Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 28: Gelombang Mayat


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


 


“Hahahak …!” tawa kelima anak muda di atas perahu itu.


Meski suara tawa mereka berbaur satu dalam satu masa, tetapi suara khas Alma Fatara mendominasi.


Kelima orang di atas perahu itu memang adalah Alma Fatara dan keempat sahabat setianya yang suka bertengkar, tapi juga suka akur. Jadi membingungkan, sebenarnya lebih suka bertengkar atau akur?


“Ka-ka-kalian jangan ha-ha-hanya menertawaiku!” kata Gagap Ayu.


“Hei, kenapa kau tidak suka, Ayu? Seharusnya kau senang, bisa menikah dengan putranya Paman Komandan Rewa Segili!” kata Anjengan.


“Meskipun aku cemburu, tapi aku sebenarnya bahagia, karena aku bisa lebih bebas memikat wanita-wanita yang lebih cantik seperti Kembang Bulan,” kata Juling Jitu.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara yang duduk bersila di ujung depan perahu.


Uniknya, perahu itu bergerak dari arah hilir menuju ke hulu, melawan arus tanpa ada yang mendayung. Kelima anak muda itu benar-benar santai. Tidak ada yang mengerahkan tenaga dalam sedikit pun untuk menggerakkan perahu.


Yang membuat perahu itu bergerak dan melawan arus adalah karena talinya ditarik oleh seekor ular hitam besar yang berenang di permukaan sungai. Siapa pun yang melihat ular besar itu mungkin akan ngeri, ngeri jika dikecup olehnya.


Karena sudah mengabdi, Mbah Hitam harus patuh jika diperintahkan untuk menjadi sebagai apa saja.


Alma Fatara dan kelompoknya harus meluangkan waktu sehari lebih untuk membantu para warga Ibu Kota Balongan agar mendapat tempat yang nyaman di Kademangan Bander. Ternyata tidak mudah mengurus orang banyak. Itu kesimpulan Alma Fatara.


Akhirnya Alma Fatara memutuskan menyerahkan urusan pengungsi kepada Kademangan Bander yang diurus oleh demang setempat, Komandan Rewa Segili dan Lingga Jati.


“Aku pu-pu-punya dua alasan be-be-berat menolak ta-ta-tawaran, Pa-pa-paman Rewa ….”


“Pertama!” seru Iwak Ngasin.


“Aku be-be-berat berpisah de-de-dengan ka-ka-kalian.”


“Kedua!” seru Iwak Ngasin lagi.


“Aku te-te-terlalu ca-ca-cantik buat pu-pu-putranya Pamang Re-re-rewa.”


“Hahahak!” Anjengan tertawa terbahak. Ia memukul kepala Gagap Ayu. “Terlalu cantik? Sepertinya pendengaranku diganggu oleh jurig.”


Gagap Ayu hanya menengok kepada Anjengan sambil merengut serius.


“Gagap Ayu, coba kau sandingkan wajahmu dengan wajah Alma!” kata Iwak Ngasin.


“Si-si-siapa takut?” kata Gagap Ayu lalu bergerak ke dekat Alma.


Alma yang sedang duduk membelakangi mereka, diraih dagunya oleh Gagap Ayu agar menengok. Alma hanya menurut wajahnya ditarik. Gagap Ayu lalu menyandingkan wajahnya dengan wajah jelita Alma Fatara. Ia tersenyum lebar.


“Hahaha …!” tawa Iwak Ngasin, Juling Jitu dan Anjengan melihat tingkah Gagap Ayu. Sementara Alma menahan tawanya.


“Kau jadi terlalu buruk,” kata Iwak Ngasin.


“Aku sepakat denganmu, Ngasin!” seru Juling Jitu.


Seketika Gagap Ayu merengut tingkat dedemit mendengar komentar kedua pemuda sahabatnya itu.

__ADS_1


“Hahahak!” tawa Alma dan Anjengan, memperburuk nasib hati Gagap Ayu.


“Ka-ka-kalian sungguh ke-ke-kejam. Apa su-su-su ….”


“Susu siapa?” potong Juling Jitu cepat.


“Hahahak!” Alma kian tertawa.


“Apa susahnya ka-ka-kalian membuatku ba-ba-bahagia se-se-sedikit saja? Jika bukan anak te-te-tetanggaku, su-su-sudah pasti aku ha-ha-hajar kalian!” gerutu Gagap Ayu.


Sambil tertawa pelan buntut dari tawa kerasnya, Alma mengelus punggung Gagap Ayu.


“Tenang, Ayu. Nanti aku akan menularkan kecantikanku,” hibur Alma.


“Bi-bi-bisa?” tanya Gagap Ayu cepat seraya tersenyum, seolah melihat sinar harapan yang terang.


“Tidak,” jawab Alma singkat.


“Hahahak …!” Meledaklah tawa mereka.


“Nanti jika aku tahu caranya, aku pasti menularkan kecantikanku. Hahaha!” kata Alma.


“Untung Pa-pa-paman Lingga memberi ta-ta-tahu bahwa pu-pu-putra Paman Rewa giginya me-me-menjorok ke de-de-depan,” kata Gagap Ayu penuh perjuangan untuk menyempurnakan kalimatnya.


“Gusti Ratu!” teriak satu suara kakek-kakek tiba-tiba. Itu adalah suara Mbah Hitam.


Dug! Dug!


Baru saja mereka terkejut oleh panggilan kencang Mbah Hitam di depan sana, tiba-tiba perahu mereka bersuara pelan seperti menabrak kayu, tetapi lebih lunak.


Alma dan keempat sahabatnya segera memusatkan perhatian ke arah depan. Mereka semua terkejut.


