
*Setan Mata Putih (SMP)*
Nining Pelangi selaku Panglima Pasukan Sayap Pelangi memimpin empat anggota pasukannya menerobos kegelapan malam. Keempat pendekar Pasukan Sayap Pelangi lainnya adalah Roro Wiro, Murai Ranum, Kecup Mahligai, dan Mayang Wangi.
Mereka mendapat tugas dari Alma Fatara untuk menjadi utusan pembawa pesan. Tujuan mereka adalah kediaman Demang Mahasugi di Kademangan Kubang Kepeng. Roro Wiro dan Murai Ranum hapal jalan menuju kediaman Demang Mahasugi.
Pentingnya pesan yang harus disampaikan, membuat Alma Fatara tidak mau menunda waktu untuk mengirim utusan. Sebab, jika ditunda, kesalahpahaman yang ditimbulkan dari adu domba pihak Bandar Bumi akan semakin memburuk dan bisa menjatuhkan korban lebih banyak.
Kelima wanita yang memiliki ilmu peringan tubuh mumpuni itu, berlari cepat laksana tidak menyentuh tanah lagi, sudah seperti setan gentayangan.
Bertepatan dengan tengah malam lewat sedikit, kelima gadis itu tiba di Kademangan Kubang Kepeng. Tengah malam membuat suasana kademangan begitu lengang. Rumah-rumah warga pun terlihat gelap. Hanya satu dua rumah yang menyisakan satu dian kecil di rumahnya sebagai penerangan.
Roro Wiro yang sudah pernah datang ke kediaman Demang Mahasugi, memimpin jalan menuju tujuan.
“Tahan!” kata Roro Wiro tiba-tiba ketika mereka sudah mendekat ke tembok pagar halaman luas rumah Demang Mahasugi.
Mereka berlima pun berhenti mendadak, memerhatikan situasi di depan. Kegelapan malam membuat mereka tidak terlihat.
Yang membuat Roro Wiro menghentikan rekan-rekannya adalah adanya keramaian di halaman rumah Demang Mahasugi. Ada banyak obor yang di pasang, membuat halaman luas itu terlihat terang.
Pintu gerbang pagar halaman terbuka lebar. Ada sejumlah prajurit yang berjaga seperti halnya di siang hari.
“Lihat, ada penyusup!” bisik Kecup Mahligai, mantan murid Jerat Gluduk, sama dengan Mayang Wangi.
Nining Pelangi dan yang lainnya segera melihat ke arah tembok pagar di sisi kanan kediaman Demang Mahasugi.
Mereka melihat ada satu bayangan yang melompati pagar tembok, masuk ke lingkungan kediaman Demang Mahasugi yang luas. Tembok samping memang adalah area yang tidak terlalu ketat diawasi karena terhubung dengan daerah berpohon.
“Ayo, tugas kita adalah menyampaikan pesan!” kata Nining Pelangi.
Mereka tidak lagi menggunakan ilmu peringan tubuh untuk pergi ke gerbang pagar. Mereka berjalan biasa. Ketika mereka semakin mendekat, para prajurit kademangan penjaga gerbang pagar memandang kepada mereka.
Nining Pelangi dan keempat anak buahnya berhenti di depan para prajurit yang berjaga. Malam-malam dingin didatangi sejumlah perempuan, terlebih cantik-cantik, membuat mereka senyum-senyum tidak jelas.
“Lihat kakinya, menginjak tanah atau melayang,” bisik salah satu prajurit kepada rekannya.
Keenam prajurit penjaga gerbang pagar halaman itu memandang kaki-kaki kelima tamunya. Namun, Murai Ranum menduga lain maksud dari pandangan para prajurit itu. Karenanya, dia pun mengeluarkan jurus rayuannya.
“Hihihi! Para Kakang Prajurit pasti kedinginan,” ucap Murai Ranum yang maju lebih mendekat kepada para prajurit itu. Ia agak sedikit membusungkan dadanya dan membuka bibirnya setelah berbicara. Tatapan matanya yang memberi sinyal tut tut tut, membuat keenam prajurit itu jadi salah tingkah sendiri.
__ADS_1
“Apakah ka-ka-kalian pendekar undangan Kanjeng Gusti Demang?” tanya salah satu prajurit setelah sadar bahwa darah lelakinya bereaksi melihat tingkah Murai Ranum.
“Bukan, tapi kami ingin bertemu dengan Demang Mahasugi!” jawab Nining Pelangi langsung to the point.
“Tapi kalian siapa?” tanya prajurit itu.
“Orang yang akan menemani Kakang malam ini!” kata Murai Ranum setengah mendesah, sementara jari lentiknya berani meraba bahu prajurit tersebut.
“Kami utusan Kerajaan Siluman!” tandas Nining Pelangi.
“Hah! Kerajaan Siluman?” ucap para prajurit itu terkejut.
“Tunggu sebentar, aku akan melaporkan kedatangan kalian!” kata prajurit yang disentuh oleh Murai Ranum gelagapan, sambil melepaskan diri dari jari-jari gadis di depannya.
“Terlalu lama,” kata Roro Wiro lalu berkelebat melewati atas kepala-kepala prajurit itu.
Tanpa sungkan-sungkan, Nining Pelangi dan yang lainnya juga berkelebat masuk dengan melewati keenam prajurit itu. Mereka terus berjalan masuk.
