Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Kerja Bu 34: Pertarungan yang Buntu


__ADS_3

*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)* 


“Hiaaat!” teriak Ki Bending dengan tatapan tajam penuh nafsu membunuh.


Ia melesat dengan kedua tinju bersinar biru yang merupakan ilmu Tinju Dunia Dewa.


Bjuks bjuks bjuks …!


Gila! Mungkin sebanyak sepuluh kali Tinju Dunia Dewa menghujani tubuh tua Raden Runok Ulung dalam ritme yang tinggi. Namun, Ki Bending hanya bisa mendelik putus asa saat melihat lawannya baik-baik saja.


Bruask!


Setelah bergaya cool membiarkan dirinya dihantam oleh ilmu hebat Ki Bending, giliran Raden Runok Ulung yang menyerang dengan ilmu Kutukan Darah Kotor. Ki Bending yang telah waspada cepat melesat mundur seiring bola sinar merah gelap menyerangnya.


Bola sinar merah gelap itu pecah ketika menghantam Ki Bending. Namun, lagi-lagi kakek berjubah hijau gelap itu telah lebih dulu melindungi dirinya dengan ilmu perisai Ruang Tidak Terusik. Tubuhnya terlindungi oleh kurungan sinar putih bening.


Ki Bending yang tidak menderita luka apa-apa, memutuskan mundur. Ia lalu menghentakkan kedua tangannya lurus ke langit.


Arkss!


Dari dalam kedua lengan Ki Bending melesat sinar besar warna kuning kejinggaan berwujud ular raksasa. Ular sinar itu melesat ke angkasa. Ilmu itu sebelumnya telah dikeluarkan oleh Kluwing, tapi tidak mampu melukai Raden Runok Ulung.


Namun pikir Ki Bending, tenaga saktinya jauh lebih tinggi dibandingkan Kluwing.


Bruzz!


“Hahaha …!” tawa Raden Runok Ulung ketika sinar berwujud ular itu datang dengan sangat cepat menabrak dada tuanya.


Padahal, ketika ular sinar kuning itu melesat terbang beberapa jengkal di atas bumi, tanah yang dilewatinya sampai terbongkar parah menciptakan garis irigasi kering. Namun, ketika menabrak tubuh Raden Runok Ulung seperti angin sepoi-sepoi menabrak batang kelapa. Ular sinar itu ambyar setelah menabrak sang raden.


Swiss!


Giliran Raden Runok Ulung yang mencoba. Tiba-tiba di sekeliling tubuh Ki Bending melayang lima bola sinar merah redup. Itu adalah ilmu Lima Mata Setan Neraka versi Raden Runok Ulung. Lagi-lagi Ki Bending mengandalkan ilmu perisai Ruang Tidak Terusik.


Blar blar blar …!


Lima ledakan hebat lagi sangat panas terjadi di sekeliling tubuh Ki Bending.


Namun, Raden Runok Ulung hanya bisa mendelik. Sebab, Ki Bending baik-baik saja. Hanya jasad Kluwing yang terkena imbasnya. Mayat wanita itu jadi terbakar.


Ki Bending cepat bertindak dengan mengirimkan angin kecil guna memadamkan api pada mayat muridnya. Meski api padam, tetapi kondisi mayat sudah semakin buruk.


“Cobalah kau tahan kesaktian Keris Lidah Malaikat-ku!” desis Raden Runok Ulung sambil mencabut keris pusaka yang terselip di perutnya.


Keris yang bilahnya memancarkan sinar biru redup itu ditusukkan lurus ke langit, membuatnya mengeluarkan aliran listrik sinar putih di luar sinar biru.


Ki Bending pun bersiap. Dia dulu pernah menghadapi kesaktian keris yang cara kerjanya mengincar bayangan.


Srek! Zerzzt!


Ketika keris itu ditusukkan ke tanah, maka aliran listrik sinar putih seperti tumbuhnya akar serabut yang cepat, menyebar ke segala arah di permukaan tanah, termasuk ke arah Ki Bending.


Bugg!

__ADS_1


Bom bom bom …!


Ternyata untuk menangkal kesaktian Keris Lidah Malaikat, Ki Bending meninju tanah, yang menciptakan gelombang sakti ke segala arah. Pada arah yang berlawanan, kesaktian Keris Lidah Malaikat dan Tinju Angkara Bumi bentrok.


Ledakan beruntun yang menghancurkan tanah-tanah terjadi di sekeliling Ki Bending. Beberapa ledakan ternyata menghentikan jalaran sinar-sinar putih yang seperti akar hidup.


Blar blar blar …!


Setiap benda yang bayangannya terjamah oleh rambatan sinar putih, berhancuran di sekeliling Raden Runok Ulung. Semua pohon yang bayangannya terkena, berhancuran batangnya, termasuk bebatuan yang ada di sekitar tempat itu.


Sementara bayangan Ki Bending aman karena jalaran sinar putih tertahan oleh kekuatan Tinju Angkara Bumi.


“Kurang ajar!” maki Raden Runok Ulung.


Sementara keempat sahabat Alma Fatara hanya bisa terperangah takjub.


“Waw! Ramai sekali!” ucap Ajengan.


“Da-da-dahsyat!” ucap Gagap Ayu.


“Sama-sama kuat!” ucap Iwak Ngasin.


“Kalau tidak ada yang mau menang, tidak akan selesai pertarungan ini,” kata Juling Jitu


“Bukan tidak ada yang mau menang, tetapi tidak ada yang bisa menang!” timpal Anjengan.


Bom bom bom …!


Blar blar blar …!


Lagi-lagi tidak ada yang unggul atau terluka. Hanya daerah sekitar yang semakin hancur.


