Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Guru Bule 16: Tabib Bocah


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


Gelap telah memeluk alam. Cukup sulit untuk melanjutkan perjalanan, meski mereka adalah para pendekar. Lagi pula, tubuh mereka membutuhkan istirahat.


Namun ternyata, Alma Fatara belum memberi waktu istirahat bagi Anjengan dan rekan-rekan. Mereka diperintahkan untuk konsolidasi yang dipimpin oleh Cucum Mili.


Dalam konsolidasi itu, Pasukan Genggam Jagad mencoba menemukan wujud jelas dari dirinya. Sebagai mantan anggota Bajak Laut Ombak Setan, Tampang Garang, Penombak Manis dan Alis Gaib berbagi cerita tentang gaya kemiliteran mantan kelompoknya.


Gede Angin pun berbagi cerita tentang kelompoknya yang telah musnah di tangan dua nenek kembar. Demikian pula Cucum Mili sebagai seorang Ketua Bajak Laut Kepiting Batu.


Juling Jitu diizinkan jika mau bercerita tentang siang pertamanya, bukan malam pertama. Justru malam ini yang akan menjadi malam pertamanya. Namun, Juling Jitu terlalu malu untuk bercerita perkara enak itu.


Dari cerita-cerita itu, Anjengan sebagai Panglima Pasukan Genggam Jagad bebas memilih dan menentukan model sementara kemiliteran pasukannya.


"Aku memutuskan mengikuti gaya Bajak Laut Ombak Setan. Terbukti mereka yang jumlahnya sedikit, tapi bisa membunuh ratusan prajurit pasukan Kerajaan Singayam. Aku menunjuk Alis Gaib sebagai ahli strategi Pasukan Genggam Jagad," kata Anjengan memutuskan.


"Baik, Panglima," ucap Alis Gaib seraya menjura hormat kepada Anjengan.


Sementara Alma Fatara dan Mbah Hitam sedang memberi makan si anak remaja gendut, yakni Belik Ludah.


Anak gendut berambut keriting mirip kribo itu makan dengan lahap. Sesekali ia melihat kepada Alma Fatara dan Mbah Hitam yang memandanginya, mirip kucing tetangga yang sedang diberi makan.


"Hahaha!" tawa Alma Fatara melihat gelagat makan Belik Ludah.


Tadi sore, di saat Tambang Api dan Gelang Rotan sedang sengit-sengitnya bertarung memperebutkan anak orang, Alma Fatara memerintahkan Cucum Mili untuk membawa kabur Belik Ludah lalu mereka pergi meninggalkan pasar sore.


Tidak berapa lama, akhirnya Belik Ludah telah menghabiskan makanannya yang berupa lima tongkol jagung bakar. Maklum, minyak goreng sedang langka, jadi jagungnya dibakar saja semua.


Mbah Hitam mengulurkan tangannya yang memegang gelas bambu kepada Belik Ludah. Sementara matanya memandangi wajah tampan tapi dingin milik Mbah Hitam, tangan Belik Ludah menjulur menerima gelas bambu yang diberikan.


Bahkan ketika minum pun, Belik Ludah terus memandangi Alma dan Mbah Hitam bergantian, tatapan yang penuh kecurigaan.


"Hahahak ...!" tawa terbahak Alma Fatara melihat Belik Ludah.


Anak itu belum bicara sejak dibawa dari pasar. Ia harus ditotok agar tidak berteriak menangis dan ketika dibawa berkuda oleh Anjengan.


Air minum itu Belik Ludah tenggak sampai bokong gelas naik ke atas. Setelahnya ...


"Aaakr!"


Tiba-tiba Belik Ludah bersendawa keras seperti anak monster kekenyangan.


"Hahahak ...!" Alma kembali tertawa terbahak di saat Mbah Hitam tetap cool.


Setelah tawa Alma reda, barulah bocah subur itu ditanya.

__ADS_1


"Kau sudah kenyang?" tanya Alama.


Belik Ludah mengangguk.


"Sudah tidak haus?" tanya Alma lagi.


Belik Ludah kembali mengangguk.


"Jika begitu, pergilah dengan bebas!" suruh Alma Fatara.


Belik Ludah lalu berdiri dan berbalik. Namun, ia berhenti dan berdiri dengan perasaan takut, sebab ia hanya melihat kegelapan hutan yang menyeramkan.


Setelah diam sejenak memperhatikan lingkungan sekitarnya yang menyeramkan, Belik Ludah kembali berbalik menghadap kepada Alma Fatara dan Mbah Hitam.


