
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Tengkorak Bayang Putih dan Tengkorak Telur Bebek dibiarkan naik kuda sendiri-sendiri dalam kondisi yang sangat lemah. Tengkorak Bayang Putih berkuda sambil tertelungkup dan memeluk leher kuda. Sementara Tengkorak Telur Bebek sudah semakin mebaik, tetapi masih lemah.
Kepulangan Lima Dewi Purnama dengan membawa dua orang lelaki yang terluka parah, cukup membuat heboh kediaman Demang Mahasugi.
Demang Mahasugi yang belakangan lebih sering berada di rumahnya, segera keluar untuk melihat siapa yang dibawa oleh pengawal Alma Fatara itu.
“Siapa yang kalian bawa?” tanya Demang Mahasugi yang kemudian muncul istrinya dan berdiri di sisinya.
“Kedua pemuda ini adalah Tengkorak Telur Bebek dan Tengkorak Bayang Putih, Kanjeng Gusti,” jawab Semai Cinta selaku juru bicara. Jika Gagap Ayu yang menjawab, bisa repot urusannya.
Kelima gadis cantik itu sudah turun dari kudanya, tinggal Dua Tengkorak Putih yang masih berada di kudanya.
Cukup terkejut Demang Mahasugi dan istrinya serta Ronga Kamboja yang berdiri di belakang kedua majikannya.
“Gusti Ratu memerintahkan kami membawa mereka agar diobati oleh Bocah Tabib Belik Ludah,” tambah Semai Cinta.
“Jika demikian, bawa saja mereka ke kamar tempat Tengkorak Pedang Siluman diobati!” kata Demang Mahasugi.
“Baik, Kanjeng Gusti,” ucap Semai Cinta.
“Prajurit, bantu bawa kedua lelaki itu ke kamar dalam!” teriak Putri Cicir Wunga kepada prajurit terdekat yang berjaga.
Beberap prajurit segera datang membantu menurunkan Dua Tengkorak Putih dari atas kuda, lalu menggotongnya naik ke teras. Putri Cicir Wunga segera mengarahkan para prajurit itu.
Gagap Ayu dan Sukma Senja ikut masuk ke dalam, sementara Semai Cinta, Jing Menari dan Tabir Gemas sebatas sampai teras.
“Apa yang terjadi di perjalanan menuju Nuging Muko?” tanya Demang Mahasugi.
“Pasukan Bandar Bumi menyergap kami. Namun sayang, mereka menyergap pasukan yang salah. Tengkorak Bayang Putih dan Tengkorak Telur Bebek termasuk bagian kelompok mereka,” jawab Semai Cinta.
“Lalu kenapa mereka harus dibantu?” tanya Demang Mahasugi.
“Gusti Ratu sudah berjanji tidak akan membunuh anggota Keluarga Tengkorak kecuali ….”
“Kecuali satu orang,” sambung Demang Mahasugi memotong perkataan Semai Cinta. “Aku sudah mendengarnya. Sepertinya aku tahu siapa anggota Keluarga Tengkorak yang akan dibunuh oleh Ratu Alma Fatara. Bukankah kalian orang-orang Perguruan Bulan Emas di Bukit Tujuh Kepala?”
“Benar, Kanjeng Gusti,” jawab Semai Cinta.
“Bagaimana bisa kalian bergabung dengan Ratu Siluman?”
“Gusti Ratu mengalahkan guru kami dan menaklukkan Perguruan Bulan Emas. Jadi, kini perguruan kami berada dalam kuasa Kerajaan Siluman dan mengabdi kepada Ratu Siluman,” jelas Semai Cinta.
“Hebat,” ucap Demang Mahasugi. “Sebenarnya ke mana tujuan kalian?”
“Kami hanya mengikuti Gusti Ratu mengembara untuk menggenggam dunia. Sebenarnya tujuan utama Gusti Ratu adalah mencari asal-usulnya dengan mencari siapa kedua orangtuanya. Seiring itu, perjalanan ini juga bertujuan menggenggam dunia. Hanya Gusti Ratu yang mengerti caranya,” jelas Semai Cinta.
Demang Mahasugi hanya manggut-manggut.
Sementara itu, di dalam kamar perobatan terjadi keterkejutan. Tengkorak Pedang Siluman terkejut ketika melihat dua orang sakit yang dibawa masuk.
“Dua Tengkorak Putih!”
Tengkorak Bayang Putih dan Tengkorak Telur Bebek juga terkejut, ketika nama julukan mereka berdua disebut oleh seorang nenek yang terbaring di atas ranjang. Sementara mereka berdua dibaringkan di lantai.
“Nenek Pedang Siluman!” sebut keduanya terkejut.