Pada akhirnya, Raden Runok Ulung kembali mencoba menyerang dengan ilmu-ilmu yang sebelumnya sudah dikeluarkan, seperti Lima Mata Setan Neraka dan Kutukan Darah Kotor, tetapi tetap tidak bisa melukai Ki Bending. Ilmu perisai Ruang Tidak Tersentuh menjadi andalan Ki Bending.


Demikian pula dengan Ki Bending, ilmu Tinju Ankara Bumi, Tinju Dunia Dewa, dan Roh Ular Emas miliknya tidak mampu melukai Raden Runok Ulung.


Hingga akhirnya, keduanya berhenti dan saling memandang tajam. Arena tarung mereka sudah hancur berantakan.


“Sepertinya aku tidak akan menang melawanmu, Raden. Namun, sepertinya kau pun tidak akan menang. Apakah kau masih ingin melanjutkan, Raden?” ujar Ki Bending.


Raden Runok Ulung tidak langsung menanggapi. Ia sangat ingin memberi pelajaran kepada Ki Bending, jika bisa, sampai membunuhnya. Namun, kesaktiannya tidak sanggup mengalahkan ilmu perisai lawannya.


“Hahahak!”


Tiba-tiba terdengar suara tawa Alma Fatara yang datang berjalan mendekati mereka.


Kedua orang tua itu mau tidak mau menengok melihat kedatangan Alma.


“Lebih baik berdamailah, Kek. Terbukti kalian seimbang!” seru Alma Fatara.


“Jika begitu, kau saja yang mati! Aku mau Bola Hitam!” teriak Ki Bending tiba-tiba kepada Alma lalu menghentakkan kedua legannya dengan jari-jari mengepal kuat.


Zurz zurz zurz!

__ADS_1


Tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Ki Bending melepaskan Tinju Dunia Dewa dari jarak jauh. Sebanyak tiga sinar biru berwujud kepalan tangan melesat menyerang Alma.


Zing! Zung zung zung!


“Edan!” maki Ki Bending terkejut melihat ketiga sinar birunya berbalik lurus menyerangnya, setelah ketiga sinarnya terhadang oleh dinding sinar ungu bening lagi tebal milik Alma.


Alma memasang ilmu Tameng Balas Nyawa-nya yang bisa memantul luruskan berbagai ilmu dan senjata lawan.


Bung bung bung!


Mendapat serangan balik oleh kesaktiannya sendiri, Ki Bending langsug memasang ilmu perisai Ruang Tidak Terusik. Ternyata ilmunya sendiri juga tidak mampu membobol ilmu perisai Ki Bending.


“Karena kau penasaran denganku, aku akan memberimu, Kek!” seru Alma lalu melompat naik ke udara sambil melesatkan Pukulan Bandar Emas.


Swess! Bluarr!


“Hugk!”


Seberkas sinar emas menyilaukan mata melesat menderu singkat dan menghantam hebat dinding perisai.


Di luar dugaan Ki Bending, ternyata kekuatan Pukulan Bandar Emas begitu kuat. Meski tidak menghancurkan dinding perisainya, tapi membuat tubuhnya terlempar mundur sejauh dua tombak.


Ki Bending masih mampu mendarat dengan terhuyung, tetapi tidak sampai jatuh.


“Satu serangan lagi, Kek!” teriak Alma lalu tahu-tahu melesat nyaris tidak terlihat, tapi kali ini tidak terlihat ada sinar kesaktian yang dibawanya.


Ki Bending yang posisinya belum siap, terpaksa hanya memilih bertahan dengan ilmu perisai yang sama.


Baks!


“Frukr!” Ki Bending terlempar mengudara dengan semburan darah keluar dari mulutnya. Otaknya bertanya-tanya tidak habis pikir, “Bagaimana pukulan biasa bisa menaklukkan ilmu perisaiku?”


Bugk!


Tubuh Ki Bending jatuh berdebam dengan punggung lebih dulu, membuat darah kembali terlompat dari dalam tenggorokannya.


“Bagaimana bisa?” tanya Raden Runok Ulung tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pikirnya, “Ilmuku yang berkekuatan dahsyat saja tidak bisa mencederainya, bagaimana bisa pukulan seperti itu bisa membuat Bending ambruk?”


Apa sebenarnya yang terjadi? Ilmu apa yang digunakan oleh Alma untuk menaklukkan ilmu Ruang Tidak Tersentuh dan menjatuhkan Ki Bending.


Untuk menalukkan ilmu perisai Ki Bending, Alma cukup menggunakan ilmu Tapak Rambat Daya. Pukulan itu tidak akan melukai atau mengancurkan objek yang disentuhnya, tetapi akan menyerang objek yang ada di belakangnya.


Meski pukulan Tapak Rambat Daya terkesan biasa, tetapi memiliki kekuatan perusak yang tinggi.


Ki Bending berusaha bangkit kembali, tetapi ia hanya bisa terduduk sambil memegangi dadanya.


“Ini saatnya aku menghabisimu, Bending!” teriak Raden Runok Ulung.


“Tahan, Kek!” seru Alma cepat kepada Raden Runok Ulung. “Hasil awal pertarungan kalian harus dihormati. Aku melumpuhkan Ki Bending karena dia masih penasaran denganku. Aku minta pertarungan ini disudahi sampai di sini!”


“Huh!” dengus Raden Runok Ulung kesal. Lalu katanya, “Baik!”


“Apakah kau masih penasaran, Kek?” tanya Alma Fatara kepada Ki Bending. “Jika kau masih penasaran, carilah aku setelah kau sembuh.”

__ADS_1


“Baik, aku mengaku kalah!” ucap Ki Bending pelan. “Uhhuk uhhuk uhhuk!” (RH


__ADS_2