Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Guru Bule 26: Berkhianat Demi Cinta


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


Guling Nikmat berjalan seorang diri menuju pintu utama penjara Kamar Batu Baja. Ia membawa nampan yang mewadahi dua piring makanan dan sekendi minuman.


“Kenapa tidak ada yang menemani?” tanya murid penjaga pintu penjara ketika Guling Nikmat tiba di depan mereka.


“Anak buahku sedang mendapat tugas penting semua. Oh ya, aku membuatkan kalian kue enak,” kata Guling Nikmat.


Ia lalu membuka sehelai daun pisang yang menutup satu piring. Maka tersingkaplah sekelompok keu onde-onde bertabur parutan kelapa muda.


“Aku yakin, pasti lezat kue buatanmu, Nikmat!” kata penjaga penjara tersebut.


Ia langsung menyomot satu bulatan kue yang ternyata masih hangat ketika dipegang.


“Katok, ayo diambil. Kapan lagi kita makan kue enak buatan Guling Nikmat langsung,” katanya kepada rekannya.


“Kau benar, Burik. Hehehe!” kata penjaga yang bernama Katok, lalu ikut mengambil kue, bahkan sekaligus dua butir.


“Wah, tinggal separuh,” kata Katok sambil tersenyum kuda.


“Tidak apa-apa, asal yang berjaga di dalam juga kebagian,” kata Guling Nikmat.


“Ah, yang di dalam hanya dua orang yang berjaga. Disisakan dua juga tidak apa-apa. Hahaha!” seloroh Burik.


Di saat temannya asik mengunyah dan dia juga sambil mengunyah, Burik membukakan pintu.


“Kau sudah hapal jalannya menuju tahanan khusus itu, jadi pergilah saja sendiri,” kata Katok.


“Baik,” jawab Guling Nikmat seraya tersenyum.


Ia pun berjalan masuk ke dalam melewati kedua penjaga itu. Di dalam, masih ada empat murid penjaga. Dua di depan sel Rereng Busa dan dua lagi di depan sel Giling Saga.


Karena Guling Nikmat terlebih dulu lewat di depan sel Giling Saga, ia sejenak mampir untuk menawarkan kue onde-onde kepada kedua penjaga. Adalah satu kerugian jika menolak kue buatan tangan Guling Nikmat sendiri. Dan memang, kue itu enak. Bahkan kedua penjaga itu merasa kurang.


“Maaf, besok aku buatkan lagi. Yang dua ini buat mereka yang di dalam,” kata Guling Nikmat yang mempertahankan dua bulat onde-onde tersisa di piring, selain sepiring makanan untuk Rereng Busa yang konon sudah ditaburi racun.


Guling Nikmat melirik sejenak kondisi Giling Saga sebelum ia pergi berlalu menuju ke sel Ketua Perguruan Jari Hitam.


Setibanya di depan sel yang ada di ruang bawah, Guling Nikmat menawarkan dua kue yan tersisa. Kedua murid penjaga sel itu dengan senang hati mengambil dan memakan kue enak tersebut.


“Babi hutan berak darah tujuh hari tujuh malam kemasukan ulat bulu keturunan ulat kurap anak ulat sialan anaknya setaaan!” teriak caci maki seorang wanita yang menjadi penghuni sel depan sel Rereng Busa.


Cacian itu kembali mengejutkan Guling Nikmat. Namun, dia tidak menggubris. Ia lebih fokus kepada Rereng Busa yang dirantai besar tubuhnya dan kedua tangannya dibungkus dengan kain hitam.


Setelah dibukakan pintu sel, Guling Nikmat masuk membawa makanannya. Dilihatnya di atas meja batu, ada sebuah piring kosong yang sudah bersih dari makanan dan sebuah kendi tanpa gelas.

__ADS_1


“Kau datang sendiri, Guling Nikmat?” tanya Rereng Busa seraya tersenyum.


“Iya, Guru Jari Hitam,” jawab Guling Nikmat sambil tersenyum-senyum tersipu tidak wajar. Lalu katanya lagi, “Sebab aku mau kabur bersama Giling Saga.”


“Hah!” kejut Rereng Busa mendengar hal itu. “Berarti muridku Giling Saga juga ditahan di sini?”


“Iya,” jawab Guling Nikmat seraya tersenyum malu.


Bluk!


“Hihihi …!” tawa nyaring melengking wanita gila di sel depan. Suaranya sampai membuat merinding bawah bokong.


Tawanya tercipta setelah dua murid penjaga sel tiba-tiba jatuh tergeletak di lantai tidak sadarkan diri.


“Hihihi! Dua babi nyungsep ke sumur masa lalu penuh kenangan derita diperkosa tujuh gajah muka bopeng setaaan!” teriak wanita gila itu lagi. Sangat berisik.


“Apa yang harus aku lakukan untuk membebaskan Guru?” tanya Guling Nikmat sambil meletakkan makanan dan minumannya. Ia lalu meletakkan piring dan kendi kosong di nampan.


“Hehehe!” Rereng Busa justru terkekeh mendengar pertanyaan wanita usia empat puluhan itu. Ia lalu bertanya, “Kenapa kau memilih menjadi pengkhianat? Bukankah gurumu sangat memercayaimu?”


Terdiamlah Guling Nikmat mendapat pertanyaan menyudutkan seperti itu.


“Karena cinta, Guru. Aku harap Guru sudi merestui aku bersama Giling Saga. Salah satu alasan utamaku juga, aku tidak mau menjadi pembunuh dengan meracuni makanan Guru setiap hari. Tapi … tapi aku sudah tidak menaruh racun dalam makanan dan minuman Guru,” jelas Guling Nikmat.


