Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Kerja Bu 18: Makan Burung


__ADS_3

*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)* 


“Benar-benar, dua-duanya sudah kerasukan budak cinta. Memang harus segera dinikahkan. Bagaimana tidak hamil kalau setiap bertemu dimasuki? Untung mereka bukan orang jahat, hanya salah di urusan selera cinta,” pikir Alma Fatara yang duduk menjuntai kaki di atas dahan sebuah pohon besar.


Dari jarak jauh, Alma Fatara memantau aktivitas Rawil Sembalit dan Wangiwulan. Ternyata, ketika keduanya ditinggal oleh Alma, mereka justru melanjutkan aktivitas birahinya. Alma yang memantau dari jauh hanya bisa geleng-geleng. Seolah-olah pelampiasan cinta sudah menjadi candu bagi Rawil Sembalit dan Wangiwulan.


Setelah memastikan kedua insan bercinta itu sudah selesai dan merapikan pakaiannya, Alma memutuskan turun ke bawah, lalu berjalan santai mendatangi Rawil Sembalit dan Wangiwulan.


“Kau sudah kembali, Alma?” tanya Wangiwulan bernada agak terkejut, terlebih Alma datang tanpa membawa apa-apa dan waktu kedatangannya ketika mereka berdua masih bisa merasakan sisa-sisa dari puncak kenikmatan cinta.


“Apakah Kakak Wangi dan Kakang Rawil sudah menetapkan rencana selanjutnya?” tanya Alma Fatara tanpa perlu menjawab pertanyaan Wangiwulan.


“Su-sudah,” jawab Rawil Sembalit agak tergagap. Tatapan matanya sedikit tidak tenang, seperti orang yang merasa terpergok.


“Apa?” tanya Alma lagi.


“Kami sepakat akan meninggalkan keluarga kami. Kami tidak akan bisa meyakinkan keuarga kami untuk berdamai, jadi kami sepakat akan pergi ke rumah guruku dan menikah di sana. Di sana, kami akan menyusun rencana berikutnya,” ujar Wangwulan.


“Baiklah. Semoga semuanya berjalan baik-baik saja,” kata Alma yang tidak diaminkan. “Kita akan menunggu yang lainnya. Setelah itu, antar aku ke Mata Air Pahit untuk memeriksa dasarnya.”


“Baik,” ucap Rawil Sembalit.


“Untuk apa ke Mata Air Pahit?” tanya Wangiwulan.


“Mencari Keris Pemuja Bulan,” jawab Rawil Sembalit.


“Jika kita mendapatkan keris itu, apa yang akan kita lakukan?” tanya Alma.


“Kata Kakek, jika Keris Pemuja Bulan bisa dikembalikan ke Kerajaan Singayam, maka kebangsawanan kedua keluargaku dan keluarga Wangiwulan akan dikembalikan. Kami akan diizinkan lagi untuk tinggal di Ibu Kota,” jawab Rawil Sembalit.


“Berarti ada kesempatan untuk mendamaikan kedua keluarga,” kata Alma optimis.


“Lalu bagaimana jika ternyata keris pusaka itu tidak ada di dasar Mata Air Pahit?” tanya Wangiwulan.


“Tidak, keris itu harus ditemukan, agar keluarga besar kalian tidak saling bunuh lagi. Seperti ini saja, nanti malam pergilah kalian meninggalkan kademangan ini. Biar aku dan keempat sahabatku yang berusaha menemukan keris itu. Bagaimana?”  usul Alma.


“Kami setuju. Namun, apakah itu tidak berbahaya bagi kalian?” tanya Wangiwulan.


“Hahaha!” tawa Alma yang dengan jelas memperlihatkan keompongannya kepada sepasang kekasih itu.


Rawil Sembalit dan Wangiwulan tersenyum lebar melihat kelucuan tawa Alma.


“Percayalah kepadaku,” kata Alma.

__ADS_1


“Almaaa!” teriak Anjengan tiba-tiba dari jarak yang masih cukup jauh.


Mereka bertiga menengok ke arah jauh. Mereka melihat Anjengan yang bertubuh gemuk mengangkat tinggi-tinggi beberapa ekor burung yang sudah menjadi bangkai. Tidak jauh darinya, berjalan Gagap Ayu membawa setandan pisang berkulit kuning.


“Hahahak!” tawa Anjengan ketika sudah tiba di depan Alma. “Kita makan burung. Kalau Wangiwulan makan burungnya Kakang Rawil, maka kita makan burungku! Hahahak!”


“Hahahak …!” tawa Alma Fatara di saat Rawil Sembalit dan Wangiwulan mendelik terkejut mendengar perkataan Anjengan.


“Kau bi-bi-bicara apa, Anjengan?!” hardik Gagap Ayu yang sudah menurunkan pisangnya.


“Aku bicara burung,” jawab Anjengan dengan enteng.


“Le-le-lebih baik Kakak Wa-wa-wangi makan -pi-pi-pisang, lebih nikmaaat!”


“Hahaha! Sudah, jangan bahas burung dan pisang. Sejak kapan Kakang Rawil punya burung? Kuda saja tidak punya,” kata Alma. “Mana Iwak Ngasin dan Juling Jitu?”


