
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Dak!
“Aak!” jerit seorang murid Perguruan Bulan Emas saat jidatnya diketok dengan batok kelapa Belik Ludah. Murid itu menderita gigitan ular berbisa, tapi bukan ular Mbah Hitam.
“Hahahak …!” Tertawa kencanglah Ki Jandila yang pertama kali melihat cara pengobatan Belik Ludah. Baginya itu sangat lucu, tapi dia harus mengakui kehebatan Bocah Tabib itu ketika melihat hasil dari pengobatan tersebut.
Murid tersebut dalam waktu singkat jadi sehat dan terbebas dari racun secara sempurna.
Inilah awal Ki Jandila menyukai Belik Ludah. Ia pun banyak bertanya-tanya tentang asal-usul keahlian pengobatan bocah itu.
Ternyata Belik Ludah tidak hanya mengandalkan batok saktinya untuk menyembuhkan pasien, tetapi dia juga banyak tahu tentang obat-obatan dan racun. Itu sudah Ki Jandila buktikan dengan menghujani Belik Ludah sejumlah soal sulit tentang dunia ketabiban.
Telah turun titah dari Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara, yang memerintahkan kedua tabib berbeda generasi itu untuk mengobati kegilaan Suraya Kencani.
Mengobati orang gila ternyata tidak ada dalam tiga kitab yang pernah Belik Ludah pelajari. Sementara dalam ilmu ketabiban yang pernah dipelajari oleh Ki Jandila, ia hanya memiliki sedikit referensi.
Namun, setelah kedua tabib masing-masing memikirkannya dan merundingkannya, akhirnya mereka menyimpulkan cara yang berbeda.
Belik Ludah tidak memiliki cara lain selain cara tradisionalnya, yaitu mementung jidat pasien dengan batok kelapanya. Menurutnya, karena penyakit gila sumber utamanya ada di otak, maka ketokan dengan batok kelapa akan menyegarkan syaraf-syaraf di kepala dan otak. Semakin banyak ketokan yang diberikan, peluang otak untuk normal akan semakin besar.
Sementara bagi Ki Jandila, berdasarkan pengalaman dirinya dan melihat tabib lain yang pernah menangani orang gila, pasien gila harus ditempatkan dan diberikan suasana yang nyaman, agar emosinya tidak mudah terpancing. Selain itu, untuk memancing memori yang baik dan pikiran yang baik, pasien harus sering diajak berkomunikasi oleh orang yang ia sukai. Selain itu, Ki Jandila juga membuatkan obat berbentuk wedang yang bisa menyegarkan badan.
Yang menjadi kendala bagi Belik Ludah untuk mengobati Suraya Kencani, wanita cantik jelita itu tidak mungkin mau jidatnya dipukul dengan batok kelapa. Jalan satu-satunya bagi Belik adalah memukul jidat Suraya Kencani di saat wanita itu tertidur.
Dak!
“Aakk!” jerit Suraya Kencani tiba-tiba terbangun saat jidatnya dihantam batok kelapa belik ludah.
Belik Ludah yang sudah siap, langsung lari terbirit-birit keluar dari kamar dengan wajah panik.
“Setan pohon pisang busuuuk!” teriak Suraya Kencani karena tidak menemukan siapa-siapa di dalam kamarnya.
“Hahaha!” tawa Ki Jandila dan Mbah Lawut melihat Belik Ludah lari seperti dikejar harimau.
Setelah tiba di persembunyian, Belik Ludah kembali mengintip ke arah pintu kamar Suraya Kencani. Ia lega karena wanita itu tidak keluar mengejar.
Namun, pada kesempatan kedua di hari berikutnya, Belik Ludah ketiban apes.
Saat dia kembali mengendap-endap masuk ke kamar Suraya Kencani, ia pun kembali memukul dahi wanita itu.
__ADS_1
Dak!
“Akk! Setan nangka belatung!” teriak Suraya Kencani kencang sambil bangun duduk di ranjangnya.
Blugk!
Apes bagi Belik Ludah, dia tersandung dan jatuh tersungkur di dekat pintu. Buru-buru Suraya Kencani mendapati Belik Ludah dan mencengkeram tengkuk bocah itu.
“Ampuuun! Haaaah! Jangan bunuh akuuu!” teriak Belik Ludah ketakutan dan menangis.
Dari luar cepat masuk Mbah Lawut yang segera membujuk Suraya Kencani. Mbah Lawut berhasil membujuk mantan kekasihnya itu untuk melepas Belik Ludah.
Setelah insiden itu, Belik Ludah sudah tidak mau mementung dahi Suraya Kencani lagi.
Di sisi lain, atas anjuran Ki Jandila, Mbah Lawut dan Rereng Busa secara bergantian sering menemani Suraya Kencani. Mereka mengajak Suraya Kencani berbincang-bincang, keduanya berbagi cerita mereka tanpa menyinggung orang-orang yang telah menjahati Suraya Kencani selama ini. Mereka pun bergantian menemani Suraya Kencani berjalan-jalan di sekitar perguruan. Taman belakang adalah tempat favorit Suraya Kencani pergi.
Ternyata metode pengobatan itu terlihat hasilnya berupa mulainya Suraya Kencani tersenyum ketika mendengar cerita-cerita lucu atau dipuji-puji. Dalam beberapa hari, ia pun sudah jarang mencaci maki.
Dari hasil perkembangan itu, Ki Jandila, Mbah Lawut dan Rereng Busa mengakui bahwa ada kontribusi besar dari cara pengobatan Belik Ludah. Mereka sepakat bahwa Belik Ludah harus melanjutkan pengobatannya, tapi sayang Bocah Tabib menolak hanya karena takut.