Beberapa di antaranya membentur bawah perahu. Alma Fatara dan keempat sahabatnya kompak berdiri di perahu untuk melihat lebih jelas. Darah mereka masih terlihat ada yang keluar mengalir dan buyar oleh air.


Ada pula beberapa tameng kayu yang ikut hanyut.


“Itu seperti mayat prajurit,” kata Iwak Ngasin.


“Mereka prajurit Kerajaan Singayam,” kata Alma.


“Itu berarti pasukan Singayam sudah tiba di Balongan?” terka Juling Jitu, tapi tidak yakin.


“Sepertinya,” jawab Alma.


Mayat-mayat prajurit itu terus hanyut. Ternyata, di depan sana masih bermunculan mayat-mayat prajurit yang lain.


“Mbah Hitam, percepat!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!” sahut Mbah Hitam.


Ular hitam besar itupun mempercepat liukan di permukaan air. Perahu pun tertarik lebih kencang.


Puluhan mayat yang mereka temui hanyut semuanya itu berseragam sama, belum terlihat satu pun yang berpakaian beda.


“Pasukan Kerajaan Singayam sedang dibantai!” desis Iwak Ngasin.

__ADS_1


“Iwak Ngasin! Juling Jitu! Kalian lewat atas!” perintah Alma Fatara.


“Baik!” jawab kedua pemuda itu dengan semangat berjuang yang menyala-nyala.


Iwak Ngasin dan Juling Jitu lalu melompat meninggalkan perahu. Mereka melompat dengan menjadikan mayat yang hanyut sebagai pijakan dalam bertolak untuk sampai ke jalan pinggir sungai. Setelahnya, kedua berlari kencang menuju ke Ibu Kota Balongan.


Sementara Alma dan kedua sahabat wanitanya terus berdiri di perahu yang melesat cepat melawan arus.


Tiba-tiba Iwak Ngasin berhenti dari larinya dengan pandangan tajam ke arah ujung jalan. Juling Jitu terpaksa ikut berhenti, tetapi kemudian dia mengerti. Ada suara ramai lari sejumlah kuda yang datang dari arah depan, mendekat ke arah posisi mereka.


Mereka yang ada di atas perahu juga mendengar suara lari kuda itu.


“Sembunyi!” kata Iwak Ngasin cepat.


Keduanya cepat berkelebat naik ke tanah tinggi yang kering. Di atas sana mereka berlindung di balik bebatuan alam.


“Tahan, Mbah Hitam!” seru Alma. Ia ingin menunggu kemunculan suara kuda-kuda itu.


Mbah Hitam berhenti berenang cepat. Alma Fatara, Anjengan dan Gagap Ayu memusatkan perhatian ke arah jalan atas.


Dalam waktu yang sebentar. Sekitar dua puluh ekor kuda muncul berlari yang ditunggangi oleh prajurit berseragam hitam bergaris putih. Ada beberapa kuda yang berlari tanpa penunggang.


Alma dan kedua sahabatnya juga bisa melihat, seorang prajurit jatuh dengan sendirinya dari punggung kuda yang berlari, seolah dia mati dalam kondisi sedang menunggang. Tubuh prajurit itu berguling lalu jatuh ke air sungai.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” ucap Alma lirih.


Alma tiba-tiba berkelebat cepat. Ia berlari sangat ringan di atas permukaan air lalu berkelebat ke atas jalan tanah, tempat Iwak Ngasin dan Juling Jitu sempat berdiri di sana.


“Berhenti!” seru Alma santai, tetapi suaranya lantang terdengar oleh para prajurit berkuda yang masih belasan tombak di depan sana.


“Tabrak! Tabrak! Itu musuh!” teriak seorang prajurit dengan begitu keras, seperti orang yang baru saja melihat setan kesetanan.


Ternyata, lari kuda-kuda itu tidak menunjukkan tanda-tanda persahabatan.


Alma memilih merendahkan tubuhnya dengan kuda-kuda yang kuat. Tangan kirinya lurus ke belakang dan dengan cepat menyedot udara, membuat pakaian Alma membengkak seperti balon boneka.


Wuss!


Ketika tangan kanan Alma menghentak, pakaian Alma kembali kempes dengan angin dahsyat menderu keras menerpa para kuda dan prajurit penunggangnya.


Para kuda yang berlari dibuat tertahan, lalu dijungkalkan tidak beraturan, sampai ada yang terpelanting ke sungai. Sementara para prajuritnya lebih parah lagi. Mereka diterbangkan dari punggung kudanya masing-masing lalu jatuh tidak beraturan.


Para prajurit itu tidak mati, tetapi mereka pada menggeliat kesakitan.


Setelah kejadian itu, dari arah yang sama, berlari seekor kuda yang ditunggangi oleh seorang pemuda tampan berkulit putih bersih. Penampilannya seperti seorang pemimpin prajurit. Namun, di depan dudukannya di punggung kuda, melintang sesosok tubuh pula yang melengkung pasrah. Entah sudah mati atau hanya pingsan.


“Siapa kau yang menghancurkan pasukanku?!” teriak pemuda penunggang kuda itu dengan suara dan wajah penuh kemarahan.


“Kakang Arung Seto! Apakah itu kau?” seru Alma Fatara yang bisa mengenali wajah pemuda itu. Meski telah tidak bertemu lagi selama dua tahun, tetapi Alma sangat ingat dengan tahi lalat di atas alis Arung Seto.


Arung Seto yang sedang diliputi kemarahan dan rasa putus asa, mendadak terkejut. Ia langsung menarik kencang tali kekang kudanya. Ia fokuskan pandangannya kepada sosok wanita berjubah hitam di tengah jalan.


“Alma Fatara?!” teriak Arung Seto seakan tidak percaya dengan penglihatannya. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!



__ADS_2