
*Petaka Telaga Emas (Pete Emas)*
Malam telah menyelimuti alam, termasuk Desa Rangitan dan Telaga Emas. Berbeda dari malam-malam sebelumnya, malam kali ini hawanya begitu dingin. Kondisi itu disebabkan oleh adanya sebidang lapisan tebal es yang cukup luas di Telaga Emas dekat pantai.
Sarung adalah selimut terampuh dalam menangkal hawa dingin yang menusuk tulang. Lelah yang mendera buah dari ketegangan sepanjang siang, membuat hampir semua lelaki Desa Rangitan cepat dan lelap tertidur.
Beberapa pemuda desa ditugaskan berjaga malam yang dipimpin oleh Jalu Segoro. Mereka berjaga di sisi luar desa yang menghadap ke telaga. Sejumlah pemuda juga berjaga ketat di dekat kakus, tempat di mana Siluman Ikan Wuwul disekap. Kelompok itu dipimpin oleh Sinjor.
Namun pada akhirnya, kondisi fisik yang lelah dan suasana malam yang cukup ekstrem memaksa mereka terlelap semua, termasuk Jalu Segoro.
Malam itu, Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu memutuskan tidur di atas balai desa. Ada empat obor yang dipasang di setiap sudut, memberi penerangan. Tidak terlihat jelas di mana Alma Fatara tidur atau berada.
Ki Jolos pun sudah terlelap dengan damai di dalam pelukan dan kelonan istrinya. Usia tua membuat fisiknya gampang lelah dan kembali membutuhkan asupan asi (air susu istri) yang cukup.
Di saat semuanya terlelap, ternyata ada satu orang yang terkecuali, yaitu gadis cantik putri Ki Jolos, Seriwai. Gadis itu tidak bisa tidur karena hatinya sedang terusik sejak siang tadi. Wajah Iwak Ngasin yang lebih tampan jika dipandang dari jauh, selalu terbayang-bayang. Kadang-kadang hadir sebagai bayangan yang berhias bingkai-bingkai cangkang kerang dan bunga-bunga.
Kerinduan yang tercipta sebelum berkenalan, membujuk nyali Seriwai untuk berbuat nekat. Sejenak ia mengintip dari jendela rumah. Jendela ia buka dengan mode senyap. Arah pandangannya kepada empat orang yang sedang terlelap di balai desa. Hanya Gagap Ayu yang tidur dengan mulut terkatup. Suara dengkuran dari ketiga orang lainnya menjadi orkestra malam tanpa bimbingan dirigen.
Seriwai tersenyum. Ia lalu kembali menutup daun jendela. Dengan langkah seperti penari balet yang menjinjit, Seriwai menuju pintu rumah. Seperti seorang maling ulung, Seriwai bergerak penuh waspada. Matanya bergerak mobile ke sana, sini, dan situ, khawatir ada orang yang memergokinya.
Seriwai semakin tersenyum lebar ketika ia tiba di sisi balai desa. Ia menatap tanpa berkedip wajah Iwak Ngasin. Pencahayaan obor yang remang-remang membuat ketampanan Iwak Ngasin memancarkan pesona misteri, menggugah Seriwai untuk melihat lebih dekat.
Seriwai sangat tidak puas jika hanya bisa memandang dari pinggiran balai desa. Ia pun memutuskan untuk naik, bermaksud mendekati Iwak Ngasin yang lebih panjang dari Juling Jitu.
Namun, baru saja Seriwai menaikkan lututnya, tiba-tiba dua sosok gelap keperakan muncul dari kolong rumah Ki Jolos. Satu sosok datang dari belakang Seriwai yang langsung membekap mulut dan hidung si gadis. Satu tangannya memeluk kuat pinggang si gadis.
Seriwai berusaha memberontak, tetapi suaranya terbungkam dan tubuhnya langsung di jauhkan dari lantai balai desa. Dua sosok itu tidak lain adalah dua Siluman Ikan.
Tuk!
Satu Siluman Ikan lainnya segera memukul leher Seriwai. Seketika gadis itu diam dan terkulai lemas. Upaya perlawanannya terhenti karena tidak sadarkan diri.
Baru saja kedua Siluman Ikan hendak meninggalkan balai desa. Tiba-tiba mereka mendelik melihat sebulat benda hitam tahu-tahu telah melambung di udara gelap lalu meluncur jatuh. Benda itu adalah sebutir kelapa. Tidak jelas siapa yang melemparnya.
Duk!
“Cari mati!”
“Monyet bedakan!”
“Cari janda!”
__ADS_1
“Telur busuk!”
Setelah benda yang jatuh itu menghantam lantai balai desa sehingga menimbulkan suara keras mengejutkan, kompak empat pendekar dari Sungai Darah Roh terlompat bangun. Seperti sudah terlatih, keempatnya langsung pasang kuda-kuda. Juling Jitu dan Ayu Gagap saling berhadapan dalam jarak rapat. Jika maju selangkah lagi, maka mereka akan saling menyentuh.
Sementara Anjengan memasang kuda-kuda menghadap ke arah pantai. Iwak Ngasin sendiri menghadap kepada dua Siluman Ikan yang berdiri mematung di tempatnya.
“Siluman Ikan maliiing!” teriak Iwak Ngasin terkejut sekaligus marah.
Ia langsung berkelebat melompat menyerang kedua Siluman Ikan, padahal rohnya baru terkumpul separuh.
Wut! Buk!
Akibatnya, tendangan mengibasnya hanya menebas atas kepala Siluman Ikan. Justru perut Iwak Ngasin terkena hantaman tangan dari seorang Siluman Ikan. Iwak Ngasin terjengkang jatuh.
