
Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
Suraya Kencani berlari terhuyung-huyung sebab luka dalam parah yang dialaminya. Luka itu ia peroleh setelah bentrok kesaktian dengan kakaknya, yaitu Wulan Kencana.
Ia sudah melalui pos lima, empat, tiga, dan dua tanpa terlihat oleh para murid penjaga di keempat pos tersebut.
Tiba-tiba wanita gila itu terdiam di tengah jalan dengan wajah tertunduk. Ia sedang menyimak suara ramai lari kuda yang banyak di kejauhan. Suara yang awalnya samar-samar, semakin lama semakin jelas menuju ke jalan itu.
Saat itu, Suraya Kencani sedang berada di bawah pohon besar yang tumbuh di pinggir jalan. Dahan-dahan besar pohon itu sebagian tumbuh melintang di atas jalan.
Sebelum rombongan berkuda tiba di tempat itu dan melihat keberadaannya, Suraya Kencani memutuskan melompat lurus ke atas dan hinggap seperti binatang di dahan yang agak tinggi. Jika orang melihat dari bawah ke atas, agak sulit untuk bisa melihat jelas keberadaan Suraya karena rindangnya daun.
Namun, sepertinya sesuatu telah terjadi terhadap ketahanan fisik Suraya Kencani. Matanya telah berubah sayu dengan tatapan yang lemah di balik riapan rambut kusutnya. Tubuhnya yang berjongkok di dahan mulai bergoyang seperti sedang tertiup angin kencang. Tangan kanannya yang berpegangan pada ranting dahan, terlihat melemah, seolah ingin melepaskan pegangannya.
Ternyata pegangan itu secara perlahan lepas dari ranting, seiring sepasang matanya memejam. Tubuh wanita kumal itu pun bergerak ke belakang lalu meluncur jatuh.
Drap drap drap …! Blugk!
Seiring rombongan kuda yang dipimpin Alma Fatara mendekati tempat itu, tubuh Suraya Kencani menghantam tanah jalanan yang agak berumput.
Alma Fatara dan rombongannya melihat dengan jelas sosok tubuh wanita itu jatuh dari atas pohon. Karena itu, Alma Fatara langsung mengangkat tangan memberi tanda berhenti.
“Berhentiii!” seru Anjengan lantang.
Maka Pasukan Genggam Jagad dan murid-murid Perguruan Jari Hitam berhenti. Di antara mereka ada seorang lelaki berpakaian kuning seragam Perguruan Bulan Emas.
Mereka semua memandangi sosok Suraya Kencani yang tergeletak di tengah jalan dalam kondisi tidak sadarkan diri.
“Kisanak, apakah kau kenal wanita itu?” tanya Alma Fatara kepada murid Perguruan Bulan Emas.
“Tidak, Gusti Ratu,” jawab murid Bulan Emas itu dengan yakin. Dia adalah pemimpin di pos satu yang sebelumnya sibuk bolak balik ke perguruan untuk menyampaikan laporan dan perintah ketuanya.
“Penombak Manis, periksa kondisinya!” perintah Alma.
__ADS_1
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Penombak Manis patuh.
Istri Juling Jitu lalu turun dari kudanya. Kali ini dia sudah berkuda sendiri, tidak bersama suaminya lagi.
“Masih hidup, Gusti Ratu!” sahut Penombak Manis setelah memeriksa kondisi Suraya Kencani. Lalu katanya lagi, “Kondisi tubuhnya sangat bau. Sepertinya wanita ini orang gila!”
“Penombak Manis, Alis Gaib, Geranda dan kau Gede Angin, bawa wanita itu ke Desa Julangangin. Berikan kepada Belik Ludah untuk ditangani!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap serentak keempat abdi yang disebut tadi.
Maka, Penombak Manis, Alis Gaib, Geranda, dan Gede Angin harus pulang ke Desa Julangangin dengan membawa tubuh Suraya Kencani.
Adapun Alma Fatara dan yang lainnya melanjutkan perjalanan menuju Perguruan Bulan Emas.
Awalnya Alma Fatara menginginkan, Perguruan Bulan Emas membiarkan dia masuk bersama seluruh pasukannya dan murid-murid Perguruan Jari Hitam. Ia mengancam, jika tidak diizinkan, maka Telur Gelap tidak akan pernah masuk pula ke dalam Perguruan Bulan Emas.
Karena ancaman itulah akhirnya Ketua Perguruan Bulan Emas mengizinkan Ratu Siluman masuk bersama seluruh rombongannya.
