Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 28: Pasar Tulang


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


 


Rombongan Alma Fatara kembali berangkat dengan adanya anggota baru yang bernama Geranda, anggota baru yang kaya raya karena memiliki banyak uang.


Ketika bertanya kepada lelaki separuh baya pembawa pedati sapi, Geranda langsung main uang, membuat pertanyaannya terjawab dengan lancar dan cepat. Petunjuknya adalah jalan yang serong ke kiri. Info tambahannya adalah mereka nanti akan melewati Pasar Tulang yang terkenal di dunia persilatan.


“Apa istimewanya pasar itu dengan pasar daging, Ki?” tanya Geranda saat itu kepada sais pedati yang membawa bebatuan.


“Karena tulang-tulang yang dijual dari berbagai macam binatang, yang punya khasiat berbeda-beda. Ada yang untuk kesaktian, ada yang untuk memikat lawan jenis, ada yang untuk racun atau obat, atau untuk kuat berkuda. Hahahaha!” jelas lelaki paruh baya lalu tertawa sendiri.


Maka seperti itu pula informasi yang Geranda sampaikan kepada Alma.


“Hahaha!” tawa Alma. “Sepertinya kita akan mendapat masalah di sana.”


Setelah menempuh jalan yang sebagian gersang, rombongan Alma Fatara akhirnya tiba di sebuah jalan yang menuju tebing batu yang menjulang tinggi.


Mereka tidak melihat adanya jalan terbuka di sepanjang bawah tebing. Namun, Alma memutuskan terus mengikuti rute yang hanya ada satu. Hingga akhirnya mereka tiba di depan mulut sebuah celah tebing yang di sana ada seorang wanita separuh baya sedang duduk.


Lebar tebing itu bisa dilalui dua kereta kuda berdampingan. Sisi atasnya menyempit dan menutup, sehingga celah tebing itu seperti sebuah gerbang tanpa daun pintu.


Jalan itu sebenarnya masih lurus, sehingga keberadaan celah tebing itu agak menimbulkan tanda tanya. Apakah itu jalan menuju Pasar Tulang atau gerbang sebuah perguruan? Atau jalan ke Pasar Tulang terus lurus?


Melihat gelagat keraguan yang ditunjukkan oleh Alma Fatara, memancing wanita gemuk separuh baya yang duduk di atas batu untuk berkata.


“Nisanak, jika kau terus lurus, kau hanya akan sampai ke jurang dan air terjun. Selesai. Jika kalian ingin melewati Pasar Tulang, maka inilah jalannya. Jangan lupa, satu orang pajak lewatnya dua kepeng,” kata wanita tersebut.

__ADS_1


“Terima kasih, Bibi,” ucap Alma seraya tersenyum.


Tanpa diperintah, Geranda segera melompat turun dari kudanya dan pergi memberikan uang pajak untuk lewat.


Alma Fatara pun menjalankan kudanya untuk masuk ke celah tebing batu. Ia tersenyum kepada wanita penjaga yang balas tersenyum tipis.


“Hati-hati, Nisanak. Di Pasar Tulang banyak pendekar pemburu barang sakti!” kata wanita penjaga kepada Alma Fatara.


“Terima kasih, Bi,” ucap Alma, masih sambil tersenyum.


Rombongan Alma Fatara bergerak masuk. Mereka menyusuri lorong gelap berpenerang obor-obor yang dipasang di sisi atas tebing. Dari ujung lorong, mereka berpapasan dua orang penunggang kuda. Karena tidak saling kenal, jadi mereka hanya saling pandang saja.


Setelah itu, mereka berpapasan dengan sebuah pedati kuda. Kuda-kuda rombongan Alma harus menepi berbagi jalan.


Tidak lama, mereka mulai mendengar keramaian di balik tebing karena lorong tebing di depan menikung.


Ketika mereka berbelok, maka mereka melihat keramaian dan langit sudah tidak beratap tebing, tetapi terbuka langsung ke langit. Namun di sisi kanan, tetap tebing yang menjulang tinggi. Sedangkan di sisi kiri adalah tebing pendek yang hanya setinggi tiga kali tinggi orang. Sedangkan tepat di atas kepala adalah langit terbuka.


Uniknya, tidak ada dari lapak-lapak itu yang terbuat dari kayu atau bambu, semuanya terbuat dari batu-batu tebing yang dipahat jadi meja, jadi kursi, dan bagian lain. Namun, masih dipadu dengan kain yang warna dan warni.


Banyak pelaku pasar yang berpenampilan pendekar, tapi tidak sedikit yang berpenampilan warga desa biasa.


