Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 48: Kesaktian Baru


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*   


 


Kini Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara tergeletak terlentang di pinggir kubangan tanah besar tanpa bergerak sedikit pun. Gerak halus dari dada yang bisa menunjukkan bahwa dia masih bernapas, tidak terlihat. Dari pencahayaan api yang masih membakar potongan-potongan kayu pohon, terlihat wajahnya pucat seperti mayat berhias darah yang belepotan.


Di barisan Pasukan Genggam Jagad terjadi kecemasan yang luara biasa.


“Gusti Ratu! Gusti Ratu!” Anggota Pasukan Genggam Jagad berteriak-teriak memanggil dari atas punggung kuda mereka.


“Apakah Gusti Ratu tewas?” tanya yang lain.


“Pasukaaan! Siapa ratu kitaaa!” teriak Panglima Besar Anjengan penuh emosional dan sepasang mata berkaca-kaca.


“Ratu Silumam!” teriak seluruh Pasukan Genggam Jagad yang hadir pada malam itu. Sebagian berteriak dengan mata berkaca-kaca.


Suara mereka bahkan mengejutkan Tengkorak Burung Putih dan Tengkorak Manis Putih, tapi tidak mengejutkan Tengkorak Sabit Putih.


“Ratu Siluman tidak akan mati muda! Dia ditakdirkan menguasai jagad persilatan! Sebut namanya!” teriak Anjengan lagi.


“Ratu Siluman!” teriak Pasukan Genggam Jagad.


“Sebut namanya!”


“Ratu Siluman!”


“Sebut namanya!”


“Ratu Siluman!”


Sejumlah mata anggota Pasukan Genggam Jagad sudah meneteskan air beningnya. Teriakan mereka terus menggema ke seantero area itu, menunjukkan betapa dalamnya rasa abdi pasukan itu kepada Alma Fatara.


Sementara itu, Tengkorak Burung Putih dan Tengkorak Manis Putih bersikap dingin. Keduanya memandangi tubuh Alma Fatara yang diam setelah setengah menit berlalu.


“Burung Putih, pastikan bahwa anak itu telah mati. Ambil Bola Hitam!” kata Tengkorak Manis Putih setengah berbisik kepada Tengkorak Burung Putih.


“Baik,” ucap Tengkorak Burung Putih.


Namun, sebelum kakek pakar burung itu berjalan mendekati tubuh Alma Fatara yang masih terlihat begitu cantik, dari belakang Pasukan Genggam Jagad tiba-tiba melesat sosok wanita cantik jelita berpakaian putih.


“Kekasihku!” pekik terkejut Arung Seto tanpa sadar apa yang diucapkannya. Namun, ia buru-buru membekap mulutnya sendiri.


Beruntung suasana hati Pasukan Genggam Jagad sedang gelisah, jadi tidak ada yang mengindahkan ucapan pemuda tampan itu.


Wanita cantik yang tidak lain adalah Ineng Santi itu, mendarat di dekat tubuh Alma Fatara. Ia langsung menghadap kepada Tengkorak Burung Putih dan Tengkorak Manis Putih. Hal itu membuat Tengkorak Burung Putih mengurungkan niatnya.


“Hormatku kepada Kakek Burung dan Nenek Manis,” ucap Ineng Santi menghormat santun kepada kedua lawan Alma Fatara.


Sementara di sisi lain.

__ADS_1


“Apakah orang yang ingin membunuh Raja Tanpa Gerak sudah mati?” tanya seorang wanita tua bungkuk berpakaian serba putih kepada Tengkorak Pengendali Sukma, Tengkorak Sentuh Lenyap dan Tengkorak Tongkat Kepang.


Nenek bungkuk bertongkat pendek itu muncul begitu saja di depan ketiga Tengkorak yang sejak tadi menjadi penonton yang baik. Nenek itu tidak lain adalah Ratu Tengkorak, salah satu anggota Keluarga Tengkorak yang menentang dendam terhadap Ratu Siluman.


Ratu Tengkorak datang tidak seorang diri. Ia bersama seorang wanita berjubah biru terang. Usianya separuh baya dan terlihat cantik dengan dandanannya yang baik. Rambutnya yang masih hitam ditata dengan rapi dan dihias dua tusuk konde cantik dari emas. Di pergelangan tangan kanannya ada selingkar gelang emas yang salah satu ujungnya berbentuk kepala macan bertanduk. Gelang itu sama bentuknya dengan Gelang Permaisuri Surga yang pernah ditunjukkan oleh Raja Tanpa Gerak di pondoknya.


Ratu Tengkorak datang bersama anaknya yang bernama Putri Tengkorak, pewaris salah satu bagian Gelang Permaisuri Surga.


“Siapa yang ingin membunuh Raja Tanpa Gerak?” tanya Tengkorak Tongkat Kepang terkejut.


“Sabit Putih,” jawab Ratu Tengkorak.


“Benarkah Sabit Putih ingin membunuh Raja Tanpa Gerak?” tanya Tengkorak Pengendali Sukma tidak percaya. Sebab, meski Raja Tanpa Gerak tidak memakai julukan nama “Tengkorak”, pada dasarnya dia adalah bagian dari Keluarga Tengkorak.


“Ineng Santi sudah menceritakan kepada kami, Sabit Putih secara licik mengutus pembunuh bayaran tingkat tinggi ke Bukit Selubung. Dia menginginkan Gelang Permaisuri Surga,” jawab Ratu Tengkorak.


Terkesiaplah ketiga Tengkorak itu.


“Karena itulah Ratu Siluman mendatangi Paman Sabit Putih untuk menuntut nyawa,” kata Putri Siluman pula. “Setengah bulan yang lalu, Paman Sabit Putih sangat mendesakku ingin meminjam Gelang Permaisuri Surga dariku, tapi tidak aku berikan.”


