Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 25: Laporan Buruk


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


 


“Wik wik wik wik wik! Wik wik wik wik wik!”


“Wik wik wik wik wik! Wik wik wik wik wik!”


Tiba-tiba saja suara “wik wik wik” ramai dibunyikan oleh para anggota bajak laut yang terdengar sahut-sahutan. Lengkingan suara itu berawal dari alun-alun. Seorang anggota bajak laut yang datang ke alun-alun bertepatan dengan sang surya terbit, menemukan lima orang mayat rekannya. Ia pun segera menyuarakan sandi bahaya.


Suara sandi bahaya itu kemudian dilanjutkan oleh para anggota bajak laut lainnya, sehingga suara kode itu menjadi ramai dan membuat tegang, kerena kode itu memberi tahu bahwa ada serangan atau kejadian gawat dan berbahaya.


Para anggota bajak laut yang masih tertidur atau baru bangun tidur, seketika menjadi melek segar bugar.


Suara “wik wik wik” adalah suara yang tidak disukai oleh Ronggo Palung sebagai Ketua Bajak Laut Ombak Setan. Makanya ia keluar rumah dengan wajah yang keras, tapi tidak mengeras.


Sekeluarnya Ronggo Palung ke teras, seorang anak buahnya datang menghadap dengan berlari.


“Lapor, Ketua! Gawat mati, Ketua!” teriak panik dan tegang anak buah yang bernama Kaki Satu Tinggi. Ia memiliki sepasang kaki yang panjang sebelah, sehingga jalan dan larinya akan pincang.


“Siapa yang mati?!” tanya Ronggo Palung dengan membentak.


“Teman-teman kita yang menjaga para tawanan, Ketua! Dan … dan ….”


“Dan yang membunuh mereka adalah para tawanan itu?” terka Ronggo Palung.


“Aku tidak tahu, Ketua. Tapi semua tawanan kita di alun-alun sudah hilang!”


“Kurang ajar kebangetan!” maki Ronggo Palung marah, terlihat wajahnya semakin mengerikan. “Rumput Laut!”


“Aku, Ketua!” sahut Rumput Laut datang menghadap.


“Ambilkan senjataku di kamar!” perintah Ronggo Palung.


“Siapa, Ketua!” teriak Rumput Laut.


“Hah?” heran Ronggo Palung.


“Siap, Ketua!” teriak Rumput Laut meralat salah katanya.


“Huh!” dengus Ronggo Palung lalu bergegas berkelebat cepat di udara melewati atas kepala-kepala anak buahnya yang berkumpul di depan rumah.


Sementara Rumput Laut segera berlari masuk lalu pergi ke kamar. Masuknya Rumput Laut yang seperti orang kesurupan, mengejutkan Sumi, wanita piaraan Ronggo Palung.

__ADS_1


“Hehehe!” tawa cengengesan Rumput Laut melihat wanita cantik berkulit mulus dan hanya bersarung sehelai itu.


Sumi hanya diam bergeming. Sementara Rumput Laut berjalan ke luar sambil terkekeh-kekeh senang.


Dengan cepat Ronggo Palung tiba di alun-alun pinggir sungai. Mayat kelima anak buahnya masih tergeletak di titik tempat matinya. Para anak buahnya seakan tidak berani merusak kondisi TKP sebelum sang ketua melihat langsung. Hal seperti itu sudah biasa mereka lakukan agar tidak menyesatkan hasil penyelidikan.


“Siapa yang berani membunuh diam-diam anak buah tersayangku?” gusar Ronggo Palung.


Ia lalu mengamati luka-luka yang menyebabkan kelima anak buahnya mati. Dia berdiri agak lama memperhatikan anak buahnya yang mati dengan tubuh hancur-hancur kecil di seluruh tubuh, termasuk wajah.


“Ilmu mereka tidak sembarangan,” ucap Ronggo Palung. Lalu tanyanya kepada anak buahnya secara umum, “Apa yang kalian temukan?”


“Kami menemukan potongan-potongan tali yang tercecer mengarah sungai!” jawab seorang anak buah Ronggo Palung.


Memang, tadi malam, para tawanan ada yang berlari ke arah sungai sambil membuka ikatan tali di tangannya dan membuangnya begitu saja, sehingga tercecer di tanah.


“Kami juga menemukan celana milik Rengkah di pinggir sungai, lengkap dengan cawatnya!” sahut anak buah yang lain.


Sejumlah anak buah hendak tertawa mendengar kabar itu, tetapi mereka manahannya. Mereka tidak mau disemprot oleh sang ketua.


Namun, laporan tentang penemuan celana itu membuat Ronggo Palung dan anak buahnya tidak habis pikir. Mereka tidak memiliki pilihan untuk menganalisa, kecuali bahwa Rengkah sedang buang air besar atau sedang berbuat cabul ketika ia hilang.