Akhirnya Mbah Lawut berinisiatif untuk membujuk Suraya Kencani agar mau diobati oleh Belik Ludah. Butuh upaya lebih untuk meyakinkan wanita itu. Namun, akhirnya berhasil juga.
Dua hari sebelum hari pesta syukuran Ratu Siluman, Suraya Kencani mau diobati dengan cara Belik Ludah.
Akhirnya Belik Ludah pun mau mengobati Suraya Kencani setelah mendapat jaminan keamanan. Ia memukul dahi Suraya Kencani di saat wanita itu dalam kondisi terjaga, tidak tidur.
Dak!
Dan memang, ketika dibandingkan antara sebelum diketok dan sesudahnya, ada perbedaan dari sikap dan kualitas bicara Suraya Kencani.
Keesokannya ketika diketok lagi oleh Belik Ludah, Suraya Kencani tidak menjerit lagi, meski dahi wanita itu jadi benjol.
“Benarkah?” tanya Suraya Kencani sumringah, saat ia sedang diberi tahu sesuatu oleh Rereng Busa waktu berdua di taman belakang.
“Benar. Di sini ada murid Garudi Malaya,” tandas Rereng Busa.
“Pertemukan aku dengannya,” pinta Suraya Kencani sambil tersenyum gembira.
“Ayo kita menemuinya!” ajak Rereng Busa sambil mengulurkan tangannya yang sudah tanpa jari-jari lagi.
Suraya Kencani lalu memegang pergelangan tangan Rereng Busa.
Mereka berdua lalu berjalan bergandengan seperti kakek dan cucu. Mereka pergi menemui Alma Fatara yang sedang mengawasi para murid Bulan Emas dan Jari Hitam yang sedang bahu-membahu membangun panggung. Mbah Hitam selalu mengawal bersama empat murid wanita Bulan Emas.
__ADS_1
Acara pesta akan digelar dua hari lagi.
Rereng Busa dan Suraya Kencani mendatangi Alma. Keduanya pergi dan berhenti di hadapan Alma Fatara.
“Hormat hamba, Gusti Ratu!” ucap Rereng Busa sambil menjura hormat secukupnya.
Rereng Busa pun menghentak lembut tangan Suraya Kencani agar menghormat pula. Sambil menatap curiga kepada Alma Fatara, Suraya Kencani menghormat pula.
“Tetua Suraya Kencani sekarang terlihat lebih cantik dan sehat,” ujar Alma Fatara sambil tersenyum manis.
“Maafkan hamba, Gusti Ratu. Aku telah mengatakan kepada Suraya bahwa di sini ada muridnya Garudi Malaya. Jadi Suraya sangat ingin bertemu dengan murid Garudi Malaya itu,” ujar Rereng Busa.
“Akulah murid Garudi Malaya, namaku Alma Fatara, Tetua. Apakah Tetua Suraya sangat mengenal guruku?” tanya Alma Fatara.
Tatapan curiga Suraya Kencani jadi berubah teduh seiring dengan senyum.
“Aku pernah menjadi kekasih Garudi Malaya. Dia lelaki genit yang sangat baik hati. Hihihi!” jawab Suraya Kencani lalu tertawa malu.
Sejak pertemuan dengan Suraya Kencani pada malam pertama berkuasa di perguruan itu, Alma Fatara memutuskan untuk tidak menemui Suraya Kencani. Itu bertujuan menjaga agar emosi liar Suraya Kencani tidak keluar. Namun, Alma terus memantau perkembangan kejiwaan Suraya Kencani melalui laporan-laporan dari kedua tabib dan kedua lelaki tua dekat wanita cantik itu.
“Tapi, bukankah kekasihmu adalah Mbah Lawut?” tanya Alma Fatara.
“Hihihi!” Suraya Kencani kembali tertawa malu.
“Aku tahu, aku tahu. Hahaha!” kata Alma lalu tertawa santai. “Tetua Suraya yang begitu cantik, dulu menjadi rebutan banyak lelaki, termasuk Mbah Lawut dan guruku. Benar?”
“Hihihi!” Kembali Suraya Kencani tertawa malu. Begitu menggemaskan dengan kecantikannya yang jelita.
“Garudi Malaya adalah kekasih sebelum Mbah Lawut. Meski Garudi itu sangat genit dan pandai menggoda, tetapi dia tidak pernah menggoda kekasihnya dengan sentuhan tangan. Di situlah Suraya Kencani menilai Garudi Malaya adalah lelaki yang sangat baik. Akhirnya mereka berpisah dengan baik-baik dan Suraya menganggap Garudi adalah sahabat terbaik. Karenanya dia sangat gembira ketika mendengar Garudi memiliki murid,” jelas Rereng Busa.
“Hahaha!” Alma Fatara hanya tertawa ringan mendengar cerita itu.
“Suraya, Alma Fatara orang yang telah menolongmu dari kematian. Dia adalah Ratu Kerajaan Siluman dan ratu di sini,” kata Rereng Busa kepada Suraya Kencani.
“Hormat hamba, Gusti Ratu!” ucap Suraya Kencani sambil turun berlutut.
“Bangunlah, Tetua!” ucap Alma sambil cepat memegang kedua lengan Suraya Kencani agar berdiri kembali.
“Apakah Garudi Malaya sudah beristri?” tanya Suraya Kencani sambil tersenyum.
Alma Fatara terdiam sejenak sambil tersenyum pula. Ia bingung, apakah harus menjawab sejujurnya atau merahasiakannya. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.