
*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*
Raden Runok Ulung sudah mencabut Keris Lidah Malaikat. Jika keris pusaka Raden Gondo Sego bersinar biru terang, maka Keris Lidah Malaikat bersinar biru gelap dan terkesan lebih mengerikan.
Raden Gondo Sego, Nyai Kandi dan Suriga dalam ketegangan melihat Keris Lidah Malaikat terhunus, terlebih kondisi Raden Gondo Sego sudah terluka parah karena terkena ilmu Api Sekejam Hati.
Namun, hanya Raden Gondo Sego yang tahu seperti apa kesaktian Keris Lidah Malaikat itu.
Zerss!
Raden Runok Ulung lalu menusukkan kerisnya lurus ke langit. Keris itu kemudian memancarkan kilatan-kilatan listrik berwarna putih di luar sinar biru gelapnya. Aura mengerikan terpancar dari keris itu.
Para centeng yang dimiliki oleh Keluarga Raden Gondo Sego yang telah mengalahkan para centeng keluarga tamu, ikut tegang.
Raden Runok Ulung tinggal menusukkan ke tanah, maka mungkin pertarungan di halaman yang luas itu akan berakhir.
Set!
Namun, belum lagi Raden Runok Ulung menusukkan kerisnya ke tanah, tiba-tiba sebuah benda bersinar merah melesat dan menancap tepat di tanah depan ujung jari kaki si kakek.
“Kujang Sakti!” sebut Raden Runok Ulung terkejut dan sontak gerakannya tertahan.
Semua orang juga terkejut, meski tidak semua orang bisa melihat jelas benda apa yang menancap di depan kaki Raden Runok Ulung.
Benda itu adalah sebilah kujang berwarna merah dan bersinar merah. Merah kujangnya bukan warna cat, tetapi logam bahan kujangnya memang berwarna merah mirip tembaga, tetapi bukan tembaga. Entah logam jenis apa itu.
Seiring itu pula, sesosok tubuh berjubah putih bersih berlari di udara dan mendarat di tanah halaman dengan halus, seperti burung dara yang mendarat.
“Jangan gunakan keris itu, Raden!” larang sosok lelaki berambut gondrong lurus berwarna putih. Kepalanya diikat dengan totopong kain putih. Ia hanya memiliki kumis putih yang tipis. Orang inilah yang bernama Rawe Sego yang berjuluk Pendekar Kujang Sakti, adik dari Gondo Sego yang tinggal di kademangan tetangga.
“Jangan ikut campur, Rawe Sego!” hardik Raden Runok Ulung dengan keris masih bersinar mengerikan. Ia kenal orang yang baru datang.
“Aku akan ikut campur jika kau melakukan pembunuhan besar seperti ini!” tandas Rawe Sego.
__ADS_1
“Mereka semua telah membunuh cucuku Jaran Telu. Maka sepantasnya mereka juga mati!” tegas Raden Runok Ulung.
“Dia berdusta!” sergah Raden Gondo Sego. Lalu katanya kepada mantan sahabatnya itu, “Tidak ada yang membunuh cucumu. Kau hanya membuat alasan yang mengada-ada untuk menciptakan masalah. Justru cucumu yang sampah itu yang menodai putriku.”
“Bukan cucuku yang sampah, tetapi putrimu yang terlalu murahan!” tukas Raden Runok Ulung.
“Raden, jika cucumu mati dibunuh, lalu tangan siapa yang benar-benar membunuhnya. Sebutkan namanya jika kau mengenalnya, atau sebutkan ciri-cirinya jika kau tidak mengenal namanya!” kata Rawe Sego.
“Aku tidak melihat siapa yang membunuhnya, tetapi yang jelas, keluargaku sekarang sedang berduka atas kematian cucuku. Tidak ada orang lain yang berniat membunuhku dan keturunanku selain keluarga ini ….”
“Maafkan aku, Raden. Kau tidak bisa mengambil kesimpulan hanya berdasarkan keyakinan dan dugaan semata. Kau adalah seorang bangsawan tinggi, pernah dekat dengan keluarga Istana Singayam. Jadi, tindakan Raden juga harus terjaga. Lebih baik Raden selidiki dulu siapa orang yang telah menjatuhkan maut kepada cucumu itu,” kata Rawe Sego.
“Tidak perlu cara-cara hormat kepada kalian. Kalian jangan pernah lupa, kalianlah penyebab aku dan keturunanku jadi orang terbuang!” tuding Raden Runok Ulung.
