Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 21: Pergerakan Malam di Sungai


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


Tanpa menunggu malam harus berlalu ke pagi, Alma Fatara meminta pertemuan dengan pemimpin para pengungsi warga Ibu Kota itu.


Selain dengan Bujang Atong, ada dua tokoh lain yang memimpin para pengungsi, yaitu Lingga Jati dan Rewa Segili yang menjabat sebagai Komandan Pasukan Selatan.


Lingga Jati yang memimpin para pengungsi. Ia adalah juragan ikan di Ibu Kota dan merupakan ayah dari Balingga yang saat ini mengabdi di Kerajaan.


Adapun Rewa Segili yang memiliki seratus prajurit dalam pasukannya, ia tidak berada di Ibu Kota saat Bajak Laut menyerang. Ia dan pasukannya bergabung bersama pengungsi setelah mendapat kabar dari utusan pengungsi.


Para pengungsi kini tinggal di sebuah cekungan tanah berumput yang cukup besar di daerah berhutan. Tempat mereka termasuk lokasi besar yang tersembunyi seperti sebuah jurang. Kehadiran para prajurit dari Pasukan Selatan milik Kadipaten sangat membantu memberi jaminan keamanan. Pengungsi kebanyakan adalah wanita dan anak-anak.


“Pasukan Ibu Kota saja mereka bunuh semua, jadi aku pun ragu untuk menyerang dengan hanya bermodal seratus prajurit,” ujar Komandan Rewa Segili.


“Apakah Bajak Laut menyandera banyak warga?” tanya Alma.


“Iya. Semua warga yang ditangkap dikumpulkan di alun-alun dekat sungai,” jawab Lingga Jati.


“Apakah kalian tahu nasib Adipati?” tanya Alma.


“Aku tidak tahu,” jawab Lingga Jati.


“Tapi, jika mereka bermaksud menyandera, tentunya Adipati tidak akan dibunuh, karena Adipati adalah orang pentingnya,” kata Bujang Atong yang merupakan ayah dari Ujang Barendo.


“Jika warga ditahan di alun-alun dekat sungai, aku bisa dengan mudah membebaskan mereka malam ini juga. Kita masih memiliki banyak waktu sebelum pagi,” ujar Alma.


“Aku ikut, Alma!” kata Komandan Rewa Segili.


“Menurutku, Paman Rewa lebih baik di sini agar para pengungsi merasa ada yang melidungi. Aku dan teman-temanku akan bergerak di sungai dan membebaskan para sandera menggunakan perahu nelayan. Namun, kami akan membawa warga yang ditahan menuju ke hilir, ke Kademangan Bander,” kata Alma memaparkan rencananya.


“Aku harus ikut, sebab aku tahu di mana perahu para nelayan ditambatkan. Sungai Ibu Kota hanya memiliki satu dermaga yang menjadi pusat pasar ikan,” ujar Lingga Jati sebagai juragan ikan.


“Tapi, apakah Paman bisa bertarung?” tanya Alma.


“Jika disuruh menusuk dari belakang, aku juga bisa,” jawab Lingga Jati lalu menunjukkan kerisnya kepada semua.


“Hahahak!” tawa Alma yang membuat sebagian dari mereka ikut tertawa.


Lingga Jati hanya tersenyum kecut.


“Baiklah, Paman,” kata Alma.


“Tapi, Alma … warga yang ditahan oleh bajak laut itu jumlahnya banyak. Jika hanya beberapa perahu yang kalian gunakan, mungkin itu tidak akan cukup untuk mengangkut semua warga yang akan kita bebaskan,” kata Bujang Atong.


“Benar, benar.” Alma membenarkan. “Baiklah, Paman Rewa Segili ikut bersama sekitar sepuluh prajurit yang bisa mengendalikan perahu. Jika terlalu banyak, mudah terendus. Biar Paman Bujang yang memimpin keamanan di sini.”


“Baik,” ucap Rewa Segili dan Bujang Atong bersamaan.


“Paman Bujang, aku titip Kembang Bulan,” pesan Alma.

__ADS_1


“Tentu, pasti akan aku jaga seperti putriku sendiri. Hahaha!” kata Bujang Atong lalu tertawa jumawa.


“Ayo, kita bergerak tanpa obor!” kata Alma berkomando.


Alma lalu memimpin rombongan setelah Komandan Rewa Segili memilih sepuluh orang prajuritnya. Mereka benar-benar bergerak tanpa ada penerangan selain mengandalkan cahaya langit yang tidak begitu memihak.


Rute yang mereka tempuh tidak begitu sulit, cukup berjalan di sepanjang pinggir sungai menuju hilir. Hanya saja, jarak yang mereka tempuh cukup jauh, karena mereka harus masuk ke Ibu Kota. Mereka pun harus bergerak secara senyap untuk menghindari perhatian anggota bajak laut yang berjaga di sejumlah titik wilayah Ibu Kota.


Formasi rombongan Alma adalah Alma berjalan di depan, lalu Gagap Ayu, Anjengan, Iwak Ngasin, Juling Jitu, Lingga Jati, sepuluh orang prajurit, terakhir Rewa Segili.


Pada satu ketika di dalam perjalanan, Alma tiba-tiba mengangkat tangan kanannya dengan mengepal, memberi tanda agar berhenti dan diam.


Gagap Ayu sigap berhenti dan mengangkat pula tangan kanannya dengan jari-jari mengepal.


Buk! Bduk!


“Aw!” pekik Gagap Ayu saat punggungnya ditabrak lemak sapi sehingga ia tersungkur.


