
*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*
Bertepatan ketika petang menjamah bumi, Raden Runok Ulung memutuskan pulang bersama anak cucunya dan seluruh centengnya, baik yang luka maupun yang mati.
Raden Bagus Penjogo harus diangkut karena lukanya memang tidak main-main. Mau tidak mau mereka harus menerima kondisi Raden Bagus Penjogo, sebab Alma Fatara sebelumnya telah memperingatkan.
Kesepakatan antara Raden Runok Ulung dan Alma Fatara telah tercipta. Meski begitu penasaran dengan sosok Alma Fatara, gadis asing sakti yang cantik jelita, Raden Runok Ulung harus kembali untuk menyelesaikan masalah kematian Jaran Telu.
Maka tinggallah Alma seorang asing di tengah keluarga besar Raden Gondo Sego.
Setelah Raden Runok Ulung dan kubunya pergi, Raden Gondo Sego memilih untuk menjamu Alma Fatara di terasnya dengan penerangan dian dan obor di malam itu.
Dalam benak kepala keluarga itu, Alma adalah orang yang bagus untuk dijadikan sekutu di saat dia dan keluarganya belum mampu mengungguli kesaktian Raden Runok Ulung dan cucunya.
Raden Gendo Sego duduk bersandar pada dinding rumah karena ia masih menahan luka dalamnya. Duduk pula Nyai Kandi, Rawe Sego, Ragabidak dan Suriga di lantai teras yang terbuat dari batu. Mereka menjadikan Alma sebagai tamu di malam itu. Ada suguhan makanan dan minuman yang dikeluarkan.
Sementara itu, para centeng merapikan mayat rekan-rekan mereka dan kerusakan yang tercipta dari pertarungan tadi.
“Tanpa sengaja aku bertemu dengan Dugalara di tengah jalan sebelum dia sampai ke kediamanku. Jadi aku langsung ke sini dan Dugalara melanjutkan perjalanannya ke rumahku, Kakang. Mungkin besok pagi dia baru pulang membawa orang-orangku,” jawab Rawe Sego ketika Raden Gondo Sego bertanya “Kenapa Rawe Sego bisa tiba lebih dulu dibandingkan Dugalara?”
“Tapi kedatanganmu tepat waktu, Rawe. Makanya Ragabidak pergi ke Mata Air Pahit untuk mencari Keris Pemuja Bulan, agar kita bisa mengimbangi kesaktian Runok Ulung,” kata Raden Gondo Sego.
“Bukannya dapat keris, malah diserang ular besar. Hahahak!” celetuk Alma yang disusul tawanya menertawakan Ragabidak yang saat ini sudah berbaju.
Alangkah terkejutnya Ragabidak karena Alma bisa tahu kejadian di Mata Air Pahit. Sementara yang lain hanya diam tidak mengerti maksud perkataan Alma.
“Bagaimana kau bisa tahu, Alma?” tanya Ragabidak cepat.
“Aku juga datang ke Mata Air Pahit bersama Kakang Rawil dan Kakak Wangiwulan, tapi kami sudah keduluan oleh kalian. Jadi kami hanya mengintip kalian bertelanjang ramai-ramai. Hahahak!?” jawab Alma jujur lalu tertawa berbahak, membuat yang lain tersenyum karena melihat gusi Alma yang punya pintu gua.
“Kurang ajar!” desis Ragabidak memaki pelan.
“Ketika aku dengar pengawal itu menyampaikan kabar bahwa Kakek Ulung menyerang ke sini, aku langsung ke sini, karena aku tahu apa yang membuat kakek itu datang menyerang. Aku melihat sendiri kematian Kakang Tongkat Biru. Tapi Kakang Ragabidak jangan tanya kenapa aku bisa tiba lebih dulu daripada kudamu. Hahaha!” kata Alma Fatara.
“Sebenarnya kau anak siapa, Alma?” tanya Rawe Sego.
__ADS_1
“Aku tidak tahu, Kek. Justru aku sedang dalam perjalanan untuk mencari tahu asal-usulku, siapa ibuku, siapa ayahku, dan siapa jodohku? Hahaha!” jawab Alma santai yang sedikit-sedikit tertawa seperti penonton stand up comedy.
“Lalu, kau ini murid siapa?” tanya Rawe Sego lagi.
“Aku murid Guru Garudi Malaya yang berjuluk Pangeran Kumbang Genit,” jawab Alma Fatara.
Terkesiaplah Raden Gondo Sego dan Rawe Sego mendengar nama tenar yang disebutkan oleh Alma. Dan mereka kian terkejut lagi ketika Alma menyebut nama guru perempuannya.
“Guru perempuanku adalah Wiwi Kunai yang berjuluk Pemancing Roh.”
“Pantas, rupanya kau murid dari dua orang sakti,” ucap Rawe Sego.
“Jadi, Kakek tidak akan berani merebut Bola Hitam milikku?” tanya Alma terang-terangan.