Tengkorak Pengendali Sukma, Tengkorak Sentuh Lenyap dan Tengkorak Tongkat Kepang jadi manggut-manggut tanda mengerti, bukan karena terkantuk-kantuk.


“Lihatlah, Sabit Putih sudah dibunuh oleh Ratu Siluman. Dan Ratu Siluman sudah dibunuh oleh mereka berdua,” ujar Tengkorak Tongkat Kepang.


Sementara di arena pertarungan yang sudah hancur tanahnya, Ineng Santi sedang berdialog sepatah dua patah kata dengan kakek dan nenek jauhnya.


“Kenapa kau berada di pihak Ratu Siluman, Ineng?” tanya Tengkorak Manis Putih.


“Ratu Siluman telah menolong aku dan kakekku dari upaya pembunuhan yang diperintahkan oleh Kakek Sabit Putih,” jawab Ineng Santi.


Terkesiaplah kedua orang tua tersebut.


“Kedatangan Ratu Siluman ke sini memang bertujuan menagih nyawa Kakek Sabit Putih, bukan karena undangan yang dilayangkan oleh Nenek Ratu maut,” tambah Ineng Santi.


“Aku curiga kau membual, Ineng,” tukas Tengkorak Manis Putih. Lalu tanyanya, “Apa alasan bagi Sabit Putih berniat membunuh kau dan Raja Tanpa Gerak.”


“Kakek Sabit ingin merebut Gelang Permaisuri Surga,” jawab Ineng.


“Kau memfitnah Sabit Putih, Ineng!” tuding Tengkorak Manis Putih marah. Ia tersinggung mendengar mantan suaminya dituduh seperti itu.


“Melalui tangan Bandar Bumi, Kakek Sabit menyewa Lima Pembunuh Gelap untuk membunuh kami. Namun, Lima Pembunuh Gelap kami kalahkan dan mereka mengakui tujuan di balik upaya pembunuhannya, yaitu ingin merebut Gelang Permaisuri Surga. Lima Pembunuh Gelap tidak mungkin mengetahui tentang gelang itu, tapi hanya Eyang Kubur Biru dan Kakek Sabit yang tahu. Tidak mungkin Eyang Kubur Biru yang memerintahkan pembunuhan itu. Kini tiga dari pembunuh itu sudah mengabdi kepada Ratu Siluman. Mereka ada di dalam pasukan itu,” tutur Ineng Santi.


Tengkorak Burung Putih dan Tengkorak Manis Putih lalu menengok memandang ke arah Pasukan Genggam Jagad yang sudah tidak berteriak-teriak.


“Gusti Ratu bersinar!” teriak kencang Gede Angin tiba-tiba sambil menunjuk ke arah tubuh Alma Fatara yang tidak jauh dari kaki Ineng Santi.


Semuanya langsung melemparkan pandangannya ke sosok Alma Fatara dengan tegang.


Benar teriakan Gede Angin, pada tangan dan kepala Alma Fatara muncul aliran sinar biru seperti listrik yang genit, karena munculnya sesekali.

__ADS_1


“Ratu Siluman hidup! Siapa ratu kita?!” teriak Anjengan girang.


“Ratu Siluman!” teriak Pasukan Genggam Jagad lagi. Kali ini mereka berteriak sambil tersenyum. Mereka sudah yakin bahwa ratu mereka belum mati.


“Siapa kita?!” teriak Anjengan lagi.


“Pasukan Genggam Jagad!” teriak pasukan.


“Hua hua hua!”


“Hua hua hua!”


“Wik wik wik wik wik!”


“Wik wik wik wik wik!”


“Hahaha …!” Pada akhirnya pasukan itu tertawa bersama, seolah kebahagiaan itu sederhana, yaitu asal pemimpin mereka hidup.    


Terlihat kini pada tubuh Alma Fatara semakin banyak diselimuti aliran sinar biru seperti aliran listrik yang banyak.


“Hahaha!”


Tiba-tiba Ineng Santi dan kedua kakek nenek itu mendengar suara tawa yang pelan. Itu berasal dari Alma Fatara. Ineng Santi bisa melihat dengan jelas wajah Alma Fatara yang tertawa dengan mata tertutup.


Tangan Alma Fatara tiba-tiba bergerak dan menyeka wajahnya yang kotor oleh darah.


“Gusti Ratu bergerak!” teriak Penombak Manis keras.


“Hua hua hua!” teriak Anjengan lebih semangat.


“Hua hua hua!” teriak Pasukan Genggam Jagad pula dengan penuh gembira.


“Hiaaat!” teriak Tengkorak Burung Putih keras sambil berkelebat di udara dengan kepalan tinju yang dihentak. Dia sepertinya tidak mau memberi kesempatan kepada Alma Fatara untuk bangkit dan menghimpun kekuatan baru.


Suus!


Sinar putih berwujud kepala burung melesat cepat dari sisi atas kepada Alma Fatara yang masih terbaring di tanah.


Srass!


Serangan itu membuat Alma Fatara membuka sepasang matanya. Bukan bola mata indah yang tersingkap, tetapi bola mata yang bersinar biru terang.


Zerzzr! Bluuar!


Pada saat yang sama, tangan kanan Alma Fatara bergerak dengan jari-jari menegang. Maka dari kelima ujung jari itu melesat lima aliran listrik biru yang menusuk sinar putih milik Tengkorak Burung Putih.


Sinar putih dibuat meledak hebat di udara.


“Huakr!” pekik Tengkorak Burung Putih dengan tubuh yang terlempar deras bersama semburan darah dari dalam mulutnya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2