
*Episode Terakhir (PITAK)*
Melihat pasukan musuh yang menyergap dari dalam air sungai hanya bersenjata pedang, sedangkan pasukan prajurit kadipaten bersenjata pedang dan tameng, Bakiwang bisa menerka siapa yang akan unggul. Karena itulah dia memerintahkan pasukan tombak yang dipimpin oleh Barangsang dan Jenala masuk langsung ke dalam tambang yang ada di dalam Gua Ular itu.
“Maju!” seru Barangsang dan Jenala bersamaan kepada tiga puluh prajurit bertombak dan bertameng.
Ketika pasukan bertombak bergerak masuk, Dunggatala yang memimpin pasukan panah segera memberi perintah.
“Panah!” perintah Dunggatala.
Lima belas pemanah melesatkan lima belas panah api jauh ke dalam gua bersungai dangkal itu. Panah-panah api itu melesat melewati atas pertarungan di air dan atas kepala pasukan tombak yang berlari masuk.
Cahaya panah-panah api membantu pasukan kadipaten bisa melihat sekumpulan orang yang bersembunyi di posisi lebih jauh di dalam gua.
“Seraaang!” teriak Barangsang keras saat melihat keberadaan pasukan lain yang berposisi lebih dalam.
Meski kondisi dalam gua kembali gelap, pasukan tombak sudah bisa melihat posisi musuh yang justru tidak bereaksi.
Bsets!
“Ak ak ak!” jerit beberapa prajurit bertombak saat tiba-tiba ada kiblatan sinar putih yang lebar dari arah dalam.
Sinar putih itu menebas beberapa tubuh prajurit hingga tewas. Tameng pun terbelah oleh serangan itu.
Munculnya serangan itu membuat Barangsang dan Jenala melihat sekilas kemunculan Si Golok Kuda. Barangsang dan Jenala serentak berkelebat menerabas keremangan dalam gua menyerang Si Golok Kuda dengan tombak mereka.
Sementara pasukan bertombak menyerang orang-orang berpedang yang berkumpul di sudut dinding gua.
Pertarungan sengit terjadi antara Si Golok Kuda melawan Barangsang dan Jenala. Kegelapan dalam gua tidak mengurangi keagresifan para pendekar itu.
Sementara itu, pertarungan di air sungai mulai menunjukkan hasil. Pasukan berpedang penguasa gua terbunuh satu demi satu. Pasukan lawan yang bertameng membuat mereka sulit menyerang, tapi mudah diserang.
“Seraaang!”
Tiba-tiba terdengar teriakan orang banyak dari arah lain dan jauh. Teriakan itu mengejutkan Bakiwang dan pasukannya. Mereka cepat menengok ke arah hulu.
Dari sana muncul puluhan orang berpakaian hijau gelap, laki-laki dan perempuan, tetapi lebih banyak lelaki.
“Pasukan panah, bersiap!” teriak Dunggatala.
Pasukan panah cepat berbalik dan memasang anak panah biasa di busur. Senar pun ditarik kencang siap menghujani rombongan orang berbaju hijau yang datang mendekat. Sementara pasukan kadipaten yang belum turun tarung siap menunggu perintah.
Orang-orang berpakaian hijau itu tidak bersenjata, tapi mereka masing-masing membawa kantung kain yang tergantung di pinggang.
Sambil berlari, orang-orang berpakaian hijau tiba-tiba menutupi separuh wajahnya dengan sehelai kain hijau.
__ADS_1
“Panah!” perintah Dunggatala kepada pasukannya.
Set set set …!
“Ak ak ak!”
Lima belas anak panah melesat jauh menghujani rombongan tersebut. Beramai-ramai orang yang diserang bergerak dan melompat mengelaki hujan panah. Namun, tetap saja ada tiga orang yang terkena panah.
Sebelum serangan panah kembali datang, sebagian orang-orang berpakaian hijau melemparkan bola-bola kecil berwarna hitam ke pertengahan jarak.
Bles bles bles …!
Bola-bola kecil itu jatuh ke tanah berpasir dan meledakkan asap tebal berwarna hijau.
Asap hijau itu langsung bergerak tertiup angin ke arah pasukan panah dan pasukan yang bersiap.
“Menghindar dari asap beracun!” teriak Bakiwang cepat saat sadar tentang asap hijau tersebut.
“Cepat berlindung di dalam air!” perintah Dunggatala kepada pasukannya.
Bukan hanya pasukan panah yang berhamburan terjun ke dalam air sungai, pasukan di bawah perintah Songgor Getok juga berhamburan melompat ke dalam air demi menghindari asap hijau beracun.
Ternyata kelompok berpakaian hijau telah memanfaatkan arah embusan angin. Beberapa prajurit tidak sempat menghindar dari menghirup asap hijau. Mereka bertumbangan dengan leher yang terasa tersumbat total sehingga tidak bisa bernapas. Ujung-ujungnya mereka harus mati dengan kulit menghijau gelap.
Masih beruntung, asap tidak ada yang bergerak masuk ke dalam gua.
Bakiwang cepat menggunakan angin pukulan yang berputar keras menghalau asap beracun pergi jauh.