“Kenapa kalian bisa terluka seperti itu?” tanya Tengkorak Pedang Siluman.
“Pasukan Ratu Siluman yang membuat kami seperti ini,” jawab Tengkorak Telur Bebek.
“Be-be-berani berbuat, ha-ha-ha ….”
“Hahaha!”
__ADS_1
Mendadak tawa Tengkorak Telur Bebek pecah mendengar Gagap Ayu bicara. Memang, sepanjang perjalanan, dia tidak pernah mendengar Gagap Ayu bicara.
Tak!
“Aw!” pekik Tengkorak Telur Bebek saat kepalanya dijitak begitu saja oleh Gagap Ayu.
“Ja-ja-jangan meledek. Ji-ji-jika aku tidak pa-pa-patuh pada Ratu Si-si-siluman, sudah mati kau!” kecam Gagap Ayu. “Ma-ma-masih syukur kami yang ca-ca-cantik-cantik ini mau me-me-membawamu.”
“Hihihi!” tawa Sukma Senja mendengar kata-kata Gagap Ayu.
Di saat itu, Belik Ludah muncul membawa kendi dan gelas.
“Kenapa ramai sekali?” tanya Belik Ludah dengan ekspresi yang lugu, seolah minta dikasihani.
“Ada dua orang pasien untukmu, Bocah Tabib,” jawab Sukma Senja.
Belik Ludah lalu melihat kondisi kedua pemuda tersebut.
“Yang botak harus cepat diobati. Yang ini tidak usah diobati,” kata Belik Ludah.
Terkejut Tengkorak Telur Bebek mendengar perkataan Belik Ludah.
“Kenapa aku tidak usah diobati? Kau ingin membiarkanku mati, Bocah Gendut!” protes Tengkorak Telur Bebek.
Belik Ludah lalu meletakkan kendi dan gelas yang dibawanya di dekat Tengkorak Pedang Siluman. Lalu dia meraih gayung batok kelapanya dan dengan seenaknya memukul jidat Tengkorak Telur Bebek.
Dak!
“Akk!” jerit Tengkorak Telur Bebek. Lalu bentaknya, “Anak Setan! Kau mau aku buat onde-onde hah?!”
Bentakan itu membuat Belik Ludah takut lalu buru-buru berlindung di belakang bokong Sukma Senja.
“Hihihi …!” tawa para wanita itu, termasuk Tengkorak Pedang Siluman.
“Ji-ji-jidatmu dipukul agar lu-lu-lukamu se-se-sembuh, Tukang Telur,” kata Gagap Ayu. Kali ini tidak ada yang tertawa mendengar dia bicara.
“Ada, yaitu pe-pe-pengobatan Bo-bo-bocah Tabib!” debat Gagap Ayu.
“Cepat obati aku,” ucap Tengkorak Bayang Putih lemah.
Belik Ludah lalu menghampiri Tengkorak Bayang Putih.
“Tunggu, tunggu!” ucap pemuda botak itu.
Belik Ludah pun berhenti.
“Tolong orang-orang cantik keluar saja, aku malu dilihat seperti ini. Sekarang aku tidak ganteng lagi,” ucap Tengkorak Bayang Putih dengan nada lemah dan wajah mengenaskan.
“Hihihik!” Tertawalah Gagap Ayu dan Sukma Senja.
Putri Cicir Wunga memilih pergi meninggalkan kamar di dalam rumahnya itu. Sukma Senja pun melangkah pergi.
“Kakak Ayu, jangan pergi. Aku takut dimarahi lagi!” rengek Belik Ludah manja.
“Iya, aku ti-ti-tidak akan pe-pe-pergi,” kata Gagap Ayu. “Ji-ji-jika dia memarahimu, aku akan me-me-me ….”
“Memelukku? Hahaha!” potong Tengkorak Telur Bebek lalu langsung tertawa sendiri.
Kondisi tubuh Tengkorak Telur Bebek sepertinya sudah lebih baik. Ia mendadak berhenti tertawa setelah tersadar.
“Eh, pentunganmu membuatku lebih sehat, Gendut!” pekik Tengkorak Telur Bebek sambil tersenyum sumringah.
“Ma-ma-maka itu, ja-ja-jangan mama marah dulu, Telur Bebek!” hardik Gagap Ayu.
“Hahaha …!”
Tiba-tiba Belik Ludah tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai tubuhnya terguncang-guncang.
__ADS_1
“Telur Bebek! Hahaha!” ucapnya di sela-sela tawanya.
“Aku ti-ti-tidak mengejeknya, ta-ta-tapi itu me-me-memang namanya,” kilah Gagap Ayu.