“Ada di belakang,” jawab Anjengan sambil turun duduk bersila di rumput. Ia meletakkan ketiga burung di tangannya.


Alma dan yang lainnya memandang jauh ke satu arah. Mereka melihat Iwak Ngasin dan Juling Jitu datang dengan langkah yang berat. Kedua pemuda itu menarik tali kulit kayu menggunakan tubuhnya. Tali kulit kayu itu terhubung kepada rakitan kayu tempat mengikat seekor babi besar.


“Dapat apa mereka?” tanya Alma.


“Ba-ba-babi!” jawab Anjengan.


“Ja-ja-jangan meledek!” bentak Gagap Ayu lalu melakukan gerakan silat.


Tahu-tahu tendangan Gagap Ayu berhenti di depan wajah Anjengan, membuat gadis gemuk itu mendelik diam.


“Ji-ji-jika kau meledek lagi, ka-ka-kakiku be-be-benar akan menciummu!” tandas Gagap Ayu.


Dak!


“Akk!” jerik Gagap Ayu sambil spontan menarik kakinya yang dihantam oleh Anjengan menggunakan buku ruas jarinya. Gagap Ayu berjingkrak-jingkrak dengan satu kaki sambil memegangi kakinya yang berdenyut sakit.


“Hahahak!” tawa Alma dan Anjengan melihat Gagap Ayu kesakitan.


“Ada apa ini? Ada apa ini?” tanya Juling Jitu yang baru tiba di antara mereka.


“Gagap Ayu sedang belajar menari. Hahaha!” jawab Anjengan.


“Aku bersama Kakang Rawil dan Kakak Wangi akan pergi ke Mata Air Pahit untuk mencari Keris Pemuja Bulan, kalian uruslah hewan tangkapan kalian dan buatlah makan malam yang lezat,” ujar Alma.


“Yah, aku ju-ju-juga ingin ta-ta-tahu Mata Air Pa-pa-pahit,” kata Gagap Ayu kecewa. Ia sudah tidak berjingkrak-jingkrak lagi.

__ADS_1


“Kau di sini saja, Ayu. Di antara kita, jika Kakak Anjengan yang paling pandai menghabiskan makanan, maka kaulah yang paling pandai melezatkan makanan,” kata Alma. Lalu ia berkata kepada Iwak Ngasin dan Juling Jitu, “Tugas kalian jelas memotong dan menguliti!”


“Baik, Alma. Pergilah, kami akan ….”


Kata-kata Iwak Ngasin mendadak berhenti dan berganti dengan gerakan menelan ludah sendiri. Hal itu terjadi ketika Iwak Ngasin kontak mata dengan Wangiwulan yang terkesan menatapnya tanpa berkedip. Hal itu membuat Iwak Ngasin merasa bersalah karena telah memandangi Wangiwulan dengan sangat dekat di saat gadis itu tidak berdaya.


“Pokoknya aku percayakan kepada kalian!” tandas Alma kepada para sahabatnya. “Ayo, Kakang Rawil, kita ke Mata Air Pahit!”


“Ayo!” ajak Rawil Sembalit.


Alma lalu melangkah pergi yang diikuti oleh Rawil Sembalit dan Wangiwulan. Sementara keempat sahabat yang ditugaskan mengurus makanan, jadi bingung. Mereka tidak dibekali senjata tajam satu pun.


Setelah cukup jauh memasuki hutan, akhirnya mereka tiba di Sungai Hijau pada bagian hulu. Namun, mereka harus lebih mendaki untuk sampai ke Mata Air Pahit.


“Alma, coba kau lihat!” seru Rawil Sembalit tiba-tiba sambil menunjuk ke air sungai yang mengalir.


Alma Fatara dan Wangiwulan segera pusatkan pandangannya ke air sungai.


“Apakah kalian melihat warna hijau pada air?” tanya Rawil Sembalit.


Alma Fatara dan Wangiwulan tidak kesulitan untuk menemukan cairan hijau kental yang mengalir terbawa arus menuju hilir.


“Cairan apa itu?” tanya Alma.


“Tidak ada yang tahu pasti. Cairan seperti itu hanya sesekali muncul mengalir. Ada warga yang pernah melihatnya muncul dari dalam Mata Air Pahit, tapi tidak ada yang bisa memastikan itu cairan apa. Namun menurut Kakek, itu adalah cairan yang ditimbulkan oleh Keris Pemuja Bulan,” jelas Rawil Sembalit.


“Apakah itu beracun, Kakang?” tanya Wangiwulan.


“Entahlah. Belum ada orang yang coba meminumnya.”


“Hahaha! Lagipula, siapa yang berani meminum air berwarna hijau seperti itu? Tapi … bagaimana bisa sebuah keris mengeluarkan cairan?” kata Alma.


“Entahlah,” jawab Rawil Sembalit.


“Atau mungkin dugaan semua orang salah. Mungkin itu bukan dari Keris Pemuja Bulan,” kata Wangiwulan.


“Tetap kita harus membuktikannya,” tandas Alma.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju hulu. (RH)


*********


Ayo fokuskan dukungan vote, like, komen dan gift mu untuk Alma. Semoga novel Alma bisa lebih sukses dari Joko Tenang.

__ADS_1


__ADS_2