Suss!
Selanjutnya dia melesatkan seberkas sinar merah berpijar dan menderu ke arah rombongan berbaju hijau.
Clap! Blar!
Tiba-tiba di depan rombongan penyerang asap muncul begitu saja sesosok wanita berjubah putih dengan tangan kanan bersinar putih terang. Wanita berusia matang berdada indah itu membentrokkan sinar putih pada tangannya dengan sinar merah yang datang.
Ledakan tenaga sakti terjadi hebat, membuat wanita berjubah putih terjajar dua tindak. Namun, bagi Bakiwang, dia langsung terjengkang keras dan mengeluarkan darah lewat mulutnya.
Bakiwang cepat bangun dengan wajah mengerenyit. Ia menatap tajam kepada wanita yang baru muncul. Wanita berpinjung merah itu memiliki kuku-kuku panjang yang berwarna hijau muda. Ia tidak lain adalah Cantik Kuku Hijau.
“Jika hanya pendekar rendahan seperti dirimu, kau hanya datang menyerahkan nyawa, Bakiwang!” seru Cantik Kuku Hijau.
“Kalian tidak akan menang melawan pemerintah, Kuku Hijau!” balas Bakiwang.
“Sayang sekali, kau harus mati cepat sehingga kau tidak bisa melihatku mati di tangan pemerintah,” kata Cantik Kuku Hijau.
Wanita berjubah putih itu kemudian melesat menyerang Bakiwang dengan serangan cakar yang berbahaya. Pemimpin pasukan kadipaten itu langsung mencabut pedangnya dan bertarung dalam kondisi terluka dalam.
__ADS_1
Namun, Cantik Kuku Hijau terlalu berat bagi Bakiwang. Wanita itu memiliki kecepatan jauh di atas Bakiwang.
Trang trang trang!
Serangan pedang Bakiwang justru bisa dilawan oleh kuku-kuku panjang Cantik Kuku Hijau. Ketika kuku dan pedang bertemu, ada percikan kembang api yang tercipta.
Bret bret bret!
“Aaak!” jerit Bakiwang ketika tubuhnya mendapat tiga kali cakaran yang dalam. Sulit orang yang sudah terkena cakaran Cantik Kuku Hijau bisa bertahan hidup, meski ia seorang pendekar sekelas Bakiwang.
Terkejutlah Dunggatala dan Songgor Getok melihat kematian Bakiwang.
Pada saat yang sama, pasukan berpakaian hijau terpaksa terjun pula ke air demi bisa menjangkau pasukan kadipaten yang tidak berani naik ke darat. Sebab, jika mereka naik ke darat, mereka akan menjadi target empuk bagi asap racun.
Set set set!
“Ak ak ak!” jerit beberapa anggota pasukan hijau saat terkena panah yang dilepas dari sungai.
Bles! Bles! Bles!
Ternyata, pertarungan di air sungai tidak serta merta membuat pasukan prajurit unggul, karena pasukan kelompok hijau bisa meledakkan bola asapnya dengan cara menghantamkannya ke tubuh prajurit atau ke tamengnya.
Pertarungan seperti itupun membuat asap tetap menyebar dan meracuni lawan.
Pada saat yang sama pula, pasukan prajurit pimpinan Taring Lawak berhasil menghabisi kelompok lelaki berbaju cokelat di air sungai dalam Gua Ular.
Taring Lawak terkejut melihat tewasnya Bakiwang dan kalahnya pasukan di dalam air sungai oleh pasukan hijau.
“Beri tandaaa!” teriak Taring Lawak kepada Songgor Getok. Ia tahu bahwa mereka belum tentu bisa melawan Cantik Kuku Hijau.
Songgor Getok cepat menarik kencang ketapelnya yang sudah dipasang peluru. Arah bidikannya lurus ke atas langit.
Seet! Buooom!
Satu peluru berbentuk gundu kecil melesat tinggi ke udara. Pada puncak lesatannya, gundu itu meledak sendiri dengan suara yang keras dan menggema, kontras dengan wujudnya yang kecil.
Suara ledakan itu terdengar jelas sampai ke telinga Badak Ireng dan pasukannya.
“Majuuu!” teriak Badak Ireng berkomando kepada pasukannya. “Hea hea!”
Badak Ireng dan kelima pendekar lainnya segera memacu cepat kuda menuju ke arah sungai. Seratus pasukan kadipaten berlari kencang mengejar kuda-kuda itu.
Namun, tiba-tiba di depan sana telah berdiri seaorang lelaki separuh baya berjubah hitam dan bertongkat. Pada ujung tongkatnya ada tengkorak kepala manusia asli.
“Pawang Tengkorak!” desis Badak Ireng sambil menarik kencang tali kekang kudanya.
Kelima pendekar berkuda yang bersamanya juga mengerem kencang lari kudanya.
__ADS_1
“Seraaang!” teriak orang banyak yang tiba-tiba muncul dari sisi kanan dan kiri. Mereka berpakaian cokelat dan bersenjata pedang, muncul berlari menyerang pasukan prajurit yang sebenarnya jumlahnya lebih banyak. (RH)