Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 35: Berbagi Pusaka


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


 


Alma Fatara akhirnya keluar dari kamar dengan senyum kepada para abdinya, yang sudah menunggu di ruangan besar berpenerang obor-obor batu besar di dinding-dinding.


“Waktunya berbagi pusaka!” teriak Anjengan girang.


Tadi, sebelum masuk untuk mengobati dirinya dengan Bola Hitam, Alma Fatara menjanjikan akan membagikan pusaka-pusaka yang Alma dapat dari dua pertarungan di Arena Tulang.


Benda-benda itu sudah tergelar di atas sebuah meja batu. Dua pusaka yang paling menonjol adalah dua pedang milik mendiang Tengkorak Pedang Kilat, yaitu pedang bergagang kepala tengkorak dan pedang bergagang kepala macan.


Namun, Alma Fatara sendiri yang akan menentukan siapa yang akan diberi.


“Hahaha!” tawa Alma melihat abdi-abdinya sudah berdiri berkumpul di depan meja batu, seperti antri mau terima persenan lebaran.


Di atas meja batu tergeletak dua pedang pusaka milik Tengkorak Pedang Kilat, sebuah gulungan kulit yang kecil dan tipis, sebuah kotak kayu mini sebesar jempol, keris-keris mini beracun, sebuah tabung bambu kecil, dua cincin bermata merah, sebuah batu bening berwarna biru terang, dan setumpuk uang kepeng. Jadi ada sepuluh item hasil dari dua pertarungan Alma Fatara di Arena Tulang.


“Tapi aku tidak tahu tentang keistimewaan pedang-pedang ini,” ucap Alma lirih sambil memandangi benda-benda itu.


“Gusti Ratu, Rogo Sogo mungkin bisa membantu untuk menjelaskan tentang benda-benda pusaka itu. Dia memiliki pengetahuan luas tentang senjata-senjata pusaka di dunia persilatan,” ujar Sudigatra.


“Benar, Gusti Ratu. Dalam sepuluh tahun, aku khusus mempelajari pusaka-pusaka dan kesaktian para pendekar dunia persilatan. Meski yang aku ketahui tidak lebih banyak dari yang ada, tetapi mungkin bisa membantu Gusti Ratu dan pasukan,” kata Rogo Sogo seraya menghormat.


“Coba Paman Rogo Sogo menjelaskan kepadaku tentang pedang berkepala tengkorak itu!” ujar Alma.


“Pedang pusaka itu bernama Pedang Tengkorak Malam. Gusti Ratu sudah merasakan sendiri kehebatannya. Namun, pedang ini hanya bisa dipakai dan ditaklukkan oleh tenaga dalam yang tinggi. Jika pedang ini dimainkan oleh pendekar bertenaga dalam biasa, justru membahayakan diri sendiri,” jelas Rogo Sogo.


“Mbah Hitam, apakah kau berminat memiliki Pedang Tengkorak Malam ini?” tanya Alma Fatara menawarkan.


“Mohon ampun, Gusti Ratu. Hamba cukup seperti ini. Wujud siluman ular cukup bagi diriku untuk bisa melindungi Gusti Ratu,” ucap Mbah Hitam dengan suara tuanya.


“Hanya Mbah Hitam yang memiliki tenaga dalam tinggi di Pasukan Genggam Jagad,” ucap Alma Fatara.


“Lebih baik pedang tengkorak itu diambil oleh Gusti Ratu sendiri,” usul Juling Jitu.


“Be-be-be ….”


“Beruuuk!” sebut Anjengan, Iwak Ngasin dan Juling Jitu bersamaan memotong kata-kata Gagap Ayu.


“Hahaha …!” tawa mereka setelahnya.


Kali ini Gagap Ayu tidak menyempurnakan kata-katanya, tetapi memilih merengut.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat mimik Gagap Ayu. Lalu katanya, “Jika aku yang mengambilnya, bisa-bisa aku menjadi juragan pusaka. Pedang ini tidak lebih hebat dari Benang Darah Dewa-ku.”

