak Burung Putih sambil menyentil badan Bocor.
Burung itu cepat terbang meninggalkan bahu tuannya. Dia langsung pergi dan menghilang entah ke mana terbangnya.
__ADS_1
“Ratu Siluman, waktunya kematianmu!” teriak Tengkorak Sabit Putih dari belakang Tengkorak Manis Putih dan Tengkorak Burung Putih.
Sosok Tengkorak Sabit Putih sudah terbang di atas kepala kedua kerabatnya.
Sreet!
Tengkorak Sabit Putih langsung menghentakkan kedua tangannya. Maka sejumlah sinar putih tipis-tipis melesat menyerbu Alma Fatara.
“Jiaaak!” pekik Alma Fatara terkejut sambil melompat naik ke udara dengan gaya tupai terbang, membuat sederatan sinar itu lewat di bawah tubuhnya.
Pada kesempatan itu, Tengkorak Manis Putih cepat ambil kesempatan dengan menyipratkan jari-jari tangan kanannya.
Swisst!
Lima sinar hijau berbentuk bola-bola melesat ke atas, menyerang Alma Fatara yang masih di udara.
Zing! Swisst!
“Awas burungmu!” teriak Tengkorak Burung Putih terkejut memperingatkan Tengkorak Manis Putih, padahal si nenek tidak punya burung, hanya seorang pecinta burung.
Alangkah terkejutnya Tengkorak Burung Putih dan Tengkorak Manis Putih karena kelima sinar hijau dari ilmu Jari Bola-Bola itu menyerang balik.
Kelima sinar bola hijau itu ternyata dihadang oleh dinding sinar ungu yang tiba-tiba muncul melindungi tubuh Alma Fatara. Akibatnya, kelima sinar itu memantul balik dan menyerang kakek dan nenek.
Blar blar blar …!
Ketika Alma Fatara mendarat dari udara, Tengkorak Sabit Putih sudah merangsek maju dengan kedua sabit berwarna putihnya.
Set set set …!
Memang pada dasarnya orang sakti, serangan sabitnya saja tidak seperti pengarit rumput, tapi terlalu cepat, nyaris tidak terlihat dan terdengar.
Namun, pada dasarnya Alma Fatara juga wanita sakti, dengan gesit dia menghindari semua serangan dua sabit tersebut.
Jika melawan musuh baru, Alma Fatara selalu menerapkan taktik menyembunyikan kekebalannya terhadap api dan sajam. Seperti saat ini, dia menghindari semua serangan sabit Tengkorak Sabit Putih, seolah-olah takut terlukai oleh ketajamannya. Hal itu membuat Tengkorak Sabit Putih beranggapan bahwa Alma Fatara tidak kebal terhadap sajam.
Di saat Tengkorak Sabit Putih agak kesal karena tidak kunjung berhasil membacok Alma Fatara, Tengkorak Burung Putih datang dengan melayang seperti burung, lalu masuk ke dalam pertarungan.
Dua lawan satu pun tergelar.
Tengkorak Burung Putih bertarung dengan kedua telapak tangan bersinar putih, tapi tidak menyilaukan mata. Kecepatan serangan Tengkorak Burung Putih pun tidak kalah cepat.
Hal itu membuat Pasukan Genggam Jagad dilanda kecemasan. Mereka melihat gerakan ratu mereka sangat cepat dalam menghadapi dua lawan tingkat tinggi. Pertarungan itu sulit dilihat secara jelas, berbeda bagi Cucum Mili, Tiga Penjaga Emas dan Penombak Manis. Mereka masih bisa membaca pertarungan cepat tersebut.
__ADS_1
Pada pertarungan dua lawan satu itu, Alma Fatara menerapkan strategi menghindari satu dan melawan satu. Alma Fatara memilih menghindari semua serangan sabit putih, tetapi memilih menangkis dan meladeni serangan Tengkorak Burung Putih.
Khusus menangkis serangan Tengkorak Burung Putih, yang ditangkis adalah batang tangannya, karena sinar putih pada telapak tangannya mengandung panas tinggi dan berhawa racun. Jika hanya panas saja, mungkin Alma Fatara masih mau adu pukulan.
Karena sama-sama memiliki kecepatan gerak yang seimbang, dua lawan satu tetap saja membuat Alma Fatara kerepotan. Lambat tapi pasti, gerakan Alma Fatara mulai terburu-buru karena mulai tersudut.
Posisi Alma Fatara seketika buruk saat Tengkorak Manis Putih ikut bergabung bersama mantan suaminya mengeroyok Alma Fatara.
Pada satu ketika, ketika Alma Fatara melompat menghindari dua sabetan sabit sekaligus, sementara tangan menangkis datangnya pukulan Tengkorak Burung Putih, dua hentakan pukulan telapak tangan Tengkorak Manis Putih dengan bebas masuk menghajar lambung kiri Alma Fatara.
Paks!
“Hukh!” keluh Alma Fatara dengan tubuh terdorong jatuh ke samping.
Ketiga kakek nenek itu segera memburu, tapi Alma Fatara langsung melesat menjauh untuk mengambil jarak dan sedikit jeda.
Ketiga orang tua itu tidak diam. Mereka serentak berlari dan berkelebat mengejar keberadaan Alma Fatara.
“Pangeran Kodoook, keluarlah!” teriak Alma Fatara tiba-tiba.
Mendengar panggilan Alma Fatara itu, yang ada di pikiran ketiga lawannya adalah akan munculnya teman Ratu Siluman yang sebelumnya disebut akan bertarung bersama. Hal itu membuat ketiganya berhenti dan melihat ke sekitar.
“Hahahak!” tawa terbahak Alma Fatara melihat reaksi kedua kakek dan kesatu nenek tersebut.
“Kurang kerjaan! Dia mempermainkan kita!” maki Tengkorak Sabit Putih saat tidak melihat kemunculan siapa-siapa.
“Serang!” seru Tengkorak Burung Putih.
Swesh!
Baru saja ketiga orang tua bergerak maju kepada Alma Fatara, gadis cantik itu tiba-tiba menyalakan dua sinar emas menyilaukan mata pada kedua telapak tangannya.
Hal itu mengejutkan ketiganya, karena mereka mendengar teriakan Tengkorak Manis Putih.
“Itu Pukulan Bandar Emas!”
Sontak ketiga orang tua itu melesat mundur ke arah berbeda menjauhi Alma Fatara, saat mendengar nama ilmu sinar emas tersebut. Mereka kenal dengan nama ilmu itu dan tahu siapa pemiliknya.
“Rupanya dia murid Pemancing Roh!” desis Tengkorak Burung Putih.
“Sambut kedatanganku, Kek!” teriak Alma Fatara sambil melesat cepat mengejar lesatan mundur Tengkorak Sabit Putih, dengan kedua tangan tetap bersinar emas.
Seeet!
__ADS_1
Kedatangan Alma Fatara disambut oleh lesatan dua sabit bersinar putih yang berputar-putar secara vertikal. Tengkorak Sabit Putih melemparkan dua senjatanya.
Pada saat melihat Ratu Siluman maju memburu Tengkorak Sabit Putih, dua orang tua lainnya langsung melesat cepat ke arah Alma Fatara dari arah kanan dan kiri, sementara tangan masing-masing telah bercokol kesaktian. (RH)