“Aku tidak mau bernasib seperti Bagus Penjogo.” Yang menjawab justru Raden Gondo Sego.
“Hahaha!” tawa Alma dan yang lainnya.
“Ilmu yang melumpuhkan si kakek muda itu namanya Telunjuk Roh Malaikat. Jika aku mengerahkan tenaga penuh, mungkin dia mati saat itu juga. Tapi aku tidak memiliki masalah permusuhan dengan keluarga mereka dan keluarga ini,” ujar Alma Fatara.
“Awalnya aku menolong Kakang Rawil dari hukuman keluarganya. Kemudian, aku menemukan Kakak Wangiwulan sudah dalam kondisi terluka parah. Pada awalnya aku tidak tahu bahwa Kakak Wangi adalah kekasih terlarang Kakang Rawil. Memang dasar mereka jodoh. Jadi aku juga yang mempertemukan mereka ….”
“Lalu Wangiwulan kondisinya bagaimana, Nak Alma?” tanya Nyai Kandi memotong perkataan Alma, ia masih cemas.
“Nenek tidak usah khawatir, Kakak Wangiwulan sudah aku sembuhkan dan kondisinya sudah baik. Mereka akan segera menikah, Kakek dan Nenek tidak usah khawatir,” kata Alma.
“Tapi aku tidak setuju mereka menikah!” tandas Raden Gondo Sego.
“Tapi aku tidak setuju jika Kakek tidak setuju. Mereka itu sudah seperti lintah ketemu kulit, Kek. Jadi harus buru-buru dinikahkan. Apalagi Kakak Wangiwulan sudah hamil,” kata Alma.
“Wangiwulan tidak hamil. Dia itu berdusta agar kami tidak menghakimi kekasihnya itu,” kata Raden Gondo Sego.
“Meskipun Kakak Wangi mengaku tidak hamil, tapi aku tetap yakin Kakak Wulan akan hamil secepatnya. Bagaimana tidak hamil jika sedikit-sedikit masuk, sedikit-sedikit masuk. Keluar kok sedikit-sedikit?” kata Alma pula.
“Hahahak …!” Suriga tiba-tiba tertawa terbahak-bahak seorang diri.
Reaksi Suriga itu membuat lelaki yang lain mendeliki Suriga.
__ADS_1
“Sudahlah, Kakang,” ucap Nyai Kandi lembut sambil menyentuh tangan suaminya. “Biarkan mereka berdua. Kita berusaha mencegah pun, mereka akan tetap nekat menikah. Apalagi Alma mendukung mereka.”
Raden Gondo Sego hanya merespon dengan embusan napas panjang.
“Alma, bagaimana kau bisa menjanjikan Keris Pemuja Bulan kepada Raden Runok Ulung?” tanya Rawe Sego mengalihkan topik obrolan.
“Karena aku yakin keris itu ada di dasar Mata Air Pahit,” jawab Alma dengan enteng.
“Tapi di sana ada ular sakti,” kata Ragabidak.
“Ular sakti apa?” tanya sang ayah. “Dulu tidak ada ular di mata air itu.”
“Ular hitam besar. Ular itu memangsa satu centeng kita saat kami sedang menyelam, Ayah. Ular itu bahkan tidak terluka sedikit pun oleh ilmu Pecah Dunia milikku,” jelas Ragabidak.
“Karena Kakang sudah gagal, maka giliran aku yang akan mencari pusaka itu,” kata Alma sambil tersenyum lebar.
“Berarti kau akan melawan ular hitam itu?” tanya Ragabidak.
“Hahaha! Itu urusan kecil. Jangankan satu siluman, seratus siluman aku bisa mengatasinya,” jawab Alma sesumbar.
“Masih muda kau ternyata sombong juga!” kata Suriga.
“Aku sombong karena aku yakin mampu. Hahaha! Aku pamit, Kek!” kata Alma.
“Tunggu!” tahan Rawe Sego.
Alma jadi menatap serius kepada Rawe Sego sebelum ia berdiri.
“Kau bisa menyembuhkan Wangiwulan dalam waktu singkat, berarti kau pun bisa mengobati kakakku?”
“Maafkan aku, Kek. Jika Kakek tidak tertarik sedikit pun kepada Bola Hitam milikku, mungkin aku bersedia mengobati. Tapi aku takut tiba-tiba kalian berbuat curang dan merampas Bola Hitam-ku,” kata Alma kepada Raden Gondo Sego. Lalu katanya kepada Rawe Sego, “Bukanku Kakek Rawe bisa mengobati pula?”
“Hanya bisa meringankan, tapi sulit untuk menyembuhkan,” jawab Rawe Sego.
“Hahaha!” Alma hanya tertawa dan bangkit.
Ia membungkuk sedikit menjura hormat kepada kakak adik bangsawan itu. Lalu dengan santainya dia melangkah pergi meninggalkan rumah yang mengalami kerusakan cukup parah. (RH)
__ADS_1