Apa yang Nining Pelangi dan pasukannya lakukan menjadi perhatian semua orang yang sedang berkumpul di halaman besar itu.
Di sana berkumpul barisan satu pasukan prajurit kademangan, dua pasukan centeng, dan sekumpulan pendekar yang berkumpul di depan rumah Demang Mahasugi. Di atas teras rumah panggung itu telah duduk beberapa pendekar tua-tua di kursi yang telah disediakan.
Obor terpasang di berbagai sudut, membuat kondisi halaman itu terang benderang.
Melihat kedatangan lima pendekar wanita yang tidak dikenal, Demang Mahasugi cepat memberi perintah.
“Tahan kelima perempuan itu!” perintah Demang Mahasugi yang dalam kondisi hati masih panas sejak siang, kala mendengar kabar duka tentang putranya.
Pasukan centeng di bawah perintah Ketua Satu Centeng Demang yang bernama Begar, segera bergerak menghadang kelima tamu tidak diundang itu. Sementara pasukan centeng pimpinan Ketua Dua Centeng Demang, Nur Glatik, diam saja.
“Kami membawa pesan penting untuk Demang Mahasugi dari ratu kami!” seru Nining Pelangi agar niatan mereka langsung sampai kepada Demang Mahasugi.
Cukup terkejut Demang Mahasugi dan istrinya, serta para pendekar undangan, ketika mendengar bahwa mereka diutus oleh seorang ratu.
“Biarkan mereka mendekat!” perintah Demang Mahasugi akhirnya.
Begar segera memerintahkan pasukan centengnya yang bersenjata golok membuka jalan.
Nining Pelangi, Roro Wiro, Murai Ranum, Kecup Mahligai, dan Mayang Wangi kembali berjalan maju mendekat. Para pendekar yang berkumpul di depan teras jadi berbalik arah memandangi kelima gadis itu.
Setelah tidak mungkin untuk maju lagi, Nining Pelangi dan lainnya berhenti.
__ADS_1
“Ratu siapa yang mengutus kalian?” tanya Demang Mahasugi.
“Ratu Siluman dari Kerajaan Siluman!” sahut Nining Pelangi.
Seketika riuhlah para pendekar setelah mendengar dua nama itu. Mereka riuh karena bertanya-tanya tidak tahu, sebab baru kali ini mereka mendengar nama itu. Terlebih namanya terdengar menakutkan.
“Aku tidak mengenal nama itu,” kata Demang Mahasugi.
“Tapi Demang pasti kenal Raja Tanpa Gerak di Bukit Selubung. Kini Gusti Ratu Siluman berada di sana,” ujar Nining Pelangi.
Terkesiaplah Demang Mahasugi dan Putri Cicir Wunga. Ia mengumpulkan pasukan dan mengundang para pendekar sakti dalam waktu yang singkat, bertujuan untuk pergi ke Bukit Selubung. Raja Tanpa Gerak adalah orang yang harus mereka bunuh karena dianggap sebagai Pembunuh Golono, putra Demang Mahasugi.
“Pesan apa yang kalian bawa?” tanya Putri Cicir Wunga.
“Atas perintah Gusti Ratu Siluman, kami menyampaikan bahwa pembunuh putra Demang Mahasugi bukanlah Raja Tanpa Gerak, tapi seorang pendekar yang menyusup menjadi centeng. Pembunuh itu sekarang berada dalam tawanan Gusti Ratu Siluman di Bukit Selubung. Orang yang memerintah pembunuh itu adalah orang yang bernama Bandar Bumi,” ujar Nining Pelangi.
“Apa?!” kejut Demang Mahasugi dan istrinya.
“Paman Bandar Bumi?” sebut ulang Putri Cicir Wunga.
“Kalian jangan mengadu domba kami tanpa bukti!” tukas Demang Mahasugi.
“Kedatangan kami tengah malam ke sini bertujuan mencegah Demang mengirim pasukan ke Bukit Selubung, karena itu akan memakan banyak korban jika dilakukan. Pembunuh putra Demang akan dikirim ke sini besok pagi,” tandas Nining Pelangi.
Terlihat Demang Mahasugi dan istrinya diliputi kemarahan dan juga kebimbangan.
“Bandar Bumi!” sebut Demang Mahasugi dengan gigi yang saling menekan dan tangan mengepal kuat.
“Bagaimana bisa Paman Bandar Bumi yang melakukannya?” tanya Putri Cicir Wunga kepada dirinya sendiri.
“Kita tidak boleh gegabah. Kita harus menunggu pembunuh itu dikirim besok pagi,” kata Demang Mahasugi.
“Satu pesan lagi dari Gusti Ratu Siluman yang harus kami sampaikan, Demang,” kata Nining Pelangi.
“Katakan!” perintah Demang Mahasugi.
“Pasukan kami telah merebut harta sepuluh peti milik pasukan Demang. Harta itu telah dirampok, kemudian kami merebutnya. Seharusnya semua harta itu menjadi milik kami. Namun, Gusti Ratu Siluman memutuskan untuk mengembalikan separuh dari harta tersebut yang akan dikirim besok pagi,” ujar Nining Pelangi.
“Aku baru akan menyetujuinya jika aku bertemu langsung dengan Ratu Siluman kalian!” tandas Demang Mahasugi.
Tong tong tong …!
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara kentongan dari arah area kandang kuda dan kambing. Suara itu mengejutkan semua. (RH)