__ADS_1


“Jika Gusti Ratu tidak mau, Mbah Hitam pun menolak, lalu untuk siapa?” tanya Iwak Ngasin yang dalam hati berharap dia yang diberi.


“Aku akan memberikannya kepada Kakak Putri,” jawab Alma Fatara.


Terkejut Cucum Mili dan Pasukan Genggam Jagad.


“Tapi Ratu Kepiting bukan bagian dari Pasukan Genggam Jagad, Gusti Ratu!” protes Iwak Ngasin cepat.


“Benar, tapi Kakak Putri Angin Merah adalah sahabatku. Selain aku dan Mbah Hitam, hanya dia yang memiliki tenaga dalam tinggi. Dan juga, supaya dia tidak melirik-lirik Bola Hitam-ku. Hahaha!” kilah Alma.


Alma Fatara lalu bergerak mengambil Pedang Tengkorak Malam yang menyatu bersama sarungnya yang berwarna hitam gelap.


Set! Crak!


Alma Fatara lalu melempar pedang itu kepada Cucum Mili. Wanita bercadar merah itu sigap menangkap pedang tersebut.


“Tapi aku tidak punya ilmu pedang, Gusti Ratu,” kata Cucum Mili.


“Orang sakti sepertimu tidak akan sulit untuk belajar jurus pedang menyayat ikan samudera. Hahaha!” kata Alma Fatara berseloroh.


“Terima kasih, Gusti Ratu, atas kemurahan hatimu!” ucap Cucum Mili sambil turun berlutut menghormat.


“Hahaha! Jika kau mau mengabdi kepadaku, kau akan aku angkat sebagai Panglima Laut Pasukan Genggam Jagad. Kau bisa memiliki wilayah perintah yang jauh lebih luas daripada menjadi ratu Kerajaan Singayam atau Ratu Bajak Laut Kepiting Batu,” ujar Alma Fatara, membuat Cucum Mili dan yang lainnya terkejut. Pasalnya, untuk sepetak tanah saja, Alma belum punya, bagaimana bisa sudah membayangkan wilayah kekuasaan yang sangat luas.


“Terima kasih atas tawaran, Gusti Ratu. Akan aku pikirkan nanti,” ucap Cucum Mili. Lalu batinnya, “Apa sebenarnya yang sedang dipikirkan dan direncanakan anak ini?”


“Pedang itu bernama Pedang Macan Setan. Siapa pun bisa memilikinya. Kesaktiannya mengikuti tenaga sakti pemiliknya. Semakin tinggi, maka semakin hebat,” jelas Rogo Sogo.


“Kakak Anjengan, sebagai Panglima Pasukan Genggam Jagad, kau harus punya pedang komando!” kata Alma lalu melempar pedang bersarung warna hijau gelap itu kepada Anjengan.


Crak!


“Hahaha!” tawa Anjengan sambil menangkap pedang tersebut. “Aku berjanji tidak akan mencekikmu lagi jika kau pura-pura mati, Gusti Ratu!”


“Hahaha!” tawa Alma Fatara.


“Yah, kedua pedangnya sudah habis,” ucap Iwak Ngasin lemas dan kecewa.


“Bagi kalian yang tidak mendapat bagian, jangan bunuh diri, mungkin senjata yang lebih hebat akan menunggu kalian di depan,” kata Alma Fatara menghibur.


Alma lalu mengambil kotak kecil dan membukanya. Di dalamnya hanya ada sebuah benda kecil agak berkilau. Alma mengarahkan ruang kotak ke arah cahaya obor. Ketika terkena cahaya, benda kecil tipis itu memantulkan sinar warna-warni seperti pelangi.


Sebagai anak laut, Alma Fatara kenal betul bahwa benda itu seperti selembar sisik ikan yang lebih kecil dari kuku kelingking.


“Aku yakin ini sisik ikan, tapi apakah sisik ikan biasa atau sisik ikan siluman. Rakyat siluman ikanku memiliki sisik-sisik yang besar, tidak seperti ini,” kata Alma lalu menyerahkan kotak itu kepada Rogo Sogo untuk dilihat.

