
*Episode Terakhir (PITAK)*
Orang-orang berpedang berpakaian cokelat segera bergerak mundur. Beberapa orang harus dipapah karena menderita luka. Sementara rekan yang sudah mati disuruh mengurus diri sendiri alias ditinggalkan.
Kelabang Wesi lalu berlari pergi bersama rekan-rekan dan anak buahnya meninggalkan rombongan yang gagal mereka begal. Hingga akhirnya mereka hilang di ujung jalan
“Terima kasih atas bantuan Pendekar,” ucap seorang pemimpin prajurit yang bertubuh lebih gagah dan kekar daripada prajurit yang lainnya.
“Siapa kalian? Dari mana dan mau ke mana?” tanya Anjengan paket lengkap.
“Namaku Rebus Udek. Kami prajurit Adipati Abirmeta. Kami dari penambangan dan menuju ke Rangkas Balok,” jawab pemimpin prajurit tersebut.
“Lalu siapa mereka?” tanya Anjengan lagi.
“Aku tidak tahu. Baru kali ini kami diserang oleh kelompok berbaju cokelat. Sepertinya mereka kelompok perampok biasa,” jawab Rebus Udek.
“Sepertinya mereka akan menunggu di depan sana,” kata Cucum Mili. Lalu katanya kepada Rebus Udek, “Kelompok perampok itu takut ketika mereka melihat ketiga orang sakti kami. Jika kalian mau, ketiga pendekar kami akan mengawal kalian sampai ke tempat yang aman, tapi dengan bayaran.”
“Tapi, kami bayar dengan emas kasar karena kami tidak memiliki uang,” kata Rebus Udek.
“Bagaimana, Ireng Cadas?” tanya Cucum Mili kepada Ireng Cadas.
“Setuju,” jawab Ireng Cadas.
Maka terjadilah kesepakatan. Tiga Penjaga Emas pergi mengawal rombongan prajurit Kadipaten Gulangtara. Cucum Mili dan Anjengan kembali naik ke jalan atas dan melapor, termasuk keputusan mengizinkan Tiga Penjaga Emas mengawal rombongan tersebut.
Ternyata benar dugaan Cucum Mili. Kelabang Wesi dan kelompoknya menunggu rombongan prajurit di depan sana. Namun, karena melihat rombongan pembawa batu emas itu dikawal oleh Tiga Penjaga Emas, terpaksa Kelabang Wesi mungurungkan niatnya. Ia lebih sayang nyawanya daripada nekat melawan tiga mantan pembunuh bayaran tersebut.
Setelah rombongan prajurit itu sampai di wilayah yang dinilai aman, Tiga Penjaga Emas mengakhiri tugasnya dan mendapat bayaran berbentuk batu emas. Bagi Rebus Udek, hilang sebongkah dua bongkah batu emas tidak menjadi masalah, itu tidak akan diketahui oleh atasannya.
Ireng Cadas, Ireng Gempita dan Ireng Kemilau lalu pergi untuk mengejar rombongan ratunya. Sebagai orang sakti, bukan perkara sulit untuk mengejar pasukan yang berjalan kaki.
Alma Fatara dan rombongan terus berjalan dengan satu tujuan, yaitu menuju ke Tanah Kutukan.
“Setahuku, Adipati Abirmeta kaya raya karena pengolahan emasnya. Desas desus mengatakan bahwa ia menggelapkan lebih banyak daripada yang dikirim ke Kerajaan Singayam,” kata Ratu Tengkorak selagi dalam perjalanan.
“Orang itu selayaknya mati. Dia menerapkan pajak yang lebih tinggi dibandingkan aturan dari Kerajaan. Para petani selalu hidup miskin. Syukur-syukur jika panen melimpah, tapi jika panen hanya pas-pasan, petani justru merugi,” kata Tengkorak Pedang Siluman.
“Rupanya Nenek peduli juga,” kata Alma Fatara.
__ADS_1
“Sembarangan! Aku memang mendendam kepadamu, Gusti Ratu, tapi bukan berarti aku orang jahat,” rutuk Tengkorak Pedang Siluman.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara.
“Oh ya, Nek. Jika Kakek Tengkorak Sabit Putih mati, maka dia memiliki anak-anak yang bisa mendendam. Lalu bagaimana dengan Kakek Tengkorak Pedang Kilat. Apakah istri dan anak-anaknya tidak mendendam?”
“Kau tahu ceritanya kenapa Raja Tanpa Gerak tidak menyandang gelar Tengkorak?” tanya Ratu Tengkorak.
“Tidak, Nek,” jawab Alma Fatara.
“Pedang Kilat bercerai dengan istrinya. Kemudian istrinya dinikahi oleh Raja Tanpa Gerak hingga memiliki anak. Ternyata Pedang Kilat memendam cemburu tinggi sejak lama. Pada satu kesempatan, mantan suami istri itu bertemu. Pedang Kilat membunuh mantan istrinya yang saat itu adalah istri Raja Tanpa Gerak. Ketika Raja Tanpa Gerak ingin membalas dendam, hampir semua anggota Keluarga Tengkorak justru membela Pedang Kilat. Hal itu terjadi karena Pedang Kilat bisa meyakinkan Keluarga Tengkorak bahwa dirinya tidak bersalah, tapi ia hanya membela diri. Cerita itu diperkuat dengan adanya saksi palsu. Karena alasan itulah Raja Tanpa Gerak menjauh dari Keluarga Tengkorak,” kisah Ratu Tengkorak.
