Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Guru Bule 4: Penyergapan di Desa Julangangin


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


 


Alma Fatara dan pasukan kecilnya sudah siap melanjutkan perjalanan menuju ke Bukit Tujuh Kepala. Anjengan cs menaiki kudanya masing-masing dengan senyum-senyum yang segar, menunjukkan bahwa mereka siap menempuh perjalanan dengan penuh bahagia.


Pendekar Tongkat Roda berdiri bersama tongkatnya, siap melepas kepergian junjungannya. Ia sudah memberi arahan kepada Ratu Siluman tentang rute paling dekat untuk sampai ke wilayah Bukit Tujuh Kepala, serta apa-apa saja yang mungkin akan mereka temui selama perjalanan.


“Ada dua nama besar yang harus Gusti Ratu waspadai dalam perjalanan, yaitu Pengemis Kaya dan Siluman Ular Emas. Keduanya sudah lama mencari Gusti Ratu,” kata Pendekar Tongkat Roda beberapa saat sebelumnya.


“Dendam siapa yang ingin mereka balaskan, Kek?” tanya Alma Fatara.


“Pengemis Kaya ingin membalas kematian Pengemis Batok Bolong dan Siluman Ular Emas ingin membalas nyawa tiga adik seperguruannya, yakni Merah Matang, Wanita Kipas Melati dan Setan Cakar Biru,” jawab Pendekar Tongkat Roda.


“Hahaha! Ternyata setiap perjalananku akan melahirkan para pendendam baru. Namun, itulah risiko perjuangan menegakkan kebenaran,” kata Alma Fatara.


Itulah sekelumit pesan penting Pendekar Tongkat Roda untuk junjungannya.


Pada akhirnya, Pendekar Tongkat Roda menjura hormat kepada Alma Fatara yang telah siap di atas punggung kudanya.


“Pasukan Genggam Jagaaad!” teriak Alma agak panjang sambil mengangkat tangan kanannya, lalu menggebah kudanya, “Heah heah!”


Sing!


Anjengan mencabut pedang pusaka Pedang Macan Setan. Sambil menghunuskan pedang berbilah merah gelapnya, dia berteriak lantang seolah siap terjun ke medan perang.    

__ADS_1


“Pasukan Genggam Jagad, berangkaaat! Heah heah!” teriak Anjengan sebagai Panglima Pasukan Genggam Jagad, lalu menggebah kencang kudanya.


“Heah heah!” teriak yang lainnya juga menggebah kudanya penuh semangat.


Pasukan Genggam Jagad pimpinan Ratu Siluman, Alma Fatara Dewi Dua Gigi kembali melanjutkan petualangannya.


Sementaraa itu di wilayah yang sudah memasuki kawasan Bukit Tujuh Kepala, sebanyak lima belas orang berkuda telah melihat sebuah curug di kejauhan. Selain itu, mereka juga melihat sebuah desa yang memiliki area seperti bukit.


Para penunggang yang terbilang muda tapi matang-matang itu, terdiri dari laki-laki dan wanita yang semuanya perpakaian gaya pendekar, tetapi mereka tidak terlihat membawa senjata. Beberapa di antaranya terlihat memiliki jari-jari berwarna hitam, sama seperti jari-jari Giling Saga. Ciri-ciri itu menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari murid-murid Perguruan Jari Hitam.


Rombongan itu dipimpin oleh seorang pemuda tampan berambut gondrong yang mengikat rambutnya dengan pita merah. Dia mengenakan pakaian warna merah. Jari-jari tangannya berwarna hitam. Ia bernama Dendeng Pamungkas, salah satu murid utama Perguruan Jari Hitam, tapi masih di bawah level Giling Saga, Brata Ala, Kulung, Rinai Serintik, dan Jernih Mega yang merupakan rombongan pertama.


Di sisi kuda Dendeng Pamungkas berlari kuda yang ditunggangi oleh seorang wanita muda lagi cantik berambut sebahu. Wanita itu memiliki warna kulit yang putih terang. Ia mengenakan pakaian warna hijau muda. Namun, jari-jari tangannya tetap cantik dengan warna seputih kulitnya, tidak hitam. Ia adalah istri muda Dendeng Pamungkas yang bernama Gelis Sibening, karena dia memang masih muda dan baru dua tahun berstatus sebagai istri.


Gelis Sibening adalah putri kesayangan Demang Baremowo, wanita yang keselamatannya menjadi salah satu prioritas Alma Fatara.


