
*Episode Terakhir (PITAK)*
Akhirnya Puding dan Wulan Kencana memasuki sebuah ruangan besar yang memiliki rak batu berbaris-baris. Rak-rak batu itu diisi penuh oleh berbagai benda yang berkelompok seperti perpustakaan atau museum.
Ada rak yang penuh dengan berbagai macam bentuk kitab, ada rak pedang, ada rak keris, ada rak perisai, tombak, golok, panah, pisau, obat-obatan, hingga alat-alat masak yang terhitung sebagai benda pusaka, ada tersedia di tempat itu.
Tidak cukup satu lantai ruangan besar, masih ada banyak rak batu di lantai dua, tiga dan empat.
Melihat hal itu, Wulan Kencana terperangah sampai tidak sadar bahwa mulut keriputnya ternganga sejak tadi. Beruntung di tempat itu bebas dari binatang serangga. Jangan berharap akan menemukan tikus atau lalat dan kecoa di tempat yang bernama Istana Pusaka itu.
“Jika aku bisa membawa tiga senjata pusaka terhebat saja, aku bisa menjadi yang tersakti di dunia ini,” ucap Wulan Kencana.
“Hahaha!” tawa Puding melihat reaksi yang ditunjukkan oleh si nenek. “Lihatlah, bukankah ini tidak sebanding dengan bayaran yang aku tawarkan yang terlalu murah?”
Wulan Kencana tidak menjawab pertanyaan Puding, dia segera pergi mencari rak yang menyimpan benda-benda pusaka terkait dengan pengobatan.
Setiap benda pusaka memiliki gantungan sehelai daun lontar yang padanya ada catatan data tentang benda pusaka tersebut, apa namanya, peninggalan siapa dan apa saja kesaktiannya.
Dengan adanya catatan tersebut, orang akan dipermudah untuk mencari benda apa yang diniatkannya.
“Di mana? Di mana?” ucap si nenek sambil matanya sibuk mencari nama obat yang ada di dalam pikirannya.
Sebenarnya Wulan Kencana tidak begitu tahu nama obat yang sedang dicarinya atau tahu seperti apa bentuknya. Namun, ia hanya tahu satu kata dari nama obat yang bisa menyembuhkan mungkin untuk semua jenis penyakit, kecuali kematian.
“Semesta, Semesta, Semesta,” sebut Wulan Kencana berulang-ulang kepada dirinya sendiri, sementara tangannya membaca satu per satu lembaran lontar.
Wulan Kencana saat itu sudah berada di rak batu yang berisi banyak sekali rempah dan pil-pil obat. Ada yang bertelanjang bulat, ada yang memiliki sarang, dan ada pula yang tersimpan di dalam bungkusan atau kotak kayu khusus.
“Apa nama obat yang kau butuhkan, biar aku bisa membantu mencarikannya?” tanya Puding.
“Aku lupa nama lengkapnya dan aku tidak tahu seperti apa bentuknya. Tapi ada kata Semesta pada namanya,” jawab Wulan Kencana.
“Aku bantu mencarikannya di rak sebelah bawah,” kata Puding. Tubuh pendek membuatnya sulit untuk menjangkau rak bagian menengah atau atas.
__ADS_1
Puding pun membantu Wulan Kencana. Butuh ketelitian, karena mereka hanya berbekal satu kata dari nama obat yang dimaksud.
Singkat cerita, setelah mencari cukup lama.
“Embun Semesta Hijau,” baca Puding dengan suara sengaja dikeraskan.
“Yah, itu!” pekik Wulan Kencana sontak menunjuk Puding.
Si nenek buru-buru mendatangi Puding dan melihat obat yang dimaksud oleh Puding.
Ada sebulat bola anyaman rotan yang pada ruang dalamnya bisa dilihat dari lubang-lubang pada bola. Terlihat bahwa di dalam bola rotan itu ada sebulat benda bercahaya hijau redup sebesar telur puyuh.
“Embun Semesta Hijau peninggalan Tabib Perawan. Obat segala jenis penyakit, kecuali kematian. Satu kali pengobatan cukup memakannya setengah butir dengan cara dikunyah halus.” Wulan Kencana membanca data yang tertulis pada selembar daun lontar yang tergantung dengan ikatan tali benang.
“Benarkah yang itu?” tanya Puding.
“Benar. Aku yakin inilah obatnya,” kata Wulan Kencana sumringah.
Ia lalu mengambil bola rotan tersebut. Menggunakan tenaga dalam yang tersisa dari miliknya, Wulan Kencana mematahkan anyaman-anyaman pada bola rotan tersebut. Dengan demikian, benda hijau bersinar redup bisa dikeluarkan.
