Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Kerja Bu 2: Memancing Berbuah Cinta


__ADS_3

*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*


Kali ini Wangiwulan pergi seorang diri ke Sungai Hijau, di tempat kemarin ia bertemu dengan seorang pemuda pemancing ikan yang lucu. Kali ini, selain menyandang pisau bersarung di pinggangnya, Wangiwulan juga membawa sebuah pedang bersarung warna hijau gelap tapi mengilap.


Wangiwulai tidak menuai kecewa, karena Rawil Sembalit ada sedang memancing di tempat yang sama dengan kemarin.


“Kisanak, kau memancing lagi di sini?” sapa Wangiwulan.


Rawil Sembalit cukup terkejut karena gadis cantik sekali yang kemarin, sudah berdiri tidak jauh darinya. Hari ini gadis itu berpakaian warna merah muda dengan paduan warnah putih bersih.


“Eh, Nisanak! Apakah sedang lewat lagi?” sapa Rawil Sembalit tanpa bangun dari duduknya. Ia hanya mendongak karena Wangiwulan berdiri sambil memandang ke air sungai.


“Tidak. Aku sengaja datang ke sini untuk melihat kau memancing.”


“Oh ya? Rupanya kau tertarik memancing juga. Apakah kau ingin memancing juga? Aku akan pulang untuk mengambilkanmu kail.”


“Tidak usah. Besok saja jika kau memang masih sudi ditemani olehku.”


Wangiwulan lalu duduk di potongan kayu yang kemarin ia juga duduki. Kayu itu tidak berpindah dari tempatnya.


“Namamu siapa, Kisanak? Dari kemarin kita tidak saling kenal,” tanya Wangiwulan.


“Rawil Sembalit. Orang-orang lebih mengenalku bernama Dukun Ikan,” jawab Rawil Sembalit.


“Nama Dukun Ikan lebih mudah diingat. Namaku Wangiwulan.”


“Nama yang indah. Hahaha! Kau seorang pendekar?”


“Iya. Kenapa kau tidak menjadi pendekar?”


“Bagaimana kau tahu aku bukan pendekar?”


“Hihihi! Sangat jelas perbedaan raga dan sifat antara pendekar dengan orang biasa, kecuali pendekar itu bisa menyamarkan diri seperti orang biasa.”


“Aku hanya ingin bahagia dalam hidup. Cukup bagiku untuk bahagia dengan mendapatkan ikan-ikan yang cantik.”


“Yang mana lebih cantik, aku atau ikan-ikanmu?” tanya Wangiwulan sambil tersenyum penuh pesona.


“Aaah, kau menggodaku. Hahaha!”


“Hihihi!”


“Jika wanita lain, dengan tegas aku akan mengatakan, ikan-ikanku lebih cantik. Tapi jika membandingkanmu, aku tidak bisa berkata apa-apa, karena kau terlalu cantik,” jawab Rawil Sembalit.


“Hihihi! Itu artinya kau juga akan menciumku seperti kau mencium ikan-ikanmu itu? Ikanmu saja kau cium, apalagi aku yang lebih cantik dari ikan-ikanmu itu.”


“Hanya jika kau memakan umpanku dan terpancing,” jawab Rawil Sembalit.


“Hihihi! Apakah kau pernah memancing wanita cantik sepertiku?”


“Belum. Hehehe!” Rawil Sembalit melirik malu kepada Wangiwulan.

__ADS_1


Lirikan Rawil itu membuat Wangiwulan tersenyum. Ia suka melihat tingkah kocak dan malu-malu pemuda lugu itu.


Tiba-tiba Rawil tersentak terkejut sambil pegangi bokongnya. Ia sampai terlompat dan mematung di tempatnya.


“Wangiwulan, tolong jaga kailku, aku keluar sedikit!” teriak Rawil tiba-tiba dengan panik.


Wangiwulan terkejut dan sejenak pikirannya loading mencoba menagkap maksud dari kata “keluar sedikit”.


Sementara Rawil Sembalit sudah berlari lucu karena sambil membekapi lubang bokongnya dengan satu tangan.


“Hihihi!” Akhirnya Wangiwulan hanya bisa tertawa. Ia paham ketika Rawil Sembalit turun ke air melalui jalan yang mudah. Rawil Sembalit mencari tempat yang tepat dan terlindungi untuk membuka celanannya.


Tiba-tiba tali kail bergerak-gerak yang menarik ujung tangkai kail. Wangiwulan terkejut dan cepat meraih kayu kail.


“Eh eh eh! Aaa! Kena kau! Yaaa lepas!” Wangiwulan jejeritan sendiri karena panik bercampur gembira. Hingga akhirnya berujung kecewa.


Ketika Wangiwulan menarik keras kailnya, ikan yang sudah terasa tersangkut oleh kail, lepas.


Kejadian itu benar-benar membuat Wangiwulan gembira dan akhirnya penasaran, karena ia gagal. Ia penasaran ingin berhasil mendapatkan ikan.


Sementara itu, di tempat tongkrongannya di air dangkal, Rawil Sembalit hanya tersenyum-senyum mendengar kehebohan Wangiwulan dalam menghadapi seekor ikan.


“Aku akan menangkapmu lagi!” desis Wangiwulan.


Ia lalu merogoh umpan di tabung bambu pendek.


“Akk!” jerit Wangiwulan saat melihat apa yang diambil oleh jari tangannya.