“Berarti kesimpulannya, para tawanan kabur melalui sungai. Tapi siapa yang melakukannya?” ucap Ronggo Palung berpikir.


Terkejutlah Ronggo Palung dan para bajak laut itu. Mereka semua kenal siapa itu Ratu Kepiting.


“Apa maksudmu, Krupuk Kerang?!” tanya Ronggo Palung dengan membentak.


“Cucum Mili dan Bajak Laut Kepiting Batu menyatakan telah keluar dari sekutu. Mereka telah menguasai Kademangan Dulangwesi, tetapi kemudian justru bersahabat dengan mereka!” lapor Krupuk Kerang.


“Keparat seribu satu kali!” teriak Ronggo Palung murka. “Berani-beraninya Cucum Mili berkhianat. Dari sekarang, semua anggota Bajak Laut Kepiting Batu harus mati. Gurun Air!”


“Aku, Ketua!” sahut seorang pemuda botak berjenggot lebat, tetapi jenggotnya terlihat berminyak, seolah dagunya mengandung cadangan minyak. Dialah yang bernama Gurun Air.


“Pergi temui Bajak Laut Elang Biru dan Bajak Laut Gunung Samudera, sampaikan bahwa Ratu Kepiting dan kelompoknya adalah pengkhianat yang harus dibunuh semua!” perintah Ronggo Palung.


“Baik, Ketua!” ucap Gurun Air patuh. Setelah menghormat, ia segera berbalik pergi.


“Ada yang aku herankan,” celetuk Si Keong Samudera.


“Apa?” tanya Ronggo Palung.


“Apakah maksud Krupuk Kerang dan Belalang Laut, kelompok Kepiting Batu yang jumlahnya banyak bisa tiba lebih dulu ke sini dibandingkan kalian?” tanya Si Keong Samudera.

__ADS_1


“Kau bisa jelaskan, Krupuk Kerang?” desak Ronggo Palung membenarkan kecurigaan Si Keong Samudera.


Terdiamlah Krupuk Kerang, seperti orang yang tersudutkan.


“Jika pembunuh dan pembebas tawanan itu adalah kelompok Kepiting Batu, kami tidak tahu bagaimana mereka bisa tiba lebih dulu daripada kami,” kata Belalang Laut yang melegakan Krupuk Kerang.


“Lapor, Ketua!” teriak seorang anak buah yang baru tiba dengan berlari. Lalu katanya lagi sebelum ia ditanya, “Empat anggota kita yang berjaga di dermaga Kadipaten hilang. Semua perahu juga hilang!”


“Benar-benar keparat seribu satu kali!” maki Ronggo Palung. “Mereka pasti melarikan diri ke hilir!”


“Biarkan aku yang mengejar mereka ke hilir, Ketua!” kata Kodok Pulau.


Namun, belum lagi Hantu Dasar Laut menjawab Kodok Pulau, terdengar suara kuda datang berlari. Penunggang kuda itu adalah Kelabang Basah, anak buah Ronggo Palung yang diutus menyampaikan pesan kepada Raja Kerajaan Singayam, yaitu Prabu Manggala Pasa.


Kelabang Basah yang bersenjatakan dua tombak pendek di punggungnya, melompat turun dari kudanya. Para rekannya segera memberi jalan.


“Lapor, Ketua!” ucap Kelabang Basah.


“Apa tanggapan Prabu Manggala?” tanya Ronggo Palung.


“Prabu Manggala tidak mau menyerahkan dua kadipaten pesisirnya. Dia mengancam akan membunuh kita semua!” lapor Kelabang Basah.


“Berarti pasukan Singayam akan datang. Jangan ada yang pergi. Siapkan penghadangan di tiga jalan masuk ke Kadipaten. Kita akan membasmi pasukan Singayam sampai habis!” teriak Ronggo Palung.


“Baik, Ketua!” teriak mereka serentak.


“Kita harus berbohong bahwa kita masih punya banyak sandera warga Kadipaten! Sekarang pergilah untuk menyiapkan jebakan!” perintah Ronggo Palung lagi.


“Siap, Ketua!” sahut mereka serentak.


“Woi woi woi …!” teriak para anggota bajak laut ketika mereka bergerak meninggalkan alun-alun.


Sementara itu, Belalang Laut menyalahkan Krupuk Kerang.


“Ini akibat ulahmu mengajakku bermalam dan berlayar asmara. Kita jadi telat!” tukas wanita kurus itu dengan setengah berbisik.


“Sudah, tidak usah disesali. Kita sama-sama enak dan Ketua tidak curiga lagi,” kata Krupuk Kerang, juga setengah berbisik agar tidak ada orang yang mencuri dengar. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!


__ADS_1


__ADS_2