"Kenapa?" tanya Alma Fatara yang sudah tahu apa yang dirasakan oleh anak remaja itu.


"Takut," jawab Belik Ludah untuk pertama kalinya, seraya mengerenyit hendak menangis. Dengan wajah yang mewek, Belik Ludah memanggil, "Bapaaak!"


"Di mana bapakmu?" tanya Alma.


"Sudah mati," jawab Belik Ludah sambil mulai menangis mengeluarkan air mata. Ia terus menangis, terlebih ketika mengingat nasib ayahnya.


"Bapakmu dibunuh?" tanya Alma lagi.


Belik Ludah mengangguk, masih sesegukan.


Belik Ludah yang masih sesegukan tidak langsung menjawab. Ia memandangi Alma yang tersenyum, lalu menyeka ingusnya dengan lengan bajunya. Benar-benar bocah yang masih ingusan.


"Bagaimana, kau mau ikut Ratu Dewi Dua Gigi atau tinggal di hutan ini sendirian?" tanya Alma lagi.


"Aku ikut Ratu," jawab Belik Ludah akhirnya.


"Gusti Ratu," ucap Mbah Hitam meralat dengan suara tuanya.


"Hah!" kejut Belik Ludah.


"Tidak apa-apa. Pengawal Ratu memang seperti itu suaranya," kata Alma segera agar bocah itu kembali tenang.


"Ratu sudah memperkenalkan diri kepadamu, tapi Ratu belum tahu siapa namamu?" tanya Alma.


"Namaku Belik Ludah, Gusti Ratu," jawab Belik Ludah yang sudah berhenti menangis.


"Biar aku siapkan tempat tidur yang nyaman buat anak ini, Gusti Ratu," izin Mbah Hitam.


"Pergilah!" kata Alma Fatara.

__ADS_1


"Belik, kenapa dua orang jahat tadi memperebutkan dirimu?" tanya Alma.


"Aku tidak tahu," jawab Belik Ludah lugu.


"Pasti ada yang istimewa pada dirimu sehingga kau diperebutkan oleh dua orang jahat tadi. Atau, kau memiliki benda yang sangat berharga," terka Alma Fatara.


"Aku hanya membawa obat-obatan di tasku, Gusti Ratu," kata Belik dengan wajah murung.


"Kenapa kau membawa obat-obatan? Apakah kau pandai mengobati orang sakit?" tanya Alma penasaran.


"Iya, Gusti Ratu," jawab Belik Ludah.


"Kau juga bisa mengobati orang yang keracunan?" tanya Alma lagi.


"Iya."


"Kau tahu tentang macam-macam racun?"


"Banyak. Hampir semua jenis racun aku tahu, Gusti Ratu."


Terkesiaplah Alma Fatara mendengar pengakuan Belik Ludah itu.


"Juling Jitu!" teriak Alma Fatara tiba-tiba.


"Hamba, Gusti Ratu!" sahut Juling Jitu dari kelompoknya.


"Lesatkan satu kerismu ke sini!" teriak Alma lagi memerintah.


Juling Jitu lalu merogoh balik baju barunya yang berwarna putih. Ia lalu melesatkan satu keris mini ke arah Alma Fatara,


Set! Sep!


Satu keris mini melesat cepat menembus kegelapan kepada Alma. Dengan menggunakan Benang Darah Dewa, Alma Fatara menangkap keris itu.


Benang Darah Dewa lalu menyodorkan keris mini ke depan Belik Ludah.


"Apakah kau tahu, racun apa yang terkandung pada keris kecil ini?" tanya Alma.


Belik Ludah lalu mengendus sebentar benda yang dililit oleh benang yang nyaris tidak terlihat. Karena disuguhkan di depan hidungnya, jadi Belik Ludah bisa melihat keberadaan benang merah tersebut.


"Ini Racun Karang Biru, menyerang persendian, Gusti Ratu," jelas Belik Ludah.


"Lalu apa obat penawarnya?"


"Penawarnya adalah pil Cumi Merah."

__ADS_1


Alma Fatara tersenyum sambil manggut-manggut. Apa yang sebutkan oleh Belik Ludah cocok dengan perkataan Cucum Mili.


"Aku curiga, orang-orang jahat itu ingin mengambilmu sebagai tabib kecil, Belik. Tapi aku yakin, tidak sesederhana itu. Kau bukan anak biasa. Jadi tepat, jika kau ikut Ratu Dewi Dua Gigi. Hahaha!" (RH)


__ADS_2