Sontak ia menghentakkan jari tangannya, sehingga ulat sagu yang ada di jarinya terpental entah ke mana.


“Hiii!” Gadis cantik itu tergidik geli.


“Ada apa?” tanya Rawil Sembalit sambil datang dengan berlari kecil dan mengikat tali celananya.


“Apa yang ada di dalam bambu umpanmu?” tanya Wangiwulan.


“Ulat sagu,” jawab Rawil Sembalit.


“Aku geli memegangnya. Kenapa tidak pakai jangkrik seperti kemarin?”


“Bukankah kau pendekar, kenapa harus geli? Hahaha!”


“Jangan mengejekku!”


“Tidak. Hehehe!” jawab Rawil Sembalit tertawa cengengesan. “Aku dengar kau tadi berteriak-teriak?”


“Aku tadi mendapatkan ikan!” jawab Wangiwulan semangat.


“Lalu ikannya mana?”


“Lepas.”

__ADS_1


“Yaaah!”


“Ayo pancing lagi!”


Hari kedua kebersamaan Rawil Sembalit dan Wangiwulan membuat mereka semakin akrab.


Ketika kail Rawil Sembalit ditarik oleh gigitan ikan, pemuda itu menyuruh Wangiwulan yang menariknya.


“Aw! Berat!” pekik Wangiwulan terkejut. Saat panik itu, ia tidak berpikir menggunakan tenaga dalam untuk bertarung tarik dengan seekor ikan.


“Itu pasti siluman! Biar aku bantu!” seru Rawil Sembalit sambil ikut memegangi kail, sehingga tangannya memegang tangan Wangiwulan.


Dalam hati gadis itu terkejut ketika tangan si pemuda menggenggam kuat tangannya. Namun, ia melihat Rawil Sembalit tidak peduli tentang hal perasaan. Pemuda itu fokus heboh dalam menarik ikan.


Wangiwulan yang sempat terdiam sedetik karena terkejut, kembali melarutkan diri dalam keseruan menarik pancing.


“Brojoool!” teriak Rawil Sembalit kencang saat ikan yang mereka kail berhasil tertarik keluar dari air.


Ternyata ikan yang lebih besar dari tangkapan Rawil Sembalit kemarin.


“Hahaha!” tawa Rawil Sembalit dan Wangiwulan bersama.


“Sini, Sayang. Papa ganteng cium!” kata Rawil Sembalit sambil menempelkan bibir ikan ke bibirnya yang mengembang ke depan. “Wangiwulan, kau harus mencoba mencium ikan tampan ini!”


“Bukannya ikan ini cantik?”


“Cantik bagiku, tapi tampan bagimu. Hahaha!”


“Hihihi!”


Akhirnya Wangiwulan pun mencoba mencium bibir ikan yang masih hidup. Untung si ikan tidak balas menggigit.


Keduanya tertawa kencang setelah Wangiwulan lulus ujian mencium ikan.


Mereka memancing sampai malam hari. Ada kalanya mereka berbincang ngalor ngidul, ada kalanya mereka seru-seruan saat mendapat ikan, ada kalanya mereka hening menikmati kegembiraan, dan ada kalanya Rawil Sembalit bermain suling sementara Wangiwulan menikmati.


Malam harinya Wangiwulan membuat perapian untuk memanggang ikan, lalu makan bersama. Keduanya tampak begitu bahagia.


Pulang dari memancing, keduanya membawa perasaan bahagia masing-masing. Malamnya, keduanya mengalami sulit tidur, karena selalu mengingat berbagai kejadian waktu memancing. Ingatan yang membuat tersenyum sendiri di kala semua orang terlelap.


Keesokannya, Rawil Sembalit membawa dua pancingan. Keduanya kembali mancing bersama. Keakraban mereka semakin kental dan lekat. Kini mereka tidak sungkan untuk bersentuhan dan berbenturan fisik.


Seiring itu, tunas-tunas cinta mulai tumbuh di hati keduanya yang kemudian mekar berbunga. Mulai saat itu, keduanya selalu bersama untuk memancing. Jenuh di sungai, mereka pun pergi bersama ke tempat lain yang lebih jauh.


Pada suatu hari, Rawil Sembalit menantang Wangiwulan untuk memancing di dalam Hutan Kuasa Hitam, tepatnya di sebuah danau berbatu di dalam hutan. Danau itu jarang didatangi manusia karena adanya mitos penunggu hutan yang adalah ular raksasa berwarna hitam pekat bermata biru. Wangiwulan menerima tantangan itu. Maka mereka pergi ke luar kadipaten demi hobi.


Ketika mereka tiba di danau, mereka tidak menemukan ular raksasa atau binatang aneh lainnya. Namun, di saat memancing itulah, Wangiwulan menggoda Rawil Sembalit untuk melakukan hubungan bibir dan lidah dalam gejolak asmara, yang menuntun kepada hubungan badan dan koneksi birahi.


Ternyata, Rawil Sembalit adalah pemuda yang lugu tentang hubungan asmara antara lelaki dan wanita, sehingga Wangiwulan banyak menuntun Rawil Sembalit agar memberikan gerakan yang enak.


Selanjutnya, dunia pun hanya bisa memikirkan apa yang terjadi. (RH)

__ADS_1


**************


Jangan lupa dukung selalu "Alur Cinta Si Om Genit" dengan vote, like, komen dan gift-mu, karena chat story Om sedang ikut lomba hingga Januari 2022. 


__ADS_2