“Jadi Adikku itu tidak memiliki anak. Ia pun tidak berani menikah lagi karena takut mengalami rumah tangga yang buruk seperti sebelumnya,” tambah Tengkorak Pedang Siluman.
“Jika Kakek Raja Tanpa Gerak menjauh dari Keluarga Tengkorak, kenapa dia mewarisi Gelang Permaisuri Surga?” tanya Alma Fatara kritis.
“Dia dan putriku adalah kesayangan Eyang Kubur Biru,” jawab Ratu Tengkorak.
Tidak terasa malam pun kembali menjelang. Alma Fatara pun memerintahkan pasukannya beristirahat di area yang tidak jauh dari sebuah sungai yang lebar tapi cetek, bahkan pada bagian tengah ada endapan pasir dan bebatuan.
Jika bermalam di alam bebas, para panglima segera mengatur tugas bagi pasukannya, siapa yang cari makanan, siapa yang masak, siapa yang menyiapkan tempat tidur, siapa yang ambil air, siapa yang mengupulkan kayu, siapa yang membuat api unggun, siapa yang berjaga, sampai siapa yang membuat kamar asmara.
“Buatkan kamar asmara khusus buat Juling Jitu dan Penombak Manis!” perintah Alma Fatara beberapa saat sebelumnya.
“Mereka itu suami istri. Sudah sewajarnya jika mereka berbagi asmara. Jika kau ingin, harus menikah dulu dengan Geranda,” kata Alma Fatara.
“Hehehe! Nanti aku pikirkan,” kata Anjengan cengengesan dengan pipi bakpao yang memerah.
Malam itu, Kembang Bulan mendapat tugas hanya berlatih di bawah pengajaran Cucum Mili. Hal itu memancing trio gendut untuk menonton. Kecantikan Kembang Bulan jelas menjadi daya tarik yang tinggi bagi trio gendut. Namun, faktor utama yang mendorong mereka mendekat ke tempat latihan adalah mereka bercita-cita jadi pendekar juga.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Cucum Mili kepada ketiga lelaki yang baru duduk bersila di rumput yang gelap, karena hanya ada satu obor di tempat itu.
“Me-me-menonton, Gusti Panglima,” jawab Betok tergagap, takut salah.
“Aku tahu, tapi kenapa kalian menonton?” tanya Cucum Mili lagi.
“Kami sangat suka melihat ilmu olah kanuragan. Hehehe!” jawab Jungkrik sambil tertawa cengengesan.
“Apakah kalian bisa bertarung?” tanya Cucum Mili.
“Bisa!” jawab mereka serentak penuh semangat.
__ADS_1
“Kau, kau, coba kalian bertarung!” perintah Cucum Mili sambil menunjuk Betok dan Jungkrik.
Betok dan Jungkrik segera bangun berdiri dan maju. Sementara Kungkang bertepuk tangan sambil tertawa.
“Ayo, Betok! Ayo, Jangkrik! Tunjukkan kejandaanmu. Eh ealah, tunjukkan kejantananmu!” teriak Kungkang memberi semangat.
Sementara itu, Kembang Bulan tetap fokus dengan latihannya.
Betok dan Jungkrik sudah berdiri saling berhadapan. Keduanya memasang kuda-kuda dengan tatapan yang saling menusuk, seolah-olah keduanya adalah musuh bebuyutan.
“Mulai!” seru Cucum Mili.
“Hiaaat!” pekik Betok sambil berlari maju.
“Hiaaat!” pekik Jungkrik pula dan berlari maju.
Bung!
Keduanya bertabrakan saling adu perut. Keduanya sama-sama terjengkang. Lalu buru-buru bangkit dan saling memeluk. Oh, bukan saling memeluk, tapi saling mencekik.
Betok mencekik leher Jungkrik dengan ketiaknya, sementara Jungkrik mencekik paha kanan Betok dan mengangkatnya, sehingga Betok hilang keseimbangan.
Buk!
Keduanya jatuh bersama. Lalu saling mencekik lagi dan berguling-gulingan seperti kucing mandi debu.
“Ayo hajar hidungnya! Cekik perutnya! Ayo semangka. Eh ealah, ayo semangat maksudku!” teriak Kungkang jadi suporter tunggal.
Kedua orang gendut itu berkelahi benar-benar seperti anak kecil, bolak-balik di atas rumput.
“Sudah, sudah, sudah!” perintah Cucum Mili yang kecewa melihat pertarungan keduanya.
Betok dan Jungkrik pun berhenti bergulat dengan napas yang tersengal-sengal serta wajah dan leher berkeringat.
“Bagaimana, Gusti Panglima?” tanya Jungkrik sumringah.
“Pergilah istirahat. Aku khawatir tubuh kalian nanti akan sakit semua. Jika kalian tidak ada tugas, besok malam kalian ikut berlatih,” perintah Cucum Mili.
“Holeee! Hahaha!” sorak trio gendut begitu girang sambil berpelukan dan loncat-loncat di tempat.
“Terima kasih, Gusti Panglima, terima kasih!” ucap mereka begitu senang.
__ADS_1
Cucum Mili hanya mengangguk dan tersenyum di balik cadarnya.
Trio gendut lalu berbalik pergi sambil tertawa-tawa. Sepertinya malam ini mereka tidak akan bisa tidur karena memilikirkan julukan apa yang pantas kelak mereka sandang. (RH)