Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 10: Tidak Semudah Belajar Bercinta


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*


“Bagaimana keadaanmu, Kakang Api?” tanya Ineng Santi kepada Tengkorak Api yang sudah dalam kondisi terlentang, setelah sebelumnya berakhir tengkurap usai ditaklukkan oleh Alma Fatara.


“Sakit sekali. Rasanya seperti mau mati,” ucap Tengkorak Api mengerang.


“Jika Kakak Ineng masih menginginkannya hidup, minta Bocah Tabib mengobatinya!” sahut Alma Fatara kepada Ineng Santi.


Mendadak Arung Seto yang tampannya tidak kalah dari Tengkorak Api mendatangi Ineng Santi. Hal itu membuat Nining Pelangi mendelik di kejauhan.


“Apakah kau perlu bantuan, Ineng Cantik? Oh, maksudku Ineng Santi. Hahaha!” tanya Arung Seto pakai sedikit rempah menggoda.


“Oh iya. Hihihi!” tawa Ineng Santi yang merasa tergoda, membuatnya terlihat semakin manis. “Tolong angkat Kakang Api ke kereta.”


“Baik,” ucap Arung Seto.


Pemuda putra adipati itu lalu meraih tubuh Tengkorak Api.


“Aak!” jerit Tengkorak Api saat perutnya mendapat tekanan dari Arung Seto yang disengaja.


“Kenapa, Kakang?” tanya Ineng Santi cemas.


“Tidak apa-apa. Lukanya sedikit tersentuh.” Yang menjawab justru Arung Seto.


“Pelan-pelan, Kakang,” pesan Ineng Santi kepada Arung Seto.


“Iya.”


Arung Seto kembali meraih tubuh Tengkorak Api, kali ini dia perlakukan dengan pelan-pelan karena gadis jelita itu begitu memerhatikan, khawatir jika Tengkorak Api kesakitan lagi.


Arung Seto mengangkat Tengkorak Api dengan kedua lengannya.


“Kakang Arung!” panggil Nining Pelangi kencang tiba-tiba.


Panggilan yang disertai kemunculan Nining Pelangi di dekat Arung Seto mengejutkan si pemuda.


Bluk!


“Aaak!” jerit Tengkorak Api panjang karena tubuhnya dilepas begitu saja dari gendongan dan jatuh ke tanah.


“Kakang Api!” pekik Ineng Santi terkejut.


“Hahahak …!” tawa Alma Fatara dan pasukannya yang menyaksikan insiden tersebut.


“Apa yang Kakang Arung lakukan? Biarkan saja Ineng Santi mengurusnya sendiri!” omel Nining Pelangi sambil menarik lengan kekasihnya.


Arung Seto hanya diam tanpa bisa membantah kemauan Nining Pelangi.


“Kau tidak apa-apa, Kakang?” tanya Ineng Santi cemas sambil berlutut di sisi tubuh Tengkorak Api.


“Rasanya seperti ingin mati,” keluh Tengkorak Api sambil mengerenyit kuat.


“Biar aku saja yang mengangkatnya, Ineng,” kata Aliang Bowo mendadak muncul di dekat Ineng Santi.


“Eh eh eh!” Tiba-tiba Kalang Kabut muncul menahan bahu Aliang Bowo dari belakang. “Jangan sampai kau melukai cita Desah Rindang, Aliang. Lihatlah kekasihmu sedang memandangimu.”

__ADS_1


Aliang Bowo terpaksa memandang kepada Pasukan Sayap Pelangi yang sudah bergerak berjalan, di mana panglimanya memimpin sambil menggandeng Arung Seto. Di dalam pasukan itu ada Desah Rindang yang memang memandang ke arah Aliang Bowo.


“Biar aku saja yang membantu, karena aku belum punya kekasih, jadi tidak ada yang cemburu,” ujar Kalang Kabut kepada Ineng Santi.


“Terima kasih, Kakang,” ucap Ineng Santi. “Tolong bawa Kakang Api ke kereta kuda.”


Kalang Kabut lalu mengangkat tubuh Tengkorak Api dengan pelan-pelan, agar dia terlihat ikhlas membantu di depan mata Ineng Santi.


“Kakang Kalang Kabut, tindakanmu telah mematahkan hati sahabatku!” seru Aren Jingga yang berjalan bersama Bayu Semilir si tomboy.


“Aku kira lelaki setia, ternyata semua lelaki berbeda-beda tetapi satu selera, yaitu selera yang lebih cantik,” celetuk Bayu Semilir yang bertujuan hanya untuk mengusik Kalang Kabut.