Tidak seperti ketika menyambut Riring Belanga yang diadakan di Ruang Purnama, Alma Fatara dan rombongan gabungannya justru ditahan hingga di depan gedung utama. Jalan mereka ditutup oleh barisan puluhan murid Bulan Emas.
Di belakang lagi adalah para petinggi perguruan, di antaranya Ringgi sebagai Ketua Sayap Kanan Perguruan Bulan Emas dan pemuda bernama Galak Gigi sebagai Ketua Sayap Kiri. Tidak terlihat keberadaan Wakil Ketua Silang Kanga.
Sementara itu, Ketua Perguruan Bulan Emas yang cantik jelita dengan warna jingganya, berdiri di balkon lantai dua. Ada sepuluh murid wanita di belakang Wulan Kencana yang memang selalu mengawalnya.
“Hahaha …!”
Tawa terbahak adalah hal pertama yang Alma Fatara lakukan ketika rombongannya harus berhenti karena penghadangan di dalam perguruan itu.
“Hahaha …!”
Tidak ada yang bisa menahan tawa para murid Perguruan Bulan Emas ketika melihat Alma tertawa dengan penampakan dua ompongnya yang lucu. Alma tidak merasa tersinggung mendengar tawa massal para murid berseragam kuning itu.
“Mana orang bernama Wulan Kencana, Ketua Perguruan Bulan Emas yang kurang sopan itu?” tanya Alma Fatara secara umum, meski ia sudah bisa menerka yang mana orangnya, tapi ada sedikit keraguan.
__ADS_1
Jika Wulan Kencana adalah mantan kekasih Rereng Busa dan Pendekar Tongkat Roda, seharusnya dia adalah seorang nenek-nenek sekelas Balito Duo Lido, bukan seorang wanita muda cantik jelita seperti yang berdiri di balkon.
“Kurang sopan!” teriak Cucum Mili tiba-tiba.
“Kurang sopan!” bentak Anjengan cs serentak dengan nada yang lebih keras dari biasanya.
Bentakan serentak itu membuat murid-murid Bulan Emas yang memagar di depan, tersentak samar karena terkejut dan jantung mereka serasa dijitak.
“Ku-ku-kurang so-so-sopan!” bentak Gagap Ayu terlambat.
“Hahahak …!” tawa Anjengan cs dan murid-murid Jari Hitam mendengar kegagapan Gagap Ayu.
Intro pertemuan dua kelompok yang terkesan dagelan itu menyulut emosi Wulan Kencana dan murid-murid utamanya. Namun, Wulan Kencana harus bisa menahan diri demi mendapatkan Telur Gelap yang ada di tangan Alma Fatara, alias Ratu Siluman.
“Akulah Wulan Kencana yang kau cari, Ratu Muda!” seru Wulan Kencana.
Seruan itu membuat Alma Fatara dan rombongan fokus memandang ke balkon lantai dua. Meski demikian, mereka tetap waspada terhadap pasukan perguruan berseragam kuning itu, sebab mereka dalam posisi siap bertarung. Senjata mereka sewaktu-waktu bisa menjadi pasukan makhluk terbang.
“Kau sudah tahu bahwa yang datang adalah seorang ratu muda, tetapi kau menyambutnya dengan tidak ramah!” seru Riring Belanga.
“Itu karena dia memaksa masuk bersama pasukannya. Perguruan Bulan Emas tidak akan merendahkan diri di bawah raja atau ratu siapa pun!” balas Wulan Kencana.
“Aaah, tidak apa-apa, tidak apa-apa!” kata Alma Fatara menengahi. “Aku membawa Telur Gelap yang menurut kabar, kau sangat menginginkannya dan harus menjadi benda penukar kebebasan Kakek Rereng Busa.”
“Benar. Mana benda itu?” tagih Wulan Kencana.
Alma Fatara lalu merogoh balik jubah hitamnya. Ia mengeluarkan sekantung kain warna merah. Wulan Kencana dan kedua kelompok yang sedang tegang itu fokus memandang kepada tangan Alma Fatara.
Alma lalu mengeluarkan benda yang ada di dalam kantung kain. Ia mengeluarkan sebuah benda berwarna hitam pekat seperti bentuk telur ayam, tetapi wujudnya lebih kecil dari telur ayam atau bebek.
“Telur Gelap telah aku perlihatkan, tidak mungkin aku berikan jika aku tidak melihat Kakek Rereng Busa. Atau kau berani membohongi Ratu Siluman?” seru Alma Fatara. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.