Rupanya Anjengan tidak fokus melihat ke depan, sehingga terjadi kecelakaan.


“Ma-ma-matamu bu-bu-buta?!” bentak Gagap Ayu sewot setelah buru-buru bangkit dari jatuhnya dan menghadap kepada Anjengan.


“Heh, siapa yang buta? Kau saja yang pakai berhenti berjalan. Lidah boleh gagap, tapi kaki jangan ikutan gagap!” balas Anjengan.


“Hahaha! Hei, dua ayam kampung!” hardik Alma yang tidak bisa menahan tawanya pula. “Kita ini sedang menyusup, kenapa kalian malah ribut rebutan Mbah Hitam?”


“Siapa yang merebutkan Mbah Hitam?” bantah Anjengan.


“Ini dua orang perempuan, memang perlu dilempar ke sungai!” kata Iwak Ngasin kesal. “Kami sudah berusaha tidak bersuara sedikit pun, sampai aku menahan-nahan kentutku, kalian malah ribut seperti ayam betina rebutan cacing!”


“Hahahak!” Alma tambah tertawa keras.


“Yah, kacau. Pemimpinnya saja tidak bisa menahan tawa!” rutuk Juling Jitu.


Lingga Jati, Rewa Segili dan kesepuluh prajurit kadipaten, hanya diam menyaksikan tingkah para pendekar itu.


“Kenapa kau berhenti, Ayu?” tanya Anjengan kembali ke masalah awal.


“Ke-ke-kenapa be-be-berhenti, Alma?” Gagap Ayu melempar ke Alma.


“Tadi aku mendengar suara di depan, ternyata Mbah Hitam sedang lewat,” jelas Alma.


Lingga Jati dan Rewa Segili tidak mengerti siapa yang dimaksud Mbah Hitam.


“Ayo lanjut!” seru Juling Jitu.


“Ayo. Ingat, jangan bersuara!” kata Alma mengingatkan.


“Ingat, jangan tertawa!” sahut Iwak Ngasin pula.

__ADS_1


“Hahaha!” Alma justru tertawa mendengar peringatan Iwak Ngasin.


Mereka kembali berjalan. Beruntung, ketika mereka berisik, tidak ada anggota bajak laut yang berposisi di dekat daerah itu.


Cukup lama mereka berjalan menyusuri pinggir sungai. Hanya suara aliran air yang terdengar menjadi irama musik bagi mereka.


“Setelah melewati kelompok pohon bambu, kita akan tiba di dermaga!” sahut Lingga Jati tiba-tiba.


Ssst!


Keempat sahabat Alma yang berjalan di depan Lingga Jati kompak berhenti dan berbalik, sambil mendesis dengan telunjuk ditempelkan di bibir yang monyong.


“Setelah melewati kelompok pohon bambu, kita akan tiba di dermaga!” kata Lingga Jati lagi, tapi kali ini berbisik pelan.


Juling Jitu lalu berbisik dengan kalimat yang sama kepada Iwak Ngasin. Iwak Ngasin juga berbisik yang sama kepada Anjengan. Anjengan lalu berbisik kepada Gagap Ayu.


“Hihihi!” tawa Gagap Ayu karena merasa geli, ketika bibir seksi Anjengan menyentuh telinganya.


“Jangan berisik!” bentak Anjengan berbisik sambil memukul kepala Gagap Ayu.


Kali ini Gagap Ayu tidak marah. Ia lalu berbisik kepada Alma.


Alma Fatara hanya manggut-manggut. Ia lalu melanjutkan perjalanan.


Di depan ada sekelompok pohon bambu yang tumbuh doyong ke arah sungai. Setelah itu, samar-samar mereka melihat ada dermaga papan. Ternyata di sana ada penerangan obor dua batang, tapi jaraknya berjauhan. Api dua obor itu dalam kondisi sakratul maut oleh angin malam.


Namun, tidak terlihat ada orang di dermaga. Di air, ada banyak perahu nelayan yang ditambatkan. Sungai yang cukup besar memang menjadi salah satu sumber mata pencaharian warga Ibu Kota Balongan.


Setelah sempat berhenti di bawah pohon bambu, Alma memberi kode agar kembali berjalan menuju dermaga.


Dak dak dak …!


“Ah … ah … ah …!”


Alma Fatara dan rekan-rekannya mendadak terkejut lalu berhenti melangkah dan bergerak. Mereka tiba-tiba mendengar suara peraduan dua kayu dan wanita mendesah asik berulang-ulang.


“Biar wajahku seburuk lutung, tapi keperkasaanku segagah badak. Hahaha!” kata suara lelaki lalu tertawa.


Suara ******* yang terus berlanjut, ditambah pembicaraan seorang lelaki yang bersemangat, dan suara peraduan dua benda kayu, membuat Alma dan rekan-rekan bisa langsung menerka sumber suara, yaitu dari sebuah perahu yang tertambat.


Sebenarnya Alma ingin langsung tertawa, tetapi ia tahan.


Sangat jelas bahwa ada sepasang manusia yang lelakinya mengaku bermuka lutung, sedang melakukan perbuatan sangat pribadi di sebuah perahu. Gerakan yang mereka buat di dalam perahu membuat perahu itu berulang kali membentur perahu yang lain.


Mereka bisa langsung menduga bahwa ada dua anggota bajak laut yang sedang mencuri cinta di dalam tugasnya, yaitu berjaga di dermaga. (RH)


 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!



__ADS_2