“Beraninya!” teriak Anjengan yang sudah melesat di udara dengan tubuh besarnya.
Bduk!
Serangan Anjengan hanya berupa tabrakan yang membuat Siluman Ikan yang menjadi korbannya terpental menghantam tiang kaki rumah Ki Jolos, menimbulkan guncangan gempa mikro. Hantaman itu mengejutkan Ki Jolos, sehingga terbangun dan bibir tuanya terlepas dari asi.
Bug!
Tinju jarak jauh Putri Tinju Karang menghantam lambung Siluman Ikan yang memanggul tubuh Seriwai, membuatnya terdorong beberapa langkah dan oleng.
Dua tendangan Juling Jitu mendarat keras, tetapi sayang mendaratnya tepat di bokong Seriwai. Meski demikian, Siluman Ikan itu akhirnya terjengkang dan tertindih oleh Seriwai.
“Pe-pe-pe ….”
“Perkosa sekalian, Ayu!” teriak Anjengan menyela.
“Pe-pe-penculik hinaaa! Heaaat!” teriak Gagap Ayu lalu melompat.
Bak!
Namun, tiba-tiba sesosok tubuh berkelebat cepat di udara malam dan menghantamkan tendangannya ke lengan Gagap Ayu, membuat gadis cantik itu terlempar keras ke tanah.
Tahu-tahu di tempat itu telah muncul lima Siluman Ikan lainnya yang datang menyerang Iwak Ngasin dan ketiga sahabatnya.
Kemunculan kelima rekannya membuat dua Siluman Ikan pertama berlari kabur dengan tetap menggondol tubuh Seriwai yang masih pingsan.
“Seriwaiii!” teriak Ki Jolos dari jendela rumah.
__ADS_1
Iwak Ngasin dan ketiga rekan-rekannya masing-masing mendapat seorang Siluman Ikan sebagai lawan. Satu Siluman Ikan lagi dikeroyok ramai-ramai oleh para lelaki desa yang segera berdatangan setelah terbangun oleh suara bising.
“Jangan kabur kau, Silumaaan!” teriak Jalu Segoro yang datang berlari bersama tiga rekannya, sambil membawa dua obor. Mereka datang menghadang lari kedua penculik Seriwai.
Wuss!
Salah satu Siluman Ikan mengibaskan satu tangannya, mengirim segelombang angin keras yang sontak melempar tubuh keempat lelaki desa itu jatuh bergulingan di tanah berpasir.
“Seriwaiii!” teriak Ki Jolos sambil datang berlari dari arah belakang. Tangan kanannya siap melempat sebatang tombak.
Siluman Ikan yang memanggul tubuh Seriwai berhenti. Ia berbalik dengan sepasang mata bersinar merah.
Seet! Set! Bluar!
Sinar merah di sepasang mata Siluman Ikan melesat menyerang Ki Jolos. Namun, pada saat yang bersamaan, sebutir kelapa juga melesat tidak kalah cepat yang kemudian menghadang dua sinar perah panjang itu.
Sinar merah meledakhancurkan kelapa tersebut, tepat di depan tubuh Ki Jolos. Daya ledakan itu membuat Ki Jolos terdorong lalu jatuh terduduk dengan wajah pucat pasi, tapi tidak kentara karena gelapnya malam.
Bukan hanya Ki Jolos yang terkejut, tapi demikian juga dengan kedua Siluman Ikan. Keduanya cepat mencari orang sakti tukang kirim buah kelapa itu.
Tidak terlihat sama sekali oleh keduanya, ketika sosok warna hitam berkelebat di udara menyerang Siluman Ikan yang memanggul Seriwai.
Paks!
“Hekrrr!”
Satu pukulan telapak tangan menghantam punggung Seriwai. Namun, meski yang terkena pukulan adalah Seriwai, tetapi yang menyemburkan darah ikan adalah Siluman Ikan yang memanggulnya.
Memang seperti itulah cara kerja ilmu Tapak Rambat Daya yang mampu membuat lawan sekarat. Terbukti, Siluman Ikan yang terkena kekuatan Tapak Rambat Daya tergeletak tidak berdaya di pasir. Sementara Seriwai tidak sadarkan diri di atas tubuhnya.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara, bayangan hitam yang tadi menyerang dari atas. Lalu tanyanya kepada Siluman Ikan satunya, “Mau kabur atau mati di sini, Kakang Ikan?”
Setelah berkata seperti itu, Alma mengeluarkan sinar kuning emas menyilaukan mata di telapak tangannya, membuat area itu terang benderang seperti lapangan sepak bola dalam pertandingan.
Melihat sinar kuning emas yang menyilaukan mata itu, membuat nyali Siluman Ikan ciut drastis. Buru-buru ia kabur tanpa menggandeng siapa pun. Dia berlari menuju air telaga. Alma membiarkannya.
“Hahaha!” Alma hanya tertawa melihat lawannya lari terbirit-birit.
Ia lalu beralih memandang kepada keempat sahabatnya. Ternyata jika melawan satu Siluman Ikan, keempatnya begitu digdaya. Warga yang mengeroyok Siluman Ikan satunya, juga berhasil menang dengan senjata beberapa palu martil. (RH)
__ADS_1
***********
Jangan lupa bantu dukung juga Chat Story Author yang berjudul "Alur Cinta Si Om Genit" dengan like dan komenmu. Jika ingin memberi poin, koin, atau vote untuk Alma, silakan alihkan ke "Alur Cinta Si Om Genit". Biar Om Rudi senang dan tambah semangat untuk berkarya.