__ADS_1


“Oh, ini yang disebut Sisik Putri Samudera. Khusus untuk wanita. Ini akan mempertajam keawasan mata jika dipasang di antara kedua alis. Sisik seperti ini biasanya banyak dimiliki oleh para pendekar pulau,” kata Rogo Sogo.


“Benar, Gusti Ratu. Aku pernah mendengar tentang benda itu, tapi sayangnya aku tidak pernah menemukannya,” kata Cucum Mili.


“Penombak Manis, Sisik Putri Samudera untuk dirimu!” putus Alma Fatara.


“Terima kasih, Gusti Ratu!” ucap Penombak Manis seraya tersenyum lebar. Ia segera mendatangi Rogo Sogo dan menerima kotak mini tersebut.


“Apakah obat ini penawar racun dari keris-keris ini?” tanya Alma sambil menunjukkan obat di dalam tabung bambu kecil.


Rogo Sogo lalu mengambil alih tabung bambu dan mendekatkan hidungnya ke lubang tabung. Kemudian dia beralih mendekatkan wajahnya ke deretan keris-keris mini yang mengandung racun untuk mencium baunya.


“Sepertinya ini adalah obat penawar racun keris ini. Tapi mohon maaf, Gusti Ratu, hamba tidak begitu yakin,” kata Rogo Sogo.


“Mbah Hitam, bisakah kau memastikan apakah ini obat penawar racun keris atau bukan?” tanya Alma.


“Bisa, Gusti Ratu,” ucap Mbah Hitam.


“Kau simpan lebih dulu dua benda ini. Jika memang benar ini adalah obat penawarnya, keris ini berikan kepada Juling Jitu!” perintah Alma.


“Baik, Gusti Ratu.”


Alma lalu membuka gulungan kulit. Ternyata di dalam lembaran kulit yang panjangnya hanya empat jengkal itu, ada gambar-gambar lengkap dengan tulisan yang sangat kecil, tapi masih terbaca.


“Ilmu Dewi Penidur,” baca Alma Fatara. Meski Alma tidak pernah mengenyam bangku PAUD atau SD, tetapi dia anak nelayan yang melek huruf.


Alma kembali menggulung dan mengikat kulit itu dengan benang. Lalu ia lemparkan kepada Kembang Bulan. Gadis cantik itu terkejut dan buru-buru menangkap dengan kedua telapak tangan terbuka.


“Kau harus rajin berlatih agar tahapanmu bisa sampai mempelajari kitab Dewi Penidur itu. Cara berlatihnya tidak rumit,” kata Alma Fatara.


 


“Terima kasih, Gusti Ratu! Hihihi!” ucap Kembang Bulan begitu gembira. Bahkan ia yang belum memiliki kesaktian, mendapat jatah dari Alma.


Dua cincin bermata batu merah ternyata bernama Cincin Dua Jantung. Itu cincin untuk sepasang suami istri atau sepasang kekasih yang tidak mau berpisah sampai mati. Kedua cincin itu diberikan kepada Iwak Ngasin, karena tidak ada wanita yang mau sehidup semati dengan pemuda jangkung itu.


“Nanti, satu cincin bisa kau berikan kepada istrimu, Iwak,” kata Alma Fatara.


“Terima kasih, Gsuti Ratu. Terima kasih sekali!” ucap Iwak Ngasin begitu gembira, sampai-sampai dia sujud-sujud.


“Tampang Garang, Alis Gaib, karena kalian sudah bersenjata, meski masih sebatas senjata biasa, maka batu Mata Raja Elang ini aku berikan kepada Gagap Ayu,” kata Alma Fatara merujuk kepada batu bening berwarna biru terang sebesar biji rambutan.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Tampang Garang dan Alis Gaib patuh tanpa kecewa. Sebab, mereka melihat Alma adalah pemimpin yang memperhatikan abdinya. Mereka yakin bahwa mereka tidak akan dilupakan.


“Uang kepeng ini untukmu, Geranda!” kata Alma Fatara.

__ADS_1


“Baik, Gusti Ratu. Hahaha!” ucap Geranda lalu tertawa senang. Sepertinya uang lebih cantik di matanya daripada senjata pusaka. (RH)


__ADS_2