“Kalian jangan menjatuhkan harga diriku di depan Ineng!” kata Kalang Kabut yang sudah meletakkan tubuh Tengkorak Api di kereta kuda bak terbuka, tepat di sisi Kulung.


Kalang Kabut lalu menarik tawanan Rawit Ireng turun dari kereta kuda dan memaksanya berjalan mengikuti tarikan tali dalam kondisi mata ditutup.


Sementara itu, Ineng Santi meminta jasa Belik Ludah agar mengobati Tengkorak Api di kereta.


Sedangkan Pasukan Genggam Jagad terus berjalan melanjutkan perjalanan menuju Kademangan Kubang Kepeng. Formasi barisan diupayakan seperti sebelumnya.


Aren Jingga dan Bayu Semilir segera pergi memisahkan diri dari rombongan untuk melaksanakan tugasnya sebagai pasukan bayangan yang tidak terlihat.


Panglima Tampang Garang dan Senyumi Awan sudah memisahkan diri sejak tadi. Keduanya berjalan santai bersama agak jauh di sebelah kanan rombongan Pasukan Genggam Jagad.


“Sebenarnya Kakang Garang tidak perlu repot-repot membawa busur besar itu, karena Busur Penusuk Langit peninggalan guruku itu bisa dihilangkan,” kata Senyumi Awan.


“Maksudmu dihilangkan bagaimana, Awan?” tanya Tampang Garang agak kikuk, membuat Senyumi Awan terus tersenyum.


“Disimpan di dalam tubuh dan baru dikeluarkan jika dibutuhkan,” jelas Senyumi Awan.


“Oh, bisa seperti itu?” kejut Tampang Garang dengan wajah melongonya.


“Iya iya iya, sangat mau!” ucap Tampang Garang cepat seperti lelaki yang terhipnotis oleh kecantikan.


“Pertama, genggam busurnya biasa saja,” kata wanita cantik itu.


“Seperti ini?” tanya Tampang Garang sambil menunjukkan genggamannya pada busur biru terang peninggalan mendiang Kebo Puteh.


“Tapi jarinya agak direnggangkan, Kakang,” kata Senyumi Awan lalu membenarkan posisi jari-jari tangan kiri Tampang Garang.


Seeer!


Berdesirlah darah lelaki Tampang Garang saat tangannya mendapat sentuhan dari jemari tangan Senyumi Awan. Ada rasa ‘ser-ser’ yang menjalar ke mana-mana. Sepasang matanya agak terbeliak, bukan karena keenakan, tetapi karena terkejut.


“Kakang kenapa?” tanya Senyumi Awan saat melihat ketegangan pada lelaki mantan anggota bajak laut itu. Ia melihat dahi berjerawat Tampang Garang berkeringat halus.


“Eh, ti-ti-tidak apa-apa. Tiba-tiba terasa begitu panas,” jawab Tampang Garang kelabakan.


“Hihihi!” tawa Senyumi Awan yang sebenarnya bisa menerka apa yang sedang melanda panglimanya itu.


Bagaimana tidak terguncang jiwa seorang lelaki semodel Tampang Garang, jika seorang dewi yang begitu cantik menyentuh tangannya yang sangat kasar dengan dimanjakan aroma tubuh yang harum lagi lembut di penciuman?


“Posisi jari-jari seperti ini. Lalu Kakang salurkan tenaga dalam secara bertahap ke bahu, tahan satu tarikan napas, lalu salurkan lagi ke siku, tahan satu tarikan napas, lalu ke genggaman. Silakan Kakang Garang coba,” tuntun Senyumi Awan sambil menyentuh bahu, siku dan kembali ke jemari panglimanya.


Setiap kali tangan Senyumi Awan menyentuhnya, seolah menjadi sengatan yang menyuntikkan kebahagiaan.

__ADS_1


Tampang Garang lalu mencoba mempraktikkan arahan Senyumi Awan dalam kondisi jantung berdebar kencang. Diam-diam dia merasakan kebahagiaan di dalam hatinya yang merahnya seolah sedang berubah jadi merah muda. Saat itu juga, rasa ingin memiliki Senyumi Awan, rasa sangat sayang kepada wanita yang murah tawa itu, tiba-tiba muncul mendominasi hati dan pikirannya.


“Tidak terjadi apa-apa,” ucap Tampang Garang setelah mencoba.


“Tentunya tidak semudah belajar bercinta, Kakang. Hihihi …!” kata Senyumi Awan lalu tertawa panjang begitu renyah.