“Dendeng, sepertinya itu Desa Julangangin yang dicirikan oleh Giling Saga,” kata pemuda yang lebih tua dari Dendeng Pamungkas. Pemuda berambut ikal itu juga berjari-jari hitam. Ia bernama Taring Yoyong.


“Iya, sepertinya kita sudah sampai,” kata Dendeng Pamungkas.


Mereka pun mempergegas kuda-kudanya menuju sisi utara Desa Julangangin. Kedatangan mereka di sisi undakan tanah Desa Julangangin, menjadi perhatian sejumlah warga yang memiliki tempat usaha dan rumah di area undakan yang mirip tangga bukit.


Beberapa pendekar yang kebetulan singgah di kedai-kedai, juga melemparkan perhatiannya sejenak kepada kedatangan rombongan Dendeng Pamungkas. Sebenarnya sudah biasa ada pendekar yang singgah di tempat itu karena dua kedai ternamanya, yakni kedai ayam panggang madu Mbah Lawut dan kedai bubur kambing pedas Ki Jentang. Namun, jika yang datang rombongan pendekar dalam jumlah besar dan berkuda, cukup jarang terjadi. Karenanya kali ini agak mendapat perhatian lebih. Terlebih ada wanita cantiknya yang sulit ditemui di dunia lain.


Namun, belum juga semua kuda itu berhenti di depan undakan tanah desa, tiba-tiba ….

__ADS_1


Set set set …!


“Awas serangan!” teriak Dendeng Pamungkas tiba-tiba sambil cepat melompat dan memeluk jatuh tubuh istrinya.


Tiba-tiba saja, ada puluhan benda terbang berbentuk piringan logam tipis melesat dari satu arah, menargetkan Dendeng Pamungkas dan rekan-rekannya.


Murid-murid Perguruan Jari Hitam itu cepat bertindak menghindari serangan piringan dengan berbagai cara. Ada yang langsung melompat lepas dari pelana kuda, ada yang merunduk ke depan, ada yang terbaring ke belakang, ada yang menangkis dengan kekuatan jari-jari hitamnya, dan ada yang tidak sempat menghindar.


“Akk! Akk! Akk!” jerit beberapa murid Perguruan Jari Hitam ketika anggota tubuh mereka disayat oleh piringan logam itu, seperti disayat oleh pisau tajam. Mereka pun jatuh dan menderita luka berdarah dengan berbeda level, tapi tidak sampai membuat mati.


Setelah serangan puluhan piringan itu melesat pulang seperti bumerang, sekitar tiga puluh lelaki berseragam kuning-kuning muncul berlarian dan menangkap piringan terbang satu-satu. Murid-murid Perguruan Bulan Emas itu langsung membentuk formasi mengepung.


Rombongan Dendeng Pamungkas seketika panik dan agak bingung. Taring Yoyong lebih dulu bekerja meringankan luka beberapa rekannya yang berdarah dengan cara menotok dan memberikan balutan cepat. Ia harus merobek kain bajunya demi menghentikan pendarahan empat orang yang terluka.


“Bentuk Pertahanan Kuncup Jari!” seru Dendeng Pamungkas.


Maka, kelima belas orang itu segera bergerak turun semua dari kuda, lalu berkumpul satu saling menempel. Anggota yang terlemah posisinya harus di tengah, kemudian dikurung dengan lingkaran-lingkaran tubuh mereka yang saling memunggungi dan menghadap ke arah luar. Saat itu, orang yang berposisi paling tengah adalah Gelis Sibening.


Para murid yang jarinya berwarna hitam berdiri pada lapisan terluar. Karena ada banyak kuda, mereka menjadikan kuda-kuda itu sebagai benteng hidup yang dibiarkan lepas di dalam pengepungan.


Dendeng Pamungkas merasa perlu memasang mode pertahanan karena jumlah mereka kalah banyak, ditambah bahwa musuh memiliki senjata jarak jauh.


Penyergapan di depan utara Desa Julangangin itu mengejutkan warga sejumlah pendekar yang singgah. Mereka berkeluaran dan menyaksikan dari sisi atas desa, termasuk salah satunya adalah Mbah Lawut.


Dari arah kedatangan para penyergap tadi, muncul dua orang lelaki berkuda. Keduanya tidak lain adalah Buto Renggut dan Juyung Sawa.

__ADS_1


“Hahaha! Murid-murid Jari Hitam!” seru Buto Renggut yang didahului dengan tawa pongahnya. “Daerah Bukit Kepala Tujuh akan menjadi kuburan kalian semua!” (RH)


__ADS_2