Tanpa ragu dan berlama bosan, Wulan Kencana segera menggigit bagian tengah pil besar di tangannya. Terdengar suara seperti gigitan pada lapisan tebal cokelat es krim Nigeria.
“Apa lagi, Nek?” tanya Puding.
“Jarum Kesaktian,” jawab Wulan Kencana yang langsung bisa merasakan ada pergolakan rasa panas di dalam perutnya, tapi tidak begitu membuat menderita atau membuat mules. Ia telah menyimpan dengan baik potongan pil yang dimakannya.
Sambil menahan pergolakan hawa panas pada perutnya, Wulan Kencana pergi mencari rak yang menyimpan aneka jarum.
Karena hanya tahu nama tanpa pernah melihat bentuk jarumnya, Wulan Kencana harus membaca nama jarum itu satu demi satu. Puding kembali membantu. Ada lebih dari saratus jenis jarum pusaka yang tersedia.
Memang dibutuhkan kesabaran yang pada ujungnya pusaka masa lalu yang bernama Jarum Kesaktian itu ditemukan.
Jarum Kesaktian adalah sebuah jarum perak sepanjang telunjuk tanpa memiliki lubang benang. Pada bagian pangkalnya berbentuk ulir. Terlihat tidak begitu istimewa.
“Jarum Kesaktian warisan Dewa Penggenggam Matahari. Pusaka ini suami dari Mustika Dewi Kenanga,” baca Wulan Kencana yang melihat tulisan pada daun lontarnya. “Tidak ada petunjuk bagaimana cara menyatukan jarum ini dengan Telur Gelap.”
__ADS_1
Wulan Kencana lalu mengambil jarum dan menyimpannya di balik pakaian. Biasa kaum nenek-nenek, apa-apa selalu disimpan di balik pakaian.
“Ayo kita keluar, Nek!” ajak Puding.
“Aku menginginkan satu pusaka lagi,” kata Wulan Kencana.
“Bukankah kau hanya mengatakan dua,” sergah Puding.
“Obat dan jarum itu tidak bisa meyakinkanku bisa mengalahkan musuh terkuatku,” kilah Wulan Kencana. “Mumpung aku sedang berada di sini.”
“Jika kau mengambil lebih, itu artinya kau serakah dan melanggar janjimu kepada Penjaga Candi,” tukas Puding.
“Setelah keluar dari semua gerbang, apakah aku harus melapor lagi kepada Penjaga Candi?” tanya Wulan Kencana sambil berjalan mencari di rak-rak batu pusaka lain yang diinginkannya.
“Tidak. Namun, jika kau melanggar, kau akan terkena sial atau kutukan Candi Alam Digdaya,” jawab Puding.
“Itu tidak lebih ancaman dusta yang dibuat untuk menakut-nakuti saja. Jika kita memiliki pusaka terhebat di dunia persilatan, siapa orang yang berani menjatuhkan hukuman? Justru dia yang akan mati sendiri,” kata Wulan Kencana. Lalu katanya, “Pasti ada di lantai atas.”
Wulan Kencana yang masih berjalan tertatih-tatih dengan tongkat bambunya, segera menaiki tangga menuju ke lantai dua. Puding mengikuti.
“Pokoknya aku tidak ikut bertanggung jawab atas pelanggaranmu, Nek,” tandas Puding.
“Aku yang akan menanggungnya sendiri. Aku memiliki ilmu Raga Abadi. Aku tidak akan bisa mati,” kata Wulan Kencana. Lalu katanya tiba-tiba, “Di sana!”
Wulan Kencana mempercepat langkahnya ketika ia melihat rak yang berisikan berbagai macam jenis kipas.
“Kau pasti ingin mengambil Kipas Raja Dunia?” terka Puding.
“Jika kau sudah tahu, diamlah. Setelah ini, kita pulang,” kata Wulang Kencana.
Sementara itu di dalam candi kecil berwarna hitam yang terletak di bagian depan wilayah Candi Alam Digdaya.
“Penjaga Candi, Wulan Kencana telah melanggar. Selain mengambil obat Embun Semesta Hijau, dia juga mengambil Jarum Kesaktian dan Kipas Raja Dunia,” ujar Semanis Madu kepada Penjaga Candi yang adalah seorang lelaki separuh baya berwajah tampan.
“Biarkan. Orang serakah yang ingkar janji akan cepat menerima hukumannya. Kutukan Candi Alam Digdaya berlaku kepada siapa pun,” kata Penjaga Candi datar.
__ADS_1
Penjaga Candi dan kedua wanita pendampingnya bisa tahu pusaka apa saja yang diambil oleh orang yang berhasil memasuki Istana Pusaka. (RH)