“Jika Raden tetap berniat menyerang dengan Keris Lidah Malaikat itu, maka maafkan aku jika melukai Raden dengan kujangku,” tandas Rawe Sego.
“Coba saja jika berani! Hiaat!” teriak Raden Runok Ulung sambil kembali bergerak hendak menusukkan kerisnya ke bumi.
Blass!
Bdugk!
Tubuh Raden Runok Ulung jatuh berdebam ke tanah. Dengan begitu, keris pusakanya yang masih tergenggam di tangan jadi padam.
Raden Runok Ulung cepat bangun dengan bibir bawah dan jenggot dilumuri darah, menunjukkan bahwa ia menderita luka dalam cukup parah, meski tidak separah Raden Gondo Sego.
Sementara Rawe Sego menghentakkan tangan kanannya ke arah kujang merahnya. Senjata itu melepaskan diri dari tanah yang langsung melesat ke dalam genggaman tuannya.
“Berarti kau telah terlibat dalam perseteruan ini, Rawe Sego!” geram Raden Runok Ulung.
Tiba-tiba di udara melesat sosok putih.
Swiss!
__ADS_1
Saat masih berada di udara, sosok yang adalah wanita cantik itu meloloskan pedangnya. Maka tiba-tiba di lingkungan halaman itu muncul begitu saja lima bola sinar merah redup sebesar bola sepak. Kelima sinar itu melayang diam di udara dan tersebar. Dua di antaranya melayang di dekat tubuh Rawe Sego dan Suriga.
Belum habis rasa terkejut dan belum sempat mereka berbuat sesuatu, tiba-tiba ….
Bluar bluar bluar …!
Kelima bola sinar itu langsung meledak dahsyat, sebelum wanita yang datang itu mendarat di tanah.
Rawe Sego terpental dengan tubuh wajah dan pakaian terbakar. Hal yang sama dialami oleh Suriga. Sementara Raden Gondo Sego dan para centengnya berjengkangan. Sebagian dari centeng juga menderita kebakaran pada dirinya.
“Aak! Panaaas!” jerit Suriga sambil guling-guling di tanah dengan tubuh terbakar api.
Keling dan Basgoro yang selamat dari bahaya ilmu Lima Mata Setan Neraka buru-buru memadamkan api di tubuh majikannya.
Adapun Rawe Sego yang juga terjengkang dalam kondisi terbakar, cepat menyelamatkan wajahnya dari api dengan mengusap seluruh bagian tubuhnya yang terbakar. Ternyata cara itu bisa dengan mudah memadamkan api. Namun, meski demikian, tetap saja pakaian dan rambut ada yang hilang dimakan api. Kini wajah Rawe Sego terlihat lucu karena alis dan kumisnya telah gundul.
Sementara itu, Raden Gondo Sego terdorong dan berguling dua kali di tanah. Ketika ia bangun duduk, terlihat wajahnya begitu merah dan ada luka melepuh.
“Aaak! Akk …!”
Yang paling berisik adalah para centeng yang menderi kebakaran pada tubuhnya. Namun kemudian, mereka dibantu oleh rekan-rekannya.
“Ayo kita lanjutkan pertarungan ini!” teriak wanita berpakaian putih lantang. Ia adalah Narisantai yang baru mengerahkan ilmu Lima Mata Setan Neraka.
“Bagus kau telah datang, cucuku!” puji Raden Runok Ulung. “Kita habisi mereka semua agar tidak ada lagi ancaman bagi keluarga kita!”
“Sepertinya memang tidak bisa dihindari!” kata Rawe Sego. Ia lalu membuka jubah putihnya dan membuangnya. Kini di tangannya telah tergenggam dua kujang merah.
“Hahahak …!”
Tiba-tiba terdengar suara tawa wanita yang keras terbahak seperti tawa bapak-bapak. Namun anehnya, suara tawa itu berasal dari dalam rumah utama Keluarga Gondo Sego.
Semua orang terkejut karena semuanya mendengar suara tawa kencang itu.
__ADS_1
Raden Gondo Sego, istrinya, putranya, dan para centeng, jadi heran dan bertanya-tanya, pasalnya mereka tidak memelihara dedemit perempuan di dalam rumah.
Mau tidak mau, suara tawa kencang itu membuat pertarungan tidak nyaman dan suasananya terganggu. Seperti sedang asik-asiknya menonton timnas pujaan mau sepak penalti, eh tiba-tiba televisi akinya habis. (RH)