“Oooh!” desah Belik Ludah tanda mengerti.
Dak!
“Aaak!” jerit Tengkorak Bayang Putih keras dan panjang, ketika jidatnya tahu-tahu digebuk dengan batok kelapa Belik Ludah. Suara jeritannya sampai terdengar ke luar rumah.
“Hihihik …!” tawa terkikik Gagap Ayu. “La-la-laki-laki jeritannya panjang se-se-se ….”
“Semua!” seru Tengkorak Telur Bebek memotong kata-kata Gagap Ayu.
“Se-se-sekaliii!” ralat Gagap Ayu kepada Tengkorak Telur Bebek.
“Luka Kakang tidak separah luka Nenek Siluman. Jangan khawatir, tidak akan mati,” kata Belik Ludah kepada Tengkorak Bayang Putih.
“Yang aku takutkan bukan mati, tapi yang aku takutkan adalah wajahku tidak akan tampan lagi,” kata Tengkorak Bayang Putih.
Dak!
“Aaak!” jerit Tengkorak Bayang Putih keras dan panjang, ketika tiba-tiba jidatnya dipukul kembali oleh Belik Ludah.
Buru-buru Tengkorak Bayang Putih memegangi jidatnya dan mengusa-usapnya. Terasa bahwa jidat itu benjol.
“Hahahak!” Kali ini Tengkorak Telur Bebek tertawa terbahak.
“Hihihi!” tawa Gagap Ayu.
“Jika Kakang mau tampan lagi, tidak bisa cepat. Luka bakar itu tidak bisa diobati dengan batok kelapaku, tetapi dengan ramuan dan butuh waktu tiga pekan,” kata Belik Ludah tanpa ragu.
“Tidak apa-apa. Tapi, kau punya obatnya?” tanya Tengkorak Bayang Putih untuk lebih yakin.
“Iya. Dua pukulanku sudah cukup untuk mengurangi sakit Kakang. Besok lagi, agar jidat Kakang tidak benjol besar,” kata Belik Ludah. “Aku akan membuatkan ramuan untuk luka bakar Kakang.”
Belik Ludah lalu berjalan pergi meninggalkan kamar itu. Dengan perginya Belik Ludah, Gagap Ayu pun memutuskan pergi juga.
“Nenek Pedang Siluman, kenapa Nenek ada di sini?” tanya Tengkorak Telur Bebek.
“Siapa lagi jika bukan Ratu Siluman yang membuatku seperti ini. Aku kalah telak, tapi dia berbaik hati untuk tidak membunuhku,” jawab Tengkorak Pedang Siluman.
“Bukankah Nenek memiliki Pedang Sepuluh Siluman yang sangat hebat itu?” tanya Tengkorak Telur Bebek.
“Apakah kau tidak melihat pedang itu sekarang ada padanya?” tanya si nenek.
“Tidak,” jawab Tengkorak Telur Bebek.
“Jika kita sehat lagi, kita harus balas kekalahan kita, Nek,” kata Tengkorak Bayang Putih.
“Cukup sekali aku tidak mau memahami kematian Tengkorak Pedang Kilat. Aku tidak mau terulang, tidak mau memahami kebaikan Ratu Siluman. Jika kau mau memilih mati, lawanlah dia lagi. Kalian harus tahu, aku dikalahkan bukan dengan pusaka Bola Hitam yang dia miliki,” kata Tengkorak Pedang Siluman.
“Lalu apa yang harus kita lakukan kepada Ratu Siluman cantik itu?” tanya Tengkorang Telur Bebek.
“Jika kau memusuhinya, hindari dia. Namun jika tidak, lebih baik bersahabat dengannya,” saran si nenek.
“Jika bisa, aku ingin menjadi suaminya. Tapi sekarang wajahku malah rusak,” kata Tengkorak Bayang Putih.
“Jangan sembarangan menghayal!” hardik Tengkorak Pedang Siluman.
“Tapi Kakek Sabit Putih akan membunuhnya,” kata Tengkorak Telur Bebek.
“Doakan saja kepada Dewa agar Sabit Putih bisa membunuh Ratu Siluman itu,” kata Tengkorak Pedang Siluman. “Aku yakin, Sabit Putih tidak akan sendirian dalam menghadapi Ratu Siluman. Sebab kematian Pedang Kilat menjadi ukuran setinggi apa kesaktian Ratu Siluman.”
“Kemarin Kakek Sabit Putih mengatakan bahwa dia sedang menunggu kedatangan Nenek Ratu Maut,” kata Tengkorak Telur Bebek.
“Jika melawan dua orang, Ratu Siluman pasti akan mati!” ucap Tengkorak Pedang Siluman yakin. (RH)
__ADS_1