Rata-rata lapak menawarkan dagangan berbagai jenis tulang-tulangan. Ada lapak yang khusus menjual tulang-tulang ukuran kecil, ada pula lapak besar dan lebar yang menjual tulang-tulang besar. Bukan hanya tulang binatang, tulang manusia pun ada yang jual, termasuk tengkorak kepala manusia.


Selain lapak tulang yang mendominasi, ada pula yang menjual aneka batu-batu hias, lapak pengrajin emas dan perak, jual jenis-jenis senjata, hingga kedai makan dan minum pun ada.


Ada pula terlihat sejumlah orang berseragam merah terang dan bersenjata pisau-pisau kecil warna merah yang menempel berbaris di pinggangnya. Selain ada yang hanya berdiri berjaga sambil memantau sekitar, ada pula yang berpatroli.

__ADS_1


Pusat pasar yang juga menjadi jalan raya, membuat pasar itu terkesan padat, karena orang berbaur dengan binatang tunggangan atau penarik pedati. Kondisi itu membuat Alma dan rombongan harus berjalan pelan dengan kudanya.


Alma Fatara dan pasukannya mengedarkan pandangannya melihat-lihat dagangan yang digelar oleh para pedagang dan suasana pasar tersebut. Namun seiring itu, beberapa mata orang berpenampilan pendekar serentak memusatkan pandangan mereka fokus kepada Alma Fatara, seolah ada magnet kuat yang menarik mata-mata mereka.


“Gusti Ratu, beberapa pendekar memperhatikan Gusti Ratu!” kata Mbah Hitam.


“Ini salah satu bahayanya jika membawa pusaka Bola Hitam,” kata Alma Fatara tanpa terlihat cemas, apalagi terlihat panik. Ia tetap santai menikmati pemandangan pasar yang unik. Sebab, baru kali ini dia melihat pasar jenis ini.


“Lihat di atas, Gusti Ratu!” kata Mbah Hitam.


Alma Fatara mengikuti arahan Mbah Hitam yang kini sedang super siaga demi menjaga keselamatan sang ratu. Ia sedikit mendongak. Ia melihat di sebuah jendela di sisi atas tebing batu, ada dua orang lelaki sedang memperlihatkan kepala dan separuh tubuh atasnya. Keduanya sedang fokus memandangi Alma Fatara dan rombongan. Kedua lelaki separu baya itu berpakaian bagus dan mengenakan banyak perhiasan.


“Biarkan saja, kita sudah membayar uang jalan. Kita harus segera tiba di Alas Kutu. Jika mereka macam-macam, akan aku buat nama Ratu Siluman tidak mungkin mereka lupakan di masa yang akan datang,” kata Alma.


Seorang pendekar wanita berusia separuh abad yang sedang berada di lapak batu-batuan, serius memandang kepada Alma Fatara yang masih agak jauh dari lapak tempatnya berada. Wanita berpakaian hitam dengan dalaman kuning itu membawa senjata pada pinggangnya, berupa pedang ukuran tanggung.


Bukan hanya dia, dari dalam kedai makan muncul keluar dua orang kakek kembar berbeda gaya rambut. Kedua kakek berjubah biru gelap itu memiliki gaya rambut gondrong, dengan perbedaan keriting dan lurus direbonding. Jika seandainya keduanya tidak berjenggot kambing, mungkin bisa-bisa mereka disangka dua nenek kembar karena rambutnya panjang sepunggung.


Kedua kakek kembar keluar dan berdiri di depan kedai makan sambil fokus memandangi Alma yang hendak lewat.


Bukan hanya mereka, beberapa pedagang pemilik lapak yang usianya kisaran di atas empat puluh tahun, terdiam memandangi Alma Fatara.


“Pasukan Genggam Jagad, jika terjadi serangan, kalian jangan ikut turun tangan!” kata Alma agak kencang, yang membuat sejumlah orang di sekitar rombongan mereka jadi menengok dan beralih memandang kepada Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Pasukan Genggam Jagad serentak, yang kemudian menarik perhatian para warga Pasar Tulang yang mendengar suara mereka.


Set!

__ADS_1


Terkejut Mbah Hitam yang bisa melihat lesatan sebuah senjata kecil kepada Alma Fatara. Ia tidak bisa bertindak untuk melindungi.


Namun, senjata kecil yang berupa keris mini sepanjang kelingking itu terhenti melesat, tepat dua jengkal di depan leher Alma Fatara yang jadi berhenti menjalankan kudanya. Senjata keris itu telah ditangkap oleh jeratan Benang Darah Dewa. (RH)


__ADS_2