Perkataan wanita berpakaian merah itu membuat Tampang Garang jadi tersenyum malu, sehingga terlihat lucu di mata Senyumi Awan.


“Apa yang kau tertawakan, Ketua?” tanya seorang wanita cantik berpakaian jingga, seiring aroma harum yang tidak biasa tercium oleh mereka.


Wanita yang datang dari arah belakang itu tidak lain adalah Aren Jingga, yang bisa mempermainkan aroma wangi tubuhnya untuk membius. Arung Seto dan Gede Angin pernah menjadi korbannya. Namun bagi Tampang Garang, ia sudah terbiasa karena sering berkumpul dengan kesepuluh wanita cantik murid mendiang Kebo Puteh itu.


“Tidak, aku hanya mengajarkan Panglima cara menghilangkan Busur Penusuk Langit,” jawab Senyumi Awan.


“Aku kira kalian sepakat menjalin cinta, sebab tawamu begitu bahagia,” kata Aren Jingga.


“Hihihi!” Senyumi Awan hanya tertawa tanpa menyangkal. Lalu katanya kepada Tampang Garang, “Terus dilatih, Kakang. Nanti Kakang akan merasakan sendiri perubahannya.”


“Baik,” ucap Tampang Garang seraya tersenyum ikhlas.


“Hmm, sekarang menyebut Panglima pakai Kakang,” goda Aren Jingga sambil mencolek lambung Senyumi Awan.


“Hihihi! Ayo, kita laksanakan tugas!” ajak Senyumi Awan sambil berjalan menarik tangan Aren Jingga.


Gadis berpakaian jingga itu menuruti tarikan seniornya, tapi pandangan dan wajahnya menengok kepada Tampang Garang sambil tersenyum lebar, memberi lirikan yang menggoda.


Tampang Garang hanya tersenyum paksa, memperlihatkan gigi-gigi besarnya. Meski dia dilanda kekikukan, tetapi jiwanya dilanda badai bahagia. Sampai-sampai serasa ingin pipis di celana.


“Hahahak …!” tawa Tampang Garang sendirian setelah kedua wanita cantik itu berkelebat pergi mengawal pasukan sang ratu dari sisi yang tidak terlihat.


Tampang Garang tiba-tiba berjoget kaku di tempat. Kedua kakinya tidak bergerak, tapi kedua tangannya ditekuk di depan dada lalu berjoget samar mengiringi wajahnya yang tertawa begitu bahagia.


Namun, bagi Janda Belia yang datang dari arah belakang, ia jelas-jelas melihat panglimanya sedang berjoged tanpa iringan gamelan.


“Panglima!” panggil Janda Belia dari belakang.


“Eh!” pekik Tampang Garang terkejut yang langsung menengok ke belakang. Sontak jogedannya berhenti.


“Sedang apa?” tanya Janda Belia dengan tatapan menyelidik dan bibir tersenyum setipis kulit bawang.


“Ah tidak, aku hanya sedang berlatih. Hahaha!” jawab Tampang Garang salah tingkah lalu tertawa hambar.


“Cara berlatih yang unik,” komentar Janda Belia curiga.


“Hehehe! Ayo, kita lanjutkan perjalanan,” kata Tampang Garang cengengesan. Ia benar-benar memendam rasa malu kepergok berjoged tidak jelas.


Keduanya lalu berjalan pergi bersama.


Untuk menghilangkan kecanggungan, Tampang Garang mencoba sharing kepada Janda Belia.


“Barusan Senyumi Awan mengajarkanku cara menyimpan Busur Penusuk Langit ini, tapi aku belum langsung bisa. Jadi, harus sering-sering dicoba,” ujar Tampang Garang.


“Benar, Panglima. Belajar menghilangkan atau memunculkan pusaka ini tidak semudah belajar bercinta,” kata Janda Belia serius.


Lagi-lagi Tampang Garang terbeliak mendengar kalimat yang sama, yaitu “tidak semudah belajar bercinta”. Meski Janda Belia tidak seakrab Senyumi Awan, tapi tetap saja membuat darah lelaki Tampang Garang berdesir.

__ADS_1


“Belia, kau jalanlah lebih dulu, aku mau kencing dulu,” kata Tampang Garang salah tingkah. Lalu buru-buru pergi meninggalkan Janda Belia.


Mantan kekasih Golono itu hanya tertawa kecil melihat sikap panglimanya yang lucu, tidak seperti wajahnya yang sangar. (RH)


__ADS_2