“Tidak, aku percaya kepadanya. Dia sudah berjanji kepadaku, Guru,” tandas Guling Nikmat.


“Jika begitu, sampaikan kepada muridku Giling Saga. Seorang pendekar tidak boleh ingkar janji. Jika kalian berhasil kabur dari perguruan ini, pulanglah ke Perguruan Jari Hitam dan tidak usah mengkhawatirkan nasibku. Aku akan baik-baik saja,” ujar Rereng Busa.


“Baik, Guru.”


Singkat cerita.


Guling Nikmat lalu pergi ke sel Giling Saga. Ternyata, dua penjaga sel sudah tergeletak tidak sadarkan diri. Guling Nikmat bisa membuka sel karena kunci ada pada penjaga tersebut. Padahal kemarin kunci ada pada penjaga depan. Namun, Guling Nikmat yakin, kedua penjaga itu juga telah tumbang oleh pengaruh racun di dalam kue yang mereka makan.


Guling Nikmat segera masuk dan menemui Giling Saga yang masih dalam posisi tergantung.


“Guling Nikmat, kau benar-benar melakukannya?” tanya Giling Saga gembira, tapi seolah tidak percaya.


“Iya, karena aku sangat mencintaimu, Giling,” jawab Guling Nikmat dengan ekspresi yang memang sedang kasmaran berat.


Sekian puluh tahun hidup sendiri tanpa mengenal lelaki dan mengabaikan rasa suka kepada lawan jenis, membuat Guling Nikmat jadi mabuk kepayang ketika cinta itu hadir. Selama ini Guling Nikmat menjadi wanita yang begitu terobsesi dengan dunia memasak, cintanya hanya kepada rasa masakan dari jari-jari tangannya.


Guling Nikmat bekerja agak kepayahan ketika mencoba melepas belenggu rantai besi Giling Saga. Pemuda yang tubuhnya memperlihatkan banyak luka bekas cambukan itu, mengaku bahwa dia saat ini tidak bisa menggunakan tenaga dalamnya karena dilumpuhkan oleh Wakil Ketua Perguruan Bulan Emas.


“Tadi Guru Jari Hitam berpesan untukmu, Giling,” ujar Guling Nikmat.

__ADS_1


“Apa pesannya, Nikmat?” tanya Giling Saga cepat.


“Seorang pendekar tidak boleh ingkar janji, katanya,” kata Guling Nikmat.


Terdiamlah Giling Saga mendengar jawaban Guling Nikmat yang berisi pesan gurunya. Ia bisa memahami maksud pesan dari gurunya itu. Jelas bahwa ia dilarang membohongi Guling Nikmat atau sekedar memanfaatkannya saja.


“Iya, aku tidak akan mengkhianatimu, Nikmat. Aku akan menunaikan janjiku. Aku akan menunaikan cintaku kepadamu jika kita bisa keluar dari perguruan ini,” tandas Giling Saga, meyakinkan Guling Nikmat yang juga kian membuat wanita itu berbahagia hingga relung hati yang paling dalam.


“Guru juga mengatakan, jika kita berhasil kabur dari perguruan ini, kita diperintahkan pulang ke Perguruan Jari Hitam dan tidak usah mengkhawatirkan nasib Guru. Guru yakin akan baik-baik saja,” kata Guling Nikmat lagi.


“Tidak, aku harus menemui guru lebih dulu!” tandas Giling Saga.


Creng!


Akhirnya Guling Nikmat berhasil membuka belenggu rantai pada tangan dan kaki Giling Saga. Lelaki yang hampir telanjang itu bisa diturunkan dari gantungan.


Singkat proses. Setelah berhasil lepas dari semua belenggu, Giling Saga lalu memeluk erat tubuh Guling Nikmat. Wanita itu hanya terdiam tercekat, tapi menikmati pelukan pemuda yang sedang dicintai mati olehnya.


Giling Saga lalu melucuti pakaian satu penjaga, sehingga ia pun kini tampil seperti sedang Hari Raya, memakai pakaian baru.


Giling Saga dan Guling Nikmat pergi kembali ke sel Rereng Busa.


“Pemerkosa babi sampai bunting tujuh turunan semuanya mati kelaparan gara-gara makan rumput singa tidak tahu baca tulis seperti setaaan!”


Giling Saga terkejut bukan main ketika tiba-tiba mendengar makian panjang lagi cepat wanita gila di dalam sel yang gelap.


Guling Nikmat menyuruh kekasihnya itu tidak mempedulikan si wanita gila.


“Guruuu!” pekik Giling Saga sambil menangis memeluk tubuh gurunya.


“Kenapa kau berubah cengeng seperti ini?” tanya Rereng Busa.


“Aku harus membawa Guru ikut serta!” kata Giling Saga.


“Tidak usah. Dulu aku punya janji kepada Wulan Kencana, ketua perguruan ini. Aku ingin menunaikannya. Ini adalah risiko cinta dan kehidupan. Kau lihat sendiri, aku tidak apa-apa, hanya dibelenggu saja,” kata Rereng Busa dengan pembawaan yang tenang.


“Tapi, Guru … aku dan ….”


“Pergilah!” perintah Rereng Busa memotong kata-kata muridnya. “Jika kalian ingin kabur, bawa serta wanita gila itu. Dia wanita sakti!”


“Wanita sakti?” sebut ulang Guling Nikmat sambil menengok ke arah sel di depan.


“Sekali setan tetap setan sampai mati hidup mati seratus kali kosong tidak punya hati dan mata kaki seperti kaki setaaan!” teriak wanita gila itu tiba-tiba lagi. (RH)


